Nothing to Hide

nothing_to_hide-_publicity-h_2018

Aktivitas favorit gw yang sangat tidak produktif adalah nonton Netflix. Salah satu film yang baru aja gw tonton kemarin ini adalah “Nothing to Hide”, drama komedi Perancis yang bercerita tentang tujuh orang sahabat lama yang memutuskan untuk membuka notifikasi ponsel mereka di depan umum ketika makan malam bersama.

Dari premisnya sendiri udah ketebak kalau ini bukan hal yang bagus untuk dilakukan karena pasti permasalahan masing-masing karakter akan terbongkar di depan umum. Walaupun setting-nya hanya di meja makan, film ini ga bikin bosan dan claustrophobic. Karakter-karakternya juga menarik. Yang gw kira pasangan mesra banget, ternyata dibelakangnya ada affair. Yang gw kira suami nyebelin, ternyata dia yang paling waras dan bijak. Yang gw kira istri baik-baik, ternyata ya ga sebaik-baik itu. Ternyata walaupun udah berteman, bahkan menikah sekian lama, orang yang di samping mereka pada akhirnya nampak asing.

Di akhir film, bersamaan dengan berakhirnya gerhana bulan yang langka, ketika semuanya udah “pecah”, ada plot twist as if mereka ga melakukan pe rmainan itu. Agak mengecewakan sih (karena netizen suka dengan keributan!), tapi ini membuat gw jadi memikirkan interaksi setiap karakter di awal film sebelum permainan tersebut dimulai. Film ini mengingatkan gw juga bahwa jaman sekarang, ponsel itu seperti kotak pandora kita masing-masing. Jadi, demi terciptanya world peace, apakah private things should be kept private, even from your spouse?


Agak ga-nyambung-tapi-nyambung dari pembahasan film “Nothing to Hide”, bulan lalu ramai di twitter tentang suami yang kalau beli Gundam diam-diam dari istri.

Di Instagram, salah satu blogger yang gw follow juga bikin poll dan ask question mengenai hal serupa ke istri-istri, dan banyak juga yang melakukannya. Beli tas, make-up, skin care mahal tapi bohong tentang harganya ke suami. Membaca itu semua bikin geli dan kaget sih. :))

Belanja Gundam dan skin care diam-diam adalah hal yang sepele bangettt. Tapi menurut gw ini udah menunjukkan ketidakpercayaan dan kurangnya komunikasi. At least, ga ada kesepakatan sebelumnya antara suami-istri mengenai uang jajan masing-masing.


Bukan ahli dalam rumah tangga karena apalah arti pernikahanku yang baru seumur jagung. Tapi, kalau disuruh menyebutkan satu hal yang paling penting dalam hubungan ini, gw akan menyebut: komunikasi.

Prinsip gw, pasangan adalah satu-satunya manusia yang akan selalu ada buat gw sampai tua nanti. Ketika orang tua sudah tiada, anak sudah besar dan keluar dari rumah, teman-teman sedang sibuk dengan kehidupannya, maka manusia yang ada buat gw adalah suami. Penting banget bagi gw untuk merasa nyaman dan dapat membicarakan hal apapun ke suami, mulai dari hal yang ga penting, sampai yang penting; mulai dari obrolan yang receh, sampai yang serius. Dengan lancarnya komunikasi, mudah-mudahan ga ada yang harus ditutup-tutupi. Karena segala sesuatu yang dirahasiakan dari pasangan itu biasanya ga baik, dan yang ga baik-baik itu kalau ketahuan suka bikin masalah. Gtu aja sih.

Jadi gimana, masalah ga kalau isi ponsel kamu saat ini diketahui pasangan?

Bullying dan pentingnya pengasuhan keluarga

woman and child sitting on fur covered bed

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Kemarin ini, berita mengenai bullying yang dilakukan oleh sekelompok anak SMA kepada seorang anak SMP di Kalimantan Barat berseliweran di timeline saya dengan hashtag #JusticeForAudrey. Pelaku yang berjumlah 12 orang melakukan penganiayaan, bahkan sampai menusuk kemaluan korban karena permasalahan percintaan (yang bahkan tidak ada hubungannya langsung dengan si korban). Jagat maya pun geram dan mengutuk keras perbuatan para pelaku, serta mendesak KPAI/KPPAD untuk menempuh jalur hukum pidana alih-alih mediasi dan damai seperti yang mereka usulkan. Sebelumnya, jalan damai diusulkan karena mempertimbangkan para pelaku yang masih berusia sekolah dan masa depan mereka.

Terus apa kabar dengan kelanjutan studi dan masa depan korban? Tidak hanya luka fisik, korban juga mengalami luka batin. Luka fisik mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu, tapi apakah trauma itu akan hilang? Penegakan hukum di Indonesia memang di luar akal sehat. Lagipula, bukankah memasukkan sesuatu ke organ reproduksi orang lain without consent tuh udah masuk kategori rape ya?

Bullying bukan sesuatu yang baru, dari jaman kita (baca: saya) muda juga sudah ada, namun kurang terekspos saja. Dengan viralnya kasus ini, semoga masyarakat jadi lebih tercerahkan dan tidak menganggap enteng bullying remaja. Read More

hmm apa ya?

Bingung memberikan judul yang tepat untuk postingan ini.

Jadi, besok teman saya menikah. Teman SMP tepatnya. Senang dan cukup kaget juga denger kabar pernikahannya yang mendadak ini. Masalahnya udah sekitar 5 tahun ga denger kabar tentang dia dan sekarang udah mau nikah aja. Kabar terakhir yang gw dengar tentang dia pun bukan hal yang baik. I think she’s living a hard life during that time. But, thanks God for giving her spirit to keep living and moving on. Thanks God for giving her so much happiness. :)

Oiya, ini undangan pernikahan pertama yang saya dapet dari temen saya lho. Rasanya seneng dan bikin labil! *lho?*

Di usia yang sama, sekarang dia udah siap menjalin sebuah keluarga, hal yang ga mudah dibayangin apalagi dilakuin. Sedangkan memory otak gw udah cukup penuh mikirin tentang kuliah, tentang kemauan gw, dll. Read More

mau? nanti beli yaa…

Suasana: di ruang keluarga, menonton world cup 2010 bersama keluarga. Laga Jerman VS Argentina lagi hot-hot nya di Afrika Selatan sana.

Saya (S): kyaaa ganteng!

Ibu (I): siapa?

S: itu lho Bu, pemain Argentina, Higuain. masih 22 tahun lho

I: hoo, terus?

S: mauuuuu >,<

I: oke, nanti kita beli yaa

I: tapi di tampur (pasar taman puring, jakarta) aja yaa. siapa tau ada KW10 nya

S: oh oke, baiklah -__-“

Tentang Ayah

Setelah baca beberapa tweet dari temen baru sadar, oh hari ini hari ayah tertanya *telat sekaleee*

Dari tweet temen-temen, terlihat yaa bahwa kasih sayang ayah itu besaaar banget. Ayah pun menjadi figur yang sangat mereka banggakan. Mungkin apabila diminta menyebutkan pria terbaik, paling dipercaya, dan menjadi figur idaman, mereka menyebutkan ayah mereka masing-masing. :)

Dan.., gimana dengan ayah saya?

Hmm sebenernya saya kurang dekat dengan ayah saya karena saya anak ibu bangeeet. *apa coba*

Bukan karena ayah tinggal jauh dari saya, bukan karena kami jarang bertemu juga.

Bukannya ga deket berarti kita ga akur, tapi emang ga deket dan kalo di satu forum pun kita bakal diem-dieman zingg banget.

Bukannya ga mau ngobrol dengan beliau, tapi emang sulit mencari hal dan bahan obrolan yang bisa ngedeketin kita, beliau juga sih yang pendiem keterlaluan. >:P

Yahh begitulah…

Suatu kali, kita ada di ruang keluarga berdua, nonton TV, dan zzinnng…ga ada suara lagi selain suara TV, dan akhirnya kita malah sibuk sendiri dan ke kamar masing-masing. :))

Ampe sekarang, setiap ada telepon dari nomer HP ayah pun, pasti saya super bingung. Ada kejadian penting apa di dunia? Dan oh ternyata ibu saya yang menelepon dengan HP ayah. Sekalinya beneran ayah yang nelpon, pembicaraan super singkat.

Ayah: Lagi apa?

Saya: Kuliah Pak. Ada apa?

Ayah: Oh ga ada apa-apa.

Saya: Oh gtu.

Ayah: …

Saya: (zingg juga, awkward silence is coming!)

Saya: Oke deh, daaagh Bapak. Assalamualaikum.

Ayah: Waalaikumsalam.

*Haha, very awkward, huh?!

Oiya, setiap menerima telpon dari ayah, satu hal yang selalu saya ingat, dia tidak pernah membiarkan saya menutup telepon belakangan. Jadi, kadang suka saling tunggu-tungguan nutup telpon. Haha…

Hal tentang ayah yang paling berkesan menurut saya adalah cerita sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu, saya mengikuti study tour ke Baduy selama 4 hari. Bayangkan Baduy! Sinyal HP nihil, akses telepon fixed pun ga ada. Cobaan berat bagi ayah dan ibu untuk mengijinkan saya yang ga pernah kemana-mana ini untuk pergi ke sana (walaupun akhirnya saya ikut juga, hehe). Di hari kepulangan saya, yah seperti biasa, ayah ga ikut ibu menjemput saya di sekolah. Tapi…, pas ampe rumah, abis salam, ayah mencium kening saya. Terharu pisaaaan, mau nangis rasanya. Bukan lebay atau gimana, tapi emang gtu rasanya. Ternyata dia kangen juga ama saya setelah beberapa hari ga ketemu. ;)

Walaupun ayah saya banyak kurangnya (namanya juga manusia, ga ada yang sempurna), tetapi pastinya ada hal dari dia yang saya teladani. Yaitu.., menjadi orang yang lurus! Begitulah, ayah mungkin saya anggap sebagai manusia terlurus di muka bumi ini. Sekarang memang ia sudah pensiun, tapi dulu pas masih kerja dia memang dikenal sebagai orang yang lurus dan ga macem-macem. Walaupun lingkungan pekerjaannya memungkinkan untuk melakukan korupsi dan sebagainya, ayah tetap pada prinsipnya. Ia ga mau, uang yang ia gunakan untuk menafkahi keluarganya berasal dari perbuatan kotor. Seperti yang pernah ia bilang, “makanan dari uang yang kotor bisa bikin manusianya jadi kotor juga”. Terharu banget lah pokoknya. :”>

Terakhir, tentang ayah yang paling berkesan : di saat semua anggota keluarga mulai dari kakek, ibu, adek, om, tante, ampe sepupu yang bocah-bocah manggil saya dengan sebutan “Teteh”, ayah memanggil saya dengan sebutan “Nisa”. Aneh memang, yahh tapi mau diapain lagi, suka-suka dia lah. Haha.. Mungkin itulah yang ngebedain dia dengan anggota keluarga yang lain, jadi saya anggap aja itu sebagai panggilan spesial. :)

Pak, di Hari Ayah ini, saya cuma mau bilang betapa saya sangat mencintai dan menghormatimu. Pengecut dan pemalu memang karena saya ga bisa katakan ini langsung ke Bapak. Terima kasih telah membesarkan saya selama ini dengan bentuk kasih sayang yang mungkin tidak saya mengerti. Terima kasih telah mendidik saya selama ini. Semoga di kemudian hari, kita bisa lebih dekat lagi, karena saya iri dengan orang-orang yang bisa sangat dekat dengan ayah mereka… *from one and only your daughter :)*

merasa tertipu

Tadi siang, jalan sama keluarga, terus makan di rumah makan Laksana, di daerah Melawai. Makanannya masakan sunda gtu.

Ibu : nih ibu pesen lotek, teteh mau?

Saya : mauuuuu (sebagai pecinta sayur, tentu saja saya mau dan langsung nyendokin lotek ke piring makan)

…udah makan ampe setengah piring, trus…

Saya : huaaaa, hosh hosh hosh

Ibu : kenapa kamu?

Saya : pedesss Bu

Ibu : emang ada yang pedes?

Saya : entahlah, loteknya kayaknya

Ibu : hooo masa’ sih, cabenya cuma 15

Saya : CUMA??? -.-

Ibu : lebay ah kamu, segitu doang juga

Saya : nyeeem

Setelah tau cabenya segitu, makin tersugesti pedesnya… mata mulai blur, kuping berdengung, hidung meler.

Oh siyal, saya merasa tertipu dengan penampakan lotek yang normal-normal aja. Tapi abis itu makan loteknya tetep dilanjutin, nagih sih! :P

makannya pakai sendok

Situasi — Lagi nonton WC2010 pertandingan Jerman vs Serbia yang agak membosankan di ruang keluarga. Di sebelah ada sepupu saya yang umurnya baru 3 tahun, namanya Malik, maen-maen sendok mau dipukul-pukul ke laptop. -__-” Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, sendoknya saya ambil, trus saya ajak ngobrol.

Saya : nonton bola aja sini di sebelah teteh, seru tuh

Malik : mmm, iya

Saya: siniin sendoknya. eh, malik udah makan malem?

Malik : udah

Saya : makan pake apa

Malik : pake sendok

Saya : ….. *zingg, oke makasih jawabannya, menjawab sekali*

Abis itu ngakak ga berhenti… Hahaha, polos banget sih bocaaah! Ga salah sih jawabnya, tapiii…haha, kocak pisan. Mana jawab dengan wajah polos dan bahasa balita yang rada-rada ngaco lagi :))