Hal-hal yang tidak biasa saya lakukan, tapi saya lakukan ketika di Swedia

Panjang amat ya judulnya kayak headline BuzzFeed. :))

Tadinya mau nulis “Things I don’t normally do but I do when in Sweden” tapi kok rada aneh, terus isinya juga mau pakai bahasa Indonesia aja. Di-indonesia-in juga ternyata masih aneh. Ruwet. Kenapa ya dengan bertambahnya skill bahasa, saya malah jadi merasa tidak fasih di semuanya. Terkadang sulit menemukan padanan kalimat dalam bahasa Inggris, kadang awkward juga kalau tulisan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ingin deh seperti Ivan Lanin yang bisa membuat cuitan dalam berbagai konteks dengan bahasa Indonesia baku tanpa terasa janggal. Apakah skill bahasa bisa masing-masing 100%? Atau total kesemuanya 100%?

Lah ngelantur. Let’s back to topic…

Secara lingkungan, iklim, dan budaya, Swedia ini sungguh berbeda dengan Indonesia dan Arab Saudi yang pernah saya tinggali. Hal ini pun tanpa disadari mengubah kebiasaan saya.

Beli baju yang fungsional

Selama enam bulan tinggal di sini, saya sudah merasakan suhu di mana bisa pakai baju satu lapis doang sampai suhu di mana pakai baju tiga lapis masih kedinginan dan rasanya ogah ke luar rumah, padahal kemarin tuh the warmest winter ever loh, hahaha lemah! Read More