Pemilihan Moda Transportasi bagi Penduduk Kota Satelit

Pendahuluan

Banyaknya peluang kerja di kota besar menyebabkan banyaknya orang bermobilisasi untuk menetap di kota besar. Sebagian manusia lain bernasib tinggal di kota-kota sekitar kota besar, sebut saja kota satelit. Hal ini seharusnya tidak masalah apabila sarana dan prasarana transportasi umum di negara tersebut baik. Dalam kasus seperti kota Jakarta, di mana sarana dan prasarana transportasinya tidak ada bagus-bagusnya, yang terjadi adalah kemacetan yang membuat naik pitam selama jam berangkat dan pulang kerja.

Buruknya sarana transportasi umum didukung dengan ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasinya dan lebih didukung lagi oleh daya beli dan jiwa konsumtif manusia Indonesia menyebabkan meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Kota telah membuat peraturan seperti 3 in 1 di jam berangkat dan pulang kerja guna mengatasi masalah tersebut. Namun apa daya, di balik akal pasti ada akal yang lebih baik lagi, muncullah fenomena joki 3 in 1 di kawasan sebelum 3 in 1 berlaku.

Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dicari solusinya, dirumuskan sebagai berikut:
1.  Bagaimana seorang pekerja, sebut saja bernama Annisa, bertempat tinggal di Bekasi dan akan bekerja di daerah Sudirman berangkat dan pulang setiap harinya?
2. Moda transportasi apakah yang sebaiknya ia gunakan?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan moda transportasi yang ia gunakan tersebut?

Batasan Masalah

Terlalu banyak batasan masalah dalam kasus ini. Annisa bekerja pada jam 8.30 setiap paginya namun ia sulit bangun pagi. Annisa tidak menyukai transportasi yang sesak dan sempit karena ia mengalami sedikit masalah dengan ruang sempit. Annisa tidak suka asap kendaraan karena ia menderita asma. Annisa hanya ingin tranportasi yang nyaman, dingin, dan berperikemanusiaan. Annisa banyak maunya.

Tujuan

1. Untuk mendapatkan moda tranportasi yang paling baik untuk Annisa, dan
2. Untuk melakukan analisis terhadap jenis moda transportasi yang digunakan.

Metode Penelitian

Pengalaman pribadi. :’)

Isi

Gambar berikut adalah perjalanan Annisa setiap hari dari Jakasampurna, Bekasi (A) ke Jalan Sudirman, Jakarta Pusat (B).

Jarak dari A ke B menurut google maps adalah 21.2Km dan dapat ditempuh dalam waktu 22 menit. (22 menit? Ngarep apa lo?!)
Sesungguhnya dunia memberikan banyak pilihan kepada kita, hanya kita saja yang terlalu memilih. Begitupun juga dengan moda transportasi, terdapat beberapa pilihan seperti berikut:

1. Commuter line
Commuter line atau yang biasa dikenal sebagai KRL merupakan salah satu moda transportasi anti macet yang dapat jadi pilihan. Untuk menuju Kawasan Sudirman dari Bekasi, penumpang dapat naik Bekasi Ekspress arah Tanah Abang dan turun di Stasiun Sudirman dengan harga tiket Rp9000,-. FYI, Stasiun Sudirman itu terletak di antara Stasiun Mampang dan Karet. Berikut jadwalnya (sumber-Bekasi Ekspress wiki):

Bekasi – Sudirman – Tanah Abang :
06.11* ; 08.15* ; 17.18* ; 16.30* (via Pasar Senen) ; 18.00*
Tanah Abang – Sudirman – Bekasi :
06.45* ; 08.52* ; 16.35* ; 17.20* ; 18.37*

Commuter Line

Sumber gambar: website KRL

Commuter line juga dilengkapi dengan gerbong khusus wanita yang terletak di paling depan dan belakang kereta. Dengan gerbong ini dan ditambah kewaspadaan dan kehati-hatian, insya Allah perjalanan jadi lebih aman dan tentram. O:)

Satu hal yang disayangkan dari pilihan ini adalah cukup jauhnya stasiun kereta dari rumah subjek. Lalu, dunia commuter line saat jam berangkat dan pulang kerja itu…keras! Bayangkan kompetisi meraih tempat duduk dengan bapak-ibu ambisius dan pemuda-pemudi malas berdiri. Siapkan betis dan lengan karena selama sekitar 50 menit anda akan berdiri berdesak-desakan. (OK, skip!)

2. Bus
Salah satu bus yang dapat memfasilitasi perjalanan Bekasi-Jakarta adalah bus Patas AC Mayasari Bakti (AC05 atau AC52), yang trayeknya dapat dilihat di sini. Biasanya di tol Jatibening, banyak orang yang menunggu bus ini di pinggir jalan tol. Dan persaingan tersebut cukup keras. Ketika bus datang, orang-orang akan seperti zombie yang melihat daging. :-S

Sebenarnya bus ini nyaman. Rata-rata bus Mayasari Bakti AC05 dan AC52 menggunakan mobil yang masih baru dan AC nya masih dingin. Namun, di jam berangkat dan pulang kerja, pilihan ini: a BIG NO NO NO!

3. Bus kantor
Alhamdulillah salah satu perusahaan vendor telekomunikasi di daerah Sudirman tempat Annisa bekerja cukup berbaik hati untuk menyediakan bus bagi karyawannya yang bertempat tinggal di sekitar Jakarta. Sebenarnya naik bus kantor cukup nyaman, yang jadi masalah adalah ia berangkat pukul 6.15 dari tol Bekasi Barat (ditandai lingkaran merah dalam peta di atas). Yang berarti Annisa harus mundur untuk maju. Dan itu pagiii banget. Ga ga ga kuat… Oleh karena itu, bus kantor hanya dipilih sebagai moda transportasi ketika pulang. :)

4. Omprengan
Omprengan adalah mobil pribadi yang digunakan sebagai transportasi bersama saat jam berangkat dan pulang kerja, semacam nebeng mobil orang untuk pergi ke tujuan yang sama. Omprengan biasanya berada di tempat-tempat strategis (untung salah satu tempatnya adalah di dekat rumah).

Sesungguhnya penemu omprengan adalah orang yang jenius dan sangat ingin berbagi. :’)
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan menjadi omprengan:

  1. Dapat melewati 3 in 1 tanpa menggunakan joki yang biasanya kotor, bau, mencurigakan, dan tidak dapat dipercaya. (Masih ga paham sama orang yang mau pakai joki. Kok berani ya masukin orang asing ke mobil sendiri?)
  2. Kalau menggunakan joki harus membayar, jadi omprengan adalah kebalikannya. Tarif omprengan sekitar 10-12ribu per orang. Uang itu kemudian dapat digunakan untuk mengisi bensin dan membayar tol. :D
  3. Mendapat kenalan baru. Karena yang biasa naik omprengan adalah pekerja, ada kemungkinan antar pengguna omprengan memiliki bidang pekerjaan atau interest yang sama. Misalnya saja saat itu pemilik mobil dan pengguna omprengan sama-sama bekerja di bidang marketing. Akhirnya di 2 jam macetnya tol dalam kota mereka mengobrol banyak dan bertukar pin BB.

Omprengan biasanya dikenali dari jenis mobilnya. Umumnya adalah mobil-bukan-sedan (SUV ya sebutannya?) seperti Kijang, Rush, Avanza, Xenia, Captiva, APV, Grandmax, Carry, dan sebagainya. Namun tidak menutup kemungkinan ada omprengan bermobil sedan.

Terdapat dua kategori omprengan: omprengan-sebagai-pekerjaan dan omprengan-sebagai-sambilan.
Omprengan-sebagai-pekerjaan (OSB) berorientasi uang. Ia akan menunggu sampail mobil penuh dan akan memasukkan sebanyak mungkin penumpang ke dalam mobilnya yang kecil dan panas dan sempit. Misalnya mobil Carry dengan konfigurasi depan supir + 1, tengah 3, dan belakang 6. Bayangkan! Tega bukan! Hal ini akan lebih kejam lagi saat jam pulang kantor. Di depan akan diisi supir +2, tengah 4, dan belakang 6.
Kategori kedua adalah omprengan-sebagai-sambilan (OSS). Biasanya mobil pribadi orang yang bekerja di daerah Jakarta. Dengan harga yang sama, mobilnya lebih nyaman, bagus, dan dingin. Dan manusiawi. Kelebihan menggunakan OSS adalah biasanya pemilik mobil tidak terlalu lama menunggu, ketika sudah telat ia akan berangkat dengan jumlah penumpang seadanya. (Lega dehh~)

FYI, pool omprengan pulang daerah Thamrin-Sudirman berada di RS Jakarta atau di Plaza Semanggi. Biasanya mobil tersedia dari pukul 16.30 sampai 19.00. CMIIW.

Dengan segala penjelasan dan pertimbangan di atas akhirnya dipilihlah moda transportasi omprengan untuk berangkat kerja. Berikut kelebihan dan kekurangan omprengan:

  1. Semakin pagi berangkat ke pool omprengan, akan semakin cepat naik dan berangkat sehingga (bisa) terhindar dari macetnya tol dalam kota. Setelah jam 6.30 biasanya omprengan mulai sepi dan harus menunggu sehingga penumpang berangkat semakin siang dan semakin kena macet. FYI, seperti yang terlihat dalam peta di atas, macet biasanya dimulai di poin 1 (Jatiwaringin) sampai dengan poin 2 (Mampang – Kuningan), selain itu lancar jaya. Aneh.
  2. Omprengan tidak dapat diandalkan setiap saat. Misalnya saat weekend atau saat terjadi demo buruh di jalan tol beberapa hari lalu yang menyebabkan jalan tol macet total.
  3. Walaupun dunia macet, nikmatilah waktu anda di omprengan dengan istirahat (baca: tidur). Karena kalau kita bangun yang ada hanya bosan dan rasa ingin marah-marah. Manfaatkanlah waktu tersebut. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat dan mengucapkan terima kasih ke pemilik mobil ketika turun.

Sekian.

Lumayanlah, buat draft tesis.

mencoba moda angkutan yang baru

Hari ini (Senin, 28 Juni 2010) ceritanya saya mau ganti dan nyoba-nyoba angkutan baru. Selain untuk memperkaya wawasan angkutan Jakarta, saya capek liat muka adek saya yang bete bin jelek dan kayaknya bosen jemput saya di stasiun. Haha… Tapi, suka heran deh ama orang rumah. Kalo ada apa-apa, mau jalan ama temen dan sebagainya disuruh coba naek angkutan, tapi pas mau coba sendiri, mereka malah panik dan was was. Heuuu…, emang sih saya paling ga hapal yang namanya jalan, tapi tapi tapi kan…..*lebay*

Waktu itu pada ga percaya saya bisa pulang-pergi rumah-tempat KP sendiri. Toh akhirnya bisa kaaaan. Pada was was pas saya mau naek kereta, takut kenapa-napa katanya. Alhamdulillah ampe sekarang masih baik-baik aja sih. :)

Kemaren ini juga abis nonton ama temen terus mau pulang sendiri naek bis dari Senayan pada ga percaya. Ya mau langsung di jemput lah, trus disuruh update lokasi tiap beberapa menit sekali lah. Fyuhh, pasangin GPS aja di badan gw apaaa?!

Trus sekarang bilang mau naek metromini dan lanjut omprengan, eh ga percaya juga, Lagi-lagi diminta update lokasi tiap beberapa menit. Bahkan ampe di-sms kayak gini:

“Nanti kalo kira-kira nyasar langsung telepon yaa.”

“Hati-hati ya jalannya, jangan mau di ajak ngobrol sama orang ga dikenal.”

Sms itu dikirim dengan mode serius. Mode seriuuus sekali! Atulaaah, saya udah gede gtu. Tapi alhamdulillah juga sih, berarti keluarga segitu care nya ama saya. *ge-er* :”>

Akhirnya walau badai menghadang, saya putuskan untuk tetap naek omprengan. Sebagai petunjuk, sebelumnya saya nanya-nanya dulu ke Anggasta dan Ibunya yang pengetahuannya amat luas. So, alih-alih menggunakan kereta, hari ini bakal usaha pulang naek omprengan ke Bekasi Barat dari sebelah Atma Jaya. Kalo nyasar, yaudah saya naek busway ke Senayan terus nunggu bus Patas AC 05 jurusan Bekasi. Agar lebih banyak wawasan pun, alih-alih ke Atma naek busway, saya ikut beberapa teman (gunung timor adit dan surya) untuk naek metromini 640 dari samping BI. :D

Pertama-tama naek metromini 640, ongkosnya cuma 2000 rupiah lho. Angkutan ini bisa nyampe pasar minggu. Lewatin Plaza Semanggi dan Planet Hollywood juga, hehe… Naek metromini agak takut juga sih, udah berisik, kotor, dan banyak karat. Kyaaa ngeri banget tetanusan abis naek ini, akhirnya ga berani duduk nyender ke kursi banget, haha.

Nah, kita naek metromini ampe halte busway Benhil, alias depan Universitas Atma Jaya. Dari sini, jalan sedikit di jalan sebelah Atma ampe kita nemu omprengan, kalo bingung ya tinggal tanya-tanya mas-mas ojeg di sekitar situ aja. Dari sana, keliatan kok rombongan orang yang nunggu omprengan, tanya aja mana yang ke arah Bekasi Barat, ntar ditunjukkin mobilnya. Bayarnya seperti biasa, 10000 rupiah saja.

Berhubung rumah saya deket perumahan Galaxy, bilang aja turun di Galaxy. Ntar kita bakal diturunin di pinggir tol. Dari situ ada jalan ke atas yang membuat kita muncul-muncul di jembatan deket LIA Galaxy, trus tinggal naek ojeg atau angkot ampe rumah deh.

Kalo saya: jadi pas udah ampe jembatan, saya tiba-tiba disorientasi arah, sekali lagi DISORIENTASI ARAH..!!! Bingung ini di dunia sebelah mana. Akhirnya ada angkot 05 dan 05A yang menunjukkan kalo saya lagi di Galaxy. Dengan pe-de nya saya naek angkot 05A jurusan Galaxy – Kranji.

Saya: Pak, angkotnya lewat kampung dua kan?

Supir angkot: Arah kranji mah angkot yang di seberang neng.

Saya: Eh kok..?

Supir angkot: Ini arah Galaxy neng.

Saya: …… *astagaaaaa, disorientasi arah beneran T_T *

Akhirnya, berhubung deket, saya ke rumahnya jalan kaki deh (keburu malu naek angkot dan malu ama ojeg-ojeg sekitar situ juga sih :P ).

So, ini perbandingannya ongkos dan waktu perjalanannya…

Pulang naek kereta:

  • Ongkos: 5000 (ojeg dari Indosat ke Gambir) + 9000 (kereta Bekasi Ekspress AC) + 4000 (dua kali angkot dari stasiun Bekasi ke rumah; tapi biasa di jemput sih)
  • Total waktu perjalanan: kira-kira 2 jam

Pulang naek omprengan:

  • Ongkos: 2000 (metromini 640 ampe Atma Jaya) + 10000 (omprengan) + 4000 (ojeg ampe rumah; tapi jalan kaki juga deket kok)
  • Total waktu perjalanan: kira-kira 75 menit

What a geje morning!

Senin, 31 Mei 2010

Absurd sekali hari ini. Saya bangun pagi-pagi, dengan mata mengantuk saya pergi ke stasiun.

“Mulai KP yaa?”

Tentu bukan! KP saya dimulai besok, 1 Juni 2010 di PT Indosat.

“Terus ngapain?”

Latihan berangkat ke kantor sendiri di weekdays. Sound stupid? Yeah, I know that.

Jadi, saya adalah manusia buta jalan dan buta arah. Selama ini orang tua jarang sekali membiarkan saya berjalan sendirian karena dipastikan saya tersasar dan ga tau nama daerah. So, dalam rangka KP di Jakarta, mau ga mau saya harus bisa ke kantor sendiri dan ga bergantung pada ortu. Nah, hari ini disuruh Ibu deh untuk latian berangkat sendiri ke kantor. Hari Senin juga lagi, jadi sekalian bisa ngira-ngira sebaiknya berangkat jam berapa.

Yup, saya mah nurut aja ama kata ortu. Lagian, “practice makes perfect”, begitu kata quote di buku tulis.

Jadi, beginilah laporan perjalanan saya:

05.45 – 05.52 : jalan ke jalan besar dan menunggu angkot

05.53 – 06.10 : naek angkot ke stasiun

06.25 – 07.10 : perjalanan dari stasiun Bekasi ke stasiun Gambir naek kereta ekspress

07.15 – 07.25 : naek ojeg dari Gamir ampe kantor (estimasi)

Selesai deh latian berangkat ngantor nya!

Bengong bengong di stasiun. Krucuk krucuk… Perut mulai lapar. Akhirnya saya sarapan di Dunkin Donuts yang ada di stasiun, trus beli tiket pulang deh.

Oiya, sekedar cerita tentang perjalanan dengan kereta di pagi hari menuju Jakarta:

06.10, antrian tiket tidak terlalu ramai, alhamdulillah. Tapiii, pas di peron, rame bangeeet! Penuh dengan orang-orang rapi yang siap membanting tulang mencari nafkah di belantara kota Jakarta. Kereta datang 15 menit lagi, kami pun menunggu, ada yang duduk, berdiri, baca koran, etc.

Teet teet tet! Sirine berbunyi tanda kereta sudah dekat. Semua orang tiba-tiba sigap dan berdiri, berebut tempat berdiri sedekat mungkin dengan rel kereta. Kereta sampai. Daaaan.., orang-orang seperti kalap, hilang akal, berebut masuk gerbong, dorong-dorongan, dan kemudian berlarian di dalam gerbong sambil berebut tempat duduk. Saya yang newbie ini cukup kaget, numpang liat dan ketawa aja deh ngeliat kelakuan orang-orang dewasa jaman sekarang.

Saya masuk gerbong dengan tenang. Waah, ada kursi kosong tuh! Saya hampiri, dan pas pantat udah mau duduk, tiba-tiba Ibu-Ibu di sebelah kursi kosong itu taro tas nya! “Kursi ini udah di-take!”, gtu katanya. WTF!!!!! Dia nge-take kursi untuk temennya dooong, padahal gw duluan yang dapet!!! Akhirnya dengan tetap senyum gw bilang, “Oh, maaf Bu”. (Dalam hati gw bilang, “Semoga bisulan tuh pantat!”)

Alhasil, selama kira-kira setengah jam perjalanan, saya berdiri. Enak juga, berasa keren, berasa muda, berasa kuat, dan berasa ga lemah. Bosan jugaaa… Akhirnya sepanjang jalan saya habiskan waktu dengan online twitter. Terima kasih teman-teman yang mengobati kebosanan saya. :)

Nah sekarang cerita tentang perjalanan pulang ke Bekasi nya:

Karena pagi-pagi, maka arus ke Bekasi pastinya sepi sepi sesepi-sepinya. Saking sepinya, 1 gerbong isinya cuma 1-4 orang. Enaaak banget. Gerbong berasa milik sendiri. AC pun terasa lebih dingin. Saking sepinya, saya ampe bisa foto-foto donggg :P

Kondisi gerbong kereta Bekasi Ekspress saat sepi :D

Bagus kan? Bagus kan keretanya? Kayak Bangkok Traffic Love Story kaaan? *promosi, norak* :P

Setelah saya itung-itung, di gerbong ini, tersedia kursi sebanyak 72 seat. Kalo pagi / peak hour, semua kursi penuh + penumpang berdiri + penumpang yang pake kursi lipat, total sekitar 100 orang. Sedangkan, di saat sepi, yaa gtu lah kondisinya sepiiiii banget, cuma 1-4 orang per gerbong. Leha-leha, tiduran, selonjoran, guling-guling, kayang juga bisa!

Yahh, sekian deh cerita pagi saya yang aneh ini. Harus cepet-cepet tidur karena nanti pagi hari pertama KP!!! Kyaaa :D

Latihan Naik Kereta (part 2): Bekasi-Gambir-Monas-Gambir-Bekasi

Kamis, 27 Mei 2010

Siang ini saya dan Bunda (tante saya) jalan-jalan naek kereta. Jam setengah satu siang kita jalan dari rumah, trus naek angkot di jalan besar. Sampai deh di stasiun! Liat jadwal…liat jadwal… Wah, ternyata kereta selanjutnya ke Gambir adanya jam 13.50, alhasil kita duduk ngopi-ngopi dulu selama 1 jam, haha..

Tiket Kereta, disimpen jadi kenang-kenangan :)

Ampe sekarang saya masih ga bisa bedain jenis kereta, maklum lah tadi itu kali kedua saya naek kereta seumur hidup. Dulu pertama kali naek kereta sama Bunda juga, kereta yang isinya macem-macem. Ada ayam, ada pengemis, ada pengamen, ada pedagang, dan lain-lain; keretanya kotor, serba karatan, bau dan ga terawat — udah ga paham deh ama kereta kayak gitu. Makanya sejak saat itu, saya ga suka naek kereta, saya mikirnya di dalem kereta tuh banyak kuman, penyakit, bisa-bisa tetanusan deh gara-gara banyak karat besi dimana-mana. -__-

Tapi…, tadi pas naek kereta Bekasi Ekspress, ekspektasi saya berubah. Ternyata kereta ga sejelek itu (ya iyalah, harusnya dari dulu juga udah tau)! Pas masuk, wahh dalemnya dingin, bersih, dan yang pertama kali kebayang di otak saya adalah film “Bangkok Traffic Love Story”! Yup, pemandangan di dalem gerbong berasa di dalem subway di film BTS, haha… Kursinya menyamping, ada tempat untuk taro barang di atasnya, di sekitarnya banyak pegangan dan gantungan untuk penumpang yang berdiri. Trus ada “Courtesy Seat” yang dikhususkan untuk orang yang lebih tua atau orang sakit, ada juga space khusus untuk mereka yang berkursi roda. Di atas pintu gerbong, ada peta jalur kereta Jabodetabek. Trus di dinding kereta ada beberapa himbauan dan iklan dengan bahasa Indonesia atau Inggris atau Jepang. Hmm.., bagus juga ternyata kereta ekspress ini. :)

Sampai di Gambir, kita langsung nge-cek waktu keberangkatan kereta ke Bekasi (ampe minta print-out nya segala lho, haha). Tapi, kita ga langsung pulang, melainkan mencari cara menuju ke KPPTI. Ada 3 cara yang bisa ditempuh, yaitu naek bis ke arah Thamrin, naek ojeg, atau naek bajaj.

Cara pertama kita coba. Nunggu bis di halte depan stasiun, udah ampe setengah jam tak kunjung lewat. Heuuu yasudahlah, cara ini ga bisa diandalkan. Trus nanya-nanya tukang ojeg deh mengenai tarif ke KPPTI, dari Rp10000 akhirnya bisa ditawar ampe Rp7000, lumayan lah, mahal juga sih padahal deket. Kalo naek bajaj tarifnya juga segituan, tapi tambah efek gemeteran. Akhirnya diputuskan sehari-hari bakal naek ojeg aja. Kenapa? Kalo naek bajaj, rambut dan dandanan emang ga berantakan, tapi lebih lama dan tambah efek gemeteran itu. Kalo naek ojeg, relatif lebih cepat, ga peduli lah ama rambut dan dandanan (biasa juga ga rapi-rapi amat kok! :P ).

Karena bingung mau ngapain lagi, akhirnya saya dan Bunda coba jalan kaki deh ke Indosat. Sayang seribu sayang, kita salah jalan! Dari depan stasiun kita malah belok kiri. Yaudah deh, sekalian liat-liat gedung sambil foto-foto. Di depan stasiun ada Pertamina, beruntunglah Mirzy yang KP di sana dan berangkat dari rumah naek kereta. Tinggal kayang juga kayaknya nyampe tuh, hahaha!

Pertamina

Istana Negara

Abis lewatin Istana Negara, foto-foto deket Monas deh (sambil berdoa semoga ga ada orang dikenal yang lewat).

Monas

Bunda

Saya

Alhamdulillah, sesi norak foto-foto di pinggir jalan selesai tanpa ada orang yang menyapa :P

Lanjut perjalanan, udah deket nih, sampai juga akhirnya di patung kuda depan Indosat. Lumayan juga jaraknya kalo jalan kaki, tapi karena tadi seneng-seneng aja, ga kerasa deh pegelnya. Pas udah di rumah, baru kerasa deh kaki kayak dikonde -__-

Setelah patung kuda, kalo kita jalan terus menyusuri trotoar yang ngiterin Monas, nyampe lagi deh kita ke Stasiun Gambir. Jadi kalo dikira-kira, Gambir-Indosat itu ‘cuma’ seperempat keliling trotoar luar Monas. Kalo jalan kaki paling cuma 15 menit lah.

Ampe stasiun, kita beli tiket pulang ke Bekasi yang jam 16.26. Karena masih ada waktu satu jam lebih, kita makan dulu deh di Hoka-hoka Bento. Bunda beli Kidzu Bento untuk anaknya karena ada hadiah jam tangan fun ocean-nya. Karena mupeng ama hadiahnya juga, akhirnya saya beli Kidzu Bento juga (walaupun akhirnya jam tangan cantik itu saya kasih juga sepupu saya yang masih kecil, huhu).

Pas udah deket waktu kereta datang, kita siap-siap. Eh ternyata ada pengumuman kalo kereta bakal telat karena kereta masih di Jatinegara untuk nunggu gerbong lokomotif. Which means, kereta nunggu gerbong, gerbong datang, kereta berangkat dari Jatinegara, lewat Manggarai-Cikini-Gondangdia-Gambir, trus muter di Kota, baru ke Gambir lagi. Heeeuuu…

Waktu makin sore, bermunculanlah pekerja-pekerja yang baru pulang kantor. Peron mendadak jadi rame dan penuh. Akhirnya waktu menunggu saya habiskan dengan mengamati orang-orang bersama Bunda. Ada cowo yang gaya berdirinya aneh, gerak-geriknya ga lazim — dan ternyata pake anting di kuping kirinya (hiiiyy, h*mo kah?). Ada pasangan Jerman, yang cewenya cantiiik deh, tapi cowonya ga. Ada Ibu-Ibu bawa kursi mini lipat, jadi saat kursi tunggu penuh sesak, dia bisa tetap duduk — roker (rombongan kereta) sejati sepertinya. Ada Ibu-Ibu-yang-kakinya-kecil-banget-tapi-badannya-gede-banget dengan dandanan menor sekali. Ada orang yang salah peron sehingga dia harus lari-lari ke peron di seberangnya pas kereta datang. Ada Mbak-Mbak kantoran yang wajahnya terlihat super letih dan terlihat depresi — se-melelahkan itu kah pekerjaanmu Mbak?. Ada Bapak-Bapak petugas PT. KA yang mirip banget ama tokoh Tom Hanks di film “The Polar Express”. Dll dll dll…

Udah bosan merhatiin orang, akhirnya kereta datang juga dengan keterlambatan hampir 50 menit! Semoga kejadian kayak gini ga ada pas berangkat ke kantor deh >.<

Pintu gerbong terbuka. Wiiiiiih, rame bangeeeet! Beda banget ama tadi siang yang duduk selonjoran pun bisa. Sekarang terpaksa berdiri dan berpegangan ke pegangan-pegangan yang sudah tersedia menggantung dari langit-langit. Pergerakan kereta membuat tubuh hampir terjatuh, akhirnya saya perkuat pegangan saya. Cukup lama berpegangan kuat ke gantungan yang cukup tinggi itu rasanya membuat otot tangan saya semakin kuat. Mungkin nanti dengan setiap hari seperti ini, otot tangan kanan saya akan semakin kuat, berbentuk, dan membesar (hiiy, ngeri juga sih >.<).

Alhamdulillah, dengan waktu 30 menit, saya dan Bunda sampai di stasiun Bekasi dengan selamat sentosa! Karena arus orang pulang kantor masih rame, akhirnya kita makan bakso dulu di stasiun. Setelah itu baru deh ke rumah pake angkot. Saking capeknya saya tertidur di angkot. -,-

Ohh, sebegitu melelahkannya kah rasanya pulang dari kerja?

Latihan Naik Kereta (part 1): Waktu Tempuh dan Estimasi Biaya Transport

Kamis, 27 Mei 2010

Seru banget hari ini! Jadi, saya dan tante saya (yang biasa saya panggil Bunda) jalan-jalan naek kereta dari Bekasi ke Jakarta. Tujuannya apalagi kalo bukan mengajarkan saya berkereta dengan baik dan benar, belajar menjadi roker sejati (rombongan kereta sejati — begitu istilah Bunda). Maklum, selama masa kerja praktek 2 bulan ke depan sepertinya saya bakal bergantung pada mass transportation yang satu ini. Dan tadi itu adalah kali kedua saya berkereta selama 21 tahun kehidupan saya! *norak* >.<

Selain cara berkereta dengan baik dan benar, sebenernya saya juga sekalian mengestimasi waktu tempuh perjalanan dan ongkos yang harus dikeluarkan. Tadi juga nyatet jadwal kereta Bekasi-Jakarta tiap pagi dan sore lhooo, hoho :D

Waktu tempuh dari rumah ke KPPTI:

Tadi dari rumah jalan sedikit ke jalan besar: 10 menit.

Naek angkot ke stasiun: 30 menit (bukan pas busy-hour).

Naek kereta ekspress: 30 menit.

Jalan kaki keluar stasiun Gambir + nyari ojeg: 10 menit (bukan pas busy hour)

Naek ojeg ke KPPTI: 15 menit.

Jalan dari depan kantor ke meja satpam: 5 menit.

Jadi, total waktu tempuh = 100 menit (ampuuuun tetep aja lamaaa -__-“).

Jangan lupa kalo kereta terpagi ke Gambir itu adalah Bekasi Ekspress jam 06.25, so gw harus berangkat dari rumah kira-kira 05.30 (takut telat, karena katanya kalo pagi arah ke stasiun macet gilaa!). Nyampe Gambir 07.00, trus nyampe ke Indosat 07.15. Lari-lari sampai absen di meja satpam, 07.20. Ga telat deh! (jam masuk untuk peserta KP tuh 07.30 seperti yang gw paparkan di postingan sebelumnya) :D

Biaya perhari:

Angkot pulang dan pergi: 2 x Rp3000

Kereta: 2 x Rp9000

Ojeg: Rp7000

Jadi, total biaya transportasi perhari = Rp31000

Oh God! Udah KP ga digaji, uang makan dari kantor cuma Rp15000 pula! :((

Biaya itu juga blom termasuk biaya angkutan dari kantor ke Gambir. Blom tau sih naek apaan, haha.. Nebeng temen yang bawa mobil ampe ke stasiun aja apa yaa? :P

Yahh, begitu deh kira-kira estimasi waktu tempuh ke kantor ama biaya transportasi saya selama KP. Ga heran pas Bunda bilang kalo di kantor-kantor itu biaya transport lebih gede dari biaya makan. -__-

Heeuuu, semangat aja deh! Gapapa deh biaya makan dan senang-senang berkurang drastis, siapa tau abis KP jadi bisa kurus, haha :))