The Sign of Three

Was watching Sherlock S03E02 The Sign of Three just now. Looove this episode so much! So far, this is the funniest and most comical episode among the Sherlock series. :))

In this episode, I’m glad to see the other side of Sherlock-John and how their relationship strengthen. I also love to see Mary Watson. She’s clever and nice, and understand both John and Sherlock. She’s the perfect match for John. FYI, Mary is John’s wife in real life, not surprised if they have a great chemistry. ;)

And Molly. I think she’s not really moved on. I’m curious how their relationship will be going. But since there’s already a news that our detective would not be falling in love in this series, I can’t expect much for that. :p

Besides all of that, I think this episode is a bit saddening. Sherlock is already too attached with John. It must be hard for him to face this kind of situation, especially when he gives his last vow, doesn’t have a partner to dance with and left the party by himself into the dark. I’m pretty sure that the next episode will be dark.

Ugh, I’m too emotional. I’m laughing out loud at first, but ended up feeling pitiful. :”
Certainly, I would not miss the next episode, His Last Vow. Can’t wait!

Harry Potter. It all ends.

Ga baru-baru amat sih nontonnya, tapi kemarin. Nonton bareng di Blitzmegaplex baru yang ada di Bekasi bersama Aditya, Adhitya adik saya, cewenya adik saya, Reza sepupu saya, dan cewenya sepupu saya. Triple date! :P

Itu tiketnya. Tiket yang dibeli beli saat pre-sale dua hari sebelumnya sebagai langkah antisipasi panjangnya antrian dan penuhnya kapasitas bioskop akibat manusia-manusia yang lapar akan film bermutu. Aiiih… (copas dari tulisan sebelumnya)

Di sini saya ga bermaksud me-review secara detail Harry Potter and The Deathly Hallows part 2. Lagian juga kebanyakan udah pada baca novelnya atau tau ceritanya kan. Yang jelas, film nya sangat tidak mengecewakan sebagai film penutup tujuh seri Harry Potter (HP). Nice :)

Pertama kali saya baca HP saat kelas 6 SD (1998), di kelas pas jam istirahat, pinjam punya teman. Karena novelnya pertamanya tidak terlalu tebal, saya lanjut baca di mobil jemputan, dan selesai sebelum sampai di rumah. Seri-seri selanjutnya selalu saya tunggu walaupun akhirnya pinjam punya teman lagi. Ah iya, saya hanya punya “Harry Potter and The Chamber of Secrets” yang akhirnya hilang saat pindahan rumah. Saya juga punya “Quidditch Through The Ages” dan “Fantastic Beasts and Where to Find Them” yang bernasib serupa, hilang saat pindahan.

Pada tahun 2001, film “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” rilis. Tentu saja saya menontonnya, tak lupa membeli VCD nya. Walaupun pas awalnya saya bilang, “ah ga sama kayak di buku”, “ah banyak yang dikurangin”, blablabla.., toh saya akhirnya tetep ngikutin dan selalu nunggu seri filmnya setiap mau rilis.

Tahun 2007, buku HP yang terakhir terbit dengan judul “Harry Potter and The Deathly Hallows”. Tak lama setelah bukunya sampai di tangan, saya khusyu’ sekali baca pagi siang malam. Padahal seperti biasa, abis baca buku, sebulan kemudian juga saya udah lupa ceritanya. Apalagi sekarang kalo ditanya mah kelaut aja deh. Tapi, dengan lupa ceritanya ternyata jadi ga terbebani saat nonton filmnya. Jadi ga banding-bandingin lah, lebih menikmati. :P

Dua hari yang lalu, film terakhir HP rilis di Indonesia. Penasaran. Gregetan. Walaupun udah pernah tau juga sih ceritanya (eh iya tapi kan sekarang udah lupa lagi dan akhirnya setelah nonton saya baca ulang novelnya, pinjem punya Adit, versi Inggris, pake mikir dikit deh). Yaaa dan film terakhir ini adalah film Hp satu-satunya yang berhasil buat saya menitikkan air mata di bioskop. Terima kasih terima kasih…

Dari tahun 1998 sampai dengan 2011 ini berarti saya sudah mengenal HP selama 13 tahun, lebih dari setengah hidup saya saat ini. Dari Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson masih imut-imut sampai akhirnya dewasa. Dari yang ceritanya ceria-ceria dan berwarna, sampai akhirnya suram. Dari yang saya nge-fans sama Daniel Radcliffe, sampai akhirnya saya sadar kalau dia ga seganteng itu. Fluktuatif lah. Harry paling ganteng di “Harry Potter and The Goblet of Fire” doang pas rambutnya panjang.

Terima kasih JK Rowling yang udah bikin cerita super keren yang bisa membuat saya setia mengikuti dari kecil sampai segede gini, dari saya SD sampai saya (mau selesai) kuliah. Suatu hari nanti saya akan beli dan koleksi ketujuh seri HP supaya anak saya tau novel seri ter-harus-baca pada jaman saya. Ceritanya boleh “It all ends”, tapi kayaknya legenda cerita HP ini ga bakal berakhir deh. :)