(never) settle

Bukan, bukan mau promosi handphone.

Jadi, tidak lama setelah menikah dan memahami the nature of profesi suami saat ini, saya menyadari bahwa hidup yang tidak menetap adalah part of early researcher life.

Awalnya tentu saya sangat excited (and I still do) dengan pengalaman hidup di belahan dunia yang lain. Saya dapat membayangkan hidup beberapa waktu di A, kemudian beberapa waktu di B. “Aku akan terus mendukung dan mengikuti ke manapun kamu pergi (and I still really really do). Let’s strive for the best and never settle!”

never_settle

Ini mah wallpaper hape itu. Source: zedge.net

Read More

Bapak millenial

man holding a baby photo

Photo by Flo Maderebner on Pexels.com

Minggu lalu sambil makan siang, saya dan suami mendengarkan podcast #CurhatBabu-nya @sheggario dan @nuchabachri yang berjudul “Bapak Millenial”. Garis besar curhatnya sendiri adalah tentang bagaimana Ario membangun kedekatan dengan anak-anaknya.

Setelah mendengarkan podcast itu, saya jadi ngerasa bener juga ya; bapak bapak angkatan saya, alias bapak millenial itu kok rasanya lebih dekat dengan anak dan ga malu untuk hands-on dengan pengasuhan anak. Aku terharu. T___T

Read More

mari kita bekerja

Itu adalah salah satu caption alarm di HP gw. :))

Ga kerasa long weekend is already over. Waaa besok udah masuk kerja lagi aja. Weekend sebanyak apapun harinya, ga bakal pernah cukup. :”

Aaa besok pagi langsung berhadapan dengan kerjaan yang numpuk dari weekend kemarin dan malas dibawa pulang, liburan is liburan. Prinsip. Semangat semangat, semoga masih inget caranya bangun pagi dan berangkat ke kantor.

Dulu aja pas kuliah pengen cepet-cepet lulus cepet-cepet kerja, sekarang udah jadi buruh kerjaan liatin kalender nungguin weekend dan long-weekend. Mamam. :”

Eh iya kenapa sih kata buruh itu identik dengan pekerja yang di pabrik-pabrik gtu, yang kalo liat di media diberitainnya sering demo karena pendapatannya ga sesuai. Padahal buruh itu artinya pekerja, karyawan; karyawan itu sama dengan buruh. Berarti aku buruh swasta.

Oh iya, betewe aku udah jadi buruh selama 1 tahun lhoh. :”>
Ga kerasa banget sumpah. Tiba-tiba udah extend kontrak lagi aja. Hohoho

FYI, ini perusahaan pertama yang gw masukin setelah lulus kuliah. Melihat trend di perusahaan ini yang banyak-masuk-banyak-keluar, kondisi gw saat ini lumayan prestasi. Udah setahun ga keluar-keluar, malah perpanjang kontrak pula. Temen-temen aja udah pada cabcus dari sini. :|

Maka itu, orang-orang sering nanya: betah, nis? Enak ya kerjaannya?

Hmm gimana ya… Betah betah aja sih. Kerjaannya juga lumayan, oh betewe ekeu berpaling dari dunia teknik dan jadi anak sales, technical sales deh biar keren. :))

Menurut gw, yang penting lingkungan pekerjaan enak, ada kerjaan yang jelas, dan pendapatannya sesuai.
So far, lingkungan kerja gw enak. Team, mentor, dan supervisor baik-baik, walaupun agak susah komunikasi berhubung mereka bukan orang Indonesia, hmm tapi okelah kita sama sama bisa bahasa Inggris. So, it’s not a big deal.
Kerjaan gw jelas. Sejauh ini emang masih banyakan proses di internal kantor sih, jadi walaupun sales paling korespondensi dengan customer cuma lewat email untuk confirm this confirm that. Belum ngurusin bidding, tender lalala. Bisa-bisa aku ubanan kalo ngurusin itu. :p
Pendapatan…, kalo mau bilang kurang apa ga ya manusia mah ga pernah puas. Saat ini pendapatan masih rasional, so oke deh.

Oh iya, pernah di suatu masa semua itu ga ada banget.
Team ga enak, kerjaan ga jelas, eh gaji tetep lancar sih. AAA gabut lah pokoknya bete banget. Berangkat kantor cuma buat nunggu pulang. Sungguh. Itulah saat saat di mana gw sebel banget sama kantor. Pengen cabcus aja pokoknya. T.T
Eh tapi kemudian gw dipindah ke project yang sekarang. Alhamdulillah :D

Sekarang tiap hari semangat kerja, eh ga juga sih. Tapi lebih banyak senangnya pokoknya. Terima gaji pun rasanya lebih puas karena tau apa yang telah saya lakukan. :))

Oh iya kadang gw suka ngerasa sebel sih sama orang yang suka banding-bandingin kerjaannya doi sama kerjaan kita, atau aktivitas doi sama aktivitas kita. Kayak anggap kerjaan gw ga meaning gtu, cuma di depan komputer, configure dan proses pesanan customer, pastiin konfigurasi hardware yang dikirim sesuai sama yang customer butuhkan. Iya iya shallow ga kedengerannya. Padahal temen-temen di luar kerjaannya langsung bersentuhan dengan hardware, macho banget, jago banget pasti. :’)
Atau yang mikir, ya ampun kerja kayak gtu doang, mendingan juga S2, berarti bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Iya iya iya. *lelah -_-

Nah lalu gw mengingat-ingat tujuan gw bekerja apa… mengisi waktu dan mandiri secara finansial dari orang tua. Senang kan isi waktu, eh dapet duit. Daripada di rumah geje, udah gede pula jadi ga dapet uang jajan. :))

Mungkin karena ini ya gw ga ngerasa terlalu stress banget sama kerjaan. Atau emang gw jagoan dan dapat bekerja di bawah tekanan? B-) *hahaha ngasal, bahasa CV banget

Eh eh, so far karena baru lulus (eh ini masih fresh graduate ga sih itungannya?) gw sendiri belum berpikir untuk meniti karir di tempat bekerja saat ini atau di mana pun. Yang pasti bukan jadi pengusaha. Kerja dan jadi dosen boleh deh. Atau boleh ga sih jadi mahasiswa terus-terusan ambil S1 S2 berkali-kali? *buang-buang duit lo! :))

AAA passion di mana kamu passion?!

Oiya, dulu pas KP pernah ada sesi bersama seseorang-aduh-lupa-siapa yang ngajak kita ngobrol, nanya-nanya kesukaan kita apa dan dia coba berikan pendapat. Saat itu saya bilang saya suka apapun. Kuliah ya seneng. KP seperti saat itu, belajar tentang network transmission juga senang. Intinya setiap kerjaan yang dikasi ke saya, saya bisa gampang senang sih. Bahkan dengan job desc saya saat ini di kantor. Saya senang. :D
Katanya sih si saya orangnya pembelajar karena senang apapun, karena apapun bisa dipelajari. Gtu. Katanya sih.
Trus kenapa ga S2 ya? Karena saya masih senang dengan kerjaan saat ini. Kayaknya harus ada satu hal yang bikin saya move on dari posisi saat ini. Misalnya nikah dan dibawa entah kemana oleh si suami. Hahaha ngarep. :))

Mungkin saya orang yang selalu mencari 1 alasan untuk stay di luar alasan-alasan lain buat cabcus. Dan bukan orang yang asal ada 1 alasan buat cabcus, maka ia cabcus.

Oh terus untuk menyenangkan diri sendiri, kemarin ini saya nemu artikel ini:
Finding Meaning at Work, Even When Your Job is Dull

Lumayan ngena sih. Terus aku jadi happy. :3

Sekian.
Bye!
Sudah malam, ikan bobo. Besok harus bekerja. :)

kemana hak pejalan kaki?

Jadi postingan berikut akan berisi curhatan saya sebagai pejalan kaki. Saya senang berjalan kaki. Sebisa mungkin kalau masih terjangkau saya lebih memilih jalan kaki daripada naik angkot atau transportasi umum.

Saat itu sore hari di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Saya dari gedung BRI ingin berjalan ke halte Karet. Saya berjalan dengan riang gembira di trotoar terenak dan terlega di daerah sana, trotoar di depan Sampoerna Strategic Square yang super luas. Jalanan macet parah. Dan tiba-tiba ada motor naik ke trotoar untuk melewati kemacetan, ngebut, dan ngelakson. Dan kemudian aksi itu disusul motor-motor lain. WHAT?! WOY! Ini kan trotoar. Tempat pejalan kaki. Udah lewat semena-mena, klakson pejalan kaki lagi!!! X(

Sungguh lah, sejak saat itu pengguna motor yang naik ke trotoar, ngebut, dan ngelakson gw anggap sebagai makhluk terkutuk.

Kejadian lain di malam hari sepulang kantor, saya turun angkot dan mau menyebrang jalan lalu jalan kaki ke rumah. Sebagai pengguna jalan yang baik saya turun dan bersiap menyebrang di zebra cross. Tapi apa daya, I stood there for more than 5 minutes without having any chance to cross the street!

Pertama, zebra cross nya “diduduki” oleh motor dan mobil. Kedua, ojek-ojek berseliweran nawarin ojek padahal udah dibilang ga mau. Ketiga, ga lampu merah ga lampu hijau, mereka terus bergerak. Pada buta warna kali ya. -_-
Akhirnya di lampu merah ke n-th saya memberanikan diri menyebrang, memotong motor-motor yang berseliweran sambil marah-marah karena saya motong jalan mereka. X(

Beneran deh, pejalan kaki di jalanan tuh kasta-nya udah rendah banget, ga dianggap banget. I don’t want to live on this country anymore.

KEMANA HAK PEJALAN KAKI??? :__(

Aditya berasal dari bahasa Sansekerta, artinya matahari. Prabaswara artinya cahaya. Cocok dengan orangnya. Menghangatkan. Menerangkan.

Aditya Prabaswara itu teman terdekat saya selama satu tahun terakhir. Dari semua teman yang ada, dia yang paling spesial. Dia mungkin yang paling kenal saya lebih daripada diri saya sendiri. Bersama dia rasanya saya jadi orang yang lebih baik. Saya yang agak malas dan santai terus di-push untuk belajar dan mencoba banyak hal. Dia lah orang yang selalu mengingatkan dan meyakinkan saya bahwa saya bisa dan saya tidak bodoh. Kalau tidak bersama dia…..ah tidak terbayang.

Kami sudah dekat selama kurang dari dua tahun dan selama itu pula rasanya hubungan kami sudah “upgrade level” berkali-kali. Hehehe…

Diawali dengan hubungan yang biasa-biasa saja, dari luar tidak ada yang terlihat spesial di antara kami. Dengan rentetan kejadian car free day, malam swasta, dan karaoke, hubungan kami pun berlanjut ke level berikutnya. Awalnya terasa sangat awkward. Masing-masing masih mencari tau dan mencari kenyamanan satu sama lain. Untungnya saat itu jarak bukan masalah. Kami satu kelas, sampai bosan rasanya walaupun sebenarnya tentu saja tidak. :P Tempat tinggal tidak berjauhan, komunikasi pun lancar. Sampai akhirnya Aditya lulus lebih cepat dan bekerja di Jakarta.

Di sini lah level berikutnya dimulai. Kesibukan yang berbeda sangat mengubah pola komunikasi kami. Saya tentu berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengganggu dia di sela-sela pekerjaan. Intensitas pertemuan pun menurun drastis. Bertemu satu kali seminggu itu alhamdulillah banget. Saat saya akhirnya lulus dan pindah ke Jakarta Bekasi, hal tersebut pun tidak berubah. Jakarta – Bekasi atau Jakarta – Bandung tetap ada jarak. Walaupun besar jaraknya berbeda, effort-nya mungkin tidak jauh berbeda.

Setelah nyaman dan terbiasa dengan kondisi tersebut, Aditya ditugaskan ke Palembang untuk waktu 3 – 5 bulan. Yap, saatnya pertanda untuk masuk ke difficulty level berikutnya! Mungkin ini yang namanya long distance relationship. Berbeda pulau dan terpisah dengan jarak 600-an kilometer. Perbedaan kesibukan. Dan sulit untuk bertemu walaupun hanya seminggu sekali.

Life goes so so so so fast. Dalam dua tahun terakhir saja sudah banyak banget yang terjadi, misalnya perbedaan jarak ini. Dan itu belum termasuk cerita momen-momen penting selama dua tahun ini.

Dan cerita di atas itu belum seberapanya. Bukan tidak mungkin jarak kami akan terus lebar mengingat keinginan yang sangat besar dari Aditya untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Tetapi sesungguhnya hidup memberi ujian secara bertahap. Cobaan, dalam hal ini jarak, diberikan secara bertahap. Ga ujug-ujug. Orang lain mah mungkin bilang ah cupu baru segitu aja. Tapi beneran lhoh kerasa banget soalnya awalnya selalu dekat, ga pernah jauh.

Ga kebayang sih nanti kalau harus beda negara. Kayaknya saya bakal berusaha banget biar bisa kuliah di tempat yang sama.

Dedikasi

Jadi, semalam (oh post ini ternyata udah lama ada di draft, tepatnya dari 29 Oktober 2011) saya makan bersama dengan dosen pembimbing Tugas Akhir dan anak-anak bimbingannya yang segambreng.

Bersyukur banget bisa dateng ke acara makan-makan ini. Emang udah jadi kebiasaan kalau selesai Tugas Akhir, dosen pembimbing yang satu ini mengajak anak bimbingannya makan bersama dan ngobrol-ngobrol. Dari pertemuan yang ga lama itu saya bisa lebih mengenal dosen pembimbing saya. Yang saya kira dia jahat karena nyuruh saya revisi sampai mampus, tapi ternyata dia super duper baik hati dan asik diajak ngobrol ini itu. :’)

Saat itu kita membicarakan berbagai hal. Mulai dari kuliah, dosen, mahasiswa, sampai kehidupan dia sebelum jadi dosen. Jadi, setelah lulus S1, dia sempat kerja kemudian melanjutkan S2, S3, dan mengikuti post-doc selama 4 tahun. Setelah itu, akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai dosen di kampus ini dan pulang ke Indonesia.

Saat itu saya bertanya-tanya, apa yang membuat dia mau jadi dosen. Padahal kalau diamati, tentunya pendapatan sebagai dosen di Indonesia ga seberapa dibanding dengan pendapatan sebagai researcher di luar negeri yang bisa sampai puluhan juta perbulan. Katanya, dengan tingginya pendidikan yang dia tempuh, sudah tidak memungkinkan untuk bekerja kantoran. Pilihannya cuma: researcher dan atau dosen. Dan dia cuma mau pulang ke Indonesia kalau jadi dosen di kampus ini.

Kemudian saya bertanya-tanya gimana gimananya jadi dosen karena saya juga tertarik dengan profesi yang satu ini. Kata dia, dosen itu harus berdedikasi dan berlatar belakang keuangan yang cukup.

Kalau sudah berdedikasi tentunya seorang dosen akan menjalankan kewajiban dan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Memang bukan hal yang mudah menjadi dosen. Menyampaikan ilmu sambil terus belajar, menghadapi berbagai jenis mahasiswa, melakukan riset, tetap sibuk dengan urusan administrasi, rapat ini itu, dan sebagainya. Seringkali hal-hal tersebut membuat lelah dan malas mengajar, tapi ia mencoba mengingat kewajiban yang harus dijalankan, dan bagaimana uang negara telah digunakan untuk membayar dia.

Berlatar belakang keuangan yang cukup. Dia sendiri bilang bahwa pendapatan yang diperoleh sekarang mah bukan apa-apa. Kecil. Namanya juga dosen, PNS. Kata dia sih kalo ga digaji juga gapapa, toh tabungan dia selama S2, S3, dan post-doc di luar negeri sudah mampu menunjang hidup dia.

Kombinasi dari latar belakang keuangan yang baik dan dedikasi yang tinggi membuat dosen tetap rajin mengajar dan tidak mengejar proyek sehingga siswanya tidak terlantar. Ternyata dia sendiri suka kecewa kalau ada dosen yang terima gaji iya tapi ga ngajar, jarang keliatan di kampus, kerjaannya proyekaaan mulu.

Selain obrolan tersebut, sebenarnya masih banyak lagi yang kita obrolin. Dan dari percakapan itu akhirnya saya paham kenapa dia rasanya se-nyebelin itu di kelas dan se-perfeksionis itu pas jadi dosen pembimbing. Ternyata itu semua adalah hal-hal positif yang dia peroleh saat dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kalau kuliah ya jangan terpaku sama yang ada di kelas, wawasan juga harus diperluas dengan ilmu-ilmu dari luar kelas. Jadi mahasiswa jangan bisanya cuma ngerti cara ngitung aja, tapi harus ngerti konsepnya. Kalau penelitian ya emang harus bagus, ga boleh setengah-setengah. Dan lain lain…. Semua itu dia terapkan supaya siswanya tuh ga kayak dia pas masa-masa kelam dulu. Saya ga nyangka dia se-so sweet itu. Ahh, saya jadi terharu. Emang harus ngobrol banyak ya sampai kita tahu seseorang itu aslinya seperti apa. :’)

Setelah ngobrol-ngobrol itu makin besar keinginan saya untuk jadi dosen. Jalannya masih panjang. Ilmu saya masih nol besar. Semoga saat waktunya tiba saya siap dan punya dua kriteria tersebut, berdedikasi dan berlatar belakang keuangan yang memadai. :)

pasca sarjana

Bukan bukan, saya sekarang ga lagi ambil program magister.
Ini hanya unek-unek seorang sarjana yang FYI sudah hampir sembilan hari diwisuda dan masih tidak jelas hidupnya. #gapentingsihbuatlosemua

So, seneng udah jadi sarjana heh? Terus mau ngapain?
Awalnya senang alhamdulillah. Lalu hampa.
Rencana waktu dekat sih inginnya bekerja dulu. Merasakan kehidupan kantor. Merasakan punya penghasilan dan ngerasain uang hasil keringat sendiri. :’)

Ga lanjut program pascasarjana beneran?
Kalau ada kesempatan mungkin akan lanjut S2 di kemudian hari. Yah sebagai seseorang yang belum menemukan passion, rasanya saya harus mencoba banyak hal sampai menemukan apa yang menjadi passion saya. Kerja, kuliah, coba semua coba semua hahaha.
Yah kalau S2 pun sebenernya prioritas saya masih cetek banget sih. Jalan-jalan, cari pengalaman, ngerasain hidup di luar negeri, dan tentunya mengejar si doi yang superpintar. #eaaa

Trus sekarang lagi apa?
Sekarang lagi nganggur .___.
Setelah beberapa hari hampa tidak ada kegiatan berarti, sepertinya akan diadakan program untuk mengisi hari-hari kosong ini. Belajar menyetir, iseng-iseng masak, ikut beauty class minggu depan, lanjutin hobi jahit-jahit dan papercraft, belajar toefl. Hmm banyak juga ya. Semoga hari-hari besok tidak sia-sia :D

Terus mau curhat apalagi?
Udah segini aja .__.
Salam cinta dari saya yang pasca jadi sarjana lalu geje.

 

distraction

wonder why I am so easily distracted? and find distraction. and get busy doing something that’s not become my priority.

lagi ngerjain draft TA, trus ngeliat kuku panjang. “ah kayaknya ga asik ngetik kukunya panjang”. trus jadi potong kuku dulu.
lagi ngerjain draft TA, trus ngeliat tumpukan kain flanel. akhirnya malah browsing model dan menjahit-jahit.
lagi ngerjain draft TA, trus merasa ga lega kalo blom curhat di blog. akhirnya malah nge-blog dulu kayak gini.

ARGH. di saat-saat harusnya serius nge-draft malah selalu mencari excuses untuk ngelakuin hal lain. UGH my bad.

KAPAN SELESAINYA DONG INI?!
STOP NISSS…

let’s back to draft. deadline udah di depan mata.
happy drifting, para pejuang oktober. brumm brumm ckittt…

11.47 @ Residensi KPK, perdana nginep di kampus, niatnya nge-draft. sekian.

saya ingin menjadi…

Sekuel dari postingan sebelumnya nih. :P

Jadi menjelang akhir-akhir masa gw sebagai mahasiswa strata-1 (amiiin… | kerjain TA nis, jangan nge-blog mulu. | iye iye… #monolog), gw mulai membayangkan hidup gw kedepannya gimana.

Entah mengapa yang sekarang terbayang adalah Annisa, ibu rumah tangga yang baik, berprofesi sebagai dosen, punya kerjaan sambilan juga di tempat lain, aktif di lingkungannya, dan aktif menyalurkan hobinya.

Dosen? Hmm kalau ngeliat gw sekarang pastinya ga cocok pisan ya jadi dosen. Murid biasa-biasa aja. Prestasi ga ada. Nah, inilah kenapa gw jadi mau sekolah setinggi mungkin (yap, kalo dilihat sekarang, gw memang anak yang malas, tapi punya pasangan yang sangat suka belajar sepertinya ber-efek positif juga ke gw :P). Gw pengen jadi pinter. Gw pengen jadi dosen yang menurut gw gaul dan asik ngajarnya, yang cara ngajarnya mudah dimengerti, yang mahasiswa pun senang masuk ke kelas gw. :D

Dan apa reaksi orang tua gw saat gw bilang mau sekolah terus dan jadi dosen?
“Haaa, sekolah mulu kapan kerjanya? Ngapain jadi dosen, gajinya kecil.”
ARGH. Yahhh setiap orang tua memang ingin anaknya hidup sejahtera, tapi ga semua dimulai dengan jadi dokter atau engineer terus kerja di oil company, tajir, bahagia, mati masuk surga, kan?

Kemarin ini gw ngobrol dengan seorang teman tentang cita-cita sebagai dosen ini. Dia tanya kenapa gw mau jadi dosen walaupun kayaknya kesejahteraannya pas-pasan. Hmm gw mencoba menjawab dengan melihat ke jurusan gw yang sepertinya mulai kurang dosen. Dosennya udah tua-tua dan sepertinya regenerasinya lambat. Lalu, melihat ke diri gw sendiri. Berhubung gw cewe rasanya gw ga menanggung beban untuk menjadi tulang punggung keluarga, menafkahi keluarga gw. Dan gw ga kebayang sih 24/7 di rumah. Harus ada aktivitas dikit lah. Bukan kerja banting tulang cari uang juga. Tapi ingin lebih seperti aktivitas yg dengan senang hati gw lakukan. Soal penghasilan nantinya cuma jadi nilai plus aktivitas tersebut aja. Analoginya sih: misalnya cowo-cowo yang suka main game, kalo tiba-tiba hobi itu menghasilkan uang ya alhamdulillah, kalo ga ya gapapa, tetep aja masih hobi main game. Dan cita-cita itu bisa dimulai dengan mencari suami yang sudah mapan dan berkepribadian, rumah pribadi, kendaraan pribadi. :P

Yah pokoknya gitu deh. Gw emang labil, cita-cita gw masih berubah seiring waktu. Tapi semoga yang ditulis di sini tercapai. Gapapa deh awalnya berliku-liku ga jelas, yang penting akhirnya ga jauh-jauh dari ini dan gw bisa bahagia dengan apa yang gw lakukan. Amin. :’)

have I living my life the way I am?

HAVE NOT.

Saat ini gw berusia 22 tahun 4 bulan 5 hari. Sudah hidup dua dekade, tapi rasanya belum pernah menentukan jalan hidup ini sendiri. Menurut gw, di usia segini, setidaknya sudah ada satu tahapan hidup yang harusnya ditentukan sendiri. Kuliah. Tahapan hidup yang menurut gw cukup penting dan berefek cukup besar.

Sekarang, gw masih (dan semoga akan segera berakhir) berkuliah di Institut Teknologi Bandung, fakultas STEI, jurusan Teknik Telekomunikasi. Bagus? Kata orang-orang sih bagus. Kata gw juga. Sungguh, ga menyesal masuk jurusan ini walaupun ini dulu bukan cita-cita. Di sini gw bertemu teman-teman yang baik hati dan hebat, calon orang sukses lah pokoknya semuanya.

Back to years ago, cita-cita gw menjadi astronot gara-gara nonton Apollo 13. Pengen juga menjadi arkeolog, semata-mata karena suka banget nonton Jurrasic Park dan beli-beli buku tentang dinosaurus ampe hafal jenis-jenis hewan purbakala itu. Tapi…, jadi astronot gimana caranya ya? Jadi arkeolog juga pastinya ga dapet restu orang tua. Profesi-profesi yang tidak lazim emang kurang populer di Indonesia. Kebanyakan orang tua pasti maunya anaknya jadi dokter atau jadi engineer terus kerja di oil company, hidup kaya, sejahtera, mati masuk surga.

Sejak SMA, cita-cita gw mulai ‘agak’ realistis. Pengen jadi pembaca berita biar bisa siaran bareng Tommy Tjokro yang ternyata eh ternyata saudaranya ibu. Trus mau jadi desainer interior semata-mata karena seneng banget baca dan nonton home and living. Sampai lulus SMA, cita-cita gw adalah menjadi arsitek, ga jauh-jauh sama cita-cita sebelumnya. Cita-cita ini sendiri muncul karena ketertarikan gw dengan mata pelajaran Gambar Teknik di kelas 2 dan 3 SMA yang alhamdulillah juga nilainya ga pernah di bawah 8. Selain itu, gw juga tertarik dengan mata pelajaran Biologi dan Kimia.

Tapi…, kok jadi masuk Teknik Telekomunikasi?
Hmm, saat itu teman-teman udah banyak yang keterima PTN, salah satunya ITB via USM daerah. Gw sendiri masih santai dan menunggu SPMB (eh ga santai juga sih). Ibu yang ga santai akhirnya beli formulir USM terpusat. Gw yang ga pernah kepikiran masuk ITB akhirnya ikut aja. H-1 pengumpulan saya baru isi form tersebut. Nurut aja lagi disuruh pilih STEI, TI, dan FTTM karena passing grade-nya paling tinggi. Lalu, alhamdulillah masuk STEI. (STEI? WHATTT? –> antara senang dan shock waktu itu)

Di STEI, akhirnya pilih prodi Teknik Elektro major Telekomunikasi (yang akhirnya menjadi prodi juga). Kayaknya ini adalah satu-satunya pilihan yang gw tentukan sendiri sampai saat ini. Gw pilih diam-diam dan baru kasi tau saat pengumuman penjurusan. Orang tua mah maunya gw masuk Informatika, tapi apa daya ekeu ga suka koding.

Sekarang gw tingkat empat akhir, lagi sibuk sama TA. Insya Allah sebentar lagi lulus (mohon doanya yaa :’) ). Habis lulus pilihannya adalah kerja atau S2 atau nikah. Maunya sih dalam waktu dekat S2 dulu di luar negeri, biar banyak pengalaman dan jalan-jalan. Orang tua maunya gw lulus langsung kerja di perusahaan besar yang gajinya besar, kalau S2 ya ga usah jauh-jauh lah di dalam negeri aja sekalian kerja.

UGH. KAPAN SIH BISA HIDUP DENGAN PILIHAN SENDIRI?
Toh hidup sesuka yang gw pilih masih dalam jalur hidup yang benar. Seorang teman bilang kita bisa hidup bebas setelah lepas dari tanggungan finansial orang tua, atau setelah nikah. Hmm benar juga. Tapi apa harus menunggu waktu itu? Fix lah tahapan hidup selanjutnya harus gw sendiri yang memutuskan. Karena, sesulit apapun jalan yang dilewati sepertinya akan lebih mudah kalau itu adalah pilihan kita sendiri. Dari awal kita yang pilih, kita juga yang (harusnya) udah siap dengan segala konsekuensinya. Apapun yang terjadi, bisa dibawa senang, ga terpaksa.

Jadi, jangan biarkan hidup kita ditentukan orang lain. Yang ngejalanin kita, yang menanggung segala konsekuensinya juga kita, bukan orang lain.

Sekian.