Roti pandemi

Apa hubungannya roti dan pandemi?

Tidak ada. Tapi sebagaimana orang-orang lain, saya juga kena virus baking di masa pandemi ini.

Seumur-umur tidak pernah saya masak sesering selama tinggal di Swedia ini. Saking seringnya, kalau lihat whisk, panci, dan benda-benda perdapuran di buku atau di manapun, bocil langsung bilang kalau itu seperti punya ibu. Hahaha sial, akhirnya anak saya pun menyadari bahwa ibunya muter-muter di dapur terus.

Karena ga jago-jago amat di dunia perdapuran, saya jarang sekali baking, karena atuhlah kalau gagal kan sayang bahan (dan waktu!). Lagian kan kalau masak bisa di-adjust di tengah jalan, tapi kalau baking sukses gagalnya baru bisa diicip di akhir. Seorang teman bilang kalau cooking is art and baking is science. And in the School of Kitchen, I choose the Faculty of Art.

Konon di masa pandemi dan WFH ini, orang-orang jadi memiliki waktu ekstra di rumah dan mencoba menghadapi kebosanan dengan melakukan hobi atau hal-hal baru. Sebenarnya waktu saya tidak bertambah banyak juga sih, orang sehari-hari memang di rumah saja. Bedanya, saat ini anak saya sudah lumayan bisa ditinggal sibuk sebentar.

Sebelumnya, saya sudah beberapa kali mencoba buat roti-rotian seperti donat dan Mexican coffee bun aka. Roti Boy. Alasannya karena yaampun di supermarket sini tuh banyak banget macam roti, bisa sampai tiga lorong sendiri, tapi ga ada yang exceptional banget kecuali si Brioche yang ada di Hemköp. Roti yang satu ini udah ga ada lawan deh; so airy, fluffy, buttery with a slight of lemon taste, mirip banget kayak roti bluder. Roti-roti lain tuh either dense banget atau tipikal rustic bread yang keras. Kalau kata suami, kayak makan keset, hahaha. Bahkan donat di supermarket yang enak aja menurut saya masih kurang airy (hahaha demanding kamu!). Sebenarnya tidak ada yang salah dengan roti-roti tersebut, rasanya enak-enak saja kalau lagi mood dan topping-nya pas. Walaupun begitu, kadang rasanya kangen juga macem roti Jepang yang halus, lembut, dan wangi. Sebenarnya lebih kangen lagi dengan toko roti di Indonesia sih yang segala macam roti tawar, manis, asin ada.

20200702_192644
Brioche my love <3

Sejak kegagalan donat ulen manual beberapa bulan yang lalu, saya agak malas baking baking lagi. Yah, dari awal juga sudah tidak promising sih adonannya, boro-boro ngembang dua kali lipat, hasil ulenannya saja seperti batu (cry). Sampai suatu hari saya terinspirasi seorang adik kelas yang suka posting macem-macem roti hasil bikinan sendiri (hallo diahnanda). Akhirnya setelah bertanya-tanya, saya baru tau kalau attachment ulir-ulir di mixer itu gunanya untuk ngulen. Lah ke mana aja selama ini, kirain itu apaan wkwkwk.

Di situ saya mulai mencoba bikin adonan dengan hand mixer murah yang saya punya. OK, looks good walaupun susah juga ya kok adonannya mental-mental. Hasilnya lebih baik walaupun masih tidak sesuai ekspektasi. Sampai akhirnya mixer tersebut berasap dan terbakar karena saya paksa ngulen 15 menit non-stop. :))


Setelah tragedi mixer tersebut, akhirnya suami menawarkan untuk membeli mixer baru, loveee. Saya pun menghabiskan waktu berhari-hari untuk membaca artikel di internet. Oh BTW standing mixer di Swedia istilahnya kökmaskin (kök = kitchen, maskin = machine). Pantesan kok kalau carinya elvisp (electric mixer), keluarnya cuma hand mixer basic aja.

Setelah menimbang berbagai review di internet, memperhatikan ketersediaan merk di toko elektronik terdekat, mengingat kebutuhan akan mixer beserta dough hook dengan kapasitas adonan tertentu, saya memutuskan untuk membeli Kitchen Aid standing mixer! Tapi ditolak, LOL. Katanya, ini kayak mau mulai fotografi, tapi mintanya kamera high-end. Hahaha, OK BYE. Siapa suruh semua artikel merekomendasikan KitchenAid. Pasti ini konspirasi deh dia bikin mesin bagus kecintaan semua orang.

KitchenAid standing mixer in matte black. Look at that beauty!

Yah sebenarnya, selain overbudget (bangettt!), standing mixer tersebut juga “keberatan” sih buat di dapur saya yang kecil mungil. Sayanya juga masih newbie ya, mubazir heuheu. KitchenAid, tunggu aku ya sampai aku sudah punya rumah sendiri dan jago baking (entah kapan).

Pilihan akhirnya jatuh ke standing mixer Bosch (fyi tipenya yang MUM48A1) yang harganya hanya sepersekiannya. Walaupun begitu, ternyata benda ini sparks joy banget! Ukurannya kecil, compact, dan dilengkapi dengan berbagai attachment untuk iris-iris sayuran. Selain itu, warnanya juga masih color coordinated dengan kitchen gadget yang lain (ga penting, tapi ini penting). Lafff.


Dengan mixer baru, akhirnya saya lebih percaya diri untuk mencoba resep-resep roti yang selama ini di-save doang tapi ga pernah dicoba. So far saya sudah mencoba beberapa resep, mulai dari donat, roti, sampai pretzel.

Karya perdana dengan mixer baru: roti sisir!
Donat dan roti unyil
Shokupan
Karya tersukses sejagat: Soft Pretzel with Himalayan Salt. Sumpah jujyur enak banget mau meninggal.

Beberapa resep hasilnya gosong, karena kenapa sihhh di resep-resep tuh walaupun sudah diberi tahu berapa menit waktu dan berapa derajat suhu oven, tetap saja dikasih embel-embel “kenali oven anda”. <rant> Hallow gimana caranya?! Kirain kita sudah pakai satuan internasional supaya seragam. Terus apa gunanya kalau 180 derajat Celcius di setiap oven berbeda. Sekalian aja lah pakai satuan ambigu kayak suam-suam kuku, hangat, agak panas, membara. </rant>

Sekarang hobi saya adalah mencari resep apalagi yang bisa dicoba. Saking seringnya baking, at some point banyak banget cemilan di rumah sampai eneg. Mungkin weekend ini saatnya bikin sesuatu yang savoury. Ostfralla? Roti goreng? Hamburger?

Please let me know if you also into baking and cooking these days. And good luck on your baking journey! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s