Hidup untuk makan

Ada dua kategori manusia dalam soal per-makan-an:

  1. makan untuk hidup, dan
  2. hidup untuk makan.

Manusia dalam kategori pertama menggunakan ritual makan seperlunya, sebagai pemenuhan nutrisi, obligatory. Golongan kedua adalah yang baru sampai kantor udah mikirin nanti makan siang apa, yang baru hari Selasa udah mikirin nanti weekend mau makan apa di mana, yang kalau jalan-jalan nyarinya makanan.

Saya jelas termasuk golongan kedua.

waffle-on-white-ceramic-plate-511763

Makan. Makan. Makan. Saya suka makanan. I love eating. Jag älskar mat.
Kalau setiap manusia memiliki satu dari seven deadly sins, dapat dipastikan saya adalah gluttony.

Kecintaan terhadap makanan ini sangat bertolak belakang dengan cita-cita saya untuk memiliki tubuh ramping. Namun, sepertinya nasib baik masih berpihak ke saya karena saya tidak bisa memasak. Ketidakbisaan ini merupakan suatu cobaan, tapi juga anugerah bagi saya, karena merantau –> tidak bisa masak –> tidak makan aneh-aneh –> berat badan terjaga. Alhamdulillah.

Kebayang ga sih kalau bisa masak, mau apa tinggal bikin.

Figur jago memasak panutan saya adalah ibu. Ibu bisa memasak dan mereplikasi suatu hidangan tanpa liat resep. Bisa mengetahui bumbu di dalam suatu makanan hanya dengan menyicipinya saja. Tidak perlu takaran ini itu, semua pakai feelin, tapi rasanya selalu enak. Menurut saya, hal tersebut adalah kemampuan tertinggi dalam ilmu masak-memasak. Tidak heran, sebagai anak pertama dengan adik banyak, ibu sudah masak rendang untuk sekeluarga dari SD, sedangkan saya baru masak sendiri 5 tahun yang lalu. Dengan pengalaman ibu selama 40 tahun memasak, berarti saya baru bisa mencapai skill yang sama di usia 70 tahun. OK THX BYE!


Saya suka mendokumentasikan hasil masakan. Kalau Google photos lagi throwback throwback tuh rasanya miris banget melihat hasil masakan lima tahun yang lalu. Masak apa sih looo ga jelas banget yaampun. Dengan melihat fotonya saja, saya langsung terbayang rasa yang tidak karuan dibalik penampilan yang ntahpapa itu.

Semenjak pindah ke Swedia, intensitas memasak saya menjadi lebih tinggi, hampir setiap hari! Demi penghematan, soalnya makan di luar mihil sist! Dulu pas di Saudi juga mahalnya sama sih, tapi kan double income no kids wkwkwk. Alhasil hampir setiap hari makan di luar, masaknya pas weekend doang. Mungkin aku bisa kaya raya kalau dulu lebih hemat. Huhuhu ampun tobat. T__T

Memasak setiap hari sungguh challenging untuk orang yang gabisa masak seperti saya. Untungnya suami orangnya gampangan, dikasih makan apa aja mau; sereal, roti, masakan Indonesia, Asia, Asia Selatan, Western, semua mau. Sebenarnya hidupku lebih mudah lagi kalau dia mau makan salad dan buah ya, cus tinggal potong-potong. Tapi apalah daya, aku menikah dengan seorang karnivor.

Permasalahan memasak setiap hari ini sebenarnya bukan problematika hidup saya doang, makanya di internet banyak artikel meal prep meal prep gitu. Masalahnya adalah kebanyakan tidak menarik atau chicken breast sama sayuran rebus doang LOL. Selain itu, akutu bosenan anaknya. Yha, udah bikin playlist lagu aja masih di skip-skip kan ampe nemu yang pas sama mood. Sama lah dengan makanan, mesti pas sama mood, hahaha. Ih kamu teh kenapa sih gabisa masak aja banyak maunya!


Sebulanan yang lalu pas mulai karantina-karantina-an gitu, saya lihat iklan Cookpad yang lagi free trial satu bulan. Sebagai user premium, kita mendapatkan akses langsung ke resep anti gagal yang telah diuji banyak orang! Menarik banget kannn. Memasak sendiri saja sudah suatu proses yang melelahkan dan membuang waktu (30 menit siapin bahan, 30 menit masak, 20 menit cuci piring), janganlah lagi reward-nya berupa makanan gagal.

Setelah satu bulan mencoba, Cookpad ini benar-benar membantu stepping up my cooking game. Saya juga bisa mendokumentasikan resep sendiri (cek resep-resep saya di sini!). Senang juga ya rasanya kalau ada yang mencoba resep dan kasih feedback wkwk. Alhasil, saya langsung berlangganan setelah trial-nya habis. Ini kayaknya iklan yang paling sukses mempengaruhi saya, hahaha.

Sampai sekarang memang saya tidak meal prep meal prep-an, tapi akhirnya saya bisa membuat meal plan untuk beberapa hari ke depan, misalnya seperti ini:

20200511_220007

Harus banget tiap hari beda? Ya iya dong kan bosenan anaknya, hahaha.

So far, metode ini adalah yang bekerja paling baik untuk saya. Dengan bikin list masakan seperti ini, saya bisa lebih mengutilisasi bahan-bahan yang ada di kulkas dan beli-beli seperlunya. Lebih hemat dan sampah bahan makanan busuk jadi hampir ga ada. Dengan tau besok besok masak apa juga akhirnya saya ga pusing dan buang waktu mikirin masak apa ya apa ya apa ya.

So, terima kasih internet dan semua orang yang telah berbagi resep masakan! Tanpa kalian, hidup saya berputar di mie instan dan telor dadar saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s