Moving: balada pencarian tempat tinggal di kota baru

Hej!

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai pindahan, kali ini saya akan menceritakan balada pencarian tempat tinggal di Swedia. Kebetulan baruuu aja lima hari yang lalu kami pindah ke apartemen baru. ~\o/~

Oiya, alhamdulillah wa syukurillah segambreng dus yang dikirim di postingan ini, akhirnya sampai ke apartemen beberapa hari sebelum manusianya resmi pindah. Aku takjub loh bisa sampai dalam seminggu, soalnya selama ini ga pernah berekspektasi terlalu tinggi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan negeri gurun. :))

apartment architecture balcony building

Photo by George Becker on Pexels.com


Kami belum ada pengalaman sama sekali dalam mencari tempat tinggal; di Saudi alhamdulillah sudah disediakan akomodasi di dalam kampus, sedangkan di negara sendiri belum punya rumah sendiri. Ehehe.

Setelah tau bakal pindah ke Swedia, kami mendapat daftar agen properti di kota tempat kami akan tinggal. Selain itu, kami juga mengontak salah satu warga Indonesia di kota tersebut untuk mencari tau tentang wilayah yang ok, range harga, proses sewa, serta minta tolong survei. Sungguh merepotkan orang tidak tanggung-tanggung.

Pencarian kami mulai dengan mengirimkan email ke beberapa agen properti. Oh iya, mencari tempat tinggal di sini nampaknya sesulit mencari kerja. Di dalam email tersebut, biasanya orang bercerita singkat tentang diri dan keluarganya, kerja sebagai apa di mana, punya peliharaan apa ga, dsb dst. So, we did the same! Hasilnya? Ga ada yang mbales hehehe. Konon di sini lagi krisis perumahan; banyak yang mencari tempat tinggal, tapi unit yang tersedia tidak sebanyak itu.

Seorang teman yang sudah tinggal lebih dulu di Swedia menyarankan kami untuk mencari di sebuah situs marketplace, tak lupa dia mewanti-wanti agar kami tidak terjerat scammers. Akhirnya, pagi siang malam kerjaan kami me-refresh situs marketplace dan menghubungi para landlord dengan email perkenalan lengkap. Awalnya agak aneh sih kok mesti detil banget, tapi setelah saya pikir-pikir, masuk akal juga. Kalau saya mau menyewakan rumah saya ke orang lain, tentunya saya juga mau background check dulu. Jangan sampai tenant-nya financially unstable, jorok dan semena-mena, calon-calon penghutang hahaha.

Oh iya, sebenarnya selain cara di atas, bisa banget “antri” di website agen properti yang legal. Masalahnya, untuk mendaftar diperlukan personnummer yang baru diperoleh di bulan-bulan awal tinggal di Swedia. Selain itu, antrian housing ini bisa ratusan (atau malah ribuan!). Jelas tidak cocok untuk yang butuh cepat seperti kami. Namun begitu, hal ini bisa jadi pertimbangan bila ingin tinggal di sini untuk jangka panjang supaya tidak perlu menyewa rumah melalui landlord.


Dalam urusan mencari tempat tinggal, kriteria kami tidak macam-macam, yang penting:

  1. Lingkungan: aman, bukan area suram banyak preman-preman gitu.
  2. Lokasi: strategis; mudah diakses dengan bus, sepeda, ataupun jalan kaki.
  3. Ukuran unit: kecil gapapa yang penting dapurnya terpisah dengan kamar, karena saya ga suka selimut bau masakan.
  4. Harga: masuk akal dan average untuk ukurannya agar kantong tidak bolong.
  5. Furnished: kalau bisa loh yaaa. Kalau ga ya gapapa sih, paling beberapa hari pertama tidur di lantai yang dingin tanpa kasur dan selimut, hiks.
  6. Masa sewa: bisa disewa jangka panjang, karena males banget kalau beberapa bulan sekali mesti pindah. I’m so tired of packing-unpacking my life. -__-

Lah banyak juga ya ternyata?! Hahahhaa dasar mak mak rempong!

Setelah melihat jutaan listing apartemen, ada satu hal yang menurut saya unik, yaitu masa sewa unit yang (sangat) pendek. Ada gitu ya (banyak malah) orang yang sewain unitnya hanya untuk jangka waktu 2 bulan; karena lagi liburan lah, lagi school break, lagi internship di tempat lain. Ya apa ada yang mau? Kalau iklan seperti ini banyak banget, berarti pasarnya ada sih. Tapi tetep aja aneh menurut saya mah kalau rumah kita dua bulan ditinggali oleh orang asing, barang-barang pribadinya dikemanain…? Terus itu yang nyewa sebentar-sebentar padahal bukan visitor atau dalam rangka liburan, emang ga capek gitu sebentar-sebentar pindah, kapan settling in-nya…?


Setelah mengirim jutaan permohonan kepada para landlord seperti fresh graduate yang sedang mencari kerja, akhirnya satu orang membalas pesan kami. Memang jodoh ga ke mana ya. Setelah dia menyeleksi beberapa pemohon, akhirnya kami terpilih sebagai tenant! Waktu kepergian dia dan perkiraan kedatangan kami pun alhamdulillah cocok.

Seminggu sebelum menempati apartemen baru, tibalah saatnya kami untuk bertemu dengan landlord dan tour de apartment secara langsung, ngobrol-ngobrol serta menandatangani kontrak.

First impression kami: WE LOVE THIS!

Modelnya bukan modern Scandinavian gitu karena apartemen ini dibangun tahun 50-an. Tapi, apartemen ini so cozy dan ukurannya so so so perfect for our little family. Selain itu, lingkungannya ok dan strategis banget. Landlord-nya pun nampak baik dan mereka meninggalkan beberapa furnitur, plus banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga untuk kami pakai. Alhamdulillah ya jadi ga perlu terlalu banyak beli printilan ini itu.

So here we are for another two years insya Allah. Alhamdulillah, I cannot ask for a better home. :”)

Moving: pack your household into boxes

Hallo hallo!

Beberapa waktu terakhir ini kami sangat disibukkan dengan proses pindahan ke negara tujuan berikutnya (hallo Swedia!). Dengan (alhamdulillah) lancar dan suksesnya sidang doktoral suami satu bulan yang lalu, rasa harus pergi dari negara gurun ini jadi semakin real. Selain urusan administrasi, momok terbesar dalam proses pindahan kali ini adalah urusan logistik.

Read More

Hoarding

Hola!

Kita baru aja pindahan loh, walaupun masih di sini-sini aja, di Arab Saudi.

Jadi, sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba suami dapat email yang menyuruh menginformasikan kami untuk pindah dari apartemen ke unit rumah lain yang hanya berjarak satu kilo. -__-

Sebenarnya ga tiba-tiba juga sih. Beberapa bulan yang lalu kami sudah mendapatkan info bahwa area apartemen tersebut akan dialokasikan untuk mahasiswa yang belum berkeluarga, tetapi karena suami sudah diujung masa studinya (amin!), kami meminta keringanan untuk tidak dirempongkan dengan proses pindahan. Dan kata mereka ok (tapi ternyata boong, huh!).

Kami diberikan waktu satu minggu untuk pindah. Cukup lah ya waktunya. Toh barang kami juga ga banyak-banyak amat.

(((GA BANYAK-BANYAK AMAT)))


Proses pindahan yang saya rasa akan berjalan dengan rapi, berujung cukup melelahkan karena setelah mbongkar seisi rumah sampai ke sudut-sudutnya, dapat saya simpulkan bahwa rumah kami itu isinya: 70% sampah, 20% barang tidak terpakai, dan 10% actual useful stuffs. Tanpa kami sadari, kami sudah menjadi hoarder, penimbun. -__-

Selama melempar barang-barang ke dus packing, banyak sekali penemuan mencengangkan:
“Waw ada bahan makanan yang udah expired 2 tahun yang lalu.”
“Yaampun, ngapain lagi ini bekas boarding pass dari jaman kuda.”
“Ckckck, setumpuk koleksi kartu kamar hotel yang tiada berguna.”
“Ini print-an apa sih. Kertas apa sih. Banyak banget kertas numpuk ga jelas.”
“Hmm makeup dan skincare yang ga cocok dan menumpuk begitu saja.”
“Baju ini kayaknya udah jutaan tahun ga pernah dipakai ya.”
Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Akhirnya, kami berakhir dengan plastik sampah yang tak terhitung jumlahnya, empat dus besar baju-baju yang sudah tidak pernah dipakai, dan segunung barang untuk di-giveaway.

oMO7ic3

Di titik ini, kami sudah berada di posisi tidak peduli lagi dengan nilai sentimental ini dan itu (kecuali satu memento pouch for my next crafting project, hihihi).


Setelah proses pindahan selesai, saya mulai menjual benda-benda yang kalau diingat-ingat sudah beberapa bulan menganggur begitu saja. Rak ini, rak itu, toples-toples kecil, juicer, sandwich maker, kulkas kecil, slow cooker, mixer; ternyata tanpa keberadaan mereka, saya ga kecarian juga. Alih-alih menambah sesuatu di kehidupan saya, ternyata memang ada beberapa benda yang hanya memenuhi rumah tanpa menambah nilai apapun. Mengurangi benda-benda tersebut malah membuat hati lebih “lega”, serta membuat rumah lebih rapi dan fungsional. Hal ini juga bakal membantu banget saat kami harus pindah for good dari sini.

Sejak pindah ke sini, saya tau bahwa hidup di sini hanya sementara (hidup di dunia juga hanya sementara sih, nis). Hal ini membuat saya jadi berpikir berulang kali saat berbelanja.
Apakah saya benar-benar membutuhkan benda ini?
Apakah ada benda lain di rumah dengan fungsi serupa?
Apakah benda ini menambah nilai di keseharian saya (menambah produktivitas, mempermudah pekerjaan, dsb)?
Apakah benda ini akan dipakai dalam waktu lama?
Apakah benda ini nantinya bisa dan layak dipindahtangankan (dijual/dikasih)?
Tapi, setahan apapun untuk tidak berbelanja, ternyata seiring berjalannya waktu, barang-barang ya terus bertambah aja. Apalagi kami sudah di sini hampir lima tahun.

Di titik ini lah kami sadar bahwa penting banget yang namanya REGULAR CLEANING!

Selama ini sering banget memperhatikan para bule dikit dikit spring cleaning, summer sale; pokoknya bersih-bersih setiap ganti musim. Ternyata emang perlu banget sih sesekali me-review isi rumah, decluttering; menilik tumpukan kertas-kertas yang semakin tebal, menyortir benda-benda yang sudah tidak terpakai setelah sekian lama, menyingkirkan mainan anak yang sudah tak pernah disentuh, dan memindahtangankan baju-baju yang sudah ada di sudut lemari sampai kita lupa keberadaannya.

Saya bukan penggiat Konmari, tapi kata-kata Mbak Marie ada benarnya juga:

You can also define things that spark joy as things that make you happy.

Does it give you a thrill of excitement when you hold it? Does it give you that little spark of happiness? If not, then it’s time to let it go from your life.

A lot of people hit a roadblock because they feel they have to throw something away, but that’s not the point. It’s about understanding what needs to go versus what’s important to you.