Environmentally conscious living

Salah satu tontonan berfaedah di Netflix yang suka saya dan suami tonton adalah BBC Earth. Kalau menonton itu rasanya sangat kagum dan takjub, sekaligus sedih juga dengan kondisi bumi kita ini, apalagi setiap episode yang membahas tentang kehidupan di Arctic region. Karena kutub-kutub bumi merupakan area yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, maka dalam menghadapi pemanasan global yang kini sedang berlangsung, area tersebut memanas lebih cepat daripada bagian bumi yang lain. Mencairnya es di kutub pun akhirnya berdampak pada hewan-hewan yang tinggal di sana.

white polar bear on white snowy field near canal during daytime

Photo by Pixabay on Pexels.com

Salah satu episode tentang kehidupan beruang kutub menceritakan bahwa berkurangnya es di kutub menyulitkan mereka untuk mencari makanan. Tidak heran bila kini banyak kejadian di mana beruang kutub yang kelaparan berjalan ke area pemukiman untuk mencari makanan. :(

Saat ini informasi tentang kerusakan alam, entah berita mengenai pemanasan global, air pollution, plastic waste, dan lain-lain mudah sekali diperoleh ya, thanks to the internet. Kalau habis baca yang kayak gitu tuh suka wow banget dengan kelakuan manusia, termasuk saya sendiri. Terus jadi kepikiran, nanti bumi seperti apa ya yang akan dihuni oleh keturunan saya.

Kita tidak bisa hanya menyalahkan pembuat regulasi dan perusahaan besar terhadap kerusakan alam kalau diri sendiri tidak berubah, karena rakyat jelata seperti kita ini juga complete the puzzle of nature destruction. Tentunya, perubahan kecil, baik positif ataupun negatif, yang dilakukan banyak orang akan berefek besar juga.


Pas pulang ke Jakarta kemarin ini, rasanya senang sekali karena di berbagai tempat kesadaran lingkungan sudah lebih ditekankan, misalnya dengan tidak menyediakan sedotan plastik atau tidak memberikan kantong plastik secara cuma-cuma.

Hidup selama empat tahun di lingkungan kampus yang environmentally conscious (sadar/perhatian akan lingkungan), kami pun jadi terseret untuk melakukannya. Beberapa tahun belakangan, kami sudah mulai menerapkan beberapa hal untuk mengurangi sampah yang dapat disimpulkan dalam 3R – Reduce, Reuse, Recycle. Masih jauh dari eco-living yang hqq, tapi yang penting dicoba dulu, start small.

green-1968596_1920

REDUCE

Mengurangi penggunaan benda satu kali pakai

Hal ini diawali dengan keresahan kami dengan praktik supermarket di sini yang sangat lebay dalam hal penggunaan plastik. Setelah beberapa waktu, di rumah jadi banyak sekali plastik berisi plastik. Honestly, in every household that I’ve been, there is always a big plastic bag filled with plastics; folded into triangle because we are Asians. :))

Awalnya agak sulit karena seringnya udah di tengah jalan terus “oh no, lupa bawa tas belanja”. Tapi, sekarang saya selalu membawa satu tas belanja polyester (seperti Baggu bag) yang bisa dilipat kecil. Dan ketika belanja mingguan, kami akan membawa tas belanja besar (mirip-mirip IKEA Frakta) dan segala perkantongan yang ada di rumah, serta mesh bags untuk sayuran. FYI, mesh bags ini super berguna banget! Selain untuk sayur, saya juga menggunakannya sebagai kantong mainan anak-anak, laundry bag, toiletries bag ketika bepergian, dll dsb dst. Luv!

Jadi, apa kabar dengan plastik di rumah? Masih sisa satu dus lagi! Udah dipakai setiap hari jadi tempat sampah tapi kok ga habis-habis… T__T

Oh iya, selain sampah plastik, kami juga berusaha mengurangi sampah lainnya dengan membawa botol minum sendiri, menggunakan rechargeable batteries, dan washable breastpad (ketika sedang ASI ekslusif). Lebih hemat juga!

Mengurangi sampah makanan

Masalah kami selanjutnya adalah seringnya membeli bahan makanan tapi akhirnya tidak terpakai, lalu membusuk/basi. Hal ini kami siasati dengan membuat meal plan dan belanja secukupnya. Jangan beli ini itu just because ada diskon. Jadi misalnya minggu depan udah direncanakan untuk masak A, B, C, maka saya hanya akan membeli daging dan sayuran secukupnya. Bodo amat di-judge beli bawang bombay 1 butir doang.

Mengurangi penggunaan listrik dengan mematikan lampu ketika tidak digunakan

Sebenarnya ini hal yang umum. Tapi, karena di sini listrik ga bayar, kami jadi suka terlena. Namun, demi berlatih untuk kehidupan nyata kelak, saya mematikan lampu-lampu ketika tidak digunakan, misalnya di siang hari dan ketika tidur. Selain itu, hal ini jadi menginspirasi juga pokoknya kalau bikin rumah pencahayaannya harus bagus supaya siang-siang ga perlu nyalain lampu.

Mengurangi belanja baju dan produk fast fashion

Orang-orang sibuk dengan bahaya sampah plastik tapi sebenarnya ada juga hal lain yang sama bahayanya: produk garmen. Kalau baca-baca sih, polusi yang dihasilkan industri garmen itu terbesar kedua setelah oil. Selain itu, kain berbahan sintetik yang digunakan untuk membuat pakaian juga membutuhkan waktu yang sangat lama untuk hancur atau bahkan tidak biodegradable sama sekali. (Sumber)

Kalau pengurangan yang ini sih sebenarnya terjadi secara tidak langsung akibat: (1) hidup jauh dari pusat kota jadi malas belanja, (2) tidak ada fitting room di Saudi heuuu jadi makin malas belanja, dan (3) hidup yang nampaknya akan berpindah-pindah heuuu jadi makin makin malas belanja dan menambah beban hidup. Selain itu, akhirnya saya menyadari bahwa rasanya tidak butuh baju dan sepatu sebanyak itu karena biasanya yang digunakan juga itu-itu saja. Hahahaha. Akhirnya, sekarang setiap belanja saya cenderung memilih warna yang netral, bahan yang nyaman dan overlasting.

REUSE

Menggunakan ulang benda-benda yang tersedia di rumah

Misalnya dengan menggunakan dus bekas sepatu untuk tempat penyimpanan, plastik bekas untuk tempat sampah, baju bekas untuk didonasikan atau dijadikan lap, serta wadah bekas untuk menyimpan makanan dan printilan ini itu. Selain itu beli mobil second juga, kalau ini karena mobil baru is mihil. :))

FYI, washable breastpad yang saya gunakan selama ASI ekslusif ternyata enak juga buat pengganti kapas. Lumayan deh buat bersihin muka dan pakai toner. Irit kapas!

RECYCLE

Menyortir sampah

Satu hal mudah yang bisa saya lakukan adalah dengan menyortir dan membuang benda-benda recyclables seperti sampah organik, kardus, gelas, plastik, metal, baterai, dan lain-lain sesuai tempatnya. Kemudian, mari berdoa semoga recycling center do the rest of the work. :))


List di atas terlihat banyak, tapi setelah dijalani ternyata tidak seberapa ribet. Di luar hal-hal tersebut, masih banyak cara untuk menjalani environmentally conscious living, misalnya dengan mengurangi makan daging atau menghentikannya sama sekali, menggunakan cloth diaper, menggunakan sedotan SJW (oh Twitter, kenapa namanya jadi sedotan SJW sih :))), membeli sayuran dan daging lokal, menanam pohon, less travel, bike to wherever, sampai having fewer children. OK yang terakhir memang agak ekstrem, tapi manusia memang penyumbang carbon footprint terbesar sih. (Sumber)

Di luar hal tersebut, menurut saya yang paling penting DIJALANKAN, do your part, dan REUSE –gunakan benda-benda yang sudah tersedia di rumah– jangan hanya semangat beli tas belanja baru, beli tumbler baru, atau beli sedotan stainless steel baru terus akhirnya jarang dipakai. Kerap terjadi. :))

Oh iya, berikut ada dua artikel menarik yang bisa menjadi pertimbangan ketika kita mau membeli “environmentally-safe products”:

Baca: Metal straws and reusable bags may not be as eco-friendly as you think
Baca juga: Your cotton tote is pretty much the worst replacement for a plastic bag

Dua artikel di atas cukup bikin kaget dan maybe plastic isn’t that bad, masalahnya adalah sampahnya yang tidak terkelola dengan baik dan jadi masuk ke landfill atau hanyut ke perairan. :( Hal ini membuat saya jadi mengurungkan diri untuk membeli ini itu. Ada baiknya juga karena akhirnya saya jadi terpaksa pakai barang seadanya; polyester bag dari mertua, woven bag freebies dari conference, sedotan souvenir nikahan. Kamu conscious atau pelit? :))

Semua aktivitas yang kita lakukan, semua benda yang kita gunakan meninggalkan carbon footprint. Bila menjadi environmentally conscious ujungnya kita jadi beli ini beli itu, what’s the point? Mengutip kalimat dari salah satu artikel di atas:

There is no one item that is absolutely more sustainable than the other. Most items leave a carbon footprint and hamper our ecosystem in one way or another anyway.

Perhaps, it is not the materials we use that make us eco-friendly, but rather, it’s how we use them. It’s our sustainable behaviour that counts and not how many environmentally-safe products we own.

Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s