(never) settle

Bukan, bukan mau promosi handphone.

Jadi, tidak lama setelah menikah dan memahami the nature of profesi suami saat ini, saya menyadari bahwa hidup yang tidak menetap adalah part of early researcher life.

Awalnya tentu saya sangat excited (and I still do) dengan pengalaman hidup di belahan dunia yang lain. Saya dapat membayangkan hidup beberapa waktu di A, kemudian beberapa waktu di B. “Aku akan terus mendukung dan mengikuti ke manapun kamu pergi (and I still really really do). Let’s strive for the best and never settle!”

never_settle

Ini mah wallpaper hape itu. Source: zedge.net

Sampai saat ini, saya tidak terlalu attached dengan suatu kota. I am not sure if it’s good or not. Saya cinta Jakarta (dan Bekasi), tapi bila harus tidak tinggal di sana ya tidak mengapa.

Sedihnya, kini istilah rumah bagi saya pun rasanya rancu. Ketika pulang, rumah itu kurang terasa “rumah”. Agak asing, agak kikuk, saya tidak tau apa adanya di mana, saya tidak familiar dengan rutinitas harian orang rumah, saya segan untuk semena-mena, dan saya tidak tau password Wi-Fi-nya. Rasanya jadi seperti tempat berlibur saja. Namun begitu, bangunan di Thuwal yang saya anggap rumah juga terasa kurang karena saya tau ini bukan milik kami dan di sini kami hanya sementara. Jadi di mana rumah? Yang pasti rumah adalah tempat ternyaman, di mana saya, suami, dan anak bisa bersama. Cie.


Saya dulu berpikir bahwa hidup berpindah-pindah itu menyenangkan. Apa repotnya? Saya aja pindah ke Thuwal hanya dengan satu koper baju dan satu koper makanan.

Tapi ternyata pikiran tersebut berubah setelah negara api menyerang punya anak.

Setiap berdoa, saya selalu memohon agar segala urusan suami dipermudah, selalu sehat dan bahagia, pekerjaannya bagus, lingkungannya bagus dan rekan-rekannya baik. Untuk anak juga supaya dia selalu sehat, pintar, sholeh, bahagia, dan tumbuh kembangnya juga bagus. Untuk saya sendiri? Seringkali lupa, dan tidak terpikir (lalu biasanya setelah umroh baru sadar dan berpikir apa yang harusnya saya doakan dari diri saya. Lalu berulang lagi di umroh berikutnya. -___-). Yo wis, pokoknya I am happy, if they are well and happy.

Begitu pun juga dengan ide untuk tinggal di tempat baru. Kekhawatiran saya berputar di suami (not really sih, kan kamu sudah dewasa hahaha) dan anak. Anak sih yang pasti! Will he enjoy the new place and weather? Nanti gimana ya kalau dia merasa berbeda sendiri di lingkungannya? Gimana ya kalau dia udah nyaman terus kita harus pindah lagi? Di tempat tujuan, pendidikannya oke ga ya? Lingkungannya kids and family friendly ga ya? Aman ga ya? Ga diskriminatif kan ya?

Oh jiwa emak emak.

Di titik ini, aku cuma bisa ketawain aku yang dulu aja. Apa tuh never settle never settle hahaha. Let’s settling down and living a secure, stable life, shall we? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s