Environmentally conscious living

Salah satu tontonan berfaedah di Netflix yang suka saya dan suami tonton adalah BBC Earth. Kalau menonton itu rasanya sangat kagum dan takjub, sekaligus sedih juga dengan kondisi bumi kita ini, apalagi setiap episode yang membahas tentang kehidupan di Arctic region. Karena kutub-kutub bumi merupakan area yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, maka dalam menghadapi pemanasan global yang kini sedang berlangsung, area tersebut memanas lebih cepat daripada bagian bumi yang lain. Mencairnya es di kutub pun akhirnya berdampak pada hewan-hewan yang tinggal di sana.

white polar bear on white snowy field near canal during daytime

Photo by Pixabay on Pexels.com

Salah satu episode tentang kehidupan beruang kutub menceritakan bahwa berkurangnya es di kutub menyulitkan mereka untuk mencari makanan. Tidak heran bila kini banyak kejadian di mana beruang kutub yang kelaparan berjalan ke area pemukiman untuk mencari makanan. :(

Saat ini informasi tentang kerusakan alam, entah berita mengenai pemanasan global, air pollution, plastic waste, dan lain-lain mudah sekali diperoleh ya, thanks to the internet. Kalau habis baca yang kayak gitu tuh suka wow banget dengan kelakuan manusia, termasuk saya sendiri. Terus jadi kepikiran, nanti bumi seperti apa ya yang akan dihuni oleh keturunan saya. Read More

FOMO

Halo halo. Kemarin siang ini saya baru aja nonton Avengers: Endgame. Senang banget! Mau pamer aja walaupun basi. Dan ternyata yah, terlambat nonton film ter-hits tahun ini selama dua bulan tuh ga bikin sakit kepala. Hahhaa. Cuma ya itu aja paling suami bosen bentar-bentar denger istrinya bilang, “mau nonton Avengers, mau nonton Avengers, mau nonton Avengers”. Diulang tiga kali biar kayak iklan di tivi.

Hore akhirnya bisa ikutan pakai quote “I love you 3000” :))

Dulu ya sebelum pindah ke negara antah-berantah ini, rasanya tuh saya ga bisa banget kalau ga ngikutin jaman. Istilah kerennya FOMO, yang kalau kata Wikipedia:

Fear of missing out, or FOMO, is a social anxiety characterized by “a desire to stay continually connected with what others are doing”.


Read More

(never) settle

Bukan, bukan mau promosi handphone.

Jadi, tidak lama setelah menikah dan memahami the nature of profesi suami saat ini, saya menyadari bahwa hidup yang tidak menetap adalah part of early researcher life.

Awalnya tentu saya sangat excited (and I still do) dengan pengalaman hidup di belahan dunia yang lain. Saya dapat membayangkan hidup beberapa waktu di A, kemudian beberapa waktu di B. “Aku akan terus mendukung dan mengikuti ke manapun kamu pergi (and I still really really do). Let’s strive for the best and never settle!”

never_settle

Ini mah wallpaper hape itu. Source: zedge.net

Read More

Bersih pangkal bahagia

Salah satu aktivitas “aneh” yang akhir-akhir ini sangat saya nikmati adalah bersih-bersih rumah. Sebagian orang mungkin tidak menyukainya karena ini seperti momok, tapi nampaknya bagi saya it’s in the blood.

tray on coffee table

Bukan rumah saya. Photo by Milly Eaton on Pexels.com

Dulu, ibu saya membersihkan rumah dua kali sehari. Iya, dua kali! Pagi dan sore. Capek banget dengernya kan, apalagi ngerjainnya. Saya dan adik seringkali jadi “korban” karena tugas di rumah dibagi-bagi. Hahaha. Dari semua chores yang ada, saya paling senang mengepel. Tapi, saya paling sebel kalau hasil sapuan orang sebelumnya ga bersih. Sapuan saya bersih banget sampai ke sudut-sudut, tapi saya ga mau nyapu soalnya bikin bersin-bersin dan asma saya kumat. (Banyak mau lo!)

Nah, tidak cukup dengan itu, occasionally ibu saya berinisiatif tinggi untuk mencuci lantai. Iya, dicuci pakai sabun. Jadi seluruh lantai rumah disikat pakai sabun, lalu dibilas, lalu dipel. Dulu iya iya aja, tapi setelah dewasa saya bertanya-tanya: WHY? Kurang bersih apa lantai yang sehari dibersihkan pagi sore?


Selagi kuliah, membersihkan kamar adalah pelarian saya dari belajar dan tugas kuliah. Banyak peer? Bersihin kamar aja. Besok ujian? Bersihin kamar aja. Stress? Bersihin kamar aja! Nampaknya, beberes memang memiliki therapeutic effect buat saya. (Atau emang alasan aja buat kabur dari kenyataan haha)

Ketika sudah menikah, herannya saya malah slacking off. Mungkin karena memiliki pasangan yang cuek dan standar kebersihannya berbeda dengan saya. Toleransi dia terhadap kekotoran tuh luar biasa, sesuatu banget, bikin geleng-geleng. Hari pertama saya datang ke Saudi, apartemen suami belum pernah dibersihkan sama sekali semenjak dia tempati aka. dua bulan lamanya. Akhirnya dua hari pertama pindah, saya sibuk beberes dan membuat rumah tersebut layak huni. :))

Setelah itu, kami berdua sibuk bekerja sehingga otomatis rumah jarang berantakan. Saya pun akhirnya hanya membersihkan rumah seminggu atau dua minggu sekali.

Namun, dunia pun berubah ketika negara api menyerang kami memiliki anak.

Read More

Road trip di Arab Saudi: Places of interest

Ternyata, jalan-jalan di Arab Saudi itu menarik banget! Empat tahun hidup di sini seringnya main ke Jeddah doang buat nge-mall hahaha. Paling jauh mainnya ke Mekkah, Taif dan Madinah. YHA.

Jalan-jalan versi saya itu biasanya city tour; muter-muter kota, lalu ke museum dan bangunan bersejarah. Sayangnya, there’s no such thing di sini. Walaupun dari segi lokasi jazirah Arab ini kaya akan sejarah religi, bangunan bersejarah biasanya tidak dilestarikan karena berbagai alasan. Namun kalau kita mau mencari-cari, ternyata ada aja tempat yang bisa dilihat di Saudi! Selain itu sepanjang perjalanan, mata kita juga disuguhi dengan pemandangan-pemandangan yang menarik. Formasi bukit dan bebatuan yang tidak biasa, kawanan unta-unta, sampai padang rumput yang sangat jarang dijumpai.

Baca juga: Road trip di Arab Saudi: Serba-serbi


MADINAH

Perjalanan kami ke daerah utara Arab Saudi dimulai dari Madinah. Untuk pertama kalinya, kami mendatangi The Holy Quran Exhibition di Madinah yang berlokasi di dekat Gate 5 Masjid Nabawi. Masuk ke pameran ini tidak dipungut biaya, selain itu ada free tour guide juga. Di dalamnya, kita dapat melihat berbagai manuskrip Quran yang dapat ditemukan dan dipelihara oleh pemerintah Saudi.

Maps: The Holy Quran Exhibition


AL ULA

PSX_20181225_205556

From the top of Al Ula!

Setelah menginap dua malam di Madinah, ketika matahari terbit kami berangkat ke Al Ula yang berjarak sekitar 320km di utara Madinah. Kota ini terkenal dengan situs arkeologinya, seperti Madain Saleh dan jejak peninggalan Nabatean Kingdom. Madain Saleh merujuk pada bekas tempat tinggal kaum Nabi Saleh AS, sedangkan Nabatean Kingdom merupakan sister city-nya Petra Jordan, jadi di sini juga terdapat makam yang bentuknya mirip-mirip dengan di Petra.

Read More

Road trip di Arab Saudi: Serba-serbi

Beberapa bulan yang lalu, saya sekeluarga mengarungi jalanan Arab Saudi dari Thuwal menuju utara sampai Haql. Kami menjelajah sejauh kurang lebih 3000km dengan rute KAUST – Madinah – Al Ula – Tabuk – Wadi Disah – Haql – Duba – KAUST. Blog post kali ini akan berisi tentang serba-serbi perjalanan kami, mulai dari jalanan di Saudi, sampai dengan mencari penginapan dan makanan.

Baca juga: Road trip perdana


THE ROAD

Hal pertama yang patut disoroti dan diacungi jempol di perjalanan kali ini adalah jalan tol-nya. Jalan tol di Saudi gratis. Selain itu kualitasnya jalannya juga bagus! Di mana ada kehidupan (walaupun cuma secuil), pasti ada akses jalan yang mumpuni. Jadi, jangan khawatir akan berhadapan dengan jalan pasir, bebatuan, atau tanah, kecuali emang niat off the road.

20181224_123242

Jalan menuju Wadi Disah, Route 8788

Seperti yang ditunjukkan pada foto di atas, walaupun kanan-kiri hanya gunung batu dan sepanjang mata memandang hanya mobil kami yang lewat, kualitas jalan tetap bagus. Apakah di sekitarnya terdapat peradaban? Setelah kami telusuri selama setengah jam sampai jalannya buntu, di ujung jalan hanya ada satu gubuk dan sekawanan unta. BHAIQUE.

Tidak seperti di Indonesia yang jalan tol-nya dinamai dengan singkatan-singkatan, jalan tol di sini Read More

#YukMemilih

Jumat, 12 April yang lalu, kami yang berkediaman di Arab Saudi sudah melakukan pemilu presiden dan calon legislatif.

Alhamdulillah PPLN Jeddah memberikan kemudahan bagi pemilih di daerah Thuwal dengan membuka KSK di compound tempat kami tinggal. Terima kasih, PPLN Jeddah! Sungguh kalau harus jauh-jauh ke Jeddah, pasti orang-orang akhirnya pada males milih. :))

Partisipasi pemilih di lokasi kami pada hari tersebut sangat tinggi, hampir 100%! Walaupun hanya dibuka selama 2 jam, nampaknya semua pemilih dapat terlayani.

Awalnya saya apatis banget sih dengan pemilu (dan apapun yang berbau politik). Tapi tapi tapi akhirnya terbawa suasana karena kok orang-orang kayaknya pada antusias menyambut pesta demokrasi ini. Omong-omong, kan istilahnya “pesta”, tapi kenapa orang-orang pada ribut ya? Pesta kan harusnya bersenang-senang!

Dengan semangat, beberapa hari menjelang pemilihan, saya pun menyanyikan lagu yang ear catchy ini:

Oh ternyata nama mars pemilu Orde Baru. :)))))


Selamat memilih besok lusa buat yang berdomisili di Indonesia! Semoga setelah ini timeline dan grup chat kita aman tenteram ya. Kalau masih ga tenteram juga, saatnya Konmari-ing your circle. Bersihin timeline dan chat dari hal-hal yang ga sparks joy. :))

Kebayang ga sih setelah ini pasangan calon yang ga kepilih bakal balik hidup tenteram lagi. Mungkin ada yang mainan cucu, ngurus pesantren, ngurus partai, atau ngurus bisnis. Sedangkan rakyat-rakyat jelata cem kita gini, ya hidupnya gini gini aja. Dengan segala kefanatikan selama pemilu, kita ga bertambah apa-apa, yang ada malah berkurang teman dan kerabat. Belum lagi darah tinggi dan berkurang kewarasan karena selalu nyinyirin kubu yang berlawanan. Yang namanya cinta dan benci mah sewajarnya aja. :))


Yuk memilih!

Kenapa sih gw ga jadi golput?

Supaya kalau ada hal yang ga enak dan kebijakan yang rada-rada absurd, gw merasa berhak protes! Huahahaha

Semua orang berharap yang terbaik, tapi kalau banyak yang golput ya ga akan mengubah apapun. Dengan ga milih, suara-suara yang tidak diinginkan malah makin besar dan mengisi keheningan yang kita buat. Gtu sih kata Obama.

Nothing to Hide

nothing_to_hide-_publicity-h_2018

Aktivitas favorit gw yang sangat tidak produktif adalah nonton Netflix. Salah satu film yang baru aja gw tonton kemarin ini adalah “Nothing to Hide”, drama komedi Perancis yang bercerita tentang tujuh orang sahabat lama yang memutuskan untuk membuka notifikasi ponsel mereka di depan umum ketika makan malam bersama.

Dari premisnya sendiri udah ketebak kalau ini bukan hal yang bagus untuk dilakukan karena pasti permasalahan masing-masing karakter akan terbongkar di depan umum. Walaupun setting-nya hanya di meja makan, film ini ga bikin bosan dan claustrophobic. Karakter-karakternya juga menarik. Yang gw kira pasangan mesra banget, ternyata dibelakangnya ada affair. Yang gw kira suami nyebelin, ternyata dia yang paling waras dan bijak. Yang gw kira istri baik-baik, ternyata ya ga sebaik-baik itu. Ternyata walaupun udah berteman, bahkan menikah sekian lama, orang yang di samping mereka pada akhirnya nampak asing.

Di akhir film, bersamaan dengan berakhirnya gerhana bulan yang langka, ketika semuanya udah “pecah”, ada plot twist as if mereka ga melakukan pe rmainan itu. Agak mengecewakan sih (karena netizen suka dengan keributan!), tapi ini membuat gw jadi memikirkan interaksi setiap karakter di awal film sebelum permainan tersebut dimulai. Film ini mengingatkan gw juga bahwa jaman sekarang, ponsel itu seperti kotak pandora kita masing-masing. Jadi, demi terciptanya world peace, apakah private things should be kept private, even from your spouse?


Agak ga-nyambung-tapi-nyambung dari pembahasan film “Nothing to Hide”, bulan lalu ramai di twitter tentang suami yang kalau beli Gundam diam-diam dari istri.

Di Instagram, salah satu blogger yang gw follow juga bikin poll dan ask question mengenai hal serupa ke istri-istri, dan banyak juga yang melakukannya. Beli tas, make-up, skin care mahal tapi bohong tentang harganya ke suami. Membaca itu semua bikin geli dan kaget sih. :))

Belanja Gundam dan skin care diam-diam adalah hal yang sepele bangettt. Tapi menurut gw ini udah menunjukkan ketidakpercayaan dan kurangnya komunikasi. At least, ga ada kesepakatan sebelumnya antara suami-istri mengenai uang jajan masing-masing.


Bukan ahli dalam rumah tangga karena apalah arti pernikahanku yang baru seumur jagung. Tapi, kalau disuruh menyebutkan satu hal yang paling penting dalam hubungan ini, gw akan menyebut: komunikasi.

Prinsip gw, pasangan adalah satu-satunya manusia yang akan selalu ada buat gw sampai tua nanti. Ketika orang tua sudah tiada, anak sudah besar dan keluar dari rumah, teman-teman sedang sibuk dengan kehidupannya, maka manusia yang ada buat gw adalah suami. Penting banget bagi gw untuk merasa nyaman dan dapat membicarakan hal apapun ke suami, mulai dari hal yang ga penting, sampai yang penting; mulai dari obrolan yang receh, sampai yang serius. Dengan lancarnya komunikasi, mudah-mudahan ga ada yang harus ditutup-tutupi. Karena segala sesuatu yang dirahasiakan dari pasangan itu biasanya ga baik, dan yang ga baik-baik itu kalau ketahuan suka bikin masalah. Gtu aja sih.

Jadi gimana, masalah ga kalau isi ponsel kamu saat ini diketahui pasangan?

Bullying dan pentingnya pengasuhan keluarga

woman and child sitting on fur covered bed

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Kemarin ini, berita mengenai bullying yang dilakukan oleh sekelompok anak SMA kepada seorang anak SMP di Kalimantan Barat berseliweran di timeline saya dengan hashtag #JusticeForAudrey. Pelaku yang berjumlah 12 orang melakukan penganiayaan, bahkan sampai menusuk kemaluan korban karena permasalahan percintaan (yang bahkan tidak ada hubungannya langsung dengan si korban). Jagat maya pun geram dan mengutuk keras perbuatan para pelaku, serta mendesak KPAI/KPPAD untuk menempuh jalur hukum pidana alih-alih mediasi dan damai seperti yang mereka usulkan. Sebelumnya, jalan damai diusulkan karena mempertimbangkan para pelaku yang masih berusia sekolah dan masa depan mereka.

Terus apa kabar dengan kelanjutan studi dan masa depan korban? Tidak hanya luka fisik, korban juga mengalami luka batin. Luka fisik mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu, tapi apakah trauma itu akan hilang? Penegakan hukum di Indonesia memang di luar akal sehat. Lagipula, bukankah memasukkan sesuatu ke organ reproduksi orang lain without consent tuh udah masuk kategori rape ya?

Bullying bukan sesuatu yang baru, dari jaman kita (baca: saya) muda juga sudah ada, namun kurang terekspos saja. Dengan viralnya kasus ini, semoga masyarakat jadi lebih tercerahkan dan tidak menganggap enteng bullying remaja. Read More

Menuju cashless society?

Dua minggu yang lalu, setelah kira-kira 14 bulan tidak pulang ke Jakarta, saya melihat pemandangan yang cukup bikin culture shock (halah!), yaitu penggunaan digital wallet yang diramaikan dengan promo cashback oleh Go-Pay dan OVO di mana-mana.

Nampaknya saat ini dua aplikasi pembayaran non-tunai ini lagi bakar duit habis-habisan dan berlomba menjaring pengguna sebanyak-banyaknya. Yang diuntungkan? Ya anak-anak tukang makan tukang belanja kayak gw ini. Hahahahaha

Read More