My thoughts are with the world

Drawings by Garbi KW

Dua minggu kemarin, saya mengikuti postingan Humans of New York (HONY) edisi Rwanda di Instagram. Di seri kali ini, Brandon mewawancarai korban-korban genosida terhadap etnis Tutsi di Rwanda yang terjadi pada tahun 1994. Peristiwanya sendiri “hanya” berlangsung selama 100 hari, namun korban jiwanya mencapai satu juta orang! Huhuhu sedih banget banget banget ga kuat bacanya, rasanya gila gila gila manusia kok bisa sekejam itu sih. And when I thought I’ve read the worst, the next story are even more gruesome. It’s shocking how humans can completely lost their humanity. At that point, are they still considered as humans?

Dibilang manusia, kelakuannya binatang. Dibilang binatang, terlalu mulia. Ada ga sih binatang yang membasmi sesamanya?

Kemudian saya berpikir, di setiap jaman ada aja ya yang namanya genosida. Sekarang saja (sudah abad 21 loh, jaman udah canggih!), hal bar-bar seperti ini masih terjadi di Palestina, Myanmar, Yemen, dan Xinjiang, China. Emangnya hidup di dunia harus gini banget ya? Ga bisa banget ya hidup damai tenteram berdampingan gitu.

BTW, kata-kata Pak Bambang ini maknanya jadi dalam sekali:

Setiap membaca berita semacam itu saya menyadari bahwa salah satu hal yang paling taken for granted adalah keamanan dan kebebasan. Bersyukur banget ya Allah saat ini kami masih dikaruniai hidup aman nyaman tenteram tanpa rasa was-was, tanpa dihantui bunyi senjata dan misil, tanpa pikiran “apa masih hidup ya satu detik ke depan”, tanpa perasaan “mendingan gw mati aja deh”. Padahal mah ya safety and freedom are not privileges, those are human rights!

Hal lain yang saya pikirkan jika membaca berita semacam itu adalah kondisi bangsa sendiri. Indonesia bukan negara yang suci dari pembantaian, dari masa ke masa ada aja peristiwa horor. Mungkin yang terkini, yang terjadi di masa saya hidup adalah kerusuhan tahun 1998. Not exactly a genocide, but a mass violence yang menargetkan etnis Cina. Ingat sekali saat itu tetangga, teman dekat saya, sering digedor pintu rumahnya karena berwajah oriental (padahal orang Lampung), sampai-sampai harus membuat spanduk “asli pribumi” di gerbang rumahnya. Sedih. Jangan tanya apa yang terjadi pada etnis Cina di luar sana. :(

Dua puluh tahun berlalu, ternyata ya Indonesia masih gitu gitu aja. Bhinneka Tunggal Ika sebatas kalimat di buku PPKN doang. Semakin ke sini sedikit sedikit bawa isu SARA. Kenapa sih yang mayoritas suka pada ga santai banget? Hal ini nih yang bikin saya merasa postingan HONY relatable banget. Di Rwanda, Hutu dan Tutsi juga sebelumnya hidup berdampingan sebagai tetangga, teman, kerabat. Tapi karena adanya pemicu, peristiwa kelam pun terjadi. Keyword: mayoritas, ekstrimis.

Takut banget banget banget hal serupa terjadi di Indonesia. Ya Allah, semoga keluarga dan keturunan kami selalu dikaruniai kehidupan yang aman tenteram. Let’s pray for the world peace and for humanity.

One comment

  1. mysukmana · November 4, 2018

    Manusia itu kadang serakah..sedih..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s