Bengek in the time of covid: Pengalaman swab test di Swedia

Minggu lalu tiba-tiba anak saya batuk-batuk. Dan bila saat ini kamu hidup bersama toddler, maka kamu akan mengerti bahwa sulit sekali menekankan bahaya droplets ke anak usia dua tahun. Ketika manusia dewasa di masa sekarang ini sibuk pakai masker, cuci tangan, dan pakai hand sanitizer, anak saya malah batuk di depan muka, jilatin pergelangan tangan, main-main ludah, sampai makan langsung dari meja.

TEPOK JIDAT.

Tentu saja, tidak lama setelah dia mulai batuk, suami pun mulai pilek. Lalu, dimulailah lingkaran setan flu di keluarga kecil kami!

Seiring berjalannya waktu, badan saya mulai tidak enak, mulai dari sakit tenggorokan yang mengganggu, sampai sakit kepala yang luar biasa. Akhirnya saya minum satu-satunya obat yang tersedia di rumah, Paracetamol. Ketika saya buka kotaknya, waw apakah obat ini ukuran manusia normal?! Saya pun menenggaknya dengan segelas air, dan…berakhir nyangkut beberapa saat di tenggorokan.

20200612_163912

JUMBO!

Keesokan harinya, sakit kepala saya sama sekali tidak membaik. Saking sakitnya, membenturkan kepala berkali-kali ke tembok rasanya sangat nikmat. Saya sampai bertanya-tanya, apakah mungkin kepala manusia literally pecah karena pusing? Akhirnya saya membuka lagi bungkusan obat tidak berguna tersebut, dan dengan pemahaman bahasa Swedia yang ala kadarnya, ternyata saya baru tau bahwa cara minumnya bukan ditelan, tapi diemut. BHAIQUE. Will it make a difference now?

Ternyata benar, huahahaha.

Setelah sakit kepala mulai membaik, malamnya saya kesulitan bernapas. Cobaan macam apa lagi ini… Saya memiliki riwayat asma sejak kecil, namun penyakit ini sudah lama sekali tidak kambuh, mungkin terakhir kali terjadi di masa kuliah sekitar 10 tahun yang lalu.

Di tengah malam musim panas yang hangat, suami mencoba menelpon 1177, namun kami berada di antrian lima puluh sekian. OK BYE. Karena nampaknya kondisi ini tidak life threathening (dan juga rasanya heboh banget kalau jam 1 malem ada ambulans ninu ninu datang ke apartemen), kami menahan diri untuk menelpon 112.

FYI, 112 adalah nomor emergency (polisi, ambulans, pemadam kebakaran) untuk kejadian yang membutuhkan respon cepat. Sedangkan, 1177 adalah nomor healthcare helpline di Swedia yang tersedia 24/7. Mereka dapat memberikan saran atau merujuk ke puskesmas terdekat bila perlu. Gatau ya orang-orang biasanya pada gimana, tapi berhubung kami paling males ke dokter, jadi selama enam bulan di sini, kalau sakitnya ga heboh-heboh amat (misal flu, diare), biasanya kami telpon 1177 dulu. Mereka biasanya bisa memberi info home treatment-nya gimana dan obat over the counter-nya apa.

Pagi-pagi bangun tidur, suami kembali mencoba menelpon 1177. Kami pun disarankan untuk mengontak puskesmas terdekat. Sistem kesehatan di sini instead of langsung ke RS atau dokter langganan, biasanya dimulai dari vårdcentral (nampaknya se-level puskesmas), CMIIW. Setiap warga terdaftar di vårdcentral terdekat atau yang dia inginkan. Kita bisa menghubungi vårdcentralen bila memerlukan konsultasi dengan dokter umum atau pediatrician.

Setelah menelpon vårdcentral, saya langsung dibuatkan appointment untuk konsultasi di siang hari. Akhirnya ke luar juga deh setelah seminggu mengurung diri di rumah! Nah, yang paling nyebelin dari sakit in the time of covid ini adalah takut dihujat massa kalau bersin atau batuk di tempat umum. Nampaknya mulai sekarang kita hidup di masyarakat yang lebih menerima kentut daripada batuk, hahaha.

Visit kali ini agak berbeda karena saya tidak boleh masuk gedung, melainkan disuruh ke annex di belakang gedung (gambar di bawah). Selama ini kirain benda itu ada karena ada konstruksi wkwkwk, ternyata dibuat khusus untuk pasien demam dan gangguan saluran pernapasan.

20200616_093045

Ketika menunggu saya baru bertanya-tanya, kenapa dikhususkan?! Apakah saya diperlakukan sebagai pasien covid??? Emang sih gejalanya udah red flag banget; batuk, sakit tenggorokan, sesak napas. T-T

Karena selain seorang dokter dan suster hanya boleh ada satu orang/pasien, maka suami dan anak menunggu di bakery terdekat selagi saya engap-engapan jelasin ini itu ke dokternya. Dokter bilang ini radang tenggorokan, but that could be “it”, jadi saya harus menjalani swab test. Tes dilakukan dengan mengambil sample dari hidung bagian belakang dan hasilnya bisa diperoleh keesokan harinya. IMO, testnya tidak sakit, tapi ternyata setelah dimasukkan ke hidung, stiknya harus diputar-putar selama 10 detik! Ya otomatis keluar juga sih air dari mata dan hidung. T-T

Selain melakukan tes, saya diberikan informasi mengenai what-to-do kalau terkena covid. Di sini penderita dengan gejala ringan diharuskan diam di rumah selama minimal 14 hari atau sampai sembuh +2 hari tanpa gejala. Kalau kondisi memburuk, diharuskan menelpon 112 untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Asal pada nurut-nurut sepertinya dengan langkah tersebut, sistem kesehatan tidak akan terlalu terbebani ya.

Keesokan harinya saya harap-harap cemas menunggu hasil tes. Bodohnya lagi, saya tidak bertanya akan dikabari melalui apa. Setelah 24 jam, kami mencoba menelpon, tapi vårdcentral-nya wis tutup dan akhirnya harus menjalani weekend di rumah dengan penuh kecemasan.

Di hari Senin yang cerah, kondisi saya sudah sangat membaik dan saya sangat positive thinking negatif (hahaha ruwet). Saya menelpon vårdcentralen dan alhamdulillah beneran negatif! I squealed a little when I heard the news, hihihi.

Alhamdulillah, akhirnya bisa menikmati musim panas dengan sehat walafiat. Mari berpetualang! \o/

Lhooo kok ga #dirumahaja?

Di masa pandemi ini, Swedia mengambil langkah yang cukup berbeda dibandingkan dengan negara lain. Sejauh ini belum ada lockdown (dan nampaknya tidak akan ada), namun terdapat berbagai anjuran untuk mengurangi penyebaran virus, misalnya dengan rajin cuci tangan, jaga jarak, diam di rumah bila sakit walaupun ringan, bekerja dari rumah kalau memungkinkan, hindari menyentuk wajah, hindari perjalanan yang tidak perlu, dll banyak deh.

Sekian cerita sakit kali ini. Sehat-sehat semuanya!

2 comments

  1. Arumjeni Mitayani · June 18

    Monmaap yang bagian obat ngakak. Sehat2 terus ya Nisa sekeluarga!!!

    Like

    • annisa · June 18

      Hahaha kamuuuh. Sehat-sehat juga yaa sekeluarga ❤️

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s