Tentang tren ayo menikah

wedding preparation

Photo by Terje Sollie on Pexels.com

Belakangan ini saya perhatikan di media sosial banyak ajakan menikah terutama untuk kalangan muda. Bahkan beberapa saat yang lalu, ada sepasang anak SMP yang kebelet nikah karena takut tidur sendiri (?!).

Yang saya ingat, dulu saat SMP, belum terbersit keinginan untuk menikah sama sekali. Menikah adalah untuk orang dewasa. Semasa SMA pun, obrolan dengan teman sebaya kira-kira seputaran lanjut ke mana kuliah nanti, boyband apa yang sedang hits, dan semacamnya. Bukannya membicarakan tentang pernikahan dan pria seperti apa yang akan menjadi imam saya nanti. Tetapi nampaknya jaman sudah berubah.

Read More

demo

Beberapa saat yang lalu Ibu bilang ke saya supaya besok ga usah pergi ke kantor, karena katanya bakal ada demo super heboh. Kebetulan kantor saya terletak di daerah Sudirman, cukup dekat dengan pusat demo yang biasanya di HI. Cukup strategis juga untuk kena macet atau rusuh. Iya, Ibu takut kalo demo besok berujung kerusuhan. Tapi apa daya, sudah hampir seminggu saya tidak masuk kerja karena sakit. SMS dari atasan pun mulai berdatangan. Saya besok harus masuk! (9′-‘)9

Entah kenapa ya, perasaan makin kesini yang namanya demo makin seriiing aja. Kadang akun twitter @infojakarta sampai nge-post list demo yang bakal terjadi di hari tertentu. Segitunya.

Kelakuan orang saat demo juga makin aneh-aneh dan ekstrem, misalnya dengan bakar diri. Ga paham ya tujuannya apa. Saya berduka atas kematiannya. Tapi ya ga paham aja, seakan kalau bakar diri akan menyelesaikan masalah. Bukannya sia-sia ya? Hidup yang bisa dibuat lebih produktif, lebih berkarya, dan lebih membahagiakan dan membanggakan bagi orang sekitar, malah dibuang begitu saja.

Ada lagi bentuk demo yang merugikan orang banyak, misalnya dengan menutup jalan tol. Sungguh ya ga paham dengan isi kepala para pendemo itu. Penutupan jalan tol jelas merugikan buaaanyak orang, menghambat distribusi barang, merugikan usaha jasa travel, melumpuhkan banyak sektor, dan merugikan perusahaan yang di demo juga. Katanya mau naik UMR, kok perusahaannya dibikin rugi, nanti investornya cabut dong, trus bangkrut, pada di PHK deh. Mamam!

Hmm gini ya, orang-orang demo katanya untuk membela hak blablabla. Tapi, dengan demo itu seringnya sih mereka merugikan orang lain juga. Misalnya dengan menambah kemacetan Jakarta yang terima-kasih-udah-macet-banget-jangan-ditambah-tambah. Bikin ga simpatis ga sih? Orang-orang jadi berharap banget ga ada demo-demo-an.

Trus gimana mau terjadi perubahan kalo ga demo? Gimana mau beraspirasi? Kalo menurut saya sih jangan apa-apa dikit di demo-in. Kalo demo keseringan, demo yang serius juga jadi ga berkesan. Coba kalo jarang-jarang demo, sekalinya demo kan pasti orang penasaran. “Eh ada apa nih, kok tumben ada demo.” Begitu.

Nah, terus demo besok yang katanya super itu untuk apa sih? Demo menentang dihilangkannya subsidi BBM katanya. Kenapa ditentang? Ah palingan itu orang-orang mampu yang ga mau spend lebih banyak uang untuk kebutuhan bensinnya. Alasan pribadi huh. Orang-orang di pelosok aja sudah sejak lama membeli bensin yang jauuuh lebih mahal dari harga dibayar oleh orang-orang kota. Saya sih setuju aja kalo subsidi BBM dihilangkan. Yaudah sih harganya naik, berarti kurangin penggunaan kendaraan pribadi, sering-sering naik kendaraan umum. Terus semoga jumlah kendaraan bermotor di jalanan berkurang, jadi ga macet deh. Terus demand terhadap transportasi publik meningkat, jadi uang yang harusnya untuk subsidi BBM itu dialihkan untuk perbaikan transportasi publik. Indonesia jadi oke dan kece deh! Iya itu pendapat saya optimis dan juga mungkin egois karena ga memperhitungkan kenaikan harga-harga barang. Berarti berdoa juga deh semoga budaya konsumtif berkurang, dan masyarakat lebih bijak dan memiliki prioritas yang baik dalam membelanjakan uangnya.

Yah intinya gitu, saya ga suka demo-demo-an kecuali demo masak. Terserah mau dibilang cuek dan ga peka. Ga memberi solusi pula. Saran saya, kurang-kurangin lah itu demo yang makin lama makin ga efektif. Kalau mau solusi, mulai dari diri sendiri dulu deh. Tanggung jawab sama pendidikan dan pekerjaan sendiri. Jadi orang jujur dan baik. Lalu ambil posisi-posisi di pemerintahan. Ubah yang bobrok dan di-demo-in terus itu dari dalam. Emang ga instan, tapi hopefully di masa depan ada hasilnya. :)

racauan malam sebelum tidur.
demo-ers, jangan rusuh ya besok, kasian banyak orang tua di rumah yang khawatir, termasuk bapak ibu saya :)

Posted with WordPress for BlackBerry.

di mana keadilan?!

Sebenernya ini obrolan ga penting antara gw dan adek gw yang cowo saat kita jalan bareng kemaren.

Obrolan ini dimulai ketika kita liat segerombolan cewe yang kayaknya abis reunian trus mau pisah. Setelah melihat gerak-gerik mereka, akhirnya adek gw berkomentar.

Tuh kan, sesama cewe pelukan cipika cipiki kayaknya biasa. Kalo cowo yang kayak gtu, maho!

Cewe gandengan tangan aja gapapa. Kalo cowo, homo!

Sesama cewe panggil ‘sayang’ dan ‘cinta’ normal. Kalo cowo, gay!

Trus cewe pake celana biasa aja. Cowo pake rok dibilang aneh!

Di mana keadilan?!

Jadi selama ini bohong kalo sebenernya kaum perempuan tertindas. Ada juga sekarang emansipasi kaum pria yang harus diperjuangkan!

yap begitulah pendapat si adek.

gw sendiri juga ga ngerti sih kenapa fenomenanya begitu. anyone?

Gurita

Gurita alias octopus adalah hewan laut berjenis cephalopoda — hewan dengan kaki di kepala. Sejenis dengan cumi lah. Masih segolongan mollusca juga ama siput, kumang, dan teman-temannya. Hewan ini memiliki delapan kaki bertentakel yang terlihat sangat menggelikan. Biasanya gurita sangat nikmat apabila dihidangkan dalam bentuk takoyaki atau okonomiyaki.

takoyaki :D

Sebagai makhluk yang pasti menerima ancaman dari mana pun tentunya gurita memiliki pertahanan diri yang cukup keren, yaitu menyemprotkan tinta, kamuflase, dan memutuskan lengan tentakelnya. Menurut para ahli biologi, gurita merupakan makhluk invertebrata tercerdas. Walaupun pendapat tersebut masih diperdebatkan sampai sekarang. [Source: wikipedia]

Lebih hebatnya lagi, jaman sekarang gurita jago meramal!!! Salah satu alasan saya mencari tau dan menge-post tentang makhluk menggelikan ini salah satunya yaa karena fenomena gurita yang katanya jago meramal hasil pertandingan sepak bola di worldcup 2010.

Nun jauh di sana adalah seekor gurita bernama Paul. Usianya katanya 21 tahun. Selama ini kabarnya dia sukses menebak pemenang pertandingan sepakbola. Sampai-sampai H-sekian final worldcup 2010 ini, prediksi yang paling dinanti yaa prediksi si Paul ini (udah ga paham lagi ama dunia -__-).

Namun sebagai pendukung Jerman yang kemaren ini baru dikalahkan oleh Spanyol di babak semifinal, saya tidak percaya dengan ramalan si Paul!!! Menurut saya, kekalahan Jerman yah bukan karena si Paul meramalkan demikian, tapi karena efek psikologis yang diakibatkan kepercayaan banyak orang bahwa ramalan Paul tentang kekalahan Jerman. Efek psikologis ini tentunya akan mempengaruhi performa tim. Pokoknya saya ga percaya si Paul!

-Ditulis dengan rasa lapar akan takoyaki, gurita saos mentega juga boleh-

generasi “dahsyat”

Waktu itu lagi di kantor pagi-pagi. Seperti biasa, nyampe kantor masih pagi banget, terus nonton siaran ulang piala dunia 2010. Abis itu TV pagi-pagi biasanya nayangin acara gosip atau acara musik. Yahh mau gimana lagi, akhirnya terpaksa mendengarkan musik dan lagu-lagu aneh dari band ala inbox, dahsyat, dan kawan-kawannya.

Saya ga peduli dengan musik, lagu, bahkan penyanyinya karena emang ga ada yang bagus dan menarik untuk saya. Satu hal yang saya perhatikan di sini adalah orang-orang yang menonton di studio tersebut. Teman saya biasa menyebut mereka sebagai manusia layang-layang. Gaya tari mereka memang seperti layang-layang, tangan di atas melambai ke kanan ke kiri. Selain itu, tampilan mereka pun layaknya anak layangan a.k.a. alay.

HERAN, kenapa mereka sempet-sempetnya pagi-pagi buta ke studio cuma untuk kayak gitu doang. Karena dibayar? Menurut saya ga logis, karena bayaran mereka biasanya kecil. Trus karena apa dong? Se-rela itu ninggalin sekolah cuma untuk hal ga penting kayak gtu doang. Temen saya cerita kalo tetangganya ada yang suka ikutan kayak gtu ampe ninggalin sekolahan diem-diem padahal ijin keluar rumahnya untuk sekolah. Kasian banget orang tua nya udah sekolahin mahal-mahal, eh kelakuan anaknya malah kayak gtu. :(

Kalo udah kayak gini yang salah siapa? Anaknya? Orang tuanya? Stasiun TV-nya?

Huh, acara TV sekarang emang ga ada yang beres, kurang mendidik. Semoga orang-orang di jalan yang benar bisa membantu saudara-saudaranya di jalan yang salah untuk kembali ke jalan yang benar. Jangan sampai generasi kita nantinya malah jadi generasi “dahsyat”.