Hidup untuk makan

Ada dua kategori manusia dalam soal per-makan-an:

  1. makan untuk hidup, dan
  2. hidup untuk makan.

Manusia dalam kategori pertama menggunakan ritual makan seperlunya, sebagai pemenuhan nutrisi, obligatory. Golongan kedua adalah yang baru sampai kantor udah mikirin nanti makan siang apa, yang baru hari Selasa udah mikirin nanti weekend mau makan apa di mana, yang kalau jalan-jalan nyarinya makanan.

Saya jelas termasuk golongan kedua.

waffle-on-white-ceramic-plate-511763

Makan. Makan. Makan. Saya suka makanan. I love eating. Jag älskar mat.
Kalau setiap manusia memiliki satu dari seven deadly sins, dapat dipastikan saya adalah gluttony. Read More

Menghargai makanan

Kala gelombang malas memasak melanda, saya dan suami suka sarapan di kantin kampus dengan menu omelet dan waffle-nya yang super enak. (Sesungguhnya ini menu terenak di diner ini, main course-nya malah jarang ada yang baleg, hahaha).
Ketika mengembalikan nampan makanan, kami mendapati sebuah pemandangan miris: sepotong waffle, tergeletak di nampan lain, hanya termakan secuil. WHY?! Kan sayang. T-T

Begitu pun juga kemarin ini di sebuah restoran. Saat sedang menunggu pesanan makanan kami datang, kami menengok meja sebelah yang penampakan makanannya sangat menarik.

“Itu apa ya, menarik banget.”
“Coba aja samperin, tanya namanya apa.”
“Ga ah, malu hihihi.” *heu dasar anak sok malu malu padahal mupeng*

Dan ketika meja sebelah selesai makan dan pergi, doeeeennnggg makanan tersebut masih tersisa banyak di piring dan ditinggal begitu saja dong.

waffle beside cherry and ice cream

Potongan waffle yang malang. Bukan penampakan sebenarnya, tapi mirip, sungguh. Photo by Pixabay on Pexels.com

Pemandangan seperti ini biasanya tidak hanya kami temukan di restoran, tapi juga di undangan. Sering banget kan lihat orang ambil makanan ini itu lauk ini itu, dan akhirnya tidak dihabiskan, lalu ditinggalkan begitu saja. Kebayang ga sih, bahwa makanan yang sudah “terdampar” di piring kita itu ga bakal bisa dimakan oleh orang lain. Kalau tidak dimakan, ya ujung-ujungnya adalah di tempat sampah. M U B A Z I R.

Sebagai orang yang suka makan tapi kapasitas perut terbatas, saya juga terkadang tergoda untuk mengambil semua semua semua makanan yang ada di depan mata. Tapi kemudian saya teringat ajaran kakek bahwa ketika selesai makan itu piring harus licin, maka ambillah makanan secukupnya. Tapi, bagaimana ketika makanannya berbagai jenis dan semuanya menarik? Inilah gunanya makan ramean dan punya +1 ke acara undangan. Lo bisa sharing dan icip semua makanan. :))

Di sini juga saya bangga dengan budaya “makan tengah” dan bungkus makanan yang sangat lazim di Indonesia. Kenapa saya bilang budaya Indonesia? Karena hampir 5 tahun tinggal di negara orang, saya belum pernah liat orang lain minta bungkus makanan di restoran. Kalau saya sih prinsipnya ogah rugi, orang udah bayar ye kann.


Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel menarik ini yang menjelaskan tentang pedoman The Power of Five dalam budaya Jepang dan kaitannya dengan makanan. Secara singkat, pedoman tersebut antara lain:

  1. Five senses: makanan harus dapat dinikmati dengan lima indera (rasa, bau, lihat, sentuh, dan bau).
  2. Five colors: keberadaan lima warna (putih, hitam, merah, hijau dan kuning).
  3. The fifth taste: asin, manis, asam, pahit, dan umami.
  4. Five ways: mentah, dididihkan, digoreng, dikukus, dan dipanggang.
  5. Five attitudes: lima sikap dalam menerima makanan.

Mengikuti kaidah di atas dipercaya dapat meng-improve kesehatan dan kemampuan memasak kita, juga menambah kekayaan (rasa, tekstur) makanan. Meskipun banyak yang tidak mengetahui asal-usulnya, kaidah tersebut sudah tertanam sehingga terbawa ke dalam keseharian mereka secara natural.

Hal-hal di atas mungkin secara tidak sadar juga sudah diterapkan dalam keseharian kita ya, namun ada satu poin yang menarik di sana, five attitudes:

  • I reflect on the work that brings this food before me; let me see whence this food comes.
  • I reflect on my imperfections, on whether I am deserving of this offering of food.
  • Let me hold my mind free from preferences and greed.
  • I take this food as an effective medicine to keep my body in good health.
  • I accept this food so that I will fulfill my task of enlightenment.

Di dalam poin tersebut, mereka merefleksikan kerja yang dibutuhkan agar makanan tersebut sampai di piring mereka; kemudian merenungkan ketidaksempurnaan mereka, apakah mereka layak dengan hidangan tersebut; menjaga pikiran mereka dari keserakahan; dan memperlakukan makanan tersebut sebagai penjaga kesehatan agar dapat menjalankan aktivitas.

Intinya: menghargai makanan segitunya. *terharu*


Saya jadi teringat, di kantin kampus kemarin itu ada sebuah infografik menarik mengenai food waste yang menjelaskan perjalanan makanan sampai di piring kita. Menurut informasi yang saya baca saat itu, banyak sekali air, energi (listrik, bahan bakar fosil, dsb), serta daya manusia yang dikeluarkan agar makanan sampai tersaji di piring kita.

Tenaga petani yang berkebun dan beternak hewan; air yang digunakan untuk irigasi dan mengurus hewan; bensin yang digunakan untuk transportasi dan distribusi; energi listrik yang digunakan untuk mesin pendingin dan toko tempat kita berbelanja; tenaga para supir, pekerja pengemas makanan, penjual, sampai penyaji; dan masih banyak yang lainnya.

Dari sekian panjangnya proses mulai dari producing, processing, sampai retailing, tentunya ada saja bahan makanan yang terbuang, misalnya karena busuk. Yo mosok tega sih udah sekian banyak resource agar makanan sampai ke kita, eh di bagian consuming kita buang-buang juga makanannya.

global-food-waste-infographic-1-638

Menurut infografik di atas, konon setiap tahunnya di seluruh dunia 30% bahan pangan terbuang! Hal tersebut mengakibatkan 25% penggunaan air dunia dan 300 juta bahan bakar fosil menjadi sia-sia. Selain itu, makanan yang terbuang itu juga akan terdampar di landfill dan memproduksi greenhouse gas. Makin makin aja deh loss-nya.


Informasi-informasi yang saya dapatkan ini tentunya juga menjadi pengingat diri sendiri untuk selalu menghargai dan tidak membuang-buang makanan. Yuk yuk yuk mulai meal plan, belanja secukupnya, dan bungkus makanan sisa. Because the best food is the food that is eaten.

was having breakfast at yuky penkeik

Yeay, finally I wrote another food experience! :P

Kemarin, Aditya dateng ke Bandung jam 9.45. :”>
Dari travel di DU, akhirnya kita jalan kaki ke belakang Unpad dan sarapan di Yuky Penkeik.

Yuky Penkeik ini bertempat di Jalan Teuku Angkasa 28B, Bandung. Tempatnya kecil, kayak warung atau kedai di pinggir jalan, tapi cozy dan bersih. Seperti namanya, kedai ini menyediakan pancake bermacam topping (manis dan asin), risoles keju, minuman dingin, dan minuman hangat. Harganya relatif murah, kurang dari 20 IDR.

Ini pesanan kita:

This slideshow requires JavaScript.

Original pancake itu pesanan saya. Pancake dengan topping es krim vanilla disiram dengan madu; simple tapi selalu enak. Aditya memesan chocolate crackers; pancake dengan topping es krim vanilla, disiram dengan saus coklat, dan ada potongan beng-beng. Sekali lagi, ada POTONGAN BENG-BENG! Kesukaan Aditya banget ituuu. :D

Minumnya kita pesen air mineral sebagai neutralizer atas segala kemanisan di seluruh dunia, dan smooth and yummy; minuman coklat dingin yang di blend dengan potongan beng-beng. Sekali lagi, POTONGAN BENG-BENG!

Menurut saya, pancake-nya enaaaaak, porsinya pas ga berlebihan. Saus coklatnya enak karena ga terlalu manis. Minumannya juga enak. Pelayanannya cepat. Eh tapi kemaren pas dateng emang masih sepi banget sih cuma saya dan Aditya doang. Malah kita pikir tadinya blom buka. :P
Totalnya ga terlalu mahal juga, 13.5 IDR + 17.5 IDR + 12 IDR + 3 IDR. Worth it! <3

Seneng banget, saya yang suka pancake akhirnya nemu tempat makan pancake yang enak murmer asik. :D

hari tanpa ketupat dan teman-temannya

Itu cerita kemaren, 11 September 2010 alias lebaran hari kedua. Ampuuun, baru hari kedua aja udah ga sanggup makan ketupat dan santan.

Selain ketupat, gule buke, rendang, dan teman-temannya, di rumah cuma ada mie instan. Makasih deh, bisa-bisa pencernaan gw superlancar.

Akhirnya…

9 am:

Yap, apel fuji. Satu aja cukup, yang penting ganjel perut dulu biar ga krucuk-krucuk.

Siang-siang ke rumah kakek. Duh baso yang diidam-idamkan ternyata udah abis. Dan akhirnya malah ditawarin ketupat + gule buke lagi. Makasih makasih -_-

Akhirnya, keluar rumah bareng ade. Hujan-hujanan di dalam mobil, adem, jalanan lancar, denger lagu bossa. Niru-niruin gaya si penyanyi bossa. Dududu.., sejenak indah banget rasanya dunia. :’)

Kita ke mall deket rumah deh. Sungguh udah bosan ke mall ini. Tapi yaa mau gimana lagi deket sih, lagian juga mau servis laptop di sini.

2.30 pm:

Tadinya mau makan di Baso Malang Karapitan, tapiii sumpah rame pisaaan. Seakan-akan semua manusia di dunia mau makan baso. Jadi kita ke Wendy’s yang ga begitu rame deh. Gw pesen Baked Potato Chili and Cheese, si adek pesen Waffle Fiesta (ckckck ga bosen-bosennya dia pesen ini -_-). Tidak lupa kami memesan Nugget untuk dimakan berdua. :”> (Total: Rp 66rb)

Abis makan, kita ke Gramedia. Cuci mata, siapa tau ada buku yang menarik. Dan ternyata malah bingung mau beli apa.

3.45 pm:

Rasa lapar tak kunjung hilang. Muter-muter ga jelas akhirnya membawa kita ke Yogen Fruz.

Kita beli froyooo.. Ukuran medium tentunya, haha. Topping saya jeruk dan strawberry. Topping si adek almond dan peach. (Total: Rp 64rb)

Muter-muter lagi, kali ini beli pesenan Crepes untuk sepupu, trus ke Guardian beli pesenan Ibu.

Abis itu, service laptop. Bosan menunggu, akhirnya kita muter-muter lagi…

5 pm:

Dimsum timeee! Akhirnya makan dimsum juga, kali ini di Bamboo Dimsum. Saya pesen hakau, siomay, dan shrimp ball. Si adek pesen hakau, hakau yang ada daun-daun entah apa itu, dan pangsit. (Total: Rp 70rb kayaknya)

Selesai makan, muter-muter lagi sambil nunggu laptop yang katanya beres abis maghrib. Abis maghrib ke tempat service laptop dan katanya harus ditinggal ampe besok karena laptopnya nge-hang mulu. Kata si mas-mas service, mungkin hardware nya kena. Heuuu langsung gamang rasanya. Laptop yang udah nemenin hampir 3 tahun, please please please jangan pensiun dini. :'(

Sampai di rumah, saking gamangnya gw nyuci mobil (jelas sekaliii). Pelampiasan yang aneh, tapi produktif kan, haha… Karena kecapekan, akhirnya gw pun ketiduran jam 8 malam dan dengan menyebalkannya gw terbangun jam 12 malam dengan keadaan supersegar supermelek. Grrr…

2 am:

Laper krucuk-krucuk udah ga tahan lagi. Buka-buka kulkas dan menemukan bahan-bahan yang praktis untuk dimasak. Ugh dem, kenapa semangat memasak selalu muncul di jam-jam segini sih.

Dan inilah hasilnyaaa…

Gw sebut si penggagal diet! (difoto di kegelapan rumah saat penghuni rumah udah pada tidur)

Kentang berbentuk anyaman yang digoreng kering + daging spaghetti yang sudah dipanaskan + parutan keju di atasnya.

Hmm super yummy lah. Kenyaaaang dan enak enak enak… :9

Yaaah begitulah nasib hari ini tanpa ketupat dan santan.

Senang, dompet kurus, dan perut menggendut.

baru sadar postingan ini isinya makanan semua. aaaaa gawat!

hari ini harus makan apel aja. titik.

Lebaran itu…

…intinya makan makaaan.

Sesuai sebutannya, tujuannya yaa emang bikin badan makin LEBAR.

Coba aja, pagi-pagi selesai shalat Ied, di rumah langsung makan ketupat + gule-buke-buatan-Ibu-yang-enaknya-dewaaa + pindang telor.

Sumpah itu gule buke emang dahsyat banget lah. (Eh nulisnya buke gimana yaa? buke? bouquet? entahlah) Pokoknya itu sejenis gule dari padang. Kayak sate padang tapi ga pake tusuk. :D

Ampe rumah kakek, ternyata tante gw bikin NASTAR-SEGEDE-PASTEL kyaaaaa. Nastar pastel ini emang khas di keluarga gw. Biasa yang buat nenek gw. Ibu juga biasanya buat, tapi karena sibuk masak makanan berat, jadi ga sempat deh.

Nastar ini enak banget. Satu kue bisa 2 kali gigitan mulut penuh. Dahsyatlah. Yang lebih enaknya lagi, selai nanas nya itu dibuat sendiri jadi rasanya emang pas pas pas banget. XD

nastar segede pastel :9

Selain itu sebenernya gw selalu menantikan kastengel buatan Ibu. Adonan buatan Ibu dan cetakan buatan gw lebih tepatnya. Adonan Ibu itu pake keju edam berlebihan, belum topping serutan kejunya pake keju cheddar berlebihan juga. Dan cetakan gw, pastinya sesuai dengan suapan gw lah, besar besaaar. Enak pisan lah pokoknya. Sayang sekarang ga ada kastengel buatan Ibu.

ditulis dengan keadaan masih mabok nastar

akhirnya makan mie instan lagi

Yahh, akhirnya saya makan mie instan lagi setelah sekian lama. Ini pun karena orang se-rumah pada makan mie instan yang udah disajikan di sebuah mangkuk besar. Heran, lagi di rumah malah makan mie.

Banyak yang heran kenapa saya ga suka makan mie instan. Jujur aja, menurut saya rasanya ga enak! Baunya ga enak!

Padahal, sebagai anak kost-an harusnya saya jadi penggemar mie instan karena praktis dan murah. Tapi, tetep aja, ogah! Mendingan makan mie telor yang suka ada di tukang nasi goreng atau malah mie ayam yang kayak di Bakmi GM. (ya iyalah!) :P

Untungnya, kalo di rumah sih saya mau aja disuruh makan mie instan, karena masaknya udah di tambah macem-macem, jadi rasanya ga kayak mie instan lagi. :D