Bandung sejenak

Jumat, 21 September 2012

(dialing +62-21-889-xxxx)
A: Dengan travel di sini, selamat siang.
B: Siang. Mau booking untuk besok. Paling pagi ada jam berapa ya?
A: Jam 5, jam 6, jam 8.
B: Booking 1 seat untuk jam 6 ya. Makasih.

(dialing +62-22-8206-xxxx)
A: Travel di sini, selamat siang ada yang bisa saya bantu.
B: Siang. Mau booking untuk besok. Sore sore adanya jam berapa ya?
A: Jam 3 atau jam 5.
B: Oke, booking 1 seat di jam 3 ya. Thanks.

Sabtu, 23 September 2012

Jam 4.30 alarm berbunyi. Haaah, masih ngantuk rasanya, berhubung semalam tidur larut. Setelah beberapa kali meng-snooze alarm, akhirnya saya bangun jam 5. Bener-bener luar biasa. Untuk saya. Weekend, harap dicatat.
Saya langsung ke kamar mandi dengan setengah nyawa belum terkumpul. Duduk termenung di kloset memikirkan dunia. Lalu bergegas mandi. Tak terasa sudah setengah jam. Lima belas menit saya habiskan berdandan dan memilih baju. Buka lemari, pakai baju, ngaca, lempar ke kasur. Repeat sampai berasa nyaman.
Lima menit saya berpamitan pada orang tua dan mencari kunci rumah. Keluar rumah setengah berlari menuju pangkalan ojeg, memanggil ojeg dan mengebut menuju travel.

Jam di tangan menunjukkan pukul 5.56 which means 4 menit menuju keberangkatan travel. Panik, saya menelepon travel. Mas mas travel mengangkat telepon dengan suara malas terkantuk-kantuk. Saya minta ditunggu sebentaaarrr saja. Setelah itu saya berpikir, inilah nikmatnya jadi deadliner, this adrenaline rush. Ahh rasa di mana dikejar-kejar ini sungguh menyenangkan. Am I weird?
Akhirnya, sampailah ojeg kilat ini di satu-satunya traffic light yang harus dihadapi pagi ini menuju travel. Traffic light menunjukkan angka 97 dengan warna merah. Saya melihat jam tangan menunjukkan pukul 6.00. Demmm…lama benerrr…
Setelah lolos dari traffic light, dari kejauhan masih terlihat mobil travel di parkir, haah legaaa. Dan ternyata jam saya kelebihan 5 menit dari jam di travel. Alhamdulillah. Thank God. Entah kenapa saya sangat ingin ke Bandung hari ini. Setelah memasuki mobil travel, tidak ada yang saya ingat sampai saya tersadar mobil sudah memasuki gerbang tol Pasteur.

Di pool travel, saya menelepon seorang teman, Ifa, menanyakan letak kosan barunya. Dengan tenaga yang telah di charge selama tidur dua jam perjalanan tadi, saya jalan dari Cihampelas bawah menuju pasar bunga Wastukencana untuk naik angkot. Ah jalan kaki, pagi hari di Bandung, Balubur, ITB, Dago, Simpang, kangeeennn!

Di kosan Ifa, kami menunggu seorang teman lagi, Ria, untuk pergi brunch. Ria dan Ifa were my very first friends in college. Kami juga satu kosan dulu.
Lima tahun yang lalu, tanggal 14 Agustus, kami bertemu di Sabuga sebagai satu kelompok 123 di PMB, acara Penerimaan Mahasiswa Baru.

Karena cacing cacing di perut sedang ingin makan pizza, akhirnya saya, Ifa, dan Ria pergi ke Pizza Hut Dago. Kami duduk di sofa yang dekat jendela. Tempat duduk yang memorable untuk salah satu teman saya.
Pencatat pesanan kami adalah mas mas yang tebar pesona banget. Berasa ganteng mas? Kami hanya bisa ketawa-ketawa dengan bagaimana mas mas tersebut merespon pertanyaan kami dengan kerlingan mata nan lebay. Oh iya, satu yang aneh, mas mas ini sepertinya lupa SOP untuk menyebutkan “pesanan yang tepat sekali!” Padahal itu kalimat yang selalu saya nantikan setiap datang ke Pizza Hut. :))
Medium pizza, sausage, potato wedges, bruschetta dan soup sudah datang. Kami makan seperti lupa rasanya makan. Setelah beberapa waktu, ritme makan pun melambat, sampailah kami di tahap “kenyang ampe bego”.

Waktu masih tengah hari, akhirnya kami memutuskan untuk ke kampus, duduk duduk di Plawid, Plaza Widya, Indonesia Tenggelam, apapun lah sebutannya itu.

Plawid ini tempat yang memorable banget untuk kami. Setelah PMB 5 tahun yang lalu, setiap hari selama setahun kelompok 123 kami berkumpul di sini. Hal ini diawali dengan tugas kelompok PMB yang memaksa kami untuk terus berkumpul selama beberapa hari. Karena tidak punya basecamp, akhirnya teras Labtek 8 ini kami hak milik jadi basecamp. >:D

Saya lupa bagaimana kami tiba-tiba jadi akrab. It just happened.
Saat itu masih PMB, sangat segar di ingatan saya bahwa hari itu kami diharuskan menggunakan training ITB. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, kami makan di Gelap Nyawang, dan tidak mau pulang. Taplok kami, mama Icca dan papa ET pun sampai capek menyuruh kami pulang. Yang ada, kami duduk-duduk di Kubus, depan kampus, sampai malam, dan entah bagaimana berakhir dengan tidur-tiduran di sana, melihat langit, and suprisingly saat itu ada fireworks dari arah Aula Timur. Baguuus… :)
Saat itu saya masih tinggal di rumah saudara di Moh. Ramdan, karena terlalu malam akhirnya saya menginap di Rere, teman 123 yang ngekos di Cisitu. Yang tak lama kemudian mendorong saya untuk pindah ke daerah kosan Cisitu juga.

Jaman TPB, Jumat sore adalah jadwalnya ujian. Setiap Jumat pagi, setelah kuliah bahasa, kami berkumpul dengan membawa kertas-kertas dan alat tulis ke teras Labtek 8. Belajar bersama sampai jam tiga kurang sedikit. Pilar paling ujung adalah spotnya Yoga dan Arief. Pilar tengah adalah spotnya Rienzy dan Said. Sedangkan saya, Ria, Ifa berserakan di tengah-tengah. Katel dan Ega yang jurusan seni rupa, gangguin kami yang bakal ujian mata kuliah khusus teknik.
Selesai belajar bersama biasanya kami taruhan siapa yang akan keluar duluan dari ruangan ujian, entah karena jago atau pasrah. Dan biasanya Nji yang pintar selesai duluan.

Suatu waktu, anak seni rupa sedang sibuk dengan tugas gambar dan nirmana-nya, semacam membuat suatu bentuk 3D dari sedotan dan bahan-bahan lainnya. Kami membantu Katel dan Ega untuk memotong sedotan-sedotan, menyusun bentuk yang lagi-lagi rubuh karena tangan kasar ini. Pernah juga suatu hari kami bermalam di teras kosan Ria, kosan muslimah di mana cowo-cowo ga boleh masuk, membantu Katel untuk tugas menggambar. Padahal malam itu sangat dingin, tapi kami ber-9 tidur terduduk di teras kosan yang luasnya ga lebih besar dari 5×2 meter. Demi ngejar deadline tugas Katel! Dan hasilnya, satu gambar yang dikerubungi lima orang itu ‘agak hancur’ karena tangan-tangan anak teknik yang tidak gemulai ini membuat tintanya keluar garis kemana-mana. :))

Saat tingkat 2, sadly kegiatan tadi sudah mulai berkurang drastis, mostly karena kuliah dan kegiatan masing-masing. Tapi untungnya masih ada suka kumpul untuk sekedar makan atau nonton.

Lima tahun kemudian, di Plawid, cuma ada saya, Ria, dan Ifa yang memandang ke air mancur Indonesia Tenggelam yang ogah-ogahan, melihat bocah-bocah di kampus berseliweran, dan sesekali mendengar teriakan ospek jurusan anak-anak 2011 yang masih semangat. OMG, we’re old!

What were we doing there at Plawid? Nothing. Just having chit chat about life nowadays and wandering our mind around remembering the past.

Saat ini Ifa masih di Bandung setelah tiga periode postponed sidang karena sang pembimbing. Ria is having hard days, too. Love life. Me either. Facing this long distance relationship is hard, I might say.
Terkadang saat kami bercerita, mata masing-masing mulai panas dan kami hanya bisa diam dan saling mendukung. Bahkan di saat seperti itu, air mancur di Indonesia Tenggelam pun bisa bercanda untuk mendukung kami. Saat kami bersedih, tiba-tiba air mancur ogah-ogahan itu memancarkan air, seakan mewakili supaya kami tidak perlu menangis di depan umum. Saat kami cerita hal menyenangkan, otomatis air mancur pun diam. Hahaha, selama dua jam kejadian tersebut berlangsung. Seakan ada orang misterius yang mengamati kami sambil memegang kendali keran air mancur. Hey siapa pun itu, mengakulah! :))

Obrolan pun akhirnya sampai membahas teman-teman saat ini. Saya, Ria, Said dan Yoga sudah bekerja di Jakarta. Ega masih di Bandung. Begitupun dengan Ifa dan Arief yang sedang menyelesaikan studi. Katel sedang S2 di Bandung. Nji, hmm tidak ada yang tahu. Teman-teman yang lain pasti bertanya ke saya karena saya satu jurusan dengan dia, tapi jujur aja saya udah ga pernah dengar kabar dia sejak…tingkat dua mungkin. Yang mengagetkan waktu itu di tingkat 3, kami impulsively ingin karaokean. Dimulailah dengan menjarkom teman-teman, and guess what? Nji datang, terlihat lebih kurus tapi seperti baik-baik saja, ikut karaokean dengan ceria, dan tak ada kabarnya lagi di kemudian hari. Random.

Omong-omong tentang jarkom, dulu kami semua sengaja membeli kartu perdana 3 saat masih promosi dan SMS gratis. Dan yang kami lakukan adalah group chat lewat SMS. Isinya gilak! Saking parahnya stream SMS saat jarkom biadab itu, handphone saya sering ngehang dan rusak karena 100-an pesan menumpuk dan terus datang. Biadab. Hahaha…

Dulu setiap nongkrong-nongkrong sore di Plawid, kami punya kecengan masing-masing. Lumayan buat cuci mata, namanya juga masih muda. Apalagi Plawid kan tempat lalu lalang segala bangsa. Seperti intel, kami berusaha mencari tau segala informasi tentang gebetan kami. Bukan lewat social media dengan mudahnya seperti sekarang. Maklum saat itu handphone kami masih pada butut, laptop belum punya, pake internet cuma bisa di Comlabs. Entah bagaimana caranya dapeeettt aja segala informasi. Kadang kami sampai mengikuti target ke kelas atau ke tempat makan. Bahkan teman saya sampai nekatnya mengirim salad buah dan es krim ke target. Jeng jeng jeng jeng… Setelah tragedi itu, kelompok kami jadi salting setiap bertemu target yang akhirnya mengenali kami. :))

Untuk semua keseruan keceng-mengeceng itu, mari menundukkan kepala sejenak, merenung dan berterima kasih kepada radar masing-masing yang selalu aware setiap ada kecengan. Hahaha.. Saya pun begitu. Walau mata minus 3, kecengan di seberang lautan terlihat! :p
Sekarang? Radar saya, Ria, dan Ifa rasanya sudah mati. Setelah menemukan pasangan yang rasanya tak tergantikan, sangat susah melihat pria lain. Aheyy… Pria terganteng sekampus berdiri di depan mata juga mungkin tak terlihat. Oh, kecuali kalau ada Robert Downey Jr. atau Kimi Raikkonen di depan mata saya.

Tak terasa hari semakin sore. Kami masih duduk di Labtek 8, memandang hampa ke daerah Labtek 5. Sangat berbeda rasanya duduk di sini saat ini dan beberapa tahun yang lalu. Dulu hidup terasa ringan, tak ada masalah. Hidup adalah saat itu juga. Sekarang? Ya begitulah. Kita mulai memikirkan rencana-rencana untuk masa depan, memikirkan pekerjaan, dan lain-lain.

Akhirnya waktu menunjukkan pukul 14.30. Saya harus kembali ke Bandung, Ria harus bertemu dokter, Ifa harus menuju lab.
Terima kasih untuk pertemuan singkatnya, teman-teman. Sejenak saya merasa muda lagi. Hahaha…
Untuk Ifa, ayo semangat ne-a nya ya. Segera selesaikan dan have fun fun fun sebelum sidang. :)
Untuk Ria, yang kuat ya. Kenangan itu bukan untuk dilupakan, tanpa itu kita ga akan menjadi dewasa seperti sekarang. Simpan lalu lihat lagi dikemudian hari. Sebodoh apapun kelakuan kita di masa lalu, kalau dilihat lagi pasti bikin senyum dan tertawa kok. :)
Pokoknya whatever happens, I wish nothing but the best for you, guys!
Sampai jumpa lagi kapan-kapan. :’) <3

kangen 123… :”(

Dedikasi

Jadi, semalam (oh post ini ternyata udah lama ada di draft, tepatnya dari 29 Oktober 2011) saya makan bersama dengan dosen pembimbing Tugas Akhir dan anak-anak bimbingannya yang segambreng.

Bersyukur banget bisa dateng ke acara makan-makan ini. Emang udah jadi kebiasaan kalau selesai Tugas Akhir, dosen pembimbing yang satu ini mengajak anak bimbingannya makan bersama dan ngobrol-ngobrol. Dari pertemuan yang ga lama itu saya bisa lebih mengenal dosen pembimbing saya. Yang saya kira dia jahat karena nyuruh saya revisi sampai mampus, tapi ternyata dia super duper baik hati dan asik diajak ngobrol ini itu. :’)

Saat itu kita membicarakan berbagai hal. Mulai dari kuliah, dosen, mahasiswa, sampai kehidupan dia sebelum jadi dosen. Jadi, setelah lulus S1, dia sempat kerja kemudian melanjutkan S2, S3, dan mengikuti post-doc selama 4 tahun. Setelah itu, akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai dosen di kampus ini dan pulang ke Indonesia.

Saat itu saya bertanya-tanya, apa yang membuat dia mau jadi dosen. Padahal kalau diamati, tentunya pendapatan sebagai dosen di Indonesia ga seberapa dibanding dengan pendapatan sebagai researcher di luar negeri yang bisa sampai puluhan juta perbulan. Katanya, dengan tingginya pendidikan yang dia tempuh, sudah tidak memungkinkan untuk bekerja kantoran. Pilihannya cuma: researcher dan atau dosen. Dan dia cuma mau pulang ke Indonesia kalau jadi dosen di kampus ini.

Kemudian saya bertanya-tanya gimana gimananya jadi dosen karena saya juga tertarik dengan profesi yang satu ini. Kata dia, dosen itu harus berdedikasi dan berlatar belakang keuangan yang cukup.

Kalau sudah berdedikasi tentunya seorang dosen akan menjalankan kewajiban dan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Memang bukan hal yang mudah menjadi dosen. Menyampaikan ilmu sambil terus belajar, menghadapi berbagai jenis mahasiswa, melakukan riset, tetap sibuk dengan urusan administrasi, rapat ini itu, dan sebagainya. Seringkali hal-hal tersebut membuat lelah dan malas mengajar, tapi ia mencoba mengingat kewajiban yang harus dijalankan, dan bagaimana uang negara telah digunakan untuk membayar dia.

Berlatar belakang keuangan yang cukup. Dia sendiri bilang bahwa pendapatan yang diperoleh sekarang mah bukan apa-apa. Kecil. Namanya juga dosen, PNS. Kata dia sih kalo ga digaji juga gapapa, toh tabungan dia selama S2, S3, dan post-doc di luar negeri sudah mampu menunjang hidup dia.

Kombinasi dari latar belakang keuangan yang baik dan dedikasi yang tinggi membuat dosen tetap rajin mengajar dan tidak mengejar proyek sehingga siswanya tidak terlantar. Ternyata dia sendiri suka kecewa kalau ada dosen yang terima gaji iya tapi ga ngajar, jarang keliatan di kampus, kerjaannya proyekaaan mulu.

Selain obrolan tersebut, sebenarnya masih banyak lagi yang kita obrolin. Dan dari percakapan itu akhirnya saya paham kenapa dia rasanya se-nyebelin itu di kelas dan se-perfeksionis itu pas jadi dosen pembimbing. Ternyata itu semua adalah hal-hal positif yang dia peroleh saat dia melanjutkan pendidikan di luar negeri. Kalau kuliah ya jangan terpaku sama yang ada di kelas, wawasan juga harus diperluas dengan ilmu-ilmu dari luar kelas. Jadi mahasiswa jangan bisanya cuma ngerti cara ngitung aja, tapi harus ngerti konsepnya. Kalau penelitian ya emang harus bagus, ga boleh setengah-setengah. Dan lain lain…. Semua itu dia terapkan supaya siswanya tuh ga kayak dia pas masa-masa kelam dulu. Saya ga nyangka dia se-so sweet itu. Ahh, saya jadi terharu. Emang harus ngobrol banyak ya sampai kita tahu seseorang itu aslinya seperti apa.¬†:’)

Setelah ngobrol-ngobrol itu makin besar keinginan saya untuk jadi dosen. Jalannya masih panjang. Ilmu saya masih nol besar. Semoga saat waktunya tiba saya siap dan punya dua kriteria tersebut, berdedikasi dan berlatar belakang keuangan yang memadai. :)

sarjana!

Wisuda wisuda wisudaaa!

Alhamdulillah 29 Oktober 2011 yang lalu saya resmi jadi sarjana. :’)
Senang banget akhirnya bisa menyelesaikan dan melewati satu milestone dalam hidup. Semoga seterusnya bisa jadi orang yang berguna bagi sekitar. Demi Tuhan, keluarga, bangsa, dan almamater!

Rangkaian acara wisuda seperti biasa dimulai dengan syukuran wisuda HME yang lagi lagi di Arum Manis. Menyenangkan. Mengharukan. Yap, akhirnya nangis banjir juga saat acara terima kasih ke ortu. Oh padahal acara puncak yang tak pernah berubah selama sembilan syukwis terakhir ini ga pernah segitunya untuk saya. Ternyata mengalaminya sendiri sangat ‘berasa’ lhoh. Kalau dihitung-hitung, betapa banyak yang sudah dikorbankan oleh orang tua sampai kita bisa menjadi seperti sekarang. Waktu, tenaga, kasih sayang, materi. Semuanya ga bisa dibalas deh. Yang bisa saya lakukan adalah terus membuat orang tua merasa bangga dan bahagia :’)

keluarga tercinta :*

Di acara syukwis ini juga saya sadar kalau saya akan sangat sangat merindukan masa-masa ini. Kuliah. Teman-teman. Bandung. Aaah, habis ini semua bakal mulai fokus menjalani hidup di jalannya masing-masing. Nanti bakalan ada yang kerja, lanjutin sekolah, bisnis, nikah, di kota ini, di kota itu, di dalam negeri, di luar negeri. Aaah, I definitely will miss this day, fellas :’)

Rangkaian acara selanjutnya adalah wisuda di Sabuga. Untuk mengenang hari bersejarah ini, akhirnya saya terpaksa berdandan rapi di pagi subuh hari. Kemudian saya, adek, bapak, ibu, adit mendokumentasikan momen bahagia ini dengan berfoto studio di pagi buta. Yahh sekalian biar punya foto keluarga deh :D

Acara wisuda berkesan banget, superrr. Dimulai dari deg-degan mau salam sama rektor (sebenernya bukan karena rektornya sih, tapi gimana biar dapet foto salaman bagus yang cuma bisa diperoleh sekali seumur hidup hahaha), lepas kebaya demi arak-arakan (iya, ga kayak jurusan lain yang ampe sore masih cantik, kebaya gw cuma bertahan ampe jam 13.30 dan berubah wujud jadi kaos, celana pendek, dan crocs -_-), diarak di sabuga-saraga-kampus (oh gini ya rasanya diarak, biasanya kan ngarak doang #takjub), ampe dapet setruman yeaaay! \(^^)/

Aaah emang deh kayaknya ga ada acara wisuda yang lebih keren dari kampus gw. Hahaha sotoy :P

Wisuda. Satu tahapan hidup sudah dilalui. Saatnya ke tahapan berikutnya yang pastinya tidak lebih mudah. Semoga kita sukses selalu. :)

penutupan rekening mahasiswa ITB

So, hari ini (eh udah lewat jam 12, berarti kemaren ya) saya mengurus salah satu syarat wisuda, yaitu penutupan rekening mahasiswa. Saya mengurusnya tadi pagi jam 11 (pagi beneeer -_-“) di BNI GKU Timur.

Pas masuk ke bank, bilang aja ke satpamnya mau tutup rekening untuk syarat wisuda dan dapatlah nomor antrian customer service. Tadi saya dapet nomer 101 dan antrian saat itu “baru” nomer 57. Jeng jeng jeng jeng…! .___.
Agar tidak bernasib seperti saya, disarankan kepada pejuang tutup rekening untuk: datanglah pagi-pagi sekali pas bank baru buka (jam 8) atau cari cabang lain yang sepi!

Nah, untuk tutup rekening ini ada beberapa hal yang harus disiapkan, yaitu:

  1. Fotokopi KTP, KTM, dan KSM.
  2. Buku tabungan.
  3. Surat Keterangan Lulus (SKL) sementara (minta di TU prodi masing-masing).

Make sure dokumen yang diperlukan udah siap biar ga bolak-balik.
Satu jam berlalu…nomer ga maju banyak… Akhirnya saya pun makan siang dulu. Dan pas balik, nomernya tetap tidak bergerak cepat. >_<
Agak sebel ya sebenernya dengan antrian superpanjang ini. Emang sih salah saya juga datengnya siang. Tapi ya udah tau lagi deadline urusan pra-wisuda dan tutup rekening, kok ya CS nya cuma ada 2 dari 4 loket. Ga belajar rekayasa trafik nih si bank. Congestion, congestion everywhere deh. -_-
Tapiii kesebelan saya tidak lama-lama karena sepertinya banyak orang yang mudah berputus asa di sana, banyak yang di skip jadinya gerakan nomer antrian semakin cepat. 81..82..83..95..100..101!!! \o/

Tuhan memang bersama orang-orang yang sabar. :’)

Sampai di meja CS kita akan diberi pilihan untuk menutup rekening saja atau sekaligus mengonversinya jadi BNI Taplus. Saya pilih jadi BNI Taplus dengan kartu instan (kartu ATM yang saat itu juga jadi dan bisa langsung dipake, tapi ga ada nama kita). Sebenernya saya ga suka yang instan instan apalagi mie instan, tapi apalah pentingnya nama kita di bagian depan kartu, toh di bagian belakang nantinya ditulis dan ditanda tangan. (emang aja sih males nunggu 1-2 minggu untuk kartu baru) :P

Dan beberapa menit kemudian, done! Senangnyaaa :)

yeay akhirnya satu urusan pra-wisuda selesai hari ini, eh kemaren maksudnya.
yeay juga karena punya kartu ATM baru \(‘-‘\)(/’-‘)/

wisuda-thingy to-do list

Done:

  • kartu Perpustakaan Pusat dicap bebas pinjam
  • tanda bebas pinjam perpustakaan prodi
  • pembuatan Surat Keterangan Lulus (SKL)
  • penutupan rekening mahasiswa
  • 4 lembar pasfoto hitam putih ukuran 4×6
  • nilai udah ga ada yang “T”
  • booking salon untuk make-up dan sanggul
  • booking foto studio

Undone:

  1. BUKU TUGAS AKHIR FINAL!!!
  2. CD berisi softcopy pasfoto dan buku TA final
  3. poster berukuran A2
  4. booking penginapan
  5. isi kuesioner wisudawan
  6. bikin kebaya dan dress
  7. ngurusin badan
  8. ngilangin jerawat
  9. bayar iuran wisuda ITB
  10. bayar iuran wisuda HME ITB

Update (23 Oktober 2011):
1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 9 done!
Bayar iuran wisuda HME ITB akan dilakukan segera. Berarti “tinggal” ilangin jerawat dan kurusin badan! Syusah beneeer =_=

setelah 49 bulan…

…AKHIRNYA SAYA LULUS! ALHAMDULILLAH…

Seminggu yang lalu, tepatnya Selasa, 27 September 2011 pukul 09.30 di Ruang Rapat Telematika, saya melaksanakan STA dengan topik karakterisasi dan analisis WLAN amplifier. Sidang yang berlangsung 75 menit itu alhamdulillah berjalan lancar. Walaupun awalnya deg-degan, tapi yaudahlah ya udah di akhir jangan menyerah, jalanin aja. Alhamdulillah juga walaupun pertanyaannya agak susah, penguji dan pembimbing sangat membantu dalam memberikan masukan pada TA saya.

Sungguh, ga pernah terlintas di pikiran saya dulu bahwa suatu hari nanti saya akan lulus sebagai Sarjana Teknik Telekomunikasi dari ITB. Sungguh ga nyangka. Ampe setelah sidang pun saya masih shock .__.

Alhamdulillah salah satu tahapan hidup sudah terlewati. Saatnya menghadapi dan menjalani tahapan selanjutnya dengan gemilang. \o/

oiya, saya udah kayang di residensi telmat lhoh dengan saksi @ameliariani, fufufu

have I living my life the way I am?

HAVE NOT.

Saat ini gw berusia 22 tahun 4 bulan 5 hari. Sudah hidup dua dekade, tapi rasanya belum pernah menentukan jalan hidup ini sendiri. Menurut gw, di usia segini, setidaknya sudah ada satu tahapan hidup yang harusnya ditentukan sendiri. Kuliah. Tahapan hidup yang menurut gw cukup penting dan berefek cukup besar.

Sekarang, gw masih (dan semoga akan segera berakhir) berkuliah di Institut Teknologi Bandung, fakultas STEI, jurusan Teknik Telekomunikasi. Bagus? Kata orang-orang sih bagus. Kata gw juga. Sungguh, ga menyesal masuk jurusan ini walaupun ini dulu bukan cita-cita. Di sini gw bertemu teman-teman yang baik hati dan hebat, calon orang sukses lah pokoknya semuanya.

Back to years ago, cita-cita gw menjadi astronot gara-gara nonton Apollo 13. Pengen juga menjadi arkeolog, semata-mata karena suka banget nonton Jurrasic Park dan beli-beli buku tentang dinosaurus ampe hafal jenis-jenis hewan purbakala itu. Tapi…, jadi astronot gimana caranya ya? Jadi arkeolog juga pastinya ga dapet restu orang tua. Profesi-profesi yang tidak lazim emang kurang populer di Indonesia. Kebanyakan orang tua pasti maunya anaknya jadi dokter atau jadi engineer terus kerja di oil company, hidup kaya, sejahtera, mati masuk surga.

Sejak SMA, cita-cita gw mulai ‘agak’ realistis. Pengen jadi pembaca berita biar bisa siaran bareng Tommy Tjokro yang ternyata eh ternyata saudaranya ibu. Trus mau jadi desainer interior semata-mata karena seneng banget baca dan nonton home and living. Sampai lulus SMA, cita-cita gw adalah menjadi arsitek, ga jauh-jauh sama cita-cita sebelumnya. Cita-cita ini sendiri muncul karena ketertarikan gw dengan mata pelajaran Gambar Teknik di kelas 2 dan 3 SMA yang alhamdulillah juga nilainya ga pernah di bawah 8. Selain itu, gw juga tertarik dengan mata pelajaran Biologi dan Kimia.

Tapi…, kok jadi masuk Teknik Telekomunikasi?
Hmm, saat itu teman-teman udah banyak yang keterima PTN, salah satunya ITB via USM daerah. Gw sendiri masih santai dan menunggu SPMB (eh ga santai juga sih). Ibu yang ga santai akhirnya beli formulir USM terpusat. Gw yang ga pernah kepikiran masuk ITB akhirnya ikut aja. H-1 pengumpulan saya baru isi form tersebut. Nurut aja lagi disuruh pilih STEI, TI, dan FTTM karena passing grade-nya paling tinggi. Lalu, alhamdulillah masuk STEI. (STEI? WHATTT? –> antara senang dan shock waktu itu)

Di STEI, akhirnya pilih prodi Teknik Elektro major Telekomunikasi (yang akhirnya menjadi prodi juga). Kayaknya ini adalah satu-satunya pilihan yang gw tentukan sendiri sampai saat ini. Gw pilih diam-diam dan baru kasi tau saat pengumuman penjurusan. Orang tua mah maunya gw masuk Informatika, tapi apa daya ekeu ga suka koding.

Sekarang gw tingkat empat akhir, lagi sibuk sama TA. Insya Allah sebentar lagi lulus (mohon doanya yaa :’) ). Habis lulus pilihannya adalah kerja atau S2 atau nikah. Maunya sih dalam waktu dekat S2 dulu di luar negeri, biar banyak pengalaman dan jalan-jalan. Orang tua maunya gw lulus langsung kerja di perusahaan besar yang gajinya besar, kalau S2 ya ga usah jauh-jauh lah di dalam negeri aja sekalian kerja.

UGH. KAPAN SIH BISA HIDUP DENGAN PILIHAN SENDIRI?
Toh hidup sesuka yang gw pilih masih dalam jalur hidup yang benar. Seorang teman bilang kita bisa hidup bebas setelah lepas dari tanggungan finansial orang tua, atau setelah nikah. Hmm benar juga. Tapi apa harus menunggu waktu itu? Fix lah tahapan hidup selanjutnya harus gw sendiri yang memutuskan. Karena, sesulit apapun jalan yang dilewati sepertinya akan lebih mudah kalau itu adalah pilihan kita sendiri. Dari awal kita yang pilih, kita juga yang (harusnya) udah siap dengan segala konsekuensinya. Apapun yang terjadi, bisa dibawa senang, ga terpaksa.

Jadi, jangan biarkan hidup kita ditentukan orang lain. Yang ngejalanin kita, yang menanggung segala konsekuensinya juga kita, bukan orang lain.

Sekian.

galauta galauta galauta

Penuh banget rasanya isi kepala. Banyak pikiran berkecamuk. Hati berdebar-debar. Ansos. Panda-face saking lingkar mata udah ga tertolong. Ga napsu makan, untung lagi puasa. Ga napsu tidur, tapi kalo kurang tidur jadi sakit kepala. Emosi bergejolak, fluktuatif. Susah senyum. Iya, saya galau TA.

Jadi, wisuda di ITB itu ada 3 periode; April, Juli, Oktober. Momen sekali seumur hidup sebagai undergraduate student ini saya pilih untuk jatuh di bulan Oktober. Iya, saya yang pilih, saya yang menentukan. Untuk wisuda bulan Oktober (kali ini tepatnya jatuh pada 29 Oktober 2011), Sidang Tugas Akhir (STA) dilaksanakan bulan September. Hmm, trus kenapa masih galau dan stress? Kan masih ada waktu sebulan?

Nah, di prodi saya, Teknik Telekomunikasi, terdapat dua periode STA untuk kelulusan bulan Oktober. STA periode pertama akan dilaksanakan sebelum lebaran, which means minggu depan deadline draft. STA periode kedua seperti biasa, September.

Tadinya sih saya santai aja pengen STA periode 2, yah kirain kan TA nya blom beres, masih jauh dari beres. Sampai suatu hari…

Dosen Pembimbing (DP): sepertinya cukup saja simulasinya. Udah mulai bikin draft belum?

Saya (S): eh? belum, Pak. Tapi kan, saya belum pengukuran, gimana tuh Pak?

DP: mau sidang kapan?

S: periode dua aja kayaknya, Pak.

DP: oh, santailah kalau gitu. Pengukuran setelah lebaran juga bisa.

S: Oke, terima kasih, Pak.

Setelah bimbingan hari itu (Jumat, 5 Agustus 2011) saya pun pulang ke kosan dengan hati super bahagia. Senyum sepanjang jalan sampai disangka orang gila.

Karena tak sabar untuk menyelesaikan semuanya sebelum lebaran (intinya sih biar libur lebarannya tenang), Senin, 8 Agustus 2011 saya bimbingan lagi.

S: Pak, saya bisa ga ya sidang periode satu? Hehe hehe *asal ngomong, cengengesan*

DP: saya harap sih bisa.

S: hehe, saya coba dulu ya, Pak.

Dan hari itu saya sadar kalau saya pengen sidang periode satu. Yah walaupun wisudanya sama-sama Oktober, entah kenapa rasanya kalo sidang lebih cepat ya lebih cepat lega. Libur lebaran bakal tenang. Kalo ketemu keluarga besar udah ga cape ditanya tentang kelulusan. Trus saya masih ada ekstra libur 2 bulan sampai waktu wisuda. Tapiiiii…, waktu tinggal satu minggu lagi. Saya belum bikin casing hardware, belum beli konektor blablablabla, belum mulai nge-draft. Masih banyak belumnya daripada udahnya.

Trus saya stress. :”(((((

Kemarin saya udah bolak-balik radar-mesin buat bikin casing, tinggal tunggu 2 hari sampai jadi. Hari ini saya ke toko elektronik dan komponen deket kampus untuk cari konektor-yang-bahkan-dosbing-pun-tidak-tahu-namanya. Dan hasilnya nihil. Saya disarankan dosen untuk pergi ke Jaya Plaza atau Cikapundung.

What the…?

Okay sebut saya dodol. Saya emang ga pernah banget maenan yang kayak gini kecuali bikin flip-flop NIM tag pas MBC (ospek jurusan). Sebut saya manja karena ga tau jalan ke JP atau Cikapundung. Karena, terakhir saya ke sana pas ada tugas fisika tingkat satu dan tugas flip-flop pas MBC.

Huah besok pasti saya akan ke sana dan mendapatkan konektor-yang-bahkan-dosbing-pun-tidak-tahu-namanya! Catet.

Semoga ini cepet beres deh. Rabu sampai Jumat ngurusin si alat dan melakukan pengukuran. Di sela-sela itu bikin draft. Sabtu – Minggu saya khususkan sebagai hari nge-draft sedunia. Senin daftar STA dan print draft. Selasa menyerahkan persyaratan STA. Rabu sampai Minggu belajar, bikin slide, dan latihan presentasi. Senin atau Selasa STA. Kamis udah pulang ke rumah untuk lebaran dengan gelar sarjana teknik.

Semoga rencana 16 hari itu lancar. AMIIIIIIN…

Yeah, I really am a daydreamer. Better take actions and make them real.

semester sembilan

Iya, itungannya sekarang udah semester 9 di ITB. Tua ya. Ckck swasta swasta. Sudah waktunya anda selesaikan tugas akhir. :|

Semester ini saya mengambil kredit 0 SKS karena memang 140 SKS udah diselesaikan semua di semester yang lalu. Sedangkan 4 SKS Tugas Akhir 2 sudah di ambil di semester pendek supaya bisa wisuda Oktober 2011. Insya Allah. Amin…

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mendaftar 0 SKS ini.

  1. Entri rencana studi dengan 0 SKS pada masa perwalian. Ternyata banyak yang bertanya-tanya hal ini. Cukup mudah. Masuk ke ol.akademik –> Entri rencana studi –> Simpan rencana studi. Minta approve dosen wali.
  2. Membayar BPP ke rekening virtual milik ITB sebelum batas waktu yang ditentukan. Hal ini dikarenakan sudah tidak ada layanan autodebet untuk mahasiswa tingkat atas atas. Apabila sidang sebelum Agustus 2011, bayarnya cukup Rp250.000,-. Selain waktu tersebut, bayarnya “hanya” 50% BPP + Rp0,- BPT. Pada kasus saya (angkatan 2007) 50% BPP = Rp1.125.000,-. Pembayaran dapat dilakukan secara langsung ke BNI maupun transfer.
  3. Selesai deh!

Sekarang status di ol.akademik saya:

Status Keuangan: Tunai (0 SKS)
Status Rencana Studi: Disetujui Dosen Wali

Hmm, semoga ini jadi entri rencana studi dan pembayaran BPP terakhir untuk saya. Amiiinnn…

#pejuangoktober

Saya, TA, dan Grafik

It’s been a long time since my last post. Sorry ya blog, jadi ga keurus gini. :(

Sedang sibuk apa saya sekarang? Harusnya sih sibuk TA. Hmm jadiii akhir-akhir ini saya ‘mulai’ mengerjakan TA yang deadline draft nya sudah semakin dekat. :-S

Saya mengerjakan TA tentang performance WLAN amplifier. Semacam harus ngubek-ngubek dan paham elkom (red: Elektronika Komunikasi dan Gelombang Mikro; mata kuliah wajib penulis saat tingkat 3, dan tanpa paham apa-apa bisa ‘lolos’, dan sekarang pelajarannya udah di luar kepala alias lupa).

Heuuu ga bisa elkom, elkom cuma ‘lolos’ tapi ambil TA kayak gini. Tau gitu dulu saya ambil TA Antena yang sebelumnya ditawarkan karena menurut survey pribadi, orang-orang yang TA nya Antena lumayan mulus perjalanannya. Mungkin karena banyak yang udah dan sedang ambil TA tentang Antena, udah ada guide nya harus ngapa-ngapain, dan udah banyak juga hal serupa di dunia maya. cmiiw…

Kalo kata temen sih, setiap orang pasti pernah ngerasa TA nya ga sesuai ama dia. Ada yang merasa TA nya susah keterlaluan, ada yang ngerasa TA nya cupu pisan. Yah namanya juga manusia ga pernah puas.

Ah sudahlah jangan berkeluh kesah. Kerjakan saja apa yang udah dimulai. Hardware juga udah dibeli. Kepalang tanggung untuk mundur.

Yah daripada dibilang “gabut loe nis!”, “ga pernah keliatan ngerjain TA deh loe”, etc etc.., ini saya pamer deh screenshot apa yang sedang dikerjakan:

Apa itu? I’m not exactly sure. Pokoknya nilai VSWR yang terukur untuk rangkaian yang salah satu komponennya diubah-ubah. Lucu ya, warna-warni. :”>

Ya, siapa sih yang ga suka grafik. Jadi, untuk progress report selanjutnya, pak pembimbing saya kasih banyak grafik aja deh. Semoga dia suka dan good mood. Trus baru deh tanya artinya itu apa. :P

#ayoberjuanglulusoktober