My thoughts on Marriage Story (2019)

Marriage Story yang dibintangi oleh Scarlett Johansson dan Adam Driver bercerita tentang drama proses perceraian dan bagaimana sebuah pernikahan falling apart. Film ini baru saja rilis di Netflix 5 hari yang lalu, dan saya sudah nonton 2 kali: sendiri dan bersama suami. This is a good movie and I’m touched, so I have to drag my husband with me! :))

Marriage-Story-2019

Source: Netflix

Film ini dimulai dengan indah, bagaimana Nicole (ScarJo) dan Charlie (Kylo Ren Adam Driver) menarasikan hal-hal positif mengenai satu sama lain. Adem yah dengernya. Keluarga mereka nampak bahagia, pernikahan mereka pun nampak sempurna. But, is it?


Charlie adalah seorang theater director di NYC yang bekerja dengan Nicole, istrinya, yang merupakan mantan artis remaja asal LA. Saat Nicole menerima tawaran peran di sebuah pilot TV, dia meninggalkan teater dan membawa putranya, Henry, yang berusia 8 tahun ke LA. Bagaimana dengan Charlie? Dia memilih tinggal di NYC karena dramanya akan pentas di Broadway. Dari awal kita sudah ditunjukkan bahwa mereka memang mau pisah baik-baik, no lawyer involved. Tapi, saat di LA itulah Nicole mengajukan surat cerai, dan di titik ini semuanya perlahan-lahan memburuk.


Ok, cukup dengan summary plot-nya.

Beberapa minggu sebelum filmnya tayang di Netflix, saya menonton trailer-nya dan penasaran, tapi takut, tapi penasaran.

Hahaha kenapa takut coba kannn?

Takut karena kok mereka nampak baik-baik saja tapi terus cerai. Takut jadi takut nikah (loh, padahal sudah nikah haha). Takut jadi mempertanyakan kebahagiaan aku. HAHAHA.

Tapi jangan takut saudara-saudara, karena ternyata setelah menonton film ini, saya jadi makin ngeh bahwa kebahagiaan pasangan itu juga mesti dikonfirmasi. Kan pernikahan itu menyatukan dua pikiran, dua individu; kita bahagia, keluarga kita bahagia, tapi apakah pasangan kita “beneran” merasa bahagia? Apakah dia merasa fulfilled? Apakah ada keinginan dia yang belum kita dengar, cita-cita yang ingin dia capai, atau karir yang ingin dia kejar?

Film ini bisa jadi bayangan kalau menikah itu ga seneng-seneng doang. There will be a lot of compromising and understanding, and most of the time we have to meet each other halfway.


Akting Scarlett Johansson dan Adam Driver di sini menurut saya oke banget. Pas mereka sedih, aku juga ikut ambyar. Saya juga takjub dengan dialog-dialog panjang yang diambil dalam satu shoot, itu ngapalinnya gimana ya wow!

Ada beberapa scene yang menurut saya notable banget karena dalam beberapa scene tersebut, dua kali nonton, dua kali nangis!

  • Opening scene ketika Charlie dan Nicole menceritakan kebaikan satu sama lain.
    Kebetulan ketika nonton ini pas pertama kali, saya lagi kesel dengan suami, dan terkadang satu hal yang bikin kesel tuh jadi menutup mata atas hal-hal lain. Pas scene ini, saya jadi diingatkan bahwa kebaikan suami saya tuh melimpah banget!
  • Scene setelah Charlie membacakan Nicole’s last performance note.
    Aku tuh kan orangnya sok tegar ya. Jadi kalau lagi ngambek dengan suami juga tetap tegar, padahal abis itu nangis diam-diam. Pas banget lah, Nicole nangis, ya aku juga. Hahaha.
  • Fighting scene. Serem ya bagaimana orang yang saling sayang bisa menyakiti perasaan satu sama lain dengan kata-katanya.
  • Scene nutup gerbang. T_T
    Scene Nicole potongin rambut Charlie. T__T
    Scene Nicole pilihin makanan Charlie pas mereka meeting didampingi lawyer-nya. T___T
    Scene Charlie baca note-nya Nicole. T_______________T </3 </3 </3
    Scene Nicole taliin sepatu Charlie. T____T

Oh iya, setelah nonton ini juga saya ga mau judgemental terhadap masalah keluarga orang lain (ngapain juga sih, Nis? kok kurang kerjaan…). Selama ini kan ketika ada kasus perceraian, di sudut hati yang terdalam saya terkadang berujar “pasti ini salah si A”, “ah ini sih emang si B-nya aja yang salah”. Walaupun terkadang salah satu pihak melakukan kesalahan yang memang tak termaafkan dan pantas ditinggalkan, tapi dalam kasus seperti di film ini, ga ada yang salah atau benar banget sih. Mungkin Nicole memang kurang speaks up ketika ada hal-hal yang kurang berkenan. Mungkin Charlie juga kurang menjadi pendengar yang baik. Intinya sih mereka tidak berkomunikasi dengan baik. Pada akhirnya mereka masih care dan sayang satu sama lain, hanya tidak bisa bersama saja. Kalau mengutip kata mbak Nicole:

It not as simple as not being in love anymore.

</3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s