Mengapa menitipkan anak ke daycare?

Halo!

Ah senangnya ada waktu buat update-update blog lagi. Pagi hari adalah saatnya sedikit bersantai! Walaupun sudah tidak bekerja, saya tetap mendaftarkan anak ke daycare selama setengah hari supaya saya ada me-time. :D

gray swing

Photo by Pixabay on Pexels.com

Di compound tempat suami bersekolah ada daycare untuk anak mulai usia 2 bulan sampai dengan 3 tahun. Altair sendiri masuk daycare sejak usia 3 bulan ketika cuti hamil saya habis.

Awal-awal masuk daycare

jujur saja sebagai emak, saya galavv. Pertama, karena bongi tidak bisa minum dari botol. Yang kedua, karena saya takut dia tidak betah dan menangis. Alhamdulillah ternyata kekhawatiran saya tidak sepenuhnya terjadi. Bongi sangat betah di daycare, tidak menangis-nangis dan selalu ceria (yaiyalah digendongin dinyanyiin seharian). Sampai sekarang (6.5 bulan) sebenarnya dia memang masih tidak bisa minum dari botol (why oh why, kiddo?! -__-), tapi gurunya selalu mengusahakan supaya ASIP-nya diminum, either di sendokin atau dipencetin dotnya. :”)

Sejauh ini, saya merasa daycare adalah pilihan terbaik dalam pengurusan Altair. Karena tenaga kerjanya profesional dan tersertifikasi, tentunya mereka tau apa yang mereka lakukan. Walaupun untuk infant kegiatan di daycare mostly tidur dan mimi susu, tapi ketika anak terbangun, mereka aktif memberikan stimulasi untuk anak, misalnya dengan mengajak ngobrol, bernyanyi, mainan di matras, dan sebagainya. Saya pun jadi tenang menitipkan anak di sana.

Berikut beberapa alasan saya memilih daycare:

  1. Tidak ada ART di rumah
    Sebenarnya ya kalau saya unemployed dan di rumah ada ART (plus ada Go-Food!), saya tidak merasa memerlukan daycare (yup, semanja itu, judge me all you want!). Rumah bersih, makanan siap, dan saya bisa seharian bermain bersama bongi, which is nice.

    Kalau case-nya saya bekerja, tentu saja saya lebih memilih daycare daripada menitipkan anak ke ART atau nanny.

  2. Jadwal menjadi teratur
    Selama di daycare, jadwal tidur dan menyusu bongi sungguh teratur. Hebatnya, dia pun bisa tidur di crib dalam waktu yang lama.

    Hal tersebut sangat berbeda ketika dia seharian di rumah: menyusu tidak kenal waktu, tidak mau tidur, tidak mau tidur di crib, tidur hanya sekejap, tidur maunya sambil digendong. -___-

  3. Makannya pinterrr
    Saat ini bongi sudah sebulan mulai MPASI. Di daycare, makannya pinter banget! Mungkin karena sambil dinyanyiin dan makan bersama teman-teman bayi yang lain.

    Kalau di rumah, waaa apa itu makan? Hahaha. Biasanya dilepeh dan lama-lama nangis. Padahal menunya sama, mamak pun sudah heboh nyanyi-nyanyi. Saat ini saya sudah sampai titik baiklah kalau makannya tidak habis, pada saatnya juga dia akan suka makan.

  4. Yang paling penting: waktu bersama anak jadi lebih berkualitas!
    Ketika bongi stay di rumah (misalnya saat liburan), biasanya saya tidak bisa mengerjakan apa-apa karena dia hanya mau digendong sama saya. Mau sambi pekerjaan rumah pun tidak bisa, yang ada bongi rewel. Saya capek, jadi emosi, rumah kotor, perut lapar, mood jadi ga oke, terus ASI seret.

    Tapi, ketika dia di daycare, selama 4 jam sendiri di rumah saya bisa menyelesaikan hampir semua pekerjaan rumah. Ketika bongi pulang, mood saya masih bagus, energi saya masih full dan waktu saya bisa sepenuhnya untuk bongi. Quality over quantity!

Yup, sekian dulu postingan tentang mengapa saya memilih menitipkan anak ke daycare (akan ditambah kalau saya ingat alasan-alasan lain, perasaan kemarin ini banyak). Cheers!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s