Harry Potter. It all ends.

Ga baru-baru amat sih nontonnya, tapi kemarin. Nonton bareng di Blitzmegaplex baru yang ada di Bekasi bersama Aditya, Adhitya adik saya, cewenya adik saya, Reza sepupu saya, dan cewenya sepupu saya. Triple date! :P

Itu tiketnya. Tiket yang dibeli beli saat pre-sale dua hari sebelumnya sebagai langkah antisipasi panjangnya antrian dan penuhnya kapasitas bioskop akibat manusia-manusia yang lapar akan film bermutu. Aiiih… (copas dari tulisan sebelumnya)

Di sini saya ga bermaksud me-review secara detail Harry Potter and The Deathly Hallows part 2. Lagian juga kebanyakan udah pada baca novelnya atau tau ceritanya kan. Yang jelas, film nya sangat tidak mengecewakan sebagai film penutup tujuh seri Harry Potter (HP). Nice :)

Pertama kali saya baca HP saat kelas 6 SD (1998), di kelas pas jam istirahat, pinjam punya teman. Karena novelnya pertamanya tidak terlalu tebal, saya lanjut baca di mobil jemputan, dan selesai sebelum sampai di rumah. Seri-seri selanjutnya selalu saya tunggu walaupun akhirnya pinjam punya teman lagi. Ah iya, saya hanya punya “Harry Potter and The Chamber of Secrets” yang akhirnya hilang saat pindahan rumah. Saya juga punya “Quidditch Through The Ages” dan “Fantastic Beasts and Where to Find Them” yang bernasib serupa, hilang saat pindahan.

Pada tahun 2001, film “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” rilis. Tentu saja saya menontonnya, tak lupa membeli VCD nya. Walaupun pas awalnya saya bilang, “ah ga sama kayak di buku”, “ah banyak yang dikurangin”, blablabla.., toh saya akhirnya tetep ngikutin dan selalu nunggu seri filmnya setiap mau rilis.

Tahun 2007, buku HP yang terakhir terbit dengan judul “Harry Potter and The Deathly Hallows”. Tak lama setelah bukunya sampai di tangan, saya khusyu’ sekali baca pagi siang malam. Padahal seperti biasa, abis baca buku, sebulan kemudian juga saya udah lupa ceritanya. Apalagi sekarang kalo ditanya mah kelaut aja deh. Tapi, dengan lupa ceritanya ternyata jadi ga terbebani saat nonton filmnya. Jadi ga banding-bandingin lah, lebih menikmati. :P

Dua hari yang lalu, film terakhir HP rilis di Indonesia. Penasaran. Gregetan. Walaupun udah pernah tau juga sih ceritanya (eh iya tapi kan sekarang udah lupa lagi dan akhirnya setelah nonton saya baca ulang novelnya, pinjem punya Adit, versi Inggris, pake mikir dikit deh). Yaaa dan film terakhir ini adalah film Hp satu-satunya yang berhasil buat saya menitikkan air mata di bioskop. Terima kasih terima kasih…

Dari tahun 1998 sampai dengan 2011 ini berarti saya sudah mengenal HP selama 13 tahun, lebih dari setengah hidup saya saat ini. Dari Daniel Radcliffe, Rupert Grint, dan Emma Watson masih imut-imut sampai akhirnya dewasa. Dari yang ceritanya ceria-ceria dan berwarna, sampai akhirnya suram. Dari yang saya nge-fans sama Daniel Radcliffe, sampai akhirnya saya sadar kalau dia ga seganteng itu. Fluktuatif lah. Harry paling ganteng di “Harry Potter and The Goblet of Fire” doang pas rambutnya panjang.

Terima kasih JK Rowling yang udah bikin cerita super keren yang bisa membuat saya setia mengikuti dari kecil sampai segede gini, dari saya SD sampai saya (mau selesai) kuliah. Suatu hari nanti saya akan beli dan koleksi ketujuh seri HP supaya anak saya tau novel seri ter-harus-baca pada jaman saya. Ceritanya boleh “It all ends”, tapi kayaknya legenda cerita HP ini ga bakal berakhir deh. :)

nonton bareng “The Boat That Rocked”

Iya beneran nonton bareng.

Tadi banget.

Sabtu, 16 April 2011 saat acara ORBIT Elektron HME ITB di Ruang Multimedia Labtek V.

Di sebuah kapal di tengah lautan, terdapatlah sebuah stasiun pemancar radio, The Boat That Rocked, yang biasa dikenal sebagai Pirate Radio. 24/7 mereka menyiarkan lagu rock and roll. Banyak sekali penggemar stasiun radio ini. Hippies. Sayangnya, saat itu selera musik bagaikan diatur oleh pemerintah. Pemerintah hanya ingin mendengarkan lagu classical dan pop saja. Tanpa mendengarkan kata pemerintah, Pirate radio tetap mengudara di tengah lautan.

Nah, suatu hari, datanglah seorang pemuda, sebut saja Carl. Ia dikirim oleh ibunya ke kapal tersebut. Cukup aneh memang. Sepertinya hal ini ada hubungannya dengan pencarian ayah kandung yang sebenarnya. Di kapal itu, Carl diperkenalkan dengan beberapa awak kapal (baca: DJ dan lain-lain). Ada Count, Quentin, Thick Kevin, Simon, Dave, Felicity, Marianne, dan masih banyak lagi. Eh ada Gavin juga, yang ceritanya rockstar.

Ceritanya ya itu sih, bagaimana kehidupan sekian orang itu di atas kapal menjalankan stasiun radio, hubungan satu sama lain, dan cerita sleknya mereka dengan pemerintah.

The Boat That Rocked (2009) menurut saya film yang cukup menarik dan ternyata film ini diambil dari fenomena yang emang beneran ada.

This film is very loosely based on Radio Caroline, a popular pirate radio ship with a similar history and style. It was director Richard Curtis‘s intention to weave a fictional story around the many pirate stations of that era, rather than base the story on a factual story.

– IMDB

Oiya, Director-nya adalah Richard Curtis yang juga membuat film Notting Hill, Love Actually, dan Bridget Jones’s Diary. Beneran ga nyangka. Karena film yang ini emang ceritanya beda banget ama film-film dia sebelumnya. Kesannya juga agak ‘liar’, bahasa yang agak kasar, adult content juga.

Hal yang kurang dari film ini mungkin adalah karakternya yang kebanyakan. Beberapa karakter cuma muncul seadanya. Jadi ga fokus. Jadi pas awal agak bingung ini maksudnya apa. Tapi kabarnya ending film ini ‘wah’. Sayang banget tadi pas nonton bareng ga sampai abis. :)

what a coincidence?!

Ada apa dengan video tersebut?

Video tersebut merupakan film dokumenter buatan orang-orang Indonesia dengan judul “Democracy is yet to learn”. Film dokumenter yang sudah memenangkan beberapa award, antara lain: Winner of Democracy Video Challenge (a film competition that held by US Department) dan Winner of Malang Film Video Festival. (Source)

Terus apa masalahnya?

Jadi kemaren ini adik saya tiba-tiba nanya lewat gtalk: “teh, emang adit pernah bikin film dokumenter gtu ya?”

Terus saya mikir. Emang iya ya? Kayaknya Aditya Prabaswara yang saya kenal ga ada jiwa-jiwa filmografi gtu deh. :P

Apa jangan-jangan dia berkepribadian ganda? Di sisi lain pribadinya dia suka filmografi. Atau diam-diam dia banyak ikut proyek film dokumenter gtu. Entahlah.

Akhirnya adik saya kasi link video tersebut. Saya tonton ampe abis. Wahh isinya bagus. Sederhana, tapi ngena. Dan pas liat creditnya, betul saja, ada tulisan: “Story Idea: Aditya Prabaswara”

WOW! Trus saya liat, yang ngepost di youtube, usernamenya “superrandompanda”. WOW LAGI!

Akhirnya setelah banyak fakta-fakta tersebut, saya tanya langsung ke oknum Prabaswara, dan ternyata film dokumenter itu bukan buatan dia. Hahaha sudah saya duga… Ternyata itu buatan Aditya Prabaswara yang lain.

Hahaha, what a coincidence! Kebetulan banget!

Mulai dari nama yang sama, sampai username panda panda yang identik dengan Aditya Prabaswara yang saya kenal. Hahaha

mulai berpikir, apa jangan-jangan nama Aditya Prabaswara selalu identik dengan panda?