Krisis kepercayaan diri

Pagi ini sambil sarapan, saya berpikir untuk membeli makan malam hari ini dan besok; visioner sekali bukan! Karena suami sedang pergi conference, sungguh mood memasak terjun bebas ke jurang terdalam. And when in doubt, Subway it is!

Outlet Subway terletak di dekat ex-kantor saya. Jujur saja, setelah enam bulan menganggur, rasanya masih ga bisa move on setiap lewat gedung tersebut. Kangen kesibukan bekerja, kangen teman-teman di kantor, dan kangen dengan segala informasi (dan gosip!) yang dengan mudah diperoleh ketika bekerja. Sayang, kebijakan kampus tidak memungkinkan lagi untuk student’s spouses bekerja.

Di tengah kebaperan tersebut, saya menghubungi seorang teman kantor dan akhirnya kita bertemu di Coffee Bean.


How are you?

Pertanyaan yang paling mudah tetapi juga paling sulit dijawab.

It is just a normal greetings to people that you know. But to a certain people, they do really care how you are doing.

Teman kantor yang satu ini usianya terpaut dua puluh tahun dengan saya; sudah seperti ibu sendiri di lingkungan kerja, tempat curhat, ngobrol penting sampai ngobrol yang ga penting. Ketika menanyakan hal tersebut, dia concern dengan self-esteem saya hahaha. Dia merasa kondisi saya sekarang ga-saya-banget. “Kamu kan bukan tipe tipe IRT yang betah di rumah gitu”. Hahaha iya banget sih.

Terkadang saya merasa lelah walaupun tidak melakukan apa-apa. Dua puluh empat jam dengan baju rumah atau piyama itu memang ga sehat. Rasanya kurang bersemangat, dan tidak merasa cantik!

(((MERASA CANTIK)))

Mau dandan dan pakai baju bagus di rumah ya bisa aja, tapi rempong juga bersihin rumah dan masak pakai baju bagus. Make-up-an juga cuma nambah kerjaan buat bersihinnya nanti. Oh, sungguh first world problem sekali.


Beberapa minggu yang lalu saya membaca postingan Instagram salah satu blogger yang saya ikuti. Post-nya mengenai selfie dan kepercayaan diri dia yang mulai kembali.

Post tersebut hanya lewat beberapa detik, tapi membuat saya berpikir lama sekali. Kapan ya saya terakhir selfie?

Bila tidak digunakan untuk streaming sesuatu, televisi di rumah sehari-hari hanya memutarkan slideshow foto-foto. Kebanyakan fotonya berasal dari jalan-jalan saya dan suami selama ini. Terkadang sambil lewat saya berpikir “waw wajah saya tahun xxxx mulus dan terawat sekali ya”, “wah itu kan foto saya pas di xyz”, “ha yang ini foto bareng suami pas lanjalan ke abc”, etc etc. Lama kelamaan saya sadari bahwa semakin ke sini, selfie saya semakin tidak ada, bahkan rasanya sangat malas untuk difoto.

Sebelumnya, setiap ada occasion tertentu, saya suka mengajak suami untuk foto bersama. Di lab, di restoran, di acara wisudaan, saat jalan-jalan. Sekarang, mau difotoin sama suami aja ogah. Kadar kepercayaan dirinya low banget, hanya tersisa untuk keluar rumah dan bertemu manusia lain. Huhuhu

Sebenarnya dari dulu juga ga biasa selfie untuk di-post ke sosial media sih, tapi sekarang lihat muka sendiri aja males. Huh kusam, kucel, jelek. Apakah ini pengaruh hormon pasca melahirkan? Apakah ini krisis menjelang kepala tiga?

Terkesan sangat cetek tapi mungkin kebangkitan rasa percaya diri saya nantinya ditandai dengan mulai kembalinya wajah saya di album foto jalan-jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s