Lahir dan belajar

Konon saat seorang bayi terlahir, maka lahir pula orang tua.
Ketika mereka belajar, orang tua belajar lebih banyak.

Tepat empat bulan dua hari yang lalu kami diberikan kepercayaan untuk merawat dan membesarkan seorang anak lelaki. Ga ada tanggung jawab yang lebih besar daripada ini! Ga pernah terbayang sebelumnya bahwa hidup kami akan berubah. Bukan perubahan yang sementara, tapi selamanya semenjak detik kelahiran itu. Tidak ada lagi gaya hidup yang asal-asalan, jadwal harian yang tak beraturan, jalan sampai malam, weekend malas-malasan.

Despite what people said, alhamdulillah kehamilan dan proses melahirkan saya cukup mudah. Anak kami pun sehat walafiat alhamdulillah. Mual-mual parah di empat bulan pertama (plus turun berat badan 5 kg, yeay!) memang ada, tapi alhamdulillah masih kuat bolak balik JED-CGK-JED dua kali. Proses melahirkannya sendiri tidak spektakuler. Tidak bukaan.moment worthy karena hasil fotonya pasti membosankan. Hahaha…

Saya melahirkan di Jeddah. Pagi hari tanggal 1 Maret, sehari sebelum due date, saya ke obgyn karena ada flek. Dan ow ow ternyata sudah bukaan dua! Dokter pun menyarankan kami untuk ke RS di Jeddah.

Siang hari dengan hospital bag dan beragam cemilan, kami pun bergerak 100km ke Jeddah. Pelayanan RS di Jeddah was not as I expected. Dokternya judes dan kasar haha. Begitu dia cek bukaan, langsung pecah ketuban dong. Jadilah saya mesti stay di bed dan ga boleh jalan-jalan. Konon kan banyak jalan memperlancar proses lahiran ya buibu. Anehnya lagi, saya ga boleh makan minum, padahal udah sangat lapar.

Di ruang sebelah dan sebelahnya lagi, saya dengar wanita setempat berteriak-teriak. Horror! Intimidating! Ditambah lagi dengan suasana rumah sakitnya yang suram. Dokter menawarkan epidural tapi saya menolak (karena emang belum merasa sakit, haha songong), sampai akhirnya saya menyerah setelah bukaan tujuh, tapi kata dokter terlambat, offer has been expired LOL. Akhirnya saya diberi sedative, dan tentu saja bikin ngantuk.

Tengah malam dan hari sudah berganti, sesekali saya menggertakkan gigi menahan rasa sakit. Ketika dokter lewat, saya dimarahin karena ketiduran. Don’t sleep! You should be delivering soon! Yaelah santai aja kali mbak.

Akhirnya show timeee! Saya melahirkan sambil setengah tidur. Zzz. Baru fully awake pas di kamar dan bayinya sudah bersih dan wangi. :))

Hari-hari setelah lahiran sungguh s e s u a t u. I kept thinking, Annisa yang normal sih ga mungkin survive nih menjalani hari-hari seperti ini. Perubahan hormon, kurang tidur, kurang makan, sakit jahitan, lelah, adjusting to a new life; it’s just too much!

Sungguh, selama 29 tahun hidup ini, tidak ada yang pernah mengajarkan bagaimana caranya menjadi orang tua. Selama ini yang saya tau, hamil itu susah, melahirkan itu susah. That’s all! Ternyata semua itu ga ada apa-apanya dibandingkan dengan hari-hari pasca melahirkan. Hal ini sungguh jadi pertimbangan saya untuk punya anak satu saja. :))

Sebagai orang tua baru, pikiran saya rasanya fuzzy, dikit-dikit panikan, dikit-dikit nangis. Ditambah komen komen: “kok nyusuin doang susah banget sih”, “kok air susunya dikit sih”, “bayinya nangis terus tuh, laper kali”. Ya ya ya, I don’t need more negativity in my life. Wong ga perlu trigger aja udah nangis sendiri.

Kadang saya nangis karena saya merasa bukan diri saya sendiri. Gampang marah, ga sabaran. Tambah sedih dan sangat merasa bersalah kalau ga sengaja marah ke bayi. Dan super super marah kalau bapake yang ga sabaran sama bayi. Rasanya kayak, “wey gw yang brojolin, baru gitu aja udah ga sabar, berani apa lo marah-marah sama anak gw?!” Hahaha

Seiring berjalannya waktu, saya tanamkan pikiran bahwa kami dan bayi sama-sama belajar. Kami belajar mengerti, belajar sabar, belajar jadi orang tua, dan belajar untuk mengasuh dan mendidik. Sedangkan anak bayi belajar untuk berkomunikasi (yang sadly ya dengan cara menangis), serta belajar basic survival things — minum, mencerna makanan, tidur.

Dari empat bulan melihat pertumbuhan anak bayi, saya jadi sangat berterima kasih kepada kedua orang tua yang sudah membesarkan saya selama ini. Saya pun takjub bagaimana manusia terus belajar, dan bagaimana kita sangat kecil dan helpless ketika terlahir ke dunia ini. Hal-hal yang selama ini taken for granted — seperti duduk, tidur miring, telungkup, berdiri, jalan — pun semuanya dipelajari secara bertahap.

Menanamkan konsep tentang belajar ini penting karena dapat membuat pikiran saya perlahan-lahan menjadi lebih jernih. Ingat, keluarga yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia! Ibu bahagia, maka anak jadi ceria, suami pun bahagia! :)

mde

My star, my sun, my moon, my everything

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s