Hi Bye, Mama! dan renungan tentang motherhood, kematian, dan ini itu

Tadinya mau pakai kata kontemplasi instead of renungan di judul, tapi kok kayaknya berat banget yak, takutnya pemirsa jadi berharap terlalu banyak terhadap tulisan ini, hahaha.

Sejak muncul trailer Hi Bye, Mama!, saya ingin sekali menonton drama yang satu ini. Drama ini akhirnya tayang di Netflix lokal minggu lalu dan sekarang saya sudah setengah jalan, hihihi. Sebagai anak yang mudah terbawa emosi saat menonton, Hi Bye, Mama! sukses membuat saya tertawa dan mengucurkan air mata sejak episode pertama. Sebelum nonton saya tau sih bahwa serial ini bakal bikin nangis banget banget banget, but I watched it anyway. Apakah suka menyiksa emosi sendiri dapat dikategorikan sebagai masochistic personality disorder?

HiByeMama

Source: IMDB

Hi Bye, Mama! bercerita tentang Cha Yu-Ri, heavily pregnant woman yang meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan. Dalam bentuk hantu, ia pun mengikuti perkembangan anaknya dari hari ke hari. Karena suatu kejadian, dia diberikan kesempatan untuk menjadi manusia lagi apabila dia berhasil mendapatkan tempatnya kembali sebagai ibu dan istri dalam waktu 49 hari. Sayangnya, suaminya sudah menikah lagi.

Di sini, saya langsung tanya ke suami dong:

“Kalau aku mati, kamu nikah lagi ga?”
“Ya, mungkin. Nanti siapa yang ngurus anak ini?”
“Kalau ngurus anak doang mah pake nanny aja kaliii.” (((NGEGAS)))

Hahaha iya dong mesti ngegas. The idea of my husband having another wife is upsetting. Tapi sebenernya kalau saya udah mati mah gapapa kali ya, kan people have to move on with their life. Read More

(never) settle

Bukan, bukan mau promosi handphone.

Jadi, tidak lama setelah menikah dan memahami the nature of profesi suami saat ini, saya menyadari bahwa hidup yang tidak menetap adalah part of early researcher life.

Awalnya tentu saya sangat excited (and I still do) dengan pengalaman hidup di belahan dunia yang lain. Saya dapat membayangkan hidup beberapa waktu di A, kemudian beberapa waktu di B. “Aku akan terus mendukung dan mengikuti ke manapun kamu pergi (and I still really really do). Let’s strive for the best and never settle!”

never_settle

Ini mah wallpaper hape itu. Source: zedge.net

Read More

Nothing to Hide

nothing_to_hide-_publicity-h_2018

Aktivitas favorit gw yang sangat tidak produktif adalah nonton Netflix. Salah satu film yang baru aja gw tonton kemarin ini adalah “Nothing to Hide”, drama komedi Perancis yang bercerita tentang tujuh orang sahabat lama yang memutuskan untuk membuka notifikasi ponsel mereka di depan umum ketika makan malam bersama.

Dari premisnya sendiri udah ketebak kalau ini bukan hal yang bagus untuk dilakukan karena pasti permasalahan masing-masing karakter akan terbongkar di depan umum. Read More

Bullying dan pentingnya pengasuhan keluarga

woman and child sitting on fur covered bed

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Kemarin ini, berita mengenai bullying yang dilakukan oleh sekelompok anak SMA kepada seorang anak SMP di Kalimantan Barat berseliweran di timeline saya dengan hashtag #JusticeForAudrey. Pelaku yang berjumlah 12 orang melakukan penganiayaan, bahkan sampai menusuk kemaluan korban karena permasalahan percintaan (yang bahkan tidak ada hubungannya langsung dengan si korban). Jagat maya pun geram dan mengutuk keras perbuatan para pelaku, serta mendesak KPAI/KPPAD untuk menempuh jalur hukum pidana alih-alih mediasi dan damai seperti yang mereka usulkan. Sebelumnya, jalan damai diusulkan karena mempertimbangkan para pelaku yang masih berusia sekolah dan masa depan mereka.

Terus apa kabar dengan kelanjutan studi dan masa depan korban? Tidak hanya luka fisik, korban juga mengalami luka batin. Luka fisik mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu, tapi apakah trauma itu akan hilang? Penegakan hukum di Indonesia memang di luar akal sehat. Lagipula, bukankah memasukkan sesuatu ke organ reproduksi orang lain without consent tuh udah masuk kategori rape ya?

Bullying bukan sesuatu yang baru, dari jaman kita (baca: saya) muda juga sudah ada, namun kurang terekspos saja. Dengan viralnya kasus ini, semoga masyarakat jadi lebih tercerahkan dan tidak menganggap enteng bullying remaja. Read More

Alasan punya anak?

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman di Instagram membuka pertanyaan yang kira-kira begini: apa alasan kamu punya anak (atau nambah anak)?

Harusnya gampang dong yaaa jawabnya, kan sendirinya udah punya. Eh ternyata rada ngahuleng juga pas mau ngetik jawabannya. Hahahahaha

Hmm hmm hmm apa ya?

Read More

Ingin menikah lagi

Bukan, bukan the marriage.

Saya super duper bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Suami baik hati, satu prinsip, pengertian. Anak sehat, lucu. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Tapi, the wedding

Read More

Growing old

Jadi beberapa hari yang lalu, sehari setelah ulang tahun Bapak, saya video calling Ibu menanyakan kabar Bapak dan Ibu.

Ibu selalu menjadi proxy antara saya dan Bapak, entah mengapa. Kenapa ga ngobrol langsung aja kan ya padahal ortu sendiri. Huhuhu bingung sih, saya dan Bapak biasanya hanya berkirim pesan ketika ulang tahun. Bertelepon langsung mungkin rasanya akan sangat awkward.

Ketika video call, saya lihat wajah Bapak kok terlihat lesu sekali. Ternyata sudah beberapa hari Bapak demam. Mereka berencana akan ke dokter. Oh iya, saya menghitung, Bapak baru saja berulang tahun yang ke-65. Ternyata sudah setua itu.

Seketika saya merasa mata mulai memanas. Kalimat ini pun langsung terasa menohok sekali:

We are so busy growing up, we often forget that our parents are also growing old.

T_____T

Bapak, Ibu, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur panjang, dan kebahagiaan ya.

Rencana keuangan

person holding coins

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Sok iye banget ga sih judulnya 😂

Di usia late twenties gini, rata-rata orang-orang di lingkaran pertemanan saya sedang memulai keluarga dan membesarkan anak. Ada yang udah mulai cari-cari sekolahan padahal anaknya juga baru masuk SD beberapa tahun lagi. Ada teman yang sudah survey biaya sekolah sejak anaknya belum bisa merangkak. OH WOW. Agak mengagetkan juga sih kenapa harus mencari sekolah sedini mungkin. Ternyata, lebih kaget lagi kalau liat biaya SD jaman sekarang. T___T

Kontrasepsi mana kontrasepsiii?!

Langsung mau nabung rasanya.

Read More

Bapak millenial

man holding a baby photo

Photo by Flo Maderebner on Pexels.com

Minggu lalu sambil makan siang, saya dan suami mendengarkan podcast #CurhatBabu-nya @sheggario dan @nuchabachri yang berjudul “Bapak Millenial”. Garis besar curhatnya sendiri adalah tentang bagaimana Ario membangun kedekatan dengan anak-anaknya.

Setelah mendengarkan podcast itu, saya jadi ngerasa bener juga ya; bapak bapak angkatan saya, alias bapak millenial itu kok rasanya lebih dekat dengan anak dan ga malu untuk hands-on dengan pengasuhan anak. Aku terharu. T___T

Read More