nonton bareng “The Boat That Rocked”

Iya beneran nonton bareng.

Tadi banget.

Sabtu, 16 April 2011 saat acara ORBIT Elektron HME ITB di Ruang Multimedia Labtek V.

Di sebuah kapal di tengah lautan, terdapatlah sebuah stasiun pemancar radio, The Boat That Rocked, yang biasa dikenal sebagai Pirate Radio. 24/7 mereka menyiarkan lagu rock and roll. Banyak sekali penggemar stasiun radio ini. Hippies. Sayangnya, saat itu selera musik bagaikan diatur oleh pemerintah. Pemerintah hanya ingin mendengarkan lagu classical dan pop saja. Tanpa mendengarkan kata pemerintah, Pirate radio tetap mengudara di tengah lautan.

Nah, suatu hari, datanglah seorang pemuda, sebut saja Carl. Ia dikirim oleh ibunya ke kapal tersebut. Cukup aneh memang. Sepertinya hal ini ada hubungannya dengan pencarian ayah kandung yang sebenarnya. Di kapal itu, Carl diperkenalkan dengan beberapa awak kapal (baca: DJ dan lain-lain). Ada Count, Quentin, Thick Kevin, Simon, Dave, Felicity, Marianne, dan masih banyak lagi. Eh ada Gavin juga, yang ceritanya rockstar.

Ceritanya ya itu sih, bagaimana kehidupan sekian orang itu di atas kapal menjalankan stasiun radio, hubungan satu sama lain, dan cerita sleknya mereka dengan pemerintah.

The Boat That Rocked (2009) menurut saya film yang cukup menarik dan ternyata film ini diambil dari fenomena yang emang beneran ada.

This film is very loosely based on Radio Caroline, a popular pirate radio ship with a similar history and style. It was director Richard Curtis‘s intention to weave a fictional story around the many pirate stations of that era, rather than base the story on a factual story.

– IMDB

Oiya, Director-nya adalah Richard Curtis yang juga membuat film Notting Hill, Love Actually, dan Bridget Jones’s Diary. Beneran ga nyangka. Karena film yang ini emang ceritanya beda banget ama film-film dia sebelumnya. Kesannya juga agak ‘liar’, bahasa yang agak kasar, adult content juga.

Hal yang kurang dari film ini mungkin adalah karakternya yang kebanyakan. Beberapa karakter cuma muncul seadanya. Jadi ga fokus. Jadi pas awal agak bingung ini maksudnya apa. Tapi kabarnya ending film ini ‘wah’. Sayang banget tadi pas nonton bareng ga sampai abis. :)

Galelobot 2010

Galelobot (Ganesha Line Follower Robot) 2010 adalah kompetisi yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik Institut Teknologi Bandung (HMFT ITB). Pada tahun ini, Galelobot 2010 merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara peringatan 60 Tahun Teknik Fisika.

Galelobot dilaksanakan untuk mendorong perkembangan Line Follower Robot di Indonesia. Acara ini juga bertujuan sebagai wadah bagi seluruh mahasiswa di Indonesia untuk mengembangkan minat di bidang robotika terutama robot sederhana yang berbasis mikrokontroler, yaitu Line Follower Robot.

Line Follower Robot adalah merupakan mesin yang dapat bergerak sendiri untuk mengikuti lintasan berbentuk garis secara otomatis. Garis lintasan yang dilalui memiliki lebar tertentu dengan warna hitam, putih, atau warna lainnya. Lintasan yang dilalui tidak hanya berbentuk garis lurus, namun juga memiliki rintangan-rintangan yang menguji kreativitas peserta dalam menyusun algoritma.

Peserta Galelobot terdiri dari mahasiswa yang memiliki minat dan kompetensi dalam bidang robotika. Acara ini terbuka untuk seluruh civitas akademik ITB dan masyarakat umum.

Galelobot 2010 berlangsung dalam 2 hari, yaitu pada tanggal 5 dan 6 November 2010 dan bertempat di Aula Barat ITB. Pada hari pertama (5 November 2010), dari 150 tim terdaftar, dilakukan kualifikasi untuk didapat 32 tim yang akan melaju ke babak selanjutnya. Pada tahap kualifikasi ini, dari 150 tim yang terdaftar, hanya kurang dari 20 tim yang berhasil menyelesaikan lintasan sehingga untuk memperoleh 32 tim diperhitungkanlah tim yang terjauh dan tercepat melalui lintasan. Lintasan pada tahap kualifikasi telah diberitahukan kepada peserta perlombaan sebelum perlombaan dilaksanakan. Bentuk lintasan yang harus dilewati para robot line follower adalah seperti pada gambar berikut:

Lintasan Tahap Kualifikasi Galelobot 2010

Hari kedua (6 November 2010), pertandingan dimulai pada pukul 08.00. Lintasan perlombaan yang akan digunakan diperbaharui dan baru diberitahukan kepada para peserta pada pagi hari. Setelah itu, 32 tim yang lolos diberi kesempatan untuk membawa robotnya selama satu jam sebelum dikarantina kembali oleh panitia. Waktu satu jam ini tentunya dipergunakan untuk melakukan setting terhadap robot dan pengubahan terhadap algoritma sehingga sesuai dengan lintasan perlombaan yang harus dilewati.

 

Suasana Persiapan Salah Satu Tim pada Tahap 32 Besar

Dengan menggunakan sistem gugur, perlombaan hari kedua ini mengeliminasi peserta lomba dari 32 tim, menjadi 16 tim, 8 tim, 4 tim, dan kemudian 2 tim. Setelah itu dilakukanlah pertandingan final dan perebutan juara ketiga. Galelobot 2010 akhirnya selesai pada pukul 21.30 dengan pemenang tim Mupat D3S4 dari SMK Mudapatria Jogja. Gelar juara kedua diperoleh tim Balaputra Dewa dari Teknik Elektro ITB, sedangkan juara ketiga dimenangkan oleh tim Fouye_08 dari UNJ.

Sumber:

pengamatan langsung, wawancara

web, FB, twitter Galelobot dan 60 Tahun Teknik Fisika

majulah robotika Indonesia! :)

10.000 jam

Kemaren ini, ada training menulis yang merupakan salah satu rangkaian kaderisasi Orbit Elektron. Pembicaranya adalah Pak Budi Rahardjo. Beliau adalah salah satu dosen favorit gw walaupun cuma sekali diajar dia. Entah kenapa kalo dia ngomong tuh ga bikin ngantuk, interaktif, lucu dan menarik lah pokoknya. Beliau saat ini aktif nge-blog dan menulis artikel di majalah Info Linux. Selain menulis, beliau juga senang bermain gitar dan sepakbola.

Dari bagaimana dia bercerita, kayaknya passion-nya banyak banget yaa. Mengajar, engineer, menulis, olahraga, musik. Ckckck, sempurna banget yaa… >.<

Judul presentasi Pak Budi untuk kami para cakru Elektron memang “Dari ide ke tulisan”, yap intinya gimana kita mulai nulis, ampe jadi, ampe keabisan topik lagi. Tapi yang gw inget banget dari presentasi dia adalah kata-kata 10.000 jam. 10.000 jam! 10.000 jam! 10.000 jam!

Katanya kan:

Butuh waktu 10.000 jam untuk kita menjadi master dalam suatu hal.

Read More

Pertemuan ke-2 Orbit Elektron: Focus Group Discussion

Oke, seperti judulnya, tadi (eh, kemaren lebih tepatnya, Minggu, 16 Mei 2010) jam 09.15 ada pertemuan kedua orbit elektron di 7602. Sebenernya ini kehadiran pertama saya, berhubung yang minggu lalu ga bisa dateng karena ada acara keluarga (lagi ulang tahun, ga dibolehin ke Bandung, ditahan di rumah sendiri -__-). Jadi, tadi kasi surat ijin ke panitia dan akhirnya dapet name-tag-yang-ga-boleh-ilang deh. Yeaaay…

Pukul 09.15, saya dan Tari sampai di ruangan. Zzziiing, kok sepi yaa… Sial, berasa udah telat dan mepet, ternyata masih kecepetan aja, nyeeem tipikal anak Elektro sekaliii.

Akhirnya setelah absen, pengarahan, syalala, dimulailah FGD ini pada pukul 10.20 dan akan berlangsung selama 80 menit. FGD ini merupakan sharing dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi, setiap kelompok yang udah diberikan tugas membuat artikel tertentu akan di-shuffle. Nah, di tiap kelompok baru, materi artikel tersebut akan di-sharing dengan rekan diskusi yang lain. Setiap kelompok diskusi dipantau oleh kambing — kakak pembimbing. Mulai deh FGD-nya. Saya akan berdiskusi bersama Ichsan Mulia, Sugeng, dan Audhia dengan Totz dan Yonny sebagai kambing.

*Sebelumnya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam materi yang dituliskan di bawah ini. Tulisan ini hanya semata-mata tulisan dari apa yang didapatkan oleh peserta sharing yang tidak mengerti apa-apa. Mohon koreksinya :)

Materi pertama di-share oleh saya sendiri dengan tema RF, Microwave, & Antenna.

Berhubung materi tersebut terlalu luas, akhirnya saya dan rekan sekelompok saya (Ijul) memutuskan untuk membuat artikel yang lebih aplikatif dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tentang penyedia layanan internet gratis dengan menggunakan antena kaleng. Kan setiap hari kayaknya kita sangat perlu akan internet, namun terkadang layanan internet tidak dapat kita dapatkan dengan mudah karena penyedia layanan (internet service provider) masih memasang tarif yang cukup tinggi untuk layanan internet. Hal ini dapat disiasati dengan menggunakan antena kaleng. Jadi, inti antena kaleng ini adalah mengarahkan antena ke access point tertentu untuk memfokuskan penerimaan gelombangnya. Misalnya di deket kosan kita ada access point yang ga di protect dengan password, maka dengan mengarahkan antena kaleng kita ke access point tersebut dan sedikit konfigurasi pada perangkat komputer kita, maka kita dapat menikmati layanan internet gratis. Pembuatan antena kaleng sendiri cukup mudah dan murah. Sudah banyak artikel yang menjelaskan cara perakitan antena kaleng seperti di sini dan sini.

Selanjutnya, materi kedua mengenai Elektronika Daya di-share oleh Sugeng EP’08.

Saya emang kurang ngerti materinya sih, tapi yang saya tangkep sih pokoknya Elda itu adalah pembangkitan daya terefisien dengan cara yang kompatibel. Pembangkitan daya sendiri bisa dilakukan dengan berbagai macam sumber tenaga, mulai dari air, angin, batu bara, dan nuklir. Tapi, yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah tenaga batu bara ini, padahal batu bara sendiri adalah kekayaan alam yang tidak renewable. Trus tadi juga dijelasin gimana siklus pembangkitan dengan batu bara. Mulai dari pemanasan air, pemanasan uap air, penggerakan turbin, dan pendinginan. Dijelasin juga tadi gimana uap air super panas bisa ngegerakin turbin dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga dibangkitkan daya yang cukup besar.

Materi ketiga dengan tema Robotics and Automatics di-share oleh Ichsan Mulia EL’07.

Karena begitu luas, akhirnya Imul memfokuskan pembahasan diskusi pada Motor Servo. Jadi, motor servo itu adalah motor yang mengubah gaya lsitrik menjadi gaya mekanik. Komponen ini sangat mengutamakan presisi dan biasa digunakan pada printer, robot berkaki, atau mesin pemasang tutup botol. Untuk membuatnya sebegitu presisi sampai bisa presisi dengan ketelitian sudut, motor servo menggunakan PWM (Pulse Width Modulation) yang didalamnya terdapat rangkaian feedback. Yang saya tangkep sih, rangkaian feedback ini seperti VCO (Voltage Controlled Oscillator), jadi sudut dari akan berubah-ubah sesuai dengan perubahan tegangan. Perubahan tersebut dilakukan berulang kali sampai sudut si komponen tersebut sama dengan sudut input, sehingga errornya nol. Setelah panjang lebar dijelaskan, ternyata untuk mengendalikan dan mengatur motor servo ini digunakan mikrokontroller, yang udah makin saya ga ngerti aja deh. haha..

Terus materi terakhir, di-share oleh Audhia ET’08 mengenai Networking, dengan fokus pembahasan tentang Squid.

Jadi, apa sih Squid itu? Yang saya tau, Squid itu makhluk menyebalkan yang suka keluar kalo akses internet di kampus ga pake AI3, haha. Nah, ternyata Squid itu merupakan suatu proxy. Jadi, bayangkan saja internet di kampus. Internet di kampus tuh ibaratnya dibentengi dari akses internet luar oleh dinding-dinding bernama firewall, si proxy ini merupakan pintu kecil tempat dimana masuk keluarnya akses internet dari dalem ITB ke luar supaya kita civitas akademik ini bisa buka situs semacam Google, Yahoo, WordPress, Twitter, Facebook, dll. Untuk bisa mengakses situs luar tersebut, kita membutuhkan akun AI3 yang aktif. Selain itu, di proxy juga disimpan cache situs-situs yang pernah diakses dari dalam kampus. Cache itu semacam jejak yang ditinggalkan oleh situs yang kita buka, supaya pas lain waktu kita akses, dia ga usah manggil dari servernya di kejauhan lagi, sehingga waktu loading lebih cepat dan bandwith lebih hemat. Ga heran kenapa kalo buka Facebook di kampus cepet banget, pasti si bang proxy udah hapal banget ama alamat si Facebook gara-gara keseringan dipanggil, haha.. Fungsi lain dari proxy adalah sebagai firewall, jadi dia bisa nge-filter situs apa aja yang boleh dan ga boleh diakses dari dalam kampus dengan menggunakan keyword-keyword tertentu. Makanya dari dalam kampus tuh ga bisa buka situs file sharing seperti 4shared, rapidshare, dsb.

Abis diskusi panjang lebar selama hampir kira-kira 1.5 jam, selesai deh FGD-nya.

Yang saya dapatkan setelah FGD ini sangat banyak, yaitu wawasan baru di dalam dunia keelektroteknikan. Akhirnya saya sadar kalo ternyata saya rada blank tentang dunia elektro dan power. Blank pisan lah pas dijelasin elektronika daya, mikrokontroller, dan teman-temannya. Kayaknya saya terlalu autis di dunia telekomunikasi saya yang masih ga terlalu dalam juga. haha

Oiya ternyata, tujuan dari FGD ini adalah supaya kita mengetahui bahasan tentang keilmuan lain selain dari keilmuan kita sendiri. Hal ini sebenernya bertujuan juga supaya kita semua bisa mengerti dan dapat ikut serta dalam menentukan isi /  konten majalah yang akan dibuat nantinya. Gtu…

Sekian dulu deh postingannya. See you!

Saya daftar Elektron lhooo

Saya daftar Elektron lhooo…

Apa itu Elektron?

Elektron adalah salah satu Divisi di Himpunan Mahasiswa Elektroteknik yang bergerak di bidang jurnalistik. Tentunya jurnalistik di sini masih dalam ruang lingkup keelektroteknikan.

Kenapa mau masuk Elektron?

Salah satunya adalah karena dulu pernah punya cita-cita jadi wartawan, tapi entah mengapa malah sekarang berada di jurusan Teknik Telekomunikasi / Elektro.

Trus, waktu itu juga pernah lagi googling buat ngerjain tugas, eh salah satu artikel yang ada di page pertama google result adalah dari majalah Elektron. Akhirnya besok-besokannya ke HME dan liat-liat bundel majalah Elektron jadul deh. Wahh, takjub lah. Ternyata dulu Elektron se-wah itu, tersebar ke seluruh pelosok Indonesia bagai majalah profesional yang sering saya temui. Trus saya liat-liat kontennya yang emang saya ga ngerti, liat-liat kolom surat pembaca. Kyaaa keren… Kebayang dulu kru-kru Elektron kerjanya kayak di penerbit majalah profesional beneran, haha..

Selain alasan itu, saya juga mikir, selama ini ga punya divisi, heeuu sedihnya. Jujur aja, emang minat, bakat, dan keinginan di bidang keeletroteknikan kurang juga sih. Akhirnya, saya memutuskan untuk jadi cakru Elektron. Siapa tau di divisi ini emang bisa ngembangin diri, bisa dapet wawasan lebih juga tentang keilmuan yang saya punya. hoho

Sekian dulu deh cerita tentang Elektron. Ntar pagi baru pertemuan kedua lho. Mesti semangat!!!