Alasan punya anak?

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman di Instagram membuka pertanyaan yang kira-kira begini: apa alasan kamu punya anak (atau nambah anak)?

Harusnya gampang dong yaaa jawabnya, kan sendirinya udah punya. Eh ternyata rada ngahuleng juga pas mau ngetik jawabannya. Hahahahaha

Hmm hmm hmm apa ya?

Menurut saya, anak itu adalah amanah yang luar biasa berat. Membesarkan anak tidak semudah memelihara kucing yang dikasih makan asal hidup. Ya, bukan asal hidup aja. Dia kan individu sendiri, maka itu ketika diberikan tanggung jawab ini, kami harus siap memberikan dia kehidupan yang layak, pendidikan yang baik, dan kasih sayang yang melimpah.

Selain itu, kami juga harus siap untuk membekali dia untuk hidupnya di masa depan nanti. Dalam beberapa tahun, anak akan menjadi bagian dari masyarakat dan kami berkewajiban untuk memastikan agar ia tumbuh menjadi individu yang beradab dan berperilaku baik.

Ini semacam ujian seumur hidup, yang hasilnya kita lihat nanti kelak dia menjadi seperti apa.

Dari dulu maternal instinct saya memang tidak kuat, ga pernah suka anak kecil selain anak sendiri. Maka dari itu, saya tidak ngotot pengen banget; ga diusahakan, tapi kalau diberi ya alhamdulillah.

Tekanan pergaulan di mana teman-teman seumuran udah pada punya momongan dan orang tua yang segera minta cucu juga tidak serta merta membuat saya berambisi untuk punya anak.

Ya terus kenapaaa kalau orang-orang udah pada punya anak. Memangnya ini lomba? Hahaha. Yang bertanya dan mendesak tidak ikut merasakan hamilnya, mualnya, melahirkannya, begadangnya, beliin popoknya, dan bayarin uang sekolahnya kan.

Indahnya kedewasaan adalah ketika saya sudah tidak terlalu memikirkan apa kata orang. Ini juga salah satu perks of living abroad sih; ga ada kerabat yang kerjaannya nanya kapan kapan terus.

Jadi ingat sebelum pindah ke Saudi, saya ditanya saudara, udah isi belum. Ya kali kannn siapa yang ngisi cobaaa, orang lagi long distance sama suami. Lagian juga baru aja nikah. Isi ketoprak yang ada. -___-

Setelah punya anak, saya jadi less judgemental dengan pilihan orang perihal memiliki anak. Saya ngerasa membesarkan anak is not for everyone kok, sama kayak menikah, PhD, wirausaha, bermusik, dan lain-lain; ga semua orang harus menjalani hal yang sama.

Jadi apa jawaban saya ketika itu?

Menambah tantangan hidup.

Karena emang iya, hidupku yang tenang, bebas, dan damai seketika berasa seperti rollercoaster. Hahaha

Dan jawaban suami? Tiba-tiba aja jadi. Hahahahahaha

Jadi, apa alasan kalian untuk memiliki atau menambah anak? :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s