pasca sarjana

Bukan bukan, saya sekarang ga lagi ambil program magister.
Ini hanya unek-unek seorang sarjana yang FYI sudah hampir sembilan hari diwisuda dan masih tidak jelas hidupnya. #gapentingsihbuatlosemua

So, seneng udah jadi sarjana heh? Terus mau ngapain?
Awalnya senang alhamdulillah. Lalu hampa.
Rencana waktu dekat sih inginnya bekerja dulu. Merasakan kehidupan kantor. Merasakan punya penghasilan dan ngerasain uang hasil keringat sendiri. :’)

Ga lanjut program pascasarjana beneran?
Kalau ada kesempatan mungkin akan lanjut S2 di kemudian hari. Yah sebagai seseorang yang belum menemukan passion, rasanya saya harus mencoba banyak hal sampai menemukan apa yang menjadi passion saya. Kerja, kuliah, coba semua coba semua hahaha.
Yah kalau S2 pun sebenernya prioritas saya masih cetek banget sih. Jalan-jalan, cari pengalaman, ngerasain hidup di luar negeri, dan tentunya mengejar si doi yang superpintar. #eaaa

Trus sekarang lagi apa?
Sekarang lagi nganggur .___.
Setelah beberapa hari hampa tidak ada kegiatan berarti, sepertinya akan diadakan program untuk mengisi hari-hari kosong ini. Belajar menyetir, iseng-iseng masak, ikut beauty class minggu depan, lanjutin hobi jahit-jahit dan papercraft, belajar toefl. Hmm banyak juga ya. Semoga hari-hari besok tidak sia-sia :D

Terus mau curhat apalagi?
Udah segini aja .__.
Salam cinta dari saya yang pasca jadi sarjana lalu geje.

 

nol tidak sama dengan kosong

Menelepon travel...
Saya (S): mau reservasi ke Bandung untuk blablabla
Petugas Travel (PT): nomor yang bisa dihubungi?
S: nol-delapan-satu-blablabla
PT: baik, saya ulang ya. kosong-delapan-satu-blablabla

Agak tergelitik (halah!) rasanya kalau orang lain melafalkan nol sebagai kosong. Misalnya aja nyebutin nomor telepon: kosong-delapan-satu-blablabla. Kenapa tergelitik? Ga geli juga sih padahal. Apa dong ya bahasanya. -_-

Waktu itu lagi osjur di kampus, dan salah satu senior meminta kami menyebutkan NIM. satu-tiga-dua-KOSONG-tujuh-blablabla. Lalu kami diingatkan untuk menyebutnya satu-tiga-dua-NOL-tujuh-blablabla.

Emang segitu pentingnya ya? Saya juga ga tau sih. Bahasa Indonesia sendiri sih ya yang suka aneh, ga konsisten, banyak rancu. Kalau bahasa Inggris kan nol = zero, kosong = empty. Jelas gtu. Kalau gw sih mikirnya “nol” itu untuk menunjukkan nilai atau karakter, sedangkan “kosong” itu untuk keadaan atau situasi. Misal: “Suhu di sini nol derajat celcius”, “Ruangannya kosong”.

Contohnya aja, kalo di matematika kan ada pelajaran himpunan (set). A={} jelas beda dengan A={0}. Himpunan A yang pertama tidak berisi alias kosong, sedangkan himpunan A yang kedua ada isinya, yaitu “nol”.

Lalu, contoh lainnya sebagai berikut: misalkan saya ambil sebuah kuliah yang dalam prosesnya terdapat 3 kali kuis.

Kasus 1: kuis pertama saya sukses jaya dan dapat 100; kuis kedua saya ikut namun tidak bisa sama sekali sehingga dapat 0; kuis ketiga saya belajar mati-matian dan dapat 100 lagi. Maka saat ini nilai rata-rata kuis saya adalah (100 + 0 + 100)/3 = 66,66.

Kasus 2: kuis pertama saya sukses jaya dan dapat 100; kuis kedua saya tidak ikut karena sakit sehingga nilai saya kosong, sekosong kertas jawaban kuis saya; kuis ketiga saya dapat 100 lagi. Maka saat ini nilai rata-rata kuis saya adalah (100 + 100)/2 = 100.

Kenapa nilai kedua tidak diperhitungkan. Ya ga lah, bahkan saya ga menulis nama dan jawaban di kertas jawaban kuis. Kalau dosennya baik sih harusnya ga diperhitungkan atau bakal diberi kuis susulan nanti-nanti. :P

Contoh lainnya, misal dalam suatu hubungan (relationship) yang dinilai dari 0 sampai 1. Sebut saja A dan B. Saat mereka belum saling kenal, nilai hubungan mereka kosong. Akhirnya suatu hari mereka pun berkenalan dan hubungan mereka akhirnya ada nilainya. Ketika A dan B sedang dekat-dekatnya, maka bisa dinilai hubungan A-B bernilai mendekati atau bahkan 1. Tapi kemudian A-B slek, tidak sependapat dan sejalan lagi ampe parah parah parah banget sehingga hubungan mereka bernilai 0. Walaupun nilainya 0, tapi A dan B sudah terlanjur kenal kan.

Sekian pemikiran random saya. Please CMIIW.

Ahh nulis apaan sih gw, random pisan. Makin ke bawah contohnya makin maksa dan ga relevan. -_-
Ya pokoknya gitu deh. Beda kan, kan, kan? :P #maksa
Gw sih sebagai manusia yang tentunya tidak sempurna hanya bisa mencoba dan terus mengingat untuk menyebut nol sebagai nol dan kosong sebagai kosong. #naon

beruntung atau tidak beruntung?

Kemaren ini naek omprengan dan tidur saya di omprengan sangat tidak nyenyak. Hal tersebut dikarenakan seorang mbak-mbak di depan saya sedang menelepon, sibuk sekali. Kenceng pula, berasa omprengan milik dia aja, heuu. Lagi pusing banget dia kayaknya.

Mbak-mbak (MM): gila kamu ya, aku disuruh nunggu ampe jam 12 karena katanya mau dijemput pulang kantor, tapi kamu ga dateng-dateng!

MM: oh, kamu ga mau bicara ama aku lagi? fine! aku juga ga mau bicara ama kamu lagi.

MM: apa? apa? alasan kamu sih kebanyakan. katanya kerja, kerja apa? mana nomer kantor kamu?

……..

dan pembicaraan si mbak-mbak via telepon dengan lawan bicara (yang saya tebak pasti itu pacarnya) berlangsung terus hampir sepanjang jalan.

Lain lagi dengan cerita temen yang dihadapkan pada beberapa pilihan cowo. Temen yang statusnya labil-labil-galau sehingga se-jagat dunia maya tau kalau dia lagi labil. Temen yang ngebet banget pengen punya pacar. Temen yang banyak masalah ini itu dengan pasangannya. Dan lain-lain tak terhitung banyaknya, haha

Dan inilah saya, manusia biasa-biasa saja yang ga pernah atau jarang sekali dipusingkan dengan hal-hal seperti itu. Beruntung? Atau tidak beruntung?