This too shall pass

Hallo…

Tidak terasa sebentar lagi saya dan suami sudah menjadi orang tua selama dua setengah tahun! Waw, cepat ya. Eh, sebenarnya kerasa sih, hahaha. Kerasa banget! Dua tahunan ini, hari-hari terasa sangat panjang, tapi terasa cepat juga. Benar sekali bahwasanya kehidupan dengan bayi itu the days feel so long, but the years feel so short.

girl covering her face with her hands

Photo by Julian Vera Film on Pexels.com

Perkembangan anak kecil ternyata sangat luar biasa cepat. Dalam waktu dua tahun, banyak sekali kemampuan yang mereka kuasai. Dari yang hanya bisa geletakan doang, tiba-tiba sekarang sudah lari-lari dan tidak bisa diam, sudah punya keinginan ini itu, sudah bisa bicara ini itu. Kalau dipikir-pikir, tidak ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia dewasa; paling naik-turun berat badan, tambah uban, tambah wrinkles, tambah banyak pikiran, hahaha.

Nah, tanpa mengurangi romantisme motherhood dan parenthood, jujur aja di balik setiap perkembangan anak itu tersimpan struggle emak-bapaknya juga (atau yaaaaa mungkin cuma kami saja yang lemah).


Struggle pertama saya sebagai seorang ibu adalah proses menyusui. Yup, my lactating journey tidak semulus gambaran ibu-anak di iklan layanan masyarakat. Kenapa tidak ada yang memberi tahu kalau menyusui itu susah???

Oiya, kemarin saya diingatkan oleh Google Photos mengenai video dua tahun yang lalu: my son’s first solid food day! It was a mashed steamed apple. Saya sangat excited dan langsung ikut grup MPASI homemade, buat mealplan, tapiii…ternyata anak saya tidak menyukai apapun. Apapun! Every mealtime is a battle. Anak jerit-jerit ga mau makan, saya juga nangis-nangis, stress gila. Kadang heran juga sih, saya kira insting makhluk hidup untuk bertahan hidup itu salah satunya dengan makan.

Sebagai orang yang baru melewati masa-masa baby blues yang berkepanjangan (was it a PPD? I didn’t seek for doctor’s help though, but most of the symptoms were ticked), hal itu berat banget. Sorry, but motherhood was not enjoyable as I thought it would. Dan sedihnya, di saat saya mulai sayang sama anak, kami harus dihadapkan dengan momen MPASI yang ternyata sulit. Iri (dan kesel banget!) sama orang yang suka pamer makanan anaknya habis dilahap.

Seiring berjalannya waktu, saya hanya bisa menyiapkan makanan sebisanya, terserahlah dia mau makan atau tidak. Sampai di satu titik akhirnya f* this s*, dan kami pun mengandalkan bubur terfortifikasi saking lelah mental. Kalau saya bisa mengulang waktu, ingiiin sekali rasanya mengulang masa tersebut dengan kesehatan mental dan pengetahuan yang lebih baik. I want to make things right for the sake of his health and good eating habit.


Di luar dua hal tersebut, masih banyak milestone-milestone yang saat dijalani rasanya stress luar biasa dan seperti tiada akhir. Misalnya seperti saat dia mau tumbuh gigi yang menyebabkan sulit tidur dan super rewel, saat dia mau disapih dan sleep training. Anehnya, setiap masa-masa tersebut sudah lewat, saya cuma bisa senyum-senyum saja ketika melihat kebelakang, kecuali soal makan yang masih menghantui sampai sekarang.

Konon katanya di setiap tahapan perkembangan, tantangan dalam membesarkan anak selalu ada. Walaupun begitu, sekarang rasanya semakin mudah untuk saya dalam mengontrol emosi. Hal ini juga thanks to my husband yang selalu suportif. Sekarang sih kalau anak melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, saya ketawa-ketawa dan move on aja. Kids are weird anyway.

FYI, saat ini tantangan terkini adalah toilet training dan tantrum. It is hard, gatau sih kapan beresnya. Terkadang, dalam sehari saya bisa mengepel ompol sampai enam kali, tapi daripada marah-marah yaudah lantai basah tinggal dikeringkan. Ulang-ulang saja “kalau mau pipis ke potty ya” sampai seribu kali seperti kaset rusak. Surprisingly, dari obrolan dengan guru di daycare hari ini, anak saya sudah bisa ke toilet sendiri di jam-jam tertentu. Dia bisa buka celana, duduk, pipis, wipes, dan flush sendiri. Waw, kenapa tidak seperti itu di rumah?

Selain itu, walaupun dia sedang dalam masa-masa belajar mengontrol emosinya, di sekolah dia termasuk anak yang kalem. Sangat berbeda dengan kondisi di rumah di mana dia bisa menangis teriak-teriak sampai satu jam. Ah, sampai sakit kuping rasanya, but this too shall pass.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s