Seaworld Jakarta

Last week, finally I and my boyfriend went to Seaworld Jakarta. Yeay~! :D

To be honest, I was pretty excited and really had a high expectations of this place despite the warning from my brother, because he said it was not that good. But, let’s give it a try!

We went to Ancol by Transjakarta (go go public transportation! ;) ).
We met at Dukuh Atas bus stop and took the bus to Matraman, and continue to Ancol. Thank God the Transjakarta were not so crowded, but still..it felt like an exhausting and long journey since the weather was so damn hot!

After arrived at Ancol, we planned to get to Seaworld by Ancol’s shuttle bus that arrived every 10 minutes. I just knew that there’s such thing! Nice isn’t it? :)

Actually it is, if only the bus is well air-conditioned and sufficient to carry all the passengers. At that time, I need to wait around 20 minutes to get a seat space-to-stand. What’s make it worse is that in the middle of the way, there were some anak kampung came to the bus, smelled bad and brought filthy underwear in their hand. And big lizard, alive. Iyuhhuhuhu T___T

After such a horrifying ride, we arrived at Seaworld. Fyuhhh~

Inside Seaworld there were several section: the main lobby, the tunnel, the second floor and the preservation area.

MAIN LOBBY

At the main lobby, there are some aquariums that contain anemon, clown fish, and other small fish. There are also an open pool and big aquarium for hammer sharks and dugong/manatee/sea cow.

Actually, I was pretty excited to see the hammer sharks because the advertisement of this newly coming creature is so wow. But then, I feel disappointed because I cannot see it clearly since the aquarium is quite dirty. And, the shark is not big as I imagine, though. :))
Same with the hammer shark, I also disappointed with dugong’s aquarium. For this one, I even could not able to see the creature.

In the open pool, there are starfish, turtle and mini shark.
I didn’t try it becauseee…I don’t know, I just don’t feel it’s right.
I mean.., the pool is so small and shallow, surrounded by lots of people that try to dip their hand into the water, touch the turtle and shark, even lift it although the board already said not to. I just wonder how stressed is the turtle and shark and how long that they will survive. >_<

THE TUNNEL

In this tunnel, we can see stingrays, sharks and other fish swimming above us. Interesting! :D
Actually, the tunnel was not as I imagined. I wish they are not that small and short-length. At that time the visitors were so many, so we cannot spend much time in the tunnel because we were being pushed to go forward from behind.

THE SECOND FLOOR

In the second floor, there is a small library. Good place to relax with the children and straighten your legs. :D
Besides that, from second floor we can see a big pool from above. This is the pool that we see from the tunnel. The pool is not so big, yet so dense. :(

THE PRESERVATION AREA

This area is like fossil museum, sort of. There are displays of preserved fish, mostly the fish from deep sea. There is also a display of giant stingray that have died some time ago because of illnesses. This stingray is big, huge! The length is 2 meters, exclude the tail.

So, that’s it.

I think this place suits best for children, school group outing, and family. Good place to learn about marine life. Besides the aquarium, there is also a mini cinema inside the Seaworld. We can also see the feeding in certain time.

Compared to the ticket price (100,000 IDR; thank God that there were a voucher promo from Groupon so we only need to pay half), I think this is not worth the price. Maybe because I’ve seen a better one *cough*Ocean Park HK*cough*.

Since the public interest to this place is still high, I think they should renovate and make it better, larger aquarium, put more variety of fish, and clean the aquarium. I’m not sure if it’s the water or the glass, but it is surely not clear. I dreamed of a clear blue water, so next time I go there, I could take many good photos. :))

Little Sheep Chinese Shabu-shabu

Hari Kamis kemarin, saya diajak dinner bersama rekan kerja, ceritanya sih dalam rangka Thanksgiving. Padahal kita ga ada yang ngerayain juga sih. Alesan aja dia biar kita makan bareng. Emang akhir-akhir ini kita terlalu sibuk, bahkan belum pernah hangout bersama.

Karena kesibukan masing-masing (yaelah udah malem, diajak dinner bareng aja susah), akhirnya kita makan dekat kantor deh: Little Sheep Chinese Shabu-shabu. Iya, deket banget. Letaknya di parkiran kantor, tinggal ngesot nyampe deh.

Sebenarnya ini kali pertama saya makan di sini, padahal deket banget ya. Saya pikir ini semacam shabu-shabu di resto Jepang, eh ternyata beda.

Malam itu kami memesan Half-half Original and Spicy Broth. Celup-celupannya macem macem ada mushroom, shitake, potato, lotus root, kailan, tofu, wonton, beef, shrimp, meatball, dll.

Image

(Photo courtesy of urbanouteaters; maap maap akunya terlalu fokus makan ampe lupa foto -_- )

Pas kuahnya datang, whoaaa penampakannya dan wanginya menarik banget. Ini yang menurut saya bikin beda dari hotpot dan shabu-shabu lain yang pernah saya coba.

Kuahnya kaya banget dengan Chinese herbs, ada bawang (banyaaakkk banget), jahe, daun bawang, goji berry, dan Chinese dates. Pas diliat-liat, eh ini mah ingredients yang suka ada di body lotion saya. Ternyata enak juga kalau dijadiin bumbu masakan, unik. Selain itu, saya juga suka liat sih rekan kerja saya yang orang Cina setiap hari minum goji berry dan Chinese dates itu diseduh seperti teh, katanya itu merupakan suplemen yang bagus bagi wanita.

Untuk minumnya, saya memesan minuman kaleng berwarna merah bertuliskan Cina, lupa namanya apa. Pokoknya katanya sih bagus untuk mendinginkan perut. Pas diicip-icip, eh ini mah Liang Tehhh. Untuk dessert-nya saya pesan Mango Pudding. Saya perhatikan, setiap makan di Chinese restaurant, pasti ada Mango Pudding ya. Dan uniknya, pudding ini ga pake fla, tapi dibanjur dengan susu putih tawar. Enak, jadi tidak terlalu manis. Kalau soal rasa, Mango Pudding di sini so-so lah, masih ga se-spektakuler Mango Pudding di Peach Garden, Siloam Semanggi. Itu mah dewaaa lembut dan enak banget pengen nangis makannya.

Oiya, kemarin itu lucu banget, saking hati-hatinya, rekan kerja Cina selalu nanya “Annisa, can you eat this?” setiap dia pesan bahan makanan. Padahal saya udah bilang pokoknya asal jangan pork and lard. Eh dia ampe kentang dan kailan juga ditanya cobaaa. :’))

Terus terus si rekan kerja Pakistan kan ternyata istrinya Cina, ya ampuuun anaknya cantik dan ganteng bangett. Matanya besar, alisnya tebal, hidungnya mancung kayak orang Pakistan, daaan dapat kulit putih dari ibunya. How lucky…

Seru juga makan bareng dengan teman teman ini, jadi banyak cerita ini itu karena kita latar belakangnya beda-beda. Semoga bisa sering-sering kayak gini deh. Seseorang pernah bilang ke saya, cara termudah untuk dekat dengan orang tuh dengan makan bersama. Ada benarnya juga. :)

Little Sheep

BRI II Center Park 7th Floor. Jl. Jend. Sudirman Kav 42-43 Jakarta 10210 – Indonesia
Phone: (021) 57853365

kemacetan dan produktivitas

Jakarta. Macet.

Tanpa saya sadari, dua kata itu jadi sahabat banget. Entah mulainya sejak kapan.
Dulu, waktu masih kecil seingat saya Jakarta masih lengang, eh bukan lengang juga sih, tapi ga macet gtu.

Sekarang…..

Macet udah bagian dari kehidupan di Jakarta. Orang yang tidak terbiasa mungkin shock dengan kemacetan di ibu kota ini.

(A) BRI II Building, Sudirman; (B) Wisma Antara, Thamrin

Gambar di atas adalah rute perjalanan yang sering saya lakukan sekitar 2 minggu yang lalu. Dari kantor (A) ke kantor client (B) saya biasa menggunakan taksi dan memakan waktu sekitar 30 menit pada pagi dan siang hari, bukan 11 menit seperti yang tertera di maps itu. Kalau saya pulang di sore hari dan bertepatan dengan jam pulang kantor, perjalanan dari B ke A malah bisa sampai 1 jam.

Grao macet!
Bayangkan sekian banyak waktu yang dihabiskan hanya untuk perjalanan yang seharusnya cukup singkat. Benar-benar buang waktu dan tidak produktif.

Padahal kalau ga macet kan selain ga buang waktu, bisa hemat bensin dan biaya perjalanan juga.

Kalau ga macet, orang-orang yang kerjanya mobile tentu akan lebih produktif. Ga kayak sekarang yang kalo mau ketemu client di tempat X maka harus berangkat jauuuhh sebelum waktunya supaya ga telat.

Kalau ga macet gila kayak sekarang, setelah bekerja seharian orang-orang juga bisa sampai di rumah lebih “sore”. Paginya bahkan masih sempat sarapan bersama keluarga di rumah. Hidup lebih bahagia rasanya.

Andai ya Jakarta ga macet. Andai ya…
Ah life..~

bamboo dim sum (all you can eat)

Kemarin saya dan adek pergi ke daerah MT. Haryono demi mengirimkan dokumen penting lewat express mail yang buka tiap hari di sana. Setelah itu kami mampir ke Tebet sebelum pulang buat icip-icip dim sum all you can eat di sana. Saya waktu itu dapet info ini dari temen. Dia bilang ada dim sum all you can eat murah di daerah Kelapa Gading, eh ternyata sekarang doi udah ada cabang di Tebet juga.

Namanya Bamboo Dim Sum, terletak di Jalan Tebet Raya No. 78.
Buka jam 10.00-15.00 dan 17.00-21.00.
Paket all you can eat di sini murah banget cuma 43000 IDR dengan free drink teh tawar hangat yang ambil sendiri.

This slideshow requires JavaScript.

Saya dan adek sampai di sana jam 16.45 eh ternyata masih tutup dan baru buka (lagi) jam 17.00, akhirnya kita duduk-duduk dulu di kursi di luarnya. Pas buka kami langsung masuk dan duduk. Dari luar resto ini terlihat lucu lucu :3 , eh tapi pas masuk agak zonk ga sesuai harapan. Hahaha… Di lantai 1 interiornya biasa aja, tempatnya kecil dan agak panas. Saya ga liat lantai 2 kayak apa, tapi sepertinya lebih sejuk karena ruangannya terbuka. Kayaknya lantai 2 juga pas buat nongkrong bareng temen-temen karena terdengar suara rame rame asik sendiri gtu. :P

Sistem all you can eat di sini cukup aneh ya. Sebelumnya saya cuma pernah all you can eat dim sum di Eastern, Istana Plaza, Bandung. Kalo di sana kan kita order nanti dianterin pesanan yang kita mau. Kalo di sini, waiter keluar dari dapur bawa dim sum seabrek segala macem. Nanti dia bakal tawarin ke meja-meja atau kita cegar sebelum dia ke meja orang atau bisa kita panggil untuk request makanan. Makanan yang udah di meja harus dihabiskan, kalo ga nanti bakal kena charge seharga makanan tersebut.

Soal rasa dan porsi ya so so lah. Rasanya biasa aja, ga spesial dan ihwaw. Porsinya kecil; yang menurut saya malah gapapa (asal jangan lebih kecil lagi aja -_-) karena jadi bisa coba segala varian dim sum nya sebelum kenyang. :D

Karena porsinya kecil, saya berdua adek kemaren makan ampe 23 porsi…dan masih belum kenyang. >:D
Sayang sekali setelah beberapa kali mampir ke meja kami kayaknya pelayannya bosen dan jadi jarang mampir, seringnya mampir ke yang pengunjung baru, jadi aja nunggunya lama. Padahal ampe 30 porsi juga masih sanggup deh. :P

Dari 23 porsi yang kami makan itu ada steam dim sum (kayak siomay, hakau, ayam-jamur, nasi ketan ayam, ceker, tahu, wonton, siomay salmon), fried dim sum (bola cumi, bamboo spesial, lumpia kulit tahu), dan manis-manis (mantau jagung manis, bakpao srikaya, pisang goreng saus cokelat).
Yang steam dim sum enak semua kecuali siomay salmon yang amis dan rasanya aneh, mana keambil 2 porsi lagi. :s
Yang fried dim sum bola cumi kurang oke karena…mana cuminyaaa, gede sama roti goreng doang. DX
Yang manis-manis enak semua apalagi mantau jagung manis. :9

Overall lumayan lah. Ada harga ada kualitas. Boleh lah dicoba buat yang mau kenyang murah makan dim sum.
Saran saya kalau mau datang pas jam buka biar dapet tempat soalnya pengunjungnya ramai. Beberapa pengunjung yang datang belakangan akhirnya ga dapet tempat deh. : (

demo

Beberapa saat yang lalu Ibu bilang ke saya supaya besok ga usah pergi ke kantor, karena katanya bakal ada demo super heboh. Kebetulan kantor saya terletak di daerah Sudirman, cukup dekat dengan pusat demo yang biasanya di HI. Cukup strategis juga untuk kena macet atau rusuh. Iya, Ibu takut kalo demo besok berujung kerusuhan. Tapi apa daya, sudah hampir seminggu saya tidak masuk kerja karena sakit. SMS dari atasan pun mulai berdatangan. Saya besok harus masuk! (9′-‘)9

Entah kenapa ya, perasaan makin kesini yang namanya demo makin seriiing aja. Kadang akun twitter @infojakarta sampai nge-post list demo yang bakal terjadi di hari tertentu. Segitunya.

Kelakuan orang saat demo juga makin aneh-aneh dan ekstrem, misalnya dengan bakar diri. Ga paham ya tujuannya apa. Saya berduka atas kematiannya. Tapi ya ga paham aja, seakan kalau bakar diri akan menyelesaikan masalah. Bukannya sia-sia ya? Hidup yang bisa dibuat lebih produktif, lebih berkarya, dan lebih membahagiakan dan membanggakan bagi orang sekitar, malah dibuang begitu saja.

Ada lagi bentuk demo yang merugikan orang banyak, misalnya dengan menutup jalan tol. Sungguh ya ga paham dengan isi kepala para pendemo itu. Penutupan jalan tol jelas merugikan buaaanyak orang, menghambat distribusi barang, merugikan usaha jasa travel, melumpuhkan banyak sektor, dan merugikan perusahaan yang di demo juga. Katanya mau naik UMR, kok perusahaannya dibikin rugi, nanti investornya cabut dong, trus bangkrut, pada di PHK deh. Mamam!

Hmm gini ya, orang-orang demo katanya untuk membela hak blablabla. Tapi, dengan demo itu seringnya sih mereka merugikan orang lain juga. Misalnya dengan menambah kemacetan Jakarta yang terima-kasih-udah-macet-banget-jangan-ditambah-tambah. Bikin ga simpatis ga sih? Orang-orang jadi berharap banget ga ada demo-demo-an.

Trus gimana mau terjadi perubahan kalo ga demo? Gimana mau beraspirasi? Kalo menurut saya sih jangan apa-apa dikit di demo-in. Kalo demo keseringan, demo yang serius juga jadi ga berkesan. Coba kalo jarang-jarang demo, sekalinya demo kan pasti orang penasaran. “Eh ada apa nih, kok tumben ada demo.” Begitu.

Nah, terus demo besok yang katanya super itu untuk apa sih? Demo menentang dihilangkannya subsidi BBM katanya. Kenapa ditentang? Ah palingan itu orang-orang mampu yang ga mau spend lebih banyak uang untuk kebutuhan bensinnya. Alasan pribadi huh. Orang-orang di pelosok aja sudah sejak lama membeli bensin yang jauuuh lebih mahal dari harga dibayar oleh orang-orang kota. Saya sih setuju aja kalo subsidi BBM dihilangkan. Yaudah sih harganya naik, berarti kurangin penggunaan kendaraan pribadi, sering-sering naik kendaraan umum. Terus semoga jumlah kendaraan bermotor di jalanan berkurang, jadi ga macet deh. Terus demand terhadap transportasi publik meningkat, jadi uang yang harusnya untuk subsidi BBM itu dialihkan untuk perbaikan transportasi publik. Indonesia jadi oke dan kece deh! Iya itu pendapat saya optimis dan juga mungkin egois karena ga memperhitungkan kenaikan harga-harga barang. Berarti berdoa juga deh semoga budaya konsumtif berkurang, dan masyarakat lebih bijak dan memiliki prioritas yang baik dalam membelanjakan uangnya.

Yah intinya gitu, saya ga suka demo-demo-an kecuali demo masak. Terserah mau dibilang cuek dan ga peka. Ga memberi solusi pula. Saran saya, kurang-kurangin lah itu demo yang makin lama makin ga efektif. Kalau mau solusi, mulai dari diri sendiri dulu deh. Tanggung jawab sama pendidikan dan pekerjaan sendiri. Jadi orang jujur dan baik. Lalu ambil posisi-posisi di pemerintahan. Ubah yang bobrok dan di-demo-in terus itu dari dalam. Emang ga instan, tapi hopefully di masa depan ada hasilnya. :)

racauan malam sebelum tidur.
demo-ers, jangan rusuh ya besok, kasian banyak orang tua di rumah yang khawatir, termasuk bapak ibu saya :)

Posted with WordPress for BlackBerry.

monday madness

What is wrong with monday? What is wrong with the traffic on monday? Somehow I think that it doesn’t make any sense.

How can the traffic on monday is more jammed than any other work day, especially friday? I think number of workers and students that fill the roads on monday morning is the same with the other work day. The 3 in 1 rules also happens the same in every work day. But how can the volume of cars is more? For example, in monday the traffic is start from West or maybe East Bekasi, but in other work day the traffic is “just” start from Jatiwaringin.

What is wrong with monday? Is it because the negative thinking of people on monday morning so the universe conspires to make it happen? Compares with friday with its TGIF, everything feels right and nicer on that day. Maybe its our mind that makes everything better or worse.

yeay first post from my mobile phone! written in the mid of monday morning traffic madness. stuck in Halim bottleneck in nice and comfy omprengan, Rush by Toyota.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Pemilihan Moda Transportasi bagi Penduduk Kota Satelit

Pendahuluan

Banyaknya peluang kerja di kota besar menyebabkan banyaknya orang bermobilisasi untuk menetap di kota besar. Sebagian manusia lain bernasib tinggal di kota-kota sekitar kota besar, sebut saja kota satelit. Hal ini seharusnya tidak masalah apabila sarana dan prasarana transportasi umum di negara tersebut baik. Dalam kasus seperti kota Jakarta, di mana sarana dan prasarana transportasinya tidak ada bagus-bagusnya, yang terjadi adalah kemacetan yang membuat naik pitam selama jam berangkat dan pulang kerja.

Buruknya sarana transportasi umum didukung dengan ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasinya dan lebih didukung lagi oleh daya beli dan jiwa konsumtif manusia Indonesia menyebabkan meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Kota telah membuat peraturan seperti 3 in 1 di jam berangkat dan pulang kerja guna mengatasi masalah tersebut. Namun apa daya, di balik akal pasti ada akal yang lebih baik lagi, muncullah fenomena joki 3 in 1 di kawasan sebelum 3 in 1 berlaku.

Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dicari solusinya, dirumuskan sebagai berikut:
1.  Bagaimana seorang pekerja, sebut saja bernama Annisa, bertempat tinggal di Bekasi dan akan bekerja di daerah Sudirman berangkat dan pulang setiap harinya?
2. Moda transportasi apakah yang sebaiknya ia gunakan?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan moda transportasi yang ia gunakan tersebut?

Batasan Masalah

Terlalu banyak batasan masalah dalam kasus ini. Annisa bekerja pada jam 8.30 setiap paginya namun ia sulit bangun pagi. Annisa tidak menyukai transportasi yang sesak dan sempit karena ia mengalami sedikit masalah dengan ruang sempit. Annisa tidak suka asap kendaraan karena ia menderita asma. Annisa hanya ingin tranportasi yang nyaman, dingin, dan berperikemanusiaan. Annisa banyak maunya.

Tujuan

1. Untuk mendapatkan moda tranportasi yang paling baik untuk Annisa, dan
2. Untuk melakukan analisis terhadap jenis moda transportasi yang digunakan.

Metode Penelitian

Pengalaman pribadi. :’)

Isi

Gambar berikut adalah perjalanan Annisa setiap hari dari Jakasampurna, Bekasi (A) ke Jalan Sudirman, Jakarta Pusat (B).

Jarak dari A ke B menurut google maps adalah 21.2Km dan dapat ditempuh dalam waktu 22 menit. (22 menit? Ngarep apa lo?!)
Sesungguhnya dunia memberikan banyak pilihan kepada kita, hanya kita saja yang terlalu memilih. Begitupun juga dengan moda transportasi, terdapat beberapa pilihan seperti berikut:

1. Commuter line
Commuter line atau yang biasa dikenal sebagai KRL merupakan salah satu moda transportasi anti macet yang dapat jadi pilihan. Untuk menuju Kawasan Sudirman dari Bekasi, penumpang dapat naik Bekasi Ekspress arah Tanah Abang dan turun di Stasiun Sudirman dengan harga tiket Rp9000,-. FYI, Stasiun Sudirman itu terletak di antara Stasiun Mampang dan Karet. Berikut jadwalnya (sumber-Bekasi Ekspress wiki):

Bekasi – Sudirman – Tanah Abang :
06.11* ; 08.15* ; 17.18* ; 16.30* (via Pasar Senen) ; 18.00*
Tanah Abang – Sudirman – Bekasi :
06.45* ; 08.52* ; 16.35* ; 17.20* ; 18.37*

Commuter Line

Sumber gambar: website KRL

Commuter line juga dilengkapi dengan gerbong khusus wanita yang terletak di paling depan dan belakang kereta. Dengan gerbong ini dan ditambah kewaspadaan dan kehati-hatian, insya Allah perjalanan jadi lebih aman dan tentram. O:)

Satu hal yang disayangkan dari pilihan ini adalah cukup jauhnya stasiun kereta dari rumah subjek. Lalu, dunia commuter line saat jam berangkat dan pulang kerja itu…keras! Bayangkan kompetisi meraih tempat duduk dengan bapak-ibu ambisius dan pemuda-pemudi malas berdiri. Siapkan betis dan lengan karena selama sekitar 50 menit anda akan berdiri berdesak-desakan. (OK, skip!)

2. Bus
Salah satu bus yang dapat memfasilitasi perjalanan Bekasi-Jakarta adalah bus Patas AC Mayasari Bakti (AC05 atau AC52), yang trayeknya dapat dilihat di sini. Biasanya di tol Jatibening, banyak orang yang menunggu bus ini di pinggir jalan tol. Dan persaingan tersebut cukup keras. Ketika bus datang, orang-orang akan seperti zombie yang melihat daging. :-S

Sebenarnya bus ini nyaman. Rata-rata bus Mayasari Bakti AC05 dan AC52 menggunakan mobil yang masih baru dan AC nya masih dingin. Namun, di jam berangkat dan pulang kerja, pilihan ini: a BIG NO NO NO!

3. Bus kantor
Alhamdulillah salah satu perusahaan vendor telekomunikasi di daerah Sudirman tempat Annisa bekerja cukup berbaik hati untuk menyediakan bus bagi karyawannya yang bertempat tinggal di sekitar Jakarta. Sebenarnya naik bus kantor cukup nyaman, yang jadi masalah adalah ia berangkat pukul 6.15 dari tol Bekasi Barat (ditandai lingkaran merah dalam peta di atas). Yang berarti Annisa harus mundur untuk maju. Dan itu pagiii banget. Ga ga ga kuat… Oleh karena itu, bus kantor hanya dipilih sebagai moda transportasi ketika pulang. :)

4. Omprengan
Omprengan adalah mobil pribadi yang digunakan sebagai transportasi bersama saat jam berangkat dan pulang kerja, semacam nebeng mobil orang untuk pergi ke tujuan yang sama. Omprengan biasanya berada di tempat-tempat strategis (untung salah satu tempatnya adalah di dekat rumah).

Sesungguhnya penemu omprengan adalah orang yang jenius dan sangat ingin berbagi. :’)
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan menjadi omprengan:

  1. Dapat melewati 3 in 1 tanpa menggunakan joki yang biasanya kotor, bau, mencurigakan, dan tidak dapat dipercaya. (Masih ga paham sama orang yang mau pakai joki. Kok berani ya masukin orang asing ke mobil sendiri?)
  2. Kalau menggunakan joki harus membayar, jadi omprengan adalah kebalikannya. Tarif omprengan sekitar 10-12ribu per orang. Uang itu kemudian dapat digunakan untuk mengisi bensin dan membayar tol. :D
  3. Mendapat kenalan baru. Karena yang biasa naik omprengan adalah pekerja, ada kemungkinan antar pengguna omprengan memiliki bidang pekerjaan atau interest yang sama. Misalnya saja saat itu pemilik mobil dan pengguna omprengan sama-sama bekerja di bidang marketing. Akhirnya di 2 jam macetnya tol dalam kota mereka mengobrol banyak dan bertukar pin BB.

Omprengan biasanya dikenali dari jenis mobilnya. Umumnya adalah mobil-bukan-sedan (SUV ya sebutannya?) seperti Kijang, Rush, Avanza, Xenia, Captiva, APV, Grandmax, Carry, dan sebagainya. Namun tidak menutup kemungkinan ada omprengan bermobil sedan.

Terdapat dua kategori omprengan: omprengan-sebagai-pekerjaan dan omprengan-sebagai-sambilan.
Omprengan-sebagai-pekerjaan (OSB) berorientasi uang. Ia akan menunggu sampail mobil penuh dan akan memasukkan sebanyak mungkin penumpang ke dalam mobilnya yang kecil dan panas dan sempit. Misalnya mobil Carry dengan konfigurasi depan supir + 1, tengah 3, dan belakang 6. Bayangkan! Tega bukan! Hal ini akan lebih kejam lagi saat jam pulang kantor. Di depan akan diisi supir +2, tengah 4, dan belakang 6.
Kategori kedua adalah omprengan-sebagai-sambilan (OSS). Biasanya mobil pribadi orang yang bekerja di daerah Jakarta. Dengan harga yang sama, mobilnya lebih nyaman, bagus, dan dingin. Dan manusiawi. Kelebihan menggunakan OSS adalah biasanya pemilik mobil tidak terlalu lama menunggu, ketika sudah telat ia akan berangkat dengan jumlah penumpang seadanya. (Lega dehh~)

FYI, pool omprengan pulang daerah Thamrin-Sudirman berada di RS Jakarta atau di Plaza Semanggi. Biasanya mobil tersedia dari pukul 16.30 sampai 19.00. CMIIW.

Dengan segala penjelasan dan pertimbangan di atas akhirnya dipilihlah moda transportasi omprengan untuk berangkat kerja. Berikut kelebihan dan kekurangan omprengan:

  1. Semakin pagi berangkat ke pool omprengan, akan semakin cepat naik dan berangkat sehingga (bisa) terhindar dari macetnya tol dalam kota. Setelah jam 6.30 biasanya omprengan mulai sepi dan harus menunggu sehingga penumpang berangkat semakin siang dan semakin kena macet. FYI, seperti yang terlihat dalam peta di atas, macet biasanya dimulai di poin 1 (Jatiwaringin) sampai dengan poin 2 (Mampang – Kuningan), selain itu lancar jaya. Aneh.
  2. Omprengan tidak dapat diandalkan setiap saat. Misalnya saat weekend atau saat terjadi demo buruh di jalan tol beberapa hari lalu yang menyebabkan jalan tol macet total.
  3. Walaupun dunia macet, nikmatilah waktu anda di omprengan dengan istirahat (baca: tidur). Karena kalau kita bangun yang ada hanya bosan dan rasa ingin marah-marah. Manfaatkanlah waktu tersebut. Jangan lupa berdoa sebelum berangkat dan mengucapkan terima kasih ke pemilik mobil ketika turun.

Sekian.

Lumayanlah, buat draft tesis.

Steak Hotel by Holycow! Wagyuuu :9

Akhirnya kemaren gw dan Aditya pertama kali coba steak yang happening di twitter ini. Steak Hotel by Holycow terletak di Jalan Radio Dalam Raya No. 15 dan Jalan Bakti No. 15, Senopati. FYI, sebentar lagi mereka juga akan buka di Orchard Road, Singapura. Prok prok prok, hebat yaa padahal baru lahir bulan Maret 2010. :D

Awalnya gw pikir tempatnya bakal kayak premium restaurant, tapi eh tapi ternyata tempatnya kecil dan cukup menyenangkan. Interior TKP Senopati yang warna merah bikin semangat dan lavaaar. Dengan rasa yang enak enak enak, harganya murah murah murah. :3

Steak NZ, Aus, US: 40-70rb
Wagyu: 90rb-an
Beverages: 10-15rb *kalo lemon tea, green tea, dsb free refill :D
Dessert (ada tiramisu dan red velvet cupcake): 10rb

Hah, langsung aja deh ya foto makanan-makanan. :9

This slideshow requires JavaScript.

Karena terkenal dengan Wagyu-nya, maka gw dan Aditya sama-sama pesen Wagyu Rib Eye (dia ikut-ikut gw sih sebenernya :P ). Gw dengan mushroom sauce dan mashed potato, sedangkan Adit dengan Buddy sauce dan fries. Kematangan level medium bikin dagingnya coklat di luar dan merah di dalam. Hmm yummy! Dan tanpa saus steak pun si Wagyu udah enak banget. Hmm top lah bumbu rahasianya. :D
Mushroom sauce dan Buddy sauce tuh semacam creamy sauce gitu. Enak! Bedanya cuma kalo si mushroom ya pake jamur, kalo si Buddy sauce itu sauce ala holycow dengan basil dan herbs gtu deh.

Tiramisu dan red velvet cupcake-nya kita dapet gratis setelah mention @holycowsteak. Katanya persediaan free desserts nya ini terbatas, jadi kalo makan di sana, buruan mention dan tunjukkin ke pelayannya. Oh iya, kata Adit sih enakan tiramisunya. Tapi udah keburu habis dia makan sebelum gw minta. T_T
Red velvet cupcake-nya sendiri menurut gw biasa aja. Mungkin karena ditaro di lemari es jadi agak gimana gtu, trus krimnya agak gimana gitu, jadi ya rasanya gimana gitu. Tapi ya alhamdulillah deh, kan gratis. :P

Oiya, selain rasa steaknya yang luar biasa, marketing Holycow ini jago ya menggunakan jejaring sosial seperti twitter dan FB untuk promo produk mereka. Ga heran namanya langsung banyak didenger manusia se-timeline twitter dan heboh. Kalo buka twitter-nya aja langsung ngiler deh banyak foto makanan. Promonya ga satu arah, tapi juga melibatkan konsumen. Tweet dan komentar di FB juga direspon dengan baik. :)

Selain itu, marketingnya juga kreatif. Yang ulang tahun dapet steak gratis lhoh lhoh lhoh!!! Trus, kali ini juga ada promo buat banyak-banyakan ngumpulin flag holycow dan pergi bertiga ke Singapura. Dan saya baru punya dua! Ngarep apeuuu… Hahaha

Sekian dulu deh cerita makan-makannya. Terima kasih kepada Holycow yang telah menyediakan steak enak dengan harga merakyat. Sukses terus! Salam kuliner!

gagal Planetarium :(

Sabtu kemarin, tiba-tiba Aditya ngajak ke Planetarium. KYAAA, I’m so so so excited! Kangen banget sama wahana simulasi astronomis ini, berhubung dulu pernah punya cita-cita jadi astronot. :D :D
Terakhir kali ke sana kayaknya pas SD. Yang saya ingat, saya masuk ke studio dan duduk di kursi yang landai sehingga kita dapat melihat langit-langit studio dengan mudah. Lampu dipadamkan dan muncullah konstelasi bintang dan benda-benda astronomis. Sejalan dengan pertunjukkan tersebut, terdengar pula narasi bahasa Indonesia yang menjelaskan apa yang sedang terjadi di “layar”.

Planetarium Jakarta terletak di dalam kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat. Harga tiket masuknya cukup terjangkau, Rp3500 untuk anak-anak dan Rp7000 untuk dewasa. Adapun jadwal pertunjukannya seperti berikut:
– Senin : libur (jadwal maintenance)
– Selasa s.d. Jumat: 16.30
– Sabtu, Minggu, dan hari libur: 10.00, 11.30, 13.00, dan 14.30

Kemarin saya rencananya berangkat dari rumah untuk mengejar pertunjukan pukul 11.30. Apa daya kesasar berkali-kali dan akhirnya baru sampai jam 11.45. Saat itu antrian di depan loket tiket sudah cukup panjang dan mengular (kayak ngantri wahana dufan -_- ), mas-mas petugas pun sudah memperingatkan bahwa saya dan Aditya ga bakal dapet tiket jam 13.00. Yasuwdahlah kita tetep ngantri biar dapet tiket pertunjukan pukul 14.30. Jadi rencananya kita beli tiket dulu, trus makan siang di sekitar situ sambil nunggu jam pertunjukan.

TAPIII. . . . . . .

Setelah setengah jam mengantri, ada mas-mas petugas lain yang memperingatkan bahwa ticket box baru dibuka lagi pukul 13.30 (jadi, ticket box baru dibuka satu jam sebelum pertunjukan dimulai). WTF! Sial banget lah udah lama-lama ngantri tapi harus nunggu sekitar 1.5 jam lagi sampai ticket box buka.

So, apa yang kami lakukan? Hmm pertimbangannya begini:

  1. STAY. Berarti kita harus menunggu 1.5jam untuk dapat tiket dan harus menunggu 1 jam lagi untuk menonton pertunjukan. Bosan bosan bosan, buang-buang waktu, lapar, sebel.
  2. LEAVE AND BACK. Heeuhh no hope banget dapet tiket. Karena setelah diamati sepertinya orang-orang di sana tetap sabar mengantri. Yang ada pas kita balik, kita mulai antrian dari belakang lagi dan kemungkinan ga dapet tiket karena masih ada orang-orang yang berdatangan. Ga bosan, ga buang-buang waktu, sudah kenyang, tapi super sebel dan hampir pasti sia-sia.
  3. LEAVE. Ga bosan, gajadi nonton, ga buang-buang waktu, tapi kecewa.

Akhirnya: LEAVE. Yap, kami pergi dengan kekecewaan dan kekesalan di wajah Aditya. Sereeem pokoknya liat muka doi >_<

Menurut saya, sistem ticket box di Planetarium Jakarta itu kurang efektif. Kenapa tidak menerapkan sistem seperti di bioskop saja? Jadi saya bisa saja datang pagi dan beli tiket pertunjukan siang. Dengan sistem yang dijalankan sekarang berarti sebaiknya dateng pagi-pagi sekali — jam 9 kurang — supaya langsung dapat kursi dan tidak buang-buang waktu mengantri.

Selain itu, saya juga kecewa dengan kebersihan di Planetarium ini. Baru sampai bagian depannya saya udah banyak sampah dimana-mana. Di kursi mengular tempat antrian apalagi. Sampah bungkus makanan dan minuman menumpuk. Huuuh segitu kurang sadarnya ya pengunjung terhadap kebersihan tempat umum. Sampah! Petugas yang ada juga tidak tegas sih. Harusnya yang buang sampah sembarangan gitu ditindak dong, jelas-jelas di deketnya udah ada tempat sampah. :(

Selain kekecewaan-kekecewaan di atas, saya cukup senang karena ternyata Planetarium Jakarta ini masih ramai pengunjung, yaaah walaupun banyakan anak-anak. Setidaknya tempat ini masih punya daya tarik dan bisa menjadi alternatif wisata di Jakarta. Maju terus Planetarium. Semoga tetap jaya, ga kalah sama mal-mal yang berceceran di seluruh penjuru Jakarta.

hujan dan ojek payung

So, tadi sore gw pulang dari mall GI bersama seorang teman. Pas kita keluar dari mall, keliatan banget langit gelap, awan berat. Ciut juga gw ngeliatnya. Males aja kalo harus hujan-hujanan. Kasian tas gw yang isinya netbook. Kasian juga belanjaan gw. Haha

Rintik-rintik kecil hujan baru turun pas kita nyampe halte busway Tosari, alhamdulillah. Tujuan gw adalah ke halte busway Benhil dan lanjut naek omprengan. Oke, baru setengah perjalanan busway, hujan udah deras banget, bukan deras lagi, badai ini mah. >.<

Akhirnya sampai juga di tempat omprengan. Oh sial mobilnya udah penuh, so gw harus nunggu ampe mobil selanjutnya dateng.

Hujan.

Menunggu.

Bosan.

Pegal. Bukan pegal menunggu, tapi pegal beneran karena seharian muterin GI pake 5-cm-heels-wedges yg ternyata cukup membunuh.

Sambil gonta-ganti kaki tumpuan, gw mengamati orang-orang di sekitar situ.

Wahh ada mas mas kurus cungkring huhujanan. Keliatan badannya menggigil. Dia melipat tangannya ke badan, mungkin untuk menghangatkan diri, tapi kayaknya ga guna. Badannya basah kuyup banget. Banget banget kuyup. Dia mandi juga kayaknya ga bakal sekuyup itu. Hampir saya nanya, “kenapa ga berteduh mas?”, oh ternyata dia si ojek payung bapak bapak kantoran yang berdiri di sebelahnya.

Si bapak kantoran mah santai saja di bawah payung-super-lebar-khas-ojek-payung. Kenapa si bapak kantoran ga berbagi payung ama si mas-cungkring-ojek-payung itu ya? Kan mubazir tuh lebar payungnya. Si ibu ibu di belakangnya juga sama aja. Saya sendiri berlindung di bawah payung kecil yang barusan aja beli di halte busway. Sedangkan, si mas-cungkring-ojek-payung lagi ngobrol ama temen sesama ojek payung dan menghitung uang mereka yang juga basah.

Hiks.. kok saya sedih yaa ngeliatnya. Mereka hujan-hujanan cuma untuk dapet sedikit uang. Seneng banget dong yaa mereka kalo hujan? Hujan tuh rezeki untuk mereka. Terus apa mereka ga sakit yaa abis ngojek? Kalo saya sih pasti langsung demam, pusing, dan masuk angin. Uang yang di dapet kayaknya bakal abis untuk obat. Haha

Heuu kasian ama ojek payung. Suka ga tega ngeliatnya. :(