48 jam di Stockholm

Setelah scroll-scroll album foto di HP, ternyata banyak banget foto jalan-jalan yang udah di-crop dan dirapi-rapiin dikit tapi ga jadi di post di Instagram karena lupa. Fix lah ga bakat jadi seleb. Bye bye cita-citaku bisa swipe up swipe up dan di-endorse brand-brand ternama.

Jadi, sebelum Natal bulan lalu, kami berjalan-jalan ke Stockholm selama 3D2N. Waktunya sebelum Natal karena saat hari raya kemungkinan ini itu pada tutup. Selain itu, kami memutuskan untuk menginap dua malam karena kalau satu malam kok sayang ya bentar banget padahal udah bayar kereta mahal-mahal. :))

OK, jadi kesan pertama atas Stockholm: WAW BAGUS YA IBUKOTA!


Transportasi

Berhubung Linköping cuma selebar daun kelor yang ke mana-mana bisa jalan kaki, jadi kami agak agak takjub ya dengan transportasi publik di Stockholm. Waw ada metro, waw ada commuter line.

Demi kelancaran perjalanan, kami membeli short-term SL card yang berlaku untuk berbagai jenis transportasi publik di Stockholm (bus, metro T-bana, commuter line pendeltåg, dan konon termasuk beberapa ferry juga). Harganya kalau ga salah 270 SEK per adult.

Jadi kan kita mau gaya-gayaan ya naik metro ke sana ke mari, tapi berdasarkan pengalaman saat itu, naik metro dengan membawa stroller itu ternyata sangat tidak nyaman karena ribet turun ke platform dan balik ke atasnya lagi. Tidak semua entrance menyediakan lift, sekalinya ada lift, eh dia lagi maintenance, atau antriannya panjang pisan. Pas udah masuk, eh bau pesing. Sedich :’)

Karena kapok buang-buang waktu cari lift dan muter-muter di bawah tanah, akhirnya kita ke mana-mana naik bus, and guess what…satu adult dengan bayi + stroller = free*! Tau gitu beli SL card-nya satu aja ya, hahaha.

*eh gatau sih hukumnya gimana, tapi kan kalau kita bawa stroller masuknya dari exit door busnya ya, terus ga pernah dicek kartunya sama supir, hehehe

Keramaian kota

Sebagai anak metropolitan mall Bekasi Jakarta, ternyata saya terkedjoet juga setelah sekian lama tidak melihat keramaian kota. Seramai itu lhooo, banyak aja orang di mana-mana. Padahal ya ga seramai Jakarta juga. Kadang rasanya pusing, pengen pulang lagi ke desa, jalan-jalan di samping sungai dekat rumah.

Selain jumlah manusianya, yang membedakan antara Linköping dan Stockholm: di ibukota orang-orangnya tuh diverse banget! Mungkin hal tersebut disebabkan karena Stockholm merupakan pusat bisnis, banyak universitas kece, dan juga tourist destination. Jadi ga heran kalau di sana sini melihat berbagai jenis manusia dan mendengar segala ragam bahasanya.

Places of interest

Vasa Museum

Sebelum berangkat ke sini, akutu sebenarnya agak malas. Apa sih kok museum isinya cuma satu kapal doang. Eh, ternyata museum ini menarik banget!

20191221_140821

Vasa adalah kapal mewah yang dibangun pada tahun 1628 sebagai warship. Kapal ini juga penuh dengan simbolisasi dan dekorasi yang mengagungkan kerajaan Swedia saat itu. Sayangnya, karena design error, kapal ini tenggelam setelah berlayar hanya 1 km saja. Setelah 333 tahun berbaring di dasar laut, akhirnya pada tahun 1961, Vasa kembali ke permukaan. Karena kondisi air laut yang dingin (dan fortunately tidak ada composting bacteria), bentuk kapal ini masih sangat terjaga.

Oh iya, selain penjelasan tentang Vasa, di museum ini juga ada penjelasan tentang kehidupan di kapal yang ternyata cukup mengerikan. Berlayar berbulan-bulan dengan stok makanan seadanya dan higienitas yang sangat sangat kurang seringkali menyebabkan banyak penyakit berkembang biak di kapal. Saya jadi ga heran kalau kru-kru di Pirates of Carribean bentuknya seperti itu.

FYI, admission fee ke Vasa Museum adalah 150 SEK per adult dan sudah termasuk free tour guide. Guide-nya sangat recomendded karena mereka menjelaskan sejarahnya yang menarik dengan detil. Kalau ga ikut guide tour ya liat kapal aja tok, bosen.

Maps: Vasa Museum

Naturhistoriska Riksmuseet

Sayang anak, sayang anak. Karena destinasi lainnya kurang menarik buat anak-anak, akhirnya kami mengunjungi Naturhistoriska Riksmuseet.

Walaupun museum ini free entry, tempatnya sangat lengkap dan besar! Saking luasnya, rasanya butuh sekitar 4 jam untuk melihat semua pamerannya. Di sini dipamerkan berbagai hal mulai dari fosil dinosaurus (yay!), endangered animals, kehidupan di air, polar region, Swedish nature, sampai tentang tubuh dan evolusi manusia.

psx_20191223_171304

Tyrannosaurus Rex, Triceratops, Stegosaurus, and many more. I am a happy kid!

This slideshow requires JavaScript.

Di bagian Swedish nature, ada spesimen flora dan fauna asal negeri ini, salah satunya adalah Älg/moose. Konon Swedia memiliki jumlah moose terbanyak per kilometer persegi dibanding negara lain di dunia, maka tidak heran jika banyak sekali souvenir bergambar moose di sini. Saya sendiri penasaran dan belum pernah bertemu langsung. Namun setelah melihat pameran ini, sepertinya saya harus mengurungkan niat karena ternyata moose itu besar sekaliii. Tingginya bisa mencapai 2.1 meter! Ditambah tinggi tanduknya, maka saya hanyalah kerikil di jalanan, ditanduk dikit langsung mental.

Maps: Museum of National History

Gamla Stan

Fix daerah terbagus se-Swedia Raya! :’)

Gamla Stan adalah salah satu area pulau kecil bernuansa old town. Daerah ini dipenuhi dengan cobbled streets dan bangunan dari abad ke-17, antara lain Storkyrkan cathedral dan Royal Palace. Di lokasi ini juga terdapat beberapa museum, seperti Nobel museum, Museum Tre Kronor, dan Postmuseum. Sayangnya kami tidak sempat mengunjunginya semuanya. Next time, next time.

Area ini sangat touristy, terlihat dengan banyaknya toko souvenir di sana sini. Berita baiknya, saat itu tidak terlalu ramai, mungkin karena sedang musim dingin. Selain toko souvenir, cafe, dan restoran, di area ini juga terdapat beberapa antique shop lucu lucu. Benar-benar instagrammable! Ketika saya menyebut instagrammable, berarti bukan seperti tujuan wisata di Indonesia yang dibuat sangat artifisial dengan cat warna pelangi dan tulisan nama lokasi gede-gede ya. Intinya, di lokasi ini semua sudut terlihat sangat cantik, bahkan sampai ke gang-gangnya.

Maps: Gamla Stan

Kungliga Slottet (The Royal Palace)

The Royal Palace of Stockholm ini salah satu istana yang sangat unik karena selain menjadi tempat tujuan wisata yang buka sepanjang tahun, tempat ini juga masih berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat kerja kerajaan Swedia.

psx_20191224_130927

Grandeur entrance and staircases

Tiket masuk ke The Royal Palace seharga 160 SEK per adult. Selain itu, untuk ikut guided tour, kita perlu membeli tiket tambahan seharga 30 SEK per adult. Kala itu, kami mengikuti tour The Royal Apartments, dan seperti guided tour pada umumnya, tur ini sangat worth the price dan full of informations!

Misalnya aja hallway di bawah, selain dilewati turis-turis seperti kita, tempat ini juga menjadi lokasi gala dinner untuk para peraih Nobel. Pernah jadi wedding hall, bahkan pernah jadi tempat konser Avicii juga.

Meeting room di atas digunakan untuk meeting King Carl Gustaf dengan parlemen. Walaupun tidak memiliki pengaruh, King Carl Gustaf juga mesti tau parlemen Swedia ngapain aja. Buku-buku yang berjejer di tengah meja merupakan buku referensi tentang segala pernak-pernik pemerintahan, namun saat ini hanya menjadi simbol karena di setiap meeting, di belakang King Carl Gustaf ada asisten yang siap googling di tablet. :))

Dari guided tour ini, saya jadi tau sedikit-sedikit mengenai kerajaan Swedia, misalnya bahwa King Carl Gustaf selalu mengikutsertakan Crown Princess Victoria di setiap meeting dengan parlemen supaya saat waktunya tiba, Crown Princess ini up-to-date dan ga kaget. Walaupun sudah tua, King Carl Gustaf tetap menjabat karena dia mau Crown Princess punya lebih banyak waktu dengan anak-anaknya, ga kayak dia dulu (so sweet…). Selain itu, saya juga jadi tau bahwa Queen saat ini bukan orang Swedia, anak-anaknya juga menikah dengan non-royal dan non-Swede. Beberapa saat yang lalu, King Carl Gustaf juga baru saja membatalkan royal status cucu-cucunya supaya tidak jadi beban negara dan lebih bebas menentukan masa depan mereka. Waw, royal family ini chill banget ya, ga kayak yang itu tu, LOL.

20191222_102126

Ada Garuda Pancasila di The Royal Palace of Stockholm!

Oh iya pas lagi di Royal Palace, saya menemukan Garuda Pancasila. Foto dulu lah, Indonesian pride, hahaha. Ternyata itu adalah The Royal Order of The Seraphim, penghargaan tertinggi dari kerajaan Swedia. Penghargaan ini eksklusif untuk Swedish Royal Family dan head of states, salah satunya Presiden Joko Widodo. Kalau liat list of knights-nya, penghargaan ini juga dulu diberikan kepada Napoleon Bonaparte, Emperor Meiji, dan Nelson Mandela. Keren ya.

Maps: The Royal Palace

Kungsträdgården

Kungsträdgården adalah sebuah taman di tengah kota Stockholm. Di musim dingin, di tengah taman ini ada ice rink. Senang banget ngeliatnya, padahal ga bisa mainnya juga sih. Berhubung sudah ke tempat dingin begini, apakah aku harus belajar ice skating?

Konon di musim semi, sakura bermekaran di taman ini. Ga usah jauh-jauh ke Jepang deh. Mari hanami di Kungsan!

FYI, bagi yang senang berbelanja, di dekat taman ini terdapat banyak restoran dan pusat perbelanjaan, tepatnya di jalan Drottninggatan.

Maps: Kungsträdgården

Underground Subway Art

Salah satu cita-cita kami saat ke Stockholm adalah hunting foto Stockholm’s subway art. Apa daya karena rempong naik subway, kami jadi hanya sempat berfoto di Kungsträdgården (cuma ada satu foto, pake blur pula!).

20191222_192511

Kungsträdgården’s subway station

Selain di Kungsträdgården station, subway art yang katanya bagus ada di Rådhuset, Central Station, dan KTH. Next time, next time. Lengkapnya bisa dicek di sini.

Maps: Kungsträdgården’s subway station


Recap jalan-jalan di Stockholm yang hanya sekejap ternyata jadi panjang juga ya, hahaha. Saat kami tiba, cuaca sangat tidak bersahabat: dingin, gerimis, dan berkabut. Ditambah sedang winter solstice aka. the shortest day in a year pula. Jadi beneran jam 9 pagi mulai terang, jam 3 sore udah Maghrib. Karena harinya pendek, rasanya jam 4 sore udah mau tidur aja karena gelap, hahaha. Padahal selain enam poin di atas, banyak sekali hal menarik yang bisa dilihat di Stockholm. Kalau saya lihat di maps, kota ini seperti surga museum, berceceran! Semoga di kesempatan lain, kami bisa mengunjungi museum lainnya.

Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s