Krisis kepercayaan diri

Pagi ini sambil sarapan, saya berpikir untuk membeli makan malam hari ini dan besok; visioner sekali bukan! Karena suami sedang pergi conference, sungguh mood memasak terjun bebas ke jurang terdalam. And when in doubt, Subway it is!

Outlet Subway terletak di dekat ex-kantor saya. Jujur saja, setelah enam bulan menganggur, rasanya masih ga bisa move on setiap lewat gedung tersebut. Kangen kesibukan bekerja, kangen teman-teman di kantor, dan kangen dengan segala informasi (dan gosip!) yang dengan mudah diperoleh ketika bekerja. Sayang, kebijakan kampus tidak memungkinkan lagi untuk student’s spouses bekerja.

Di tengah kebaperan tersebut, saya menghubungi seorang teman kantor dan akhirnya kita bertemu di Coffee Bean.


How are you?

Pertanyaan yang paling mudah tetapi juga paling sulit dijawab.

Read More

Tentang perbedaan bahasa

Tinggal di compound universitas yang dihuni lebih dari 100 warga negara, saya jadi sering kali mendengar bahasa-bahasa yang sangat asing di telinga. Saking seringnya, kebanyakan akhirnya terdengar sebagai noise belaka.

Minggu lalu sepulang dari makan siang di kampus, saya dan ibu mertua terkekeh mendengar seseorang yang sedang mengobrol dengan keras melalui telepon genggam. Kalau kata suami, kadang mereka terdengar lucu, kayak the Sims.

Saya pun jadi bertanya-tanya, bagaimana ya asal mula manusia jadi berbicara banyak bahasa? Satu bahasa dan bahasa lainnya bisa terdengar completely different. Aksaranya pun bahkan berbedza.

Kan kita sama-sama berasal dari Adam dan Hawa, yang saya rasa pastinya berbicara satu bahasa. Kemudian seiring bertambahnya populasi, manusia menyebar ke mana-mana, terus tetiba yang satu berbicara bahasa Inggris, yang satu berbicara bahasa Arab, dan yang lain bahasa Mandarin gitu? Hmm…, sungguh menarik.

Akhir pekan ini dalam rangka road trip to explore northern part of Saudi Arabia (sambil berharap liat salju!), kami sekeluarga singgah di Madinah selama dua hari. Pagi tadi, saya dan ibu mertua memutuskan untuk ke area Raudhah di Mesjid Nabawi setelah sholat subuh sementara baby dan suami menunggu di hotel.

Situasinya? Kacawww hahahaha.

Di tengah kekacauan itu, saya berpikir ini nampaknya sebagian karena kendala bahasa; sebagiannya lagi karena orang-orang emang ga bisa banget diatur. Duh gemes!

Di depan antrian, mbak-mbak petugas ber-abaya dan berhijab hitam sibuk berteriak untuk mengatur jamaah; yang sayangnya, kebanyakan ga ngerti dia ngomong apa. Mungkin sebaiknya sudah disiapkan papan instruksi dengan berbagai macam bahasa ya untuk mengakomodasi jamaah dari berbagai negara.

Salut sih dengan mbak-mbak yang sangat berdedikasi itu. Mungkin kalau setiap hari sepanjang tahun disuruh bertugas seperti itu, bisa-bisa tekanan darah saya meninggi. :|

Perjalanan ke Raudhah untuk jamaah perempuan memang sudah terkenal chaos-nya. Dihimpit, didorong, terinjak; you name it. Heran juga sih dengan keganasan orang-orang untuk mencapai goal-nya dalam beribadah.

Di tengah kericuhan itu, saya yang literally udah ga napak tanah, diteriaki oleh ibu-ibu Asia Selatan. Balasan saya: ya ketawa lah orang ga ngerti! Lagian juga saya bisa di posisi tersebut karena terbawa arus. :))

Sebenarnya, kalau mau bales juga ya bisa, tapi ngapain buang tenaga toh dia juga ga bakal ngerti. Lagian di tempat seperti itu, nampaknya sangat tidak berfaedah ya kalau kita malah marah-marah. Lebih baik fokus berdoa dan menularkan senyum serta aura positif (walaupun gagal total karena kalah orang hahahah).

Saat itu, saya jadi bersyukur manusia memiliki bahasa yang berbeda-beda. Kalau saja kami satu bahasa, tentu yang ada kondisi semakin memanas karena orang-orang akan membalas teriakan satu sama lain. Eh, atau malah adem ayem karena semua orang saling mengerti ya?

Ingin menikah lagi

Bukan, bukan the marriage.

Saya super duper bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Suami baik hati, satu prinsip, pengertian. Anak sehat, lucu. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Tapi, the wedding

Read More

Gap year

Weekend kemarin, saya dan suami menonton Pedal The World, documentary yang menceritakan pengalaman Felix Starck berkeliling dunia dengan sepeda selama setahun. Oh, ternyata mas ini adalah orang yang sama dengan yang di Expedition Happiness; film dokumenter yang bercerita tentang road trip dari Alaska ke Mexico. Pantes familiar!

Selagi menonton, suami pun bertanya-tanya, gimana ya kalau nanti Bongi mau gap year keliling dunia? Read More

My thoughts are with the world

Drawings by Garbi KW

Dua minggu kemarin, saya mengikuti postingan Humans of New York (HONY) edisi Rwanda di Instagram. Di seri kali ini, Brandon mewawancarai korban-korban genosida terhadap etnis Tutsi di Rwanda yang terjadi pada tahun 1994. Peristiwanya sendiri “hanya” berlangsung selama 100 hari, namun korban jiwanya mencapai satu juta orang! Huhuhu sedih banget banget banget ga kuat bacanya, rasanya gila gila gila manusia kok bisa sekejam itu sih. And when I thought I’ve read the worst, the next story are even more gruesome. It’s shocking how humans can completely lost their humanity. At that point, are they still considered as humans?

Read More

Have a safe flight!

Saya suka bandara, terbang, dan bepergian. Bagi saya, bandara yang sibuk adalah kombinasi dari berbagai macam emosi; excitement, kesedihan, pelepasan, penantian, rindu dan antusiasme.

Have a safe flight!

Kalimat ini terkesan klise, namun saya mengatakan dan mendoakannya dengan tulus kepada keluarga dan kerabat dekat yang akan bepergian.

Read More

Rencana keuangan

person holding coins

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Sok iye banget ga sih judulnya 😂

Di usia late twenties gini, rata-rata orang-orang di lingkaran pertemanan saya sedang memulai keluarga dan membesarkan anak. Ada yang udah mulai cari-cari sekolahan padahal anaknya juga baru masuk SD beberapa tahun lagi. Ada teman yang sudah survey biaya sekolah sejak anaknya belum bisa merangkak. OH WOW. Agak mengagetkan juga sih kenapa harus mencari sekolah sedini mungkin. Ternyata, lebih kaget lagi kalau liat biaya SD jaman sekarang. T___T

Kontrasepsi mana kontrasepsiii?!

Langsung mau nabung rasanya.

Read More

Jaksel language

Belakangan ini sering banget anak Jaksel diceng-cengin karena penggunaan bahasanya yang literally campur-campur which is kayak gini.

Saya sih ikut ketawa ajaaa, soalnya emang sendirinya juga sering banget campur-campur bahasa, bukan hanya di tulisan, bahkan di percakapan sehari-hari. Untungnya memang sudah ganti kewarganegaraan dari Bekasi ke Jakarta Selatan. :))

Merasa keren? Bangga? Ga sih, kadang malah sedih. :))

Read More

Tentang tren ayo menikah

wedding preparation

Photo by Terje Sollie on Pexels.com

Belakangan ini saya perhatikan di media sosial banyak ajakan menikah terutama untuk kalangan muda. Bahkan beberapa saat yang lalu, ada sepasang anak SMP yang kebelet nikah karena takut tidur sendiri (?!).

Yang saya ingat, dulu saat SMP, belum terbersit keinginan untuk menikah sama sekali. Menikah adalah untuk orang dewasa. Semasa SMA pun, obrolan dengan teman sebaya kira-kira seputaran lanjut ke mana kuliah nanti, boyband apa yang sedang hits, dan semacamnya. Bukannya membicarakan tentang pernikahan dan pria seperti apa yang akan menjadi imam saya nanti. Tetapi nampaknya jaman sudah berubah.

Read More

Movie Review: Sierra Burgess is a Loser

Setelah menonton “To All The Boys I’ve Loved Before”, saya mendapatkan banyak suggestion romcom movies/series di kolom rekomendasi Netflix. Akhirnya, dua minggu yang lalu saya memutuskan untuk menonton “Sierra Burgess is a Loser”. Film yang digadang-gadang mempromosikan body positivity ini tampak menarik!

Read More