Ramadan dan Eid 2020

close up photo of raisins and dates

Photo by Naim Benjelloun on Pexels.com

Sehampa-hampanya lebaran jauh dari keluarga, tidak ada yang lebih hampa dari lebaran tahun ini. Dari tahun 2015, kami sudah berlebaran jauh dari orang tua—waw ngalah-ngalahin Bang Toyib yang tiga kali puasa tiga kali lebaran ga pulang-pulang. Walaupun jauh, di hari lebaran biasanya kami selalu menyempatkan diri untuk ber-video call dengan keluarga.

Lebaran tahun ini juga begitu sih, tapi rasanya beda.


Ramadan di sini dan di sana

Ini Ramadan pertama saya di Swedia. Saat ini sedang musim semi dan waktu puasanya cukup panjang. Waktu Subuh yang semakin hari semakin cepat dan waktu Maghrib yang semakin malam, membuat kami harus berpuasa selama 17 jam (di awal Ramadan) sampai 19 jam (di akhir Ramadan). Ketika menghitung lamanya puasa, rasanya bikin minder sih. Kirain bakal pingsan di tengah jalan, ternyata lama-lama terbiasa juga. Paling ngantuk nungguin Maghrib jam setengah 10 malem.

Selain waktunya yang panjang, hal yang membuat Ramadan kali ini luar biasa adalah ini Ramadan pertama saya sebagai minoritas di negeri orang. (((minoritas))) wkwkwkwk

Tidak ada yang tau atau mengira saya sedang berpuasa, tidak ada yang peduli juga. Tidak ada kemeriahan bulan Ramadan. Mungkin orang-orang juga tidak tau bahwa something special is happening right now, hahaha. Rasanya yang berpuasa di dunia ini hanya saya dan suami saja. Hahaha sedih banget.

Sebelumnya, selama lima tahun kami menjalani bulan Ramadan di Arab Saudi. Kami tinggal di dalam kompleks KAUST yang berupa international compound, jadi nuansa Ramadan-nya biasa saja, malah terasa artificial sih menurut saya, hahaha. Kami tidak terlalu merasakan Ramadan sebenarnya di Arab Saudi karena biasanya kami hanya mendekam di dalam kampus. Sesekali kami pergi ke desa Thuwal untuk beli cemilan kunafa kiloan dan samosa-murah-meriah-pinggir-jalan-yang-entah-kenapa-cuma-ada-di-bulan-puasa. Sesekali juga kami ke Mekkah untuk umroh; umroh yang spesial karena rasanya dan padatnya berkali-kali lipat. Selain umroh di bulan Ramadan yang one of a kind, yang membuat bulan puasa dan lebaran di KAUST sangat berkesan justru komunitas Indonesia-nya. Emang deh orang Indonesia di mana-mana sukanya ngumpul dan makan. Bulan puasanya belum mulai, jadwal bukbernya udah ngantri hampir tiap hari, hahaha. Walaupun jiwa introvert-ku selalu kewalahan menghadapinya, tapi ternyata sekarang hal ini sangat dirindukan.

Kalau soal kemeriahan Ramadan, memang tidak ada yang mengalahi hingar-bingar Ramadan di Indonesia; mulai dari dekorasi toko dan mal yang maksimal, undangan bukber dari sana-sini, penampakan penjual takjil yang menghampar di mana-mana (dear pasar takjil Benhil, I miss you so much!), suara adzan Maghrib dari masjid yang sangat ditunggu-tunggu, sampai gerombolan orang yang berjalan menuju masjid menjelang salat Isya. Walaupun sekarang lagi lockdown/PSBB/apalah namanya, saya rasa kemeriahan bulan Ramadan di sana masih terasa kental di rumah-rumah, di TV dengan iklan sirup Marjan dan obat Promag Deddy Mizwar, di aplikasi ojek online dengan promo-promo makanan berbuka, dan bahkan di sosial media di mana orang-orang berbagi hampers.

By the way, kenapa ya kalau parsel kesannya boomers banget, tapi kalau hampers sungguh kekinian? Padahal isi, maksud, dan tujuannya nampak serupa. Jadi inget dulu pas masih SD, bapak suka menerima parsel banyak banget, lalu lama kelamaan berkurang sampai akhirnya nol besar karena ada peraturan kalau pegawai BUMN ga boleh terima parsel (sad!). CMIIW.


Eid in the time of Covid

Waw berirama!

Setelah Ramadan yang rasanya sunyi sepi, lebaran kali ini juga rasanya tidak lebih baik. Tidak ada salat Eid berjamaah di masjid. Tidak ada foto-foto keluarga khusus untuk postingan lebaran karena kemarin ini hujan seharian. Tidak ada masakan khas Idulfitri karena saya tidak jago dan sudah tidak bersemangat untuk masak. Blah.

Sebenarnya berlebaran jauh dari keluarga adalah hal yang sudah biasa bagi kami. Masalahnya, biasanya kami tau bahwa pada saat libur Iduladha atau libur musim dingin, kami akan pulang. Tapi, kali ini? Membayangkan pulang saja syusah. By the way, dalam setiap situasi, saya suka membayangkan hal terburuk jadi tidak terlalu berekspektasi bahwa pandemi ini akan berakhir tahun ini atau bahkan tahun depan, hahaha. Semoga vaksin segera ditemukan, huhu.

Oh iya, kemarin saya melihat postingan Instagram Isyana yang bersama suami menyanyikan lagu lebaran (btw kenapa Isyana so talented dan suaranya bagus banget sih!), terus after all this time baru ngeh kok liriknya sungguh tidak masuk akal ya. :))

Minal aidin wal faidzin
Maafkan lahir dan batin~

Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin~

Apa hubungan kalimat pertama dan kedua?
Kenapa lagi lebaran, tapi pemimpin yang diselamatin?
Kapan rakyat makmur terjamin? Rakyat yang mana nih? LOL


The good things

Kenapa orang (atau mungkin saya saja sih) lebih mudah me-recognize hal yang negatif, daripada hal yang positif. Postingan ini hampir saya publish sebelum saya menyadari bahwa isinya sangat menyedihkan, hahaha. Butuh beberapa saat bagi saya untuk me-rewind dan me-recognize hal-hal baik yang terjadi di bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah.

Terkadang, hal yang baik tidak selalu berbentuk besar. Hal kecil seperti bisa masak lebih bervariasi dan bisa bikin takjil sendiri juga nampaknya perlu diapresiasi. Terima kasih teman-teman yang suka posting takjil yang menggugah selera di sosial media. Di akhir Ramadan ini, akhirnya saya bisa masak bubur sumsum, bubur kacang ijo, martabak, dan kue lebaran yang rasanya enak. What an achievement!

Oiya, saya baru sadar bahwa di Ramadan kali ini saya bisa bangun sahur full 30 hari! Nampaknya rasa takut lapar lebih kuat dari rasa kantuk saya, hahaha. Selain itu, mungkin karena berkurangnya interaksi sosial dan tidak ada acara buka bareng di sana-sini, di Ramadan kali ini saya merasa lebih banyak waktu dan lebih bisa mendekatkan diri dengan Al Quran. Oiya, katanya kan untuk membangun kebiasaan baru, diperlukan waktu setidaknya 21 hari ya. Nah, semoga hal-hal kecil yang dilakukan sebulan kemarin bisa menjadi pondasi saya untuk membentuk behaviour yang lebih baik dalam jangka panjang.

Apa hal positif yang kamu rasakan satu bulan ke belakang?

Akhir kata, selamat Idulfitri, teman-teman. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT menerima amalan kami dan kalian, dan semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadan berikutnya. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s