Tentang perbedaan bahasa

Tinggal di compound universitas yang dihuni lebih dari 100 warga negara, saya jadi sering kali mendengar bahasa-bahasa yang sangat asing di telinga. Saking seringnya, kebanyakan akhirnya terdengar sebagai noise belaka.

Minggu lalu sepulang dari makan siang di kampus, saya dan ibu mertua terkekeh mendengar seseorang yang sedang mengobrol dengan keras melalui telepon genggam. Kalau kata suami, kadang mereka terdengar lucu, kayak the Sims.

Saya pun jadi bertanya-tanya, bagaimana ya asal mula manusia jadi berbicara banyak bahasa? Satu bahasa dan bahasa lainnya bisa terdengar completely different. Aksaranya pun bahkan berbedza.

Kan kita sama-sama berasal dari Adam dan Hawa, yang saya rasa pastinya berbicara satu bahasa. Kemudian seiring bertambahnya populasi, manusia menyebar ke mana-mana, terus tetiba yang satu berbicara bahasa Inggris, yang satu berbicara bahasa Arab, dan yang lain bahasa Mandarin gitu? Hmm…, sungguh menarik.

Akhir pekan ini dalam rangka road trip to explore northern part of Saudi Arabia (sambil berharap liat salju!), kami sekeluarga singgah di Madinah selama dua hari. Pagi tadi, saya dan ibu mertua memutuskan untuk ke area Raudhah di Mesjid Nabawi setelah sholat subuh sementara baby dan suami menunggu di hotel.

Situasinya? Kacawww hahahaha.

Di tengah kekacauan itu, saya berpikir ini nampaknya sebagian karena kendala bahasa; sebagiannya lagi karena orang-orang emang ga bisa banget diatur. Duh gemes!

Di depan antrian, mbak-mbak petugas ber-abaya dan berhijab hitam sibuk berteriak untuk mengatur jamaah; yang sayangnya, kebanyakan ga ngerti dia ngomong apa. Mungkin sebaiknya sudah disiapkan papan instruksi dengan berbagai macam bahasa ya untuk mengakomodasi jamaah dari berbagai negara.

Salut sih dengan mbak-mbak yang sangat berdedikasi itu. Mungkin kalau setiap hari sepanjang tahun disuruh bertugas seperti itu, bisa-bisa tekanan darah saya meninggi. :|

Perjalanan ke Raudhah untuk jamaah perempuan memang sudah terkenal chaos-nya. Dihimpit, didorong, terinjak; you name it. Heran juga sih dengan keganasan orang-orang untuk mencapai goal-nya dalam beribadah.

Di tengah kericuhan itu, saya yang literally udah ga napak tanah, diteriaki oleh ibu-ibu Asia Selatan. Balasan saya: ya ketawa lah orang ga ngerti! Lagian juga saya bisa di posisi tersebut karena terbawa arus. :))

Sebenarnya, kalau mau bales juga ya bisa, tapi ngapain buang tenaga toh dia juga ga bakal ngerti. Lagian di tempat seperti itu, nampaknya sangat tidak berfaedah ya kalau kita malah marah-marah. Lebih baik fokus berdoa dan menularkan senyum serta aura positif (walaupun gagal total karena kalah orang hahahah).

Saat itu, saya jadi bersyukur manusia memiliki bahasa yang berbeda-beda. Kalau saja kami satu bahasa, tentu yang ada kondisi semakin memanas karena orang-orang akan membalas teriakan satu sama lain. Eh, atau malah adem ayem karena semua orang saling mengerti ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s