Bersih pangkal bahagia

Salah satu aktivitas “aneh” yang akhir-akhir ini sangat saya nikmati adalah bersih-bersih rumah. Sebagian orang mungkin tidak menyukainya karena ini seperti momok, tapi nampaknya bagi saya it’s in the blood.

tray on coffee table

Bukan rumah saya. Photo by Milly Eaton on Pexels.com

Dulu, ibu saya membersihkan rumah dua kali sehari. Iya, dua kali! Pagi dan sore. Capek banget dengernya kan, apalagi ngerjainnya. Saya dan adik seringkali jadi “korban” karena tugas di rumah dibagi-bagi. Hahaha. Dari semua chores yang ada, saya paling senang mengepel. Tapi, saya paling sebel kalau hasil sapuan orang sebelumnya ga bersih. Sapuan saya bersih banget sampai ke sudut-sudut, tapi saya ga mau nyapu soalnya bikin bersin-bersin dan asma saya kumat. (Banyak mau lo!)

Nah, tidak cukup dengan itu, occasionally ibu saya berinisiatif tinggi untuk mencuci lantai. Iya, dicuci pakai sabun. Jadi seluruh lantai rumah disikat pakai sabun, lalu dibilas, lalu dipel. Dulu iya iya aja, tapi setelah dewasa saya bertanya-tanya: WHY? Kurang bersih apa lantai yang sehari dibersihkan pagi sore?


Selagi kuliah, membersihkan kamar adalah pelarian saya dari belajar dan tugas kuliah. Banyak peer? Bersihin kamar aja. Besok ujian? Bersihin kamar aja. Stress? Bersihin kamar aja! Nampaknya, beberes memang memiliki therapeutic effect buat saya. (Atau emang alasan aja buat kabur dari kenyataan haha)

Ketika sudah menikah, herannya saya malah slacking off. Mungkin karena memiliki pasangan yang cuek dan standar kebersihannya berbeda dengan saya. Toleransi dia terhadap kekotoran tuh luar biasa, sesuatu banget, bikin geleng-geleng. Hari pertama saya datang ke Saudi, apartemen suami belum pernah dibersihkan sama sekali semenjak dia tempati aka. dua bulan lamanya. Akhirnya dua hari pertama pindah, saya sibuk beberes dan membuat rumah tersebut layak huni. :))

Setelah itu, kami berdua sibuk bekerja sehingga otomatis rumah jarang berantakan. Saya pun akhirnya hanya membersihkan rumah seminggu atau dua minggu sekali.

Namun, dunia pun berubah ketika negara api menyerang kami memiliki anak.

Katanya kalau sudah punya anak, turunkan standar ideal rumahnya. Tapi…, kayaknya rumah kami yang harus dinaikkan standarnya agar layak huni 24/7 oleh anak bayi. Hahahaha

Selain itu, ketika baby blues, saya parnoan banget. Selain ga bisa tidur malam karena menyusui entah berapa kali dalam semalam, sebentar-sebentar terbangun untuk liatin perut anak napas atau ga (iya, se-takut itu gw sama SIDS!), saya juga ga bisa tidur malam karena sibuk bebersih rumah. Iya, abis nyusuin jam 2 malam, terus gw malah bebersih donggg. Dipikir-pikir sekarang kan ngapain juga, mendingan molor!

Sesungguhnya semua itu saya lakukan karena takut anak pilek, takut dia alergi debu, takut dia ternyata punya asma juga kayak emaknya. Setelah bocil bisa merangkak, saya lebih takut lagi karena dia: (1) uget-uget di lantai (yang rentan kotor), dan (2) masukin segala benda yang ada di lantai ke mulut. -_-


Pas awal-awal, bersihin rumah secara rutin itu emang berat dan malesin banget. Tapi ternyata setelah dikerjain, ya ternyata not so bad. Malah, karena rajin dibersihkan, kotornya jadi ga parah, dan kerjaan besoknya jadi lebih ringan. Supaya terstruktur dan sistematis (dan masif :))), saya pun bikin cleaning routine (evening/morning) dan cleaning schedule.

Cleaning schedule: seminggu 2-3 kali; cuma mau bebersih di hari Minggu/Selasa/Kamis karena weekend adalah waktunya bersantai (fyi, weekend di Saudi adalah Jumat dan Sabtu).

Cleaning routine:

  1. Evening (daily): merapikan mainan dan buku anak, membersihkan meja makan, menyalakan vacuum robot.
  2. Morning: mencuci piring (daily); mem-vacuum kamar dan mengepel rumah (on scheduled day).
  3. Periodically: membersihkan kompor (biasanya seminggu sekali), mencuci kamar mandi (x-minggu sekali; paling benci dan malesin).

Dengan bikin jadwal seperti ini, saya jadi lebih disiplin sih. Waktu yang dihabiskan untuk bersih-bersih pun surprisingly jadi lebih singkat.

Oh iya, kenapa saya lakukan evening cleaning setiap hari? Karena, rasanya enaaak bangeeettt bangun pagi dengan rumah yang bersih dan rapi. Mood rasanya super bagus dan positif, saya pun siap menantang dunia! :))

Kebayang ga sih kalau bangun pagi pemandangannya kayak gini:

20190503_144850

Bentuk kekacauan sehari-hari. Plus remah-remah makanan dan tumpahan entah apa yang lengket-lengket iyuuhh.

Saya sih belum apa-apa udah mumet dan pusing. Plus sakit dan kesel karena nginjek Lego yang berhamburan.

Oh iya, saya bisa melakukan ini setiap hari juga karena dibantu vacuum robot yang bersih-bersih ketika kami tidur malam. FYI, vacuum robot ini adalah hadiah lahiran dari suami. Sebenernya saya minta ART, tapi kondisi ga memungkinkan. Hahahaha. Untungnya, saat ini produsen vacuum robot udah banyak banget, jadi ga usah bergantung dengan Roomba yang harganya selangit. Robot saya, iLife V7, harganya jauh lebih murah dari Roomba, tapi tentunya agak lebih bodoh juga; ga bisa vacuum carpeted area (untungnya di rumah udah ga pake karpet sih, takut alergi), ga bisa diprogram untuk membersihkan area tertentu, apps-nya sangat basic, dan pergerakannya suka-suka dia. But, it gets the job done, so I’m okay with it!

Setelah hampir setahun menjalani rutinitas bebersih ini, saya merasa lebih bahagia sih. Jadi, selain pangkal kesehatan, bagi saya kebersihan juga pangkal kebahagiaan! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s