Menghargai makanan

Kala gelombang malas memasak melanda, saya dan suami suka sarapan di kantin kampus dengan menu omelet dan waffle-nya yang super enak. (Sesungguhnya ini menu terenak di diner ini, main course-nya malah jarang ada yang baleg, hahaha).
Ketika mengembalikan nampan makanan, kami mendapati sebuah pemandangan miris: sepotong waffle, tergeletak di nampan lain, hanya termakan secuil. WHY?! Kan sayang. T-T

Begitu pun juga kemarin ini di sebuah restoran. Saat sedang menunggu pesanan makanan kami datang, kami menengok meja sebelah yang penampakan makanannya sangat menarik.

“Itu apa ya, menarik banget.”
“Coba aja samperin, tanya namanya apa.”
“Ga ah, malu hihihi.” *heu dasar anak sok malu malu padahal mupeng*

Dan ketika meja sebelah selesai makan dan pergi, doeeeennnggg makanan tersebut masih tersisa banyak di piring dan ditinggal begitu saja dong.

waffle beside cherry and ice cream

Potongan waffle yang malang. Bukan penampakan sebenarnya, tapi mirip, sungguh. Photo by Pixabay on Pexels.com

Pemandangan seperti ini biasanya tidak hanya kami temukan di restoran, tapi juga di undangan. Sering banget kan lihat orang ambil makanan ini itu lauk ini itu, dan akhirnya tidak dihabiskan, lalu ditinggalkan begitu saja. Kebayang ga sih, bahwa makanan yang sudah “terdampar” di piring kita itu ga bakal bisa dimakan oleh orang lain. Kalau tidak dimakan, ya ujung-ujungnya adalah di tempat sampah. M U B A Z I R.

Sebagai orang yang suka makan tapi kapasitas perut terbatas, saya juga terkadang tergoda untuk mengambil semua semua semua makanan yang ada di depan mata. Tapi kemudian saya teringat ajaran kakek bahwa ketika selesai makan itu piring harus licin, maka ambillah makanan secukupnya. Tapi, bagaimana ketika makanannya berbagai jenis dan semuanya menarik? Inilah gunanya makan ramean dan punya +1 ke acara undangan. Lo bisa sharing dan icip semua makanan. :))

Di sini juga saya bangga dengan budaya “makan tengah” dan bungkus makanan yang sangat lazim di Indonesia. Kenapa saya bilang budaya Indonesia? Karena hampir 5 tahun tinggal di negara orang, saya belum pernah liat orang lain minta bungkus makanan di restoran. Kalau saya sih prinsipnya ogah rugi, orang udah bayar ye kann.


Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel menarik ini yang menjelaskan tentang pedoman The Power of Five dalam budaya Jepang dan kaitannya dengan makanan. Secara singkat, pedoman tersebut antara lain:

  1. Five senses: makanan harus dapat dinikmati dengan lima indera (rasa, bau, lihat, sentuh, dan bau).
  2. Five colors: keberadaan lima warna (putih, hitam, merah, hijau dan kuning).
  3. The fifth taste: asin, manis, asam, pahit, dan umami.
  4. Five ways: mentah, dididihkan, digoreng, dikukus, dan dipanggang.
  5. Five attitudes: lima sikap dalam menerima makanan.

Mengikuti kaidah di atas dipercaya dapat meng-improve kesehatan dan kemampuan memasak kita, juga menambah kekayaan (rasa, tekstur) makanan. Meskipun banyak yang tidak mengetahui asal-usulnya, kaidah tersebut sudah tertanam sehingga terbawa ke dalam keseharian mereka secara natural.

Hal-hal di atas mungkin secara tidak sadar juga sudah diterapkan dalam keseharian kita ya, namun ada satu poin yang menarik di sana, five attitudes:

  • I reflect on the work that brings this food before me; let me see whence this food comes.
  • I reflect on my imperfections, on whether I am deserving of this offering of food.
  • Let me hold my mind free from preferences and greed.
  • I take this food as an effective medicine to keep my body in good health.
  • I accept this food so that I will fulfill my task of enlightenment.

Di dalam poin tersebut, mereka merefleksikan kerja yang dibutuhkan agar makanan tersebut sampai di piring mereka; kemudian merenungkan ketidaksempurnaan mereka, apakah mereka layak dengan hidangan tersebut; menjaga pikiran mereka dari keserakahan; dan memperlakukan makanan tersebut sebagai penjaga kesehatan agar dapat menjalankan aktivitas.

Intinya: menghargai makanan segitunya. *terharu*


Saya jadi teringat, di kantin kampus kemarin itu ada sebuah infografik menarik mengenai food waste yang menjelaskan perjalanan makanan sampai di piring kita. Menurut informasi yang saya baca saat itu, banyak sekali air, energi (listrik, bahan bakar fosil, dsb), serta daya manusia yang dikeluarkan agar makanan sampai tersaji di piring kita.

Tenaga petani yang berkebun dan beternak hewan; air yang digunakan untuk irigasi dan mengurus hewan; bensin yang digunakan untuk transportasi dan distribusi; energi listrik yang digunakan untuk mesin pendingin dan toko tempat kita berbelanja; tenaga para supir, pekerja pengemas makanan, penjual, sampai penyaji; dan masih banyak yang lainnya.

Dari sekian panjangnya proses mulai dari producing, processing, sampai retailing, tentunya ada saja bahan makanan yang terbuang, misalnya karena busuk. Yo mosok tega sih udah sekian banyak resource agar makanan sampai ke kita, eh di bagian consuming kita buang-buang juga makanannya.

global-food-waste-infographic-1-638

Menurut infografik di atas, konon setiap tahunnya di seluruh dunia 30% bahan pangan terbuang! Hal tersebut mengakibatkan 25% penggunaan air dunia dan 300 juta bahan bakar fosil menjadi sia-sia. Selain itu, makanan yang terbuang itu juga akan terdampar di landfill dan memproduksi greenhouse gas. Makin makin aja deh loss-nya.


Informasi-informasi yang saya dapatkan ini tentunya juga menjadi pengingat diri sendiri untuk selalu menghargai dan tidak membuang-buang makanan. Yuk yuk yuk mulai meal plan, belanja secukupnya, dan bungkus makanan sisa. Because the best food is the food that is eaten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s