Ingin menikah lagi

Bukan, bukan the marriage.

Saya super duper bahagia dengan kehidupan saya sekarang. Suami baik hati, satu prinsip, pengertian. Anak sehat, lucu. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Tapi, the wedding

Pagi ini saya dikejutkan (ga terkejut juga sih, biasa aja) dengan pernikahan Suhay Salim yang super sederhana. Datang ke KUA, nikah, sah! Pakai celana jeans pula. Top banget lah panutanQ! #antirempongrempongclub

Selama hampir empat tahun menikah, hal yang paling saya sayangkan adalah resepsi pernikahan sendiri. Rasanya ingiiin sekali mengulang hal tersebut. Tapi ya ga mungkin kan, ngapain juga buang buang duit lagi hahah. Akhirnya cukup jadi pelajaran bahwa ternyata memang susah menolak adat dan keinginan orang tua.

Sebagai anak yang bukan berasal dari keluarga crazy rich, saya merasa sayang dengan ide buang-buang banyak uang untuk acara satu hari. Bukankah biaya yang dikeluarkan lebih baik untuk kehidupan pernikahan sesungguhnya? Misalnya untuk modal membangun keluarga baru, beli/nyicil/DP rumah, atau honeymoon keliling dunia.

Tapi ternyata kultur dan kebiasaan kita berkata lain.

Sempat saya ber-ide gila untuk menikah sangat sederhana dan mengadakannya dalam dua minggu, yang tentu ditentang oleh orang tua.

“Apa kata orang nanti?”

“Menikah kan harus mengabari orang-orang.”

“Ibu gamau anak ibu disangka MBA.” (until now, this is the most wth reason ever!)

“Menikah itu kan bukan acara kamu, tapi acara orang tua.” (at this point, I wished I fully paid for the wedding myself; duit gw suka-suka gw)

Dan sebagai anak muda yang patuh, tentu saya menurut saja (dengan hati mengkal). Saya pun menyerahkan segala tetek-bengek pernikahan ke orang tua. Bye bye bridezilla bridezilla-an.

Kebiasaan mengundang jutaan kerabat itu bagus untuk silaturahim, tapi tidak perlu dipaksakan kan kalau tidak ada dananya. (apalagi kalau akhirnya akan berefek panjang pada keuangan keluarga)

Mungkin poin positif dengan menikah di usia matang adalah supaya kita bisa lebih berpikir lebih jernih, lebih keras kepala, dan lebih ga peduli sama omongan orang. Kalau kejadiannya sekarang, mungkin saya akan ngotot. Hahahaha anak macam apa.

Suatu hari, beratus hari setelah hari bahagia itu, ibu mengkonfrontasi saya yang masih dongkol dengan kejadian tersebut, bilang bahwa saya mendendam dan tidak bisa memaafkan keadaan. Saya harusnya bersyukur dengan pernikahan yang bahagia ini.

Saya diam saja, walau dalam hati merasa jengkel. Yes, my marriage is a bliss, but the wedding wasn’t.

Tidak berapa lama, seorang teman di Instagram membagikan sesuatu di story-nya. Bahwasanya ada tiga kunci menuju kesehatan mental, yaitu:

  1. Memaafkan diri sendiri, orang lain, dan keadaan.
  2. Menerima diri sendiri, keadaan, dan segala masa lalu yang kurang mengenakkan. Terimalah sebagai takdir dan qadarullah.
  3. Ikhlas melepaskan segala beban emosi dan segala bekas trauma yang terukir. Ikhlas dengan ujian tersebut. Lepaskan semua perasaan ga enak, let go and move on.

JLEB.

Jangan-jangan selama ini mental saya kurang waras.

Maaf ya, Ibu. Sudah saatnya saya memaafkan, menerima, dan mengikhlaskan kejadian itu. Toh kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan mengubahnya.

Akhirnya memang yang bisa menenangkan adalah: qadarullah, itu bukan rejeki saya.

2 comments

  1. Cikarang8 · December 3

    Hajatan adalah ajang silaturahmi mba.. dan ada benarnya juga hajatan bukan acara kamu, tapi acara keluarga, orang tua.
    Bahkan sekarng jika nikah diam-diam efeknya ada orang yang ngomong dibelakang tentang MBA title. You know lah, ga semua hati orang itu baik.
    http://www.cikarang8.wordpress.com

    Like

    • annisa · December 3

      Setuju banget kalau itu adalah ajang silaturahim. Tapi menurut saya ga harus maksa sampai berhutang demi mengundang seribu orang.

      Saya tidak menyarankan untuk menikah diam-diam, kan bisa tetap mengabari kerabat tanpa harus berpesta. Mengenai title MBA, terserah sih orang mau bilang apa, kan yang tau kita sendiri. Mau nikah diam-diam atau heboh-heboh, pasti ada aja komen yang ga penting sih.

      Liked by 1 person

Leave a Reply to Cikarang8 Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s