Hal-hal yang tidak biasa saya lakukan, tapi saya lakukan ketika di Swedia

Panjang amat ya judulnya kayak headline BuzzFeed. :))

Tadinya mau nulis “Things I don’t normally do but I do when in Sweden” tapi kok rada aneh, terus isinya juga mau pakai bahasa Indonesia aja. Di-indonesia-in juga ternyata masih aneh. Ruwet. Kenapa ya dengan bertambahnya skill bahasa, saya malah jadi merasa tidak fasih di semuanya. Terkadang sulit menemukan padanan kalimat dalam bahasa Inggris, kadang awkward juga kalau tulisan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ingin deh seperti Ivan Lanin yang bisa membuat cuitan dalam berbagai konteks dengan bahasa Indonesia baku tanpa terasa janggal. Apakah skill bahasa bisa masing-masing 100%? Atau total kesemuanya 100%?

Lah ngelantur. Let’s back to topic…

Secara lingkungan, iklim, dan budaya, Swedia ini sungguh berbeda dengan Indonesia dan Arab Saudi yang pernah saya tinggali. Hal ini pun tanpa disadari mengubah kebiasaan saya.

Beli baju yang fungsional

Selama enam bulan tinggal di sini, saya sudah merasakan suhu di mana bisa pakai baju satu lapis doang sampai suhu di mana pakai baju tiga lapis masih kedinginan dan rasanya ogah ke luar rumah, padahal kemarin tuh the warmest winter ever loh, hahaha lemah! Tapi, kalau kata Scandinavian people, “there’s no such thing as bad weather, only bad clothes”. Jadi, kalau masih kedinginan, berarti bajunya yang salah atau kurang lapis. Sampai di sini, saya pun jadi tau ternyata ada loooh bahan-bahan yang tipis tapi sangat hangat dan insulating *ehem*merino wool*ehem*. Jadi walaupun dingin, ga harus bertebal-tebal ria. Nah, saking ga ada gunanya pakai baju lucu-lucu karena bakal dijaketin lagi, akhirnya so far saya hanya membeli baju yang fungsional saja.

Bye bye fashun~

Cek temperatur dan ramalan cuaca

Kalau suhu di Indonesia konstan sumuknya dan di Saudi fix panasnya, suhu di sini ajaibnya sangat berubah-ubah. Tiga minggu yang lalu saya bisa keluar rumah pake kaos doang, eh kemarin bersalju LOL. Lirik lagu “sometimes the snow comes down in June” ternyata jadi ga aneh-aneh banget ya haha. Karena sudah bulan Mei tapi terkadang masih freezing, keluarin lagi deh winter jacket yang sudah dicuci.

Nah, saking absurdnya suhu di sini, hobi baru saya adalah mengecek temperatur sampai berkali-kali dalam sehari, terutama saat mau ke luar rumah. Ini juga berhubungan dengan poin sebelumnya, supaya ga saltum. Jadi, kalau kamu #diRumahAja sama saya, jangan bosen dengar pertanyaan, “suhu di luar berapa ya?”

Prediksi cuaca di sini juga sangat penting, karena bisa tuh paginya terang, siangnya gloomy terus hujan. Walaupun sebenarnya kategori hujan deras di sini menurut saya mah lebih cocok disebut gerimis. Masih ga ada apa-apanya lah sama hujan di Indonesia yang mau pake jas hujan, payung, apapun juga ga ngaruh karena bakal basah kuyup.

Cek jadwal salat

Tidak seperti biasanya, kali ini mengecek jadwal salat menjadi sesuatu yang penting. Kalau di Indonesia dan Saudi jadwal salat cukup “normal”, di sini jadwal salat sungguh cepat berubah. Sebagai contoh, pada saat winter, jam 3 sudah Magrib, tapi sekarang jam 9 malem juga masih terang ajaaa.

Karena saat ini kami sedang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan, pengecekan waktu salat ini jadi lebih penting lagi. FYI, di awal Ramadan (tiga minggu yang lalu), kami masih melaksanakan puasa dari 3:43 sampai dengan 20:38 (sekitar 17 jam), sekarang puasanya dari 2:53 – 21:25 (sekitar 18,5 jam). Setiap harinya rata-rata waktu puasa bertambah 6 menit! Apa kabar ini pas puasa Syawal… :’)

Oh iya, TIL kalau kata yang baku itu “salat”, bukan solat, sholat, atau shalat.

Beraktivitas outdoor

Salah satu aktivitas yang paling malesin untuk saya adalah main kotor di luar. Dari kecil, saya sudah didoktrin bahwa pasir dan tanah itu jorok, nanti cacingan. Alhasil, saya jadi anak jijikan yang dalam sehari bisa cuci tangan lebih dari 20 kali.

Ketika saya memasukkan anak ke daycare, agak kaget juga dengan kenyataan bahwa setiap hari mereka main di luar bagaimanapun cuacanya. Ada yang mandi pasir, ada yang uget-uget di tanah. Waw stress hamba melihatnya. Tapi kata gurunya ga masalah, karena being outdoor is the most Swedish thing ever!

Oiya, walaupun mainnya kotor-kotoran, mereka sudah beradaptasi dengan menciptakan berbagai pakaian untuk setiap kondisi. Ga heran lah rame banget itu gantungan baju di daycare, ada jaket fleece, ada winter overall (untuk cuaca dingin; berbahan windproof, waterproof), ada regnkläder (jaket dan outer celana anti-air buat huhujanan), ada överdragsbyxor (outer celana waterproof buat main kotor), ada vindjacka (windbreaker waterproof), dsb dst.

Sebagai ilustrasi:

Oiya, karena anaknya sudah terbiasa dan suka main di luar, of course emaknya juga kadang ikutan nganter anak ke playground buat main pasir.

Ngopi dan ngafe

Sebenarnya ini bukan hal yang aneh sih. Cuma, di sini ada budaya bernama “fika” yang semakin membuat saya punya alasan untuk ngopi dan ngafe.

Fika is Swedish for a coffee break that’s more about socialising than drinking coffee. And something sweet is also welcome. But, is much more than having a coffee. It is a social phenomenon, a legitimate reason to set aside a moment for quality time.

Source: https://sweden.se/culture-traditions/fika/

Karena orang sini suka banget sama kopi, jadi banyak artisan cafe. Bertebarlah kafe-kafe lucu di mana-mana. Akhirnya, hobi kita sebelum Corona menyerang adalah nyobain satu kafe setiap minggu. Sayangnya, efek “kopi beneran” ke saya bukannya bikin melek malah bikin mencri. Mungkin cocoknya memang minum kopi sachet aja. Tapi, anak ini tidak kapok dan tetap pergi ke kafe. :))

Jalan kaki dan naik sepeda ke mana-mana

Tinggal di kota kecil seperti Linköping adalah nikmat yang sangat luar biasa untuk saya. Karena kotanya kecil, hampir semua kebutuhan harian bisa diraih dengan berjalan kaki. Sekolah dekat, daycare dekat, supermarket dekat, pusat kota dekat. Selain itu, tempat tinggal kami pun berdekatan dengan sungai, jadi enak banget jalan kaki di samping sungat kalau cuacanya sedang bersahabat. Karena ke mana-mana dekat, jaraaang banget mesti naik bus.

Kemudian, kota ini juga berada tidak jauh dari danau dan nature reservation. Jadi, kami bisa dengan mudah bersepeda ke hutan atau ke danau untuk refreshing. Sungguh menakjubkan bagaimana anak mall ini bisa senang main ke danau.

Kondisi ini sangat kontras dengan kehidupan di Jakarta yang hampir tidak memungkinkan untuk jalan kaki dan sepedaan. Orang setiap mudik ritualnya: ke luar rumah -> masuk taksi, ke luar mall -> masuk taksi. Begitu pun juga dengan di Saudi yang susah banget hidup kalau ga punya kendaraan pribadi saking ga ada transportasi umum di sana.

Potong rambut di rumah

Jauh sebelum tren potong rambut di rumah pas quarantine, saya sudah melakukannya karena…..mahal. Jadi inget dulu pernah post ranting tentang potong rambut di KAUST yang mahal. Ternyata, di sini tidak lebih baik saudara-saudara. *cry*

Setelah beberapa bulan tinggal di sini, mulailah terlihat penampakan anak dan suami yang semakin gondrong. Karena potong rambut di salon mahal dan suami tidak rela untuk membayar segitu banyak, akhirnya dia membeli hair trimmer, lalu mulai deh grand opening barber shop di rumah, hahaha. Untungnya model rambut suami dan anak ga pernah aneh-aneh ya, jadi tinggal sret sret sret jadi deh.

IMG_20200110_164909_580_2

Not bad.

 

 

Bagaimana dengan rambut saya sendiri…?

Rambut saya akhirnya gondrong dan tidak beraturan juga, akhirnya saya membeli gunting rambut dan potong sendiri juga. Hasilnya bagus, model shaggy. Tidak lama kemudian posisi benda langit sedang tidak beraturan dan rambut saya rontok sejadi-jadinya. Stress banget. Akhirnya saya gunting pendek, dan sekarang rambut saya berakhir dengan rontok + tidak karuan. Pasrah mau ke salon tapi takut lagi banyak virus. Yaudahlah ya ga ada yang liat ini. :’)

Masak

Seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya, karena makan di luar mahal, saya jadi masak s e t i a p h a r i. Lelah sih, tapi sekarang mulai enjoy dan maunya di dapur terus, ga mau kerjain tugas sekolah, hahaha.

Meng-appreciate balkon rumah

Hal yang patut disyukuri dari tempat tinggal di KAUST adalah gratis (sampai kami diharuskan pindah ke rumah karena punya anak), luas, balkon luas, taman luas. Sayangnya segala yang bagus-bagus belum tentu cocok buat setiap individu.

Kalau boleh memilih, saya lebih memilih tinggal di tempat yang tidak terlalu sempit, tidak terlalu luas. Tempat tinggal saat ini yang luasnya 55sqm sangat pas! Maintenance-nya mudah, semua anggota keluarga berkumpul di satu tempat, bersihinnya gampang. Poin terakhir sangat penting karena saya hobi bersih-bersih wkwkwk.

Saya tidak perlu taman luas karena buat apa, tanaman di pot saja mati satu per satu. Seperti meme yang dikirimkan oleh suami:

img-20200512-wa0003

Maaf jiwa-jiwa yang mati di tanganku, mungkin kalian bisa hidup lebih baik di rumah yang lain. :'((

Balkon adalah hal yang saya benci sebelumnya. Balkon luas di apartemen KAUST saja hanya dikunjungi kurang dari lima kali dalam 4 tahun, hahaha. Mungkin karena kondisinya panas, selalu berdebu, berpasir, dan ga ada pemandangan menarik.

Tapi balkon di sini…, suka suka suka banget.

Saat kami mencari apartemen, para landlord seakan-akan sangat menjual dan mengagungkan balkon mereka yang hanya 2 x 2 meter. Sebagai seseorang yang tidak mementingkan keberadaan balkon, saya pun bertanya-tanya. Why why why? Ternyata pas musimnya pas (red- spring), punya balkon is a blessing. Matahari bersinar cerah, tapi tidak panas. Sambil duduk-duduk dan minum kopi di balkon, kita bisa melihat pohon-pohon yang mulai hidup kembali ditemani dengan suara kicau burung yang mulai berdatangan.

Orang-orang di sini pun senang menghias balkonnya sangat cantik sedemikian rupa sehingga membuat saya iri hahaha. Setiap jalan kaki, saya suka mengintip balkon orang dan mencari inspirasi untuk balkon rumah saya kelak. Iya, apartemen saya nanti harus ada balkonnya.

 

5 comments

  1. Ayu Frani · May 15

    Hi, Mbak. Senang sekali membaca terbitan tulisan ini. Mbak tetap produktif dan tidak terkendala dengan keadaan cuaca di Swedia yang bersalju begitu. Ini mengajarkan kita pembaca bahwa kendala (Contohnya dari lingkungan) tidak akan menjadi kendala yang berarti jika semangat kita untuk menikmati hidup lebih besar.
    Salam dari Indonesia, Mbak.

    Like

    • annisa · May 16

      Halo, salam kenal! Terima kasih sudah membaca postingan ini.

      Kadang memang mau mengeluhkan keadaan dan itu manusiawi. Tapi, ada hal yang tidak bisa kita kontrol (misal: cuaca). Yang kita bisa kontrol adalah sikap kita.

      Liked by 1 person

      • Ayu Frani · May 17

        Setuju dengan pernyataan terakhir ini, “Yang kita bisa kontrol adalah sikap kita”.

        Semangat berbagi kebaikan, Kak! Salam dari Indonesia.

        Liked by 1 person

  2. Arumjeni Mitayani · May 17

    Loveee

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s