Tentang Ayah

Setelah baca beberapa tweet dari temen baru sadar, oh hari ini hari ayah tertanya *telat sekaleee*

Dari tweet temen-temen, terlihat yaa bahwa kasih sayang ayah itu besaaar banget. Ayah pun menjadi figur yang sangat mereka banggakan. Mungkin apabila diminta menyebutkan pria terbaik, paling dipercaya, dan menjadi figur idaman, mereka menyebutkan ayah mereka masing-masing. :)

Dan.., gimana dengan ayah saya?

Hmm sebenernya saya kurang dekat dengan ayah saya karena saya anak ibu bangeeet. *apa coba*

Bukan karena ayah tinggal jauh dari saya, bukan karena kami jarang bertemu juga.

Bukannya ga deket berarti kita ga akur, tapi emang ga deket dan kalo di satu forum pun kita bakal diem-dieman zingg banget.

Bukannya ga mau ngobrol dengan beliau, tapi emang sulit mencari hal dan bahan obrolan yang bisa ngedeketin kita, beliau juga sih yang pendiem keterlaluan. >:P

Yahh begitulah…

Suatu kali, kita ada di ruang keluarga berdua, nonton TV, dan zzinnng…ga ada suara lagi selain suara TV, dan akhirnya kita malah sibuk sendiri dan ke kamar masing-masing. :))

Ampe sekarang, setiap ada telepon dari nomer HP ayah pun, pasti saya super bingung. Ada kejadian penting apa di dunia? Dan oh ternyata ibu saya yang menelepon dengan HP ayah. Sekalinya beneran ayah yang nelpon, pembicaraan super singkat.

Ayah: Lagi apa?

Saya: Kuliah Pak. Ada apa?

Ayah: Oh ga ada apa-apa.

Saya: Oh gtu.

Ayah: …

Saya: (zingg juga, awkward silence is coming!)

Saya: Oke deh, daaagh Bapak. Assalamualaikum.

Ayah: Waalaikumsalam.

*Haha, very awkward, huh?!

Oiya, setiap menerima telpon dari ayah, satu hal yang selalu saya ingat, dia tidak pernah membiarkan saya menutup telepon belakangan. Jadi, kadang suka saling tunggu-tungguan nutup telpon. Haha…

Hal tentang ayah yang paling berkesan menurut saya adalah cerita sekitar 3 tahun yang lalu. Saat itu, saya mengikuti study tour ke Baduy selama 4 hari. Bayangkan Baduy! Sinyal HP nihil, akses telepon fixed pun ga ada. Cobaan berat bagi ayah dan ibu untuk mengijinkan saya yang ga pernah kemana-mana ini untuk pergi ke sana (walaupun akhirnya saya ikut juga, hehe). Di hari kepulangan saya, yah seperti biasa, ayah ga ikut ibu menjemput saya di sekolah. Tapi…, pas ampe rumah, abis salam, ayah mencium kening saya. Terharu pisaaaan, mau nangis rasanya. Bukan lebay atau gimana, tapi emang gtu rasanya. Ternyata dia kangen juga ama saya setelah beberapa hari ga ketemu. ;)

Walaupun ayah saya banyak kurangnya (namanya juga manusia, ga ada yang sempurna), tetapi pastinya ada hal dari dia yang saya teladani. Yaitu.., menjadi orang yang lurus! Begitulah, ayah mungkin saya anggap sebagai manusia terlurus di muka bumi ini. Sekarang memang ia sudah pensiun, tapi dulu pas masih kerja dia memang dikenal sebagai orang yang lurus dan ga macem-macem. Walaupun lingkungan pekerjaannya memungkinkan untuk melakukan korupsi dan sebagainya, ayah tetap pada prinsipnya. Ia ga mau, uang yang ia gunakan untuk menafkahi keluarganya berasal dari perbuatan kotor. Seperti yang pernah ia bilang, “makanan dari uang yang kotor bisa bikin manusianya jadi kotor juga”. Terharu banget lah pokoknya. :”>

Terakhir, tentang ayah yang paling berkesan : di saat semua anggota keluarga mulai dari kakek, ibu, adek, om, tante, ampe sepupu yang bocah-bocah manggil saya dengan sebutan “Teteh”, ayah memanggil saya dengan sebutan “Nisa”. Aneh memang, yahh tapi mau diapain lagi, suka-suka dia lah. Haha.. Mungkin itulah yang ngebedain dia dengan anggota keluarga yang lain, jadi saya anggap aja itu sebagai panggilan spesial. :)

Pak, di Hari Ayah ini, saya cuma mau bilang betapa saya sangat mencintai dan menghormatimu. Pengecut dan pemalu memang karena saya ga bisa katakan ini langsung ke Bapak. Terima kasih telah membesarkan saya selama ini dengan bentuk kasih sayang yang mungkin tidak saya mengerti. Terima kasih telah mendidik saya selama ini. Semoga di kemudian hari, kita bisa lebih dekat lagi, karena saya iri dengan orang-orang yang bisa sangat dekat dengan ayah mereka… *from one and only your daughter :)*

Bosan Hidup

Seorang pria setengah baya mendatangi seorang guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yg saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”

Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.”

“Tidak Guru… Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” Tolak pria itu.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”

“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah diminum malam ini, setengah lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya utk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang ke rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun tersebut. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati…, terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran masakan Jepang. Sesuatu yg sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Sambil makan, ia bersenda gurau. Membuat suasana senyaman mungkin. Sebelum tidur, ia mengecup kening istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Karena malam itu adalah malam terakhir, tentunya ia ingin meninggalkan kenangan manis bagi keluarganya.

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda utk jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu utk dirinya, satu lagi utk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istri pun merasa aneh sekali, “Mas, apa yg terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, mas.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dgn setiap orang. Staff nya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?”. Sikap nya pun berubah, menjadi lembut. Karena itu adalah siang terakhir yang ia miliki!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Tanpa ia sadari, ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menunggu di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Mas, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua yang sering membuat Ayah stress karena perilaku kami semua.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Hidup pun terasa menjadi lebih indah. Ia membatalkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum pada sore hari sebelumnya?

” Ya Tuhan, apakah maut akan datang kepadaku. Tundalah kematianku ya Tuhan. Aku takut sekali jika aku harus meninggalkan dunia saat ini ”.

Ia pun buru-buru mendatangi sang Guru yang telah memberi racun kepadanya. Sesampainya dirumah Guru tersebut, pria itu mengatakan bahwa ia ingin membatalkan kematiannya karena ia takut sekali jika harus kembali kehilangan semua hal yang telah membuat ia menjadi hidup kembali.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, sang Guru berkata, “buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan.”

Pria itu merasa sangat berterima kasih atas pelajaran hidup yang baru saja ia lalui. Ia pun pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman hari sebelumnya. :)

*di-copy dari sebuah e-mail inspirasional dari Ibu*

—–

Yaaah begitulah hidup, kita tidak tau kapan matinya. Yang bisa kita lakukan adalah menjalani setiap harinya sebaik mungkin.

Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever — Mahatma Gandhi