Moving: balada pencarian tempat tinggal di kota baru

Hej!

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai pindahan, kali ini saya akan menceritakan balada pencarian tempat tinggal di Swedia. Kebetulan baruuu aja lima hari yang lalu kami pindah ke apartemen baru. ~\o/~

Oiya, alhamdulillah wa syukurillah segambreng dus yang dikirim di postingan ini, akhirnya sampai ke apartemen beberapa hari sebelum manusianya resmi pindah. Aku takjub loh bisa sampai dalam seminggu, soalnya selama ini ga pernah berekspektasi terlalu tinggi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan negeri gurun. :))

apartment architecture balcony building

Photo by George Becker on Pexels.com


Kami belum ada pengalaman sama sekali dalam mencari tempat tinggal; di Saudi alhamdulillah sudah disediakan akomodasi di dalam kampus, sedangkan di negara sendiri belum punya rumah sendiri. Ehehe.

Setelah tau bakal pindah ke Swedia, kami mendapat daftar agen properti di kota tempat kami akan tinggal. Selain itu, kami juga mengontak salah satu warga Indonesia di kota tersebut untuk mencari tau tentang wilayah yang ok, range harga, proses sewa, serta minta tolong survei. Sungguh merepotkan orang tidak tanggung-tanggung.

Pencarian kami mulai dengan mengirimkan email ke beberapa agen properti. Oh iya, mencari tempat tinggal di sini nampaknya sesulit mencari kerja. Di dalam email tersebut, biasanya orang bercerita singkat tentang diri dan keluarganya, kerja sebagai apa di mana, punya peliharaan apa ga, dsb dst. So, we did the same! Hasilnya? Ga ada yang mbales hehehe. Konon di sini lagi krisis perumahan; banyak yang mencari tempat tinggal, tapi unit yang tersedia tidak sebanyak itu.

Seorang teman yang sudah tinggal lebih dulu di Swedia menyarankan kami untuk mencari di sebuah situs marketplace, tak lupa dia mewanti-wanti agar kami tidak terjerat scammers. Akhirnya, pagi siang malam kerjaan kami me-refresh situs marketplace dan menghubungi para landlord dengan email perkenalan lengkap. Awalnya agak aneh sih kok mesti detil banget, tapi setelah saya pikir-pikir, masuk akal juga. Kalau saya mau menyewakan rumah saya ke orang lain, tentunya saya juga mau background check dulu. Jangan sampai tenant-nya financially unstable, jorok dan semena-mena, calon-calon penghutang hahaha.

Oh iya, sebenarnya selain cara di atas, bisa banget “antri” di website agen properti yang legal. Masalahnya, untuk mendaftar diperlukan personnummer yang baru diperoleh di bulan-bulan awal tinggal di Swedia. Selain itu, antrian housing ini bisa ratusan (atau malah ribuan!). Jelas tidak cocok untuk yang butuh cepat seperti kami. Namun begitu, hal ini bisa jadi pertimbangan bila ingin tinggal di sini untuk jangka panjang supaya tidak perlu menyewa rumah melalui landlord.


Dalam urusan mencari tempat tinggal, kriteria kami tidak macam-macam, yang penting:

  1. Lingkungan: aman, bukan area suram banyak preman-preman gitu.
  2. Lokasi: strategis; mudah diakses dengan bus, sepeda, ataupun jalan kaki.
  3. Ukuran unit: kecil gapapa yang penting dapurnya terpisah dengan kamar, karena saya ga suka selimut bau masakan.
  4. Harga: masuk akal dan average untuk ukurannya agar kantong tidak bolong.
  5. Furnished: kalau bisa loh yaaa. Kalau ga ya gapapa sih, paling beberapa hari pertama tidur di lantai yang dingin tanpa kasur dan selimut, hiks.
  6. Masa sewa: bisa disewa jangka panjang, karena males banget kalau beberapa bulan sekali mesti pindah. I’m so tired of packing-unpacking my life. -__-

Lah banyak juga ya ternyata?! Hahahhaa dasar mak mak rempong!

Setelah melihat jutaan listing apartemen, ada satu hal yang menurut saya unik, yaitu masa sewa unit yang (sangat) pendek. Ada gitu ya (banyak malah) orang yang sewain unitnya hanya untuk jangka waktu 2 bulan; karena lagi liburan lah, lagi school break, lagi internship di tempat lain. Ya apa ada yang mau? Kalau iklan seperti ini banyak banget, berarti pasarnya ada sih. Tapi tetep aja aneh menurut saya mah kalau rumah kita dua bulan ditinggali oleh orang asing, barang-barang pribadinya dikemanain…? Terus itu yang nyewa sebentar-sebentar padahal bukan visitor atau dalam rangka liburan, emang ga capek gitu sebentar-sebentar pindah, kapan settling in-nya…?


Setelah mengirim jutaan permohonan kepada para landlord seperti fresh graduate yang sedang mencari kerja, akhirnya satu orang membalas pesan kami. Memang jodoh ga ke mana ya. Setelah dia menyeleksi beberapa pemohon, akhirnya kami terpilih sebagai tenant! Waktu kepergian dia dan perkiraan kedatangan kami pun alhamdulillah cocok.

Seminggu sebelum menempati apartemen baru, tibalah saatnya kami untuk bertemu dengan landlord dan tour de apartment secara langsung, ngobrol-ngobrol serta menandatangani kontrak.

First impression kami: WE LOVE THIS!

Modelnya bukan modern Scandinavian gitu karena apartemen ini dibangun tahun 50-an. Tapi, apartemen ini so cozy dan ukurannya so so so perfect for our little family. Selain itu, lingkungannya ok dan strategis banget. Landlord-nya pun nampak baik dan mereka meninggalkan beberapa furnitur, plus banyak sekali barang kebutuhan rumah tangga untuk kami pakai. Alhamdulillah ya jadi ga perlu terlalu banyak beli printilan ini itu.

So here we are for another two years insya Allah. Alhamdulillah, I cannot ask for a better home. :”)

Moving: pack your household into boxes

Hallo hallo!

Beberapa waktu terakhir ini kami sangat disibukkan dengan proses pindahan ke negara tujuan berikutnya (hallo Swedia!). Dengan (alhamdulillah) lancar dan suksesnya sidang doktoral suami satu bulan yang lalu, rasa harus pergi dari negara gurun ini jadi semakin real. Selain urusan administrasi, momok terbesar dalam proses pindahan kali ini adalah urusan logistik.

Read More

Menghargai makanan

Kala gelombang malas memasak melanda, saya dan suami suka sarapan di kantin kampus dengan menu omelet dan waffle-nya yang super enak. (Sesungguhnya ini menu terenak di diner ini, main course-nya malah jarang ada yang baleg, hahaha).
Ketika mengembalikan nampan makanan, kami mendapati sebuah pemandangan miris: sepotong waffle, tergeletak di nampan lain, hanya termakan secuil. WHY?! Kan sayang. T-T

Begitu pun juga kemarin ini di sebuah restoran. Saat sedang menunggu pesanan makanan kami datang, kami menengok meja sebelah yang penampakan makanannya sangat menarik.

“Itu apa ya, menarik banget.”
“Coba aja samperin, tanya namanya apa.”
“Ga ah, malu hihihi.” *heu dasar anak sok malu malu padahal mupeng*

Dan ketika meja sebelah selesai makan dan pergi, doeeeennnggg makanan tersebut masih tersisa banyak di piring dan ditinggal begitu saja dong.

waffle beside cherry and ice cream

Potongan waffle yang malang. Bukan penampakan sebenarnya, tapi mirip, sungguh. Photo by Pixabay on Pexels.com

Pemandangan seperti ini biasanya tidak hanya kami temukan di restoran, tapi juga di undangan. Sering banget kan lihat orang ambil makanan ini itu lauk ini itu, dan akhirnya tidak dihabiskan, lalu ditinggalkan begitu saja. Kebayang ga sih, bahwa makanan yang sudah “terdampar” di piring kita itu ga bakal bisa dimakan oleh orang lain. Kalau tidak dimakan, ya ujung-ujungnya adalah di tempat sampah. M U B A Z I R.

Sebagai orang yang suka makan tapi kapasitas perut terbatas, saya juga terkadang tergoda untuk mengambil semua semua semua makanan yang ada di depan mata. Tapi kemudian saya teringat ajaran kakek bahwa ketika selesai makan itu piring harus licin, maka ambillah makanan secukupnya. Tapi, bagaimana ketika makanannya berbagai jenis dan semuanya menarik? Inilah gunanya makan ramean dan punya +1 ke acara undangan. Lo bisa sharing dan icip semua makanan. :))

Di sini juga saya bangga dengan budaya “makan tengah” dan bungkus makanan yang sangat lazim di Indonesia. Kenapa saya bilang budaya Indonesia? Karena hampir 5 tahun tinggal di negara orang, saya belum pernah liat orang lain minta bungkus makanan di restoran. Kalau saya sih prinsipnya ogah rugi, orang udah bayar ye kann.


Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel menarik ini yang menjelaskan tentang pedoman The Power of Five dalam budaya Jepang dan kaitannya dengan makanan. Secara singkat, pedoman tersebut antara lain:

  1. Five senses: makanan harus dapat dinikmati dengan lima indera (rasa, bau, lihat, sentuh, dan bau).
  2. Five colors: keberadaan lima warna (putih, hitam, merah, hijau dan kuning).
  3. The fifth taste: asin, manis, asam, pahit, dan umami.
  4. Five ways: mentah, dididihkan, digoreng, dikukus, dan dipanggang.
  5. Five attitudes: lima sikap dalam menerima makanan.

Mengikuti kaidah di atas dipercaya dapat meng-improve kesehatan dan kemampuan memasak kita, juga menambah kekayaan (rasa, tekstur) makanan. Meskipun banyak yang tidak mengetahui asal-usulnya, kaidah tersebut sudah tertanam sehingga terbawa ke dalam keseharian mereka secara natural.

Hal-hal di atas mungkin secara tidak sadar juga sudah diterapkan dalam keseharian kita ya, namun ada satu poin yang menarik di sana, five attitudes:

  • I reflect on the work that brings this food before me; let me see whence this food comes.
  • I reflect on my imperfections, on whether I am deserving of this offering of food.
  • Let me hold my mind free from preferences and greed.
  • I take this food as an effective medicine to keep my body in good health.
  • I accept this food so that I will fulfill my task of enlightenment.

Di dalam poin tersebut, mereka merefleksikan kerja yang dibutuhkan agar makanan tersebut sampai di piring mereka; kemudian merenungkan ketidaksempurnaan mereka, apakah mereka layak dengan hidangan tersebut; menjaga pikiran mereka dari keserakahan; dan memperlakukan makanan tersebut sebagai penjaga kesehatan agar dapat menjalankan aktivitas.

Intinya: menghargai makanan segitunya. *terharu*


Saya jadi teringat, di kantin kampus kemarin itu ada sebuah infografik menarik mengenai food waste yang menjelaskan perjalanan makanan sampai di piring kita. Menurut informasi yang saya baca saat itu, banyak sekali air, energi (listrik, bahan bakar fosil, dsb), serta daya manusia yang dikeluarkan agar makanan sampai tersaji di piring kita.

Tenaga petani yang berkebun dan beternak hewan; air yang digunakan untuk irigasi dan mengurus hewan; bensin yang digunakan untuk transportasi dan distribusi; energi listrik yang digunakan untuk mesin pendingin dan toko tempat kita berbelanja; tenaga para supir, pekerja pengemas makanan, penjual, sampai penyaji; dan masih banyak yang lainnya.

Dari sekian panjangnya proses mulai dari producing, processing, sampai retailing, tentunya ada saja bahan makanan yang terbuang, misalnya karena busuk. Yo mosok tega sih udah sekian banyak resource agar makanan sampai ke kita, eh di bagian consuming kita buang-buang juga makanannya.

global-food-waste-infographic-1-638

Menurut infografik di atas, konon setiap tahunnya di seluruh dunia 30% bahan pangan terbuang! Hal tersebut mengakibatkan 25% penggunaan air dunia dan 300 juta bahan bakar fosil menjadi sia-sia. Selain itu, makanan yang terbuang itu juga akan terdampar di landfill dan memproduksi greenhouse gas. Makin makin aja deh loss-nya.


Informasi-informasi yang saya dapatkan ini tentunya juga menjadi pengingat diri sendiri untuk selalu menghargai dan tidak membuang-buang makanan. Yuk yuk yuk mulai meal plan, belanja secukupnya, dan bungkus makanan sisa. Because the best food is the food that is eaten.

Hoarding

Hola!

Kita baru aja pindahan loh, walaupun masih di sini-sini aja, di Arab Saudi.

Jadi, sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba suami dapat email yang menyuruh menginformasikan kami untuk pindah dari apartemen ke unit rumah lain yang hanya berjarak satu kilo. -__-

Sebenarnya ga tiba-tiba juga sih. Beberapa bulan yang lalu kami sudah mendapatkan info bahwa area apartemen tersebut akan dialokasikan untuk mahasiswa yang belum berkeluarga, tetapi karena suami sudah diujung masa studinya (amin!), kami meminta keringanan untuk tidak dirempongkan dengan proses pindahan. Dan kata mereka ok (tapi ternyata boong, huh!).

Kami diberikan waktu satu minggu untuk pindah. Cukup lah ya waktunya. Toh barang kami juga ga banyak-banyak amat.

(((GA BANYAK-BANYAK AMAT)))


Proses pindahan yang saya rasa akan berjalan dengan rapi, berujung cukup melelahkan karena setelah mbongkar seisi rumah sampai ke sudut-sudutnya, dapat saya simpulkan bahwa rumah kami itu isinya: 70% sampah, 20% barang tidak terpakai, dan 10% actual useful stuffs. Tanpa kami sadari, kami sudah menjadi hoarder, penimbun. -__-

Selama melempar barang-barang ke dus packing, banyak sekali penemuan mencengangkan:
“Waw ada bahan makanan yang udah expired 2 tahun yang lalu.”
“Yaampun, ngapain lagi ini bekas boarding pass dari jaman kuda.”
“Ckckck, setumpuk koleksi kartu kamar hotel yang tiada berguna.”
“Ini print-an apa sih. Kertas apa sih. Banyak banget kertas numpuk ga jelas.”
“Hmm makeup dan skincare yang ga cocok dan menumpuk begitu saja.”
“Baju ini kayaknya udah jutaan tahun ga pernah dipakai ya.”
Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Akhirnya, kami berakhir dengan plastik sampah yang tak terhitung jumlahnya, empat dus besar baju-baju yang sudah tidak pernah dipakai, dan segunung barang untuk di-giveaway.

oMO7ic3

Di titik ini, kami sudah berada di posisi tidak peduli lagi dengan nilai sentimental ini dan itu (kecuali satu memento pouch for my next crafting project, hihihi).


Setelah proses pindahan selesai, saya mulai menjual benda-benda yang kalau diingat-ingat sudah beberapa bulan menganggur begitu saja. Rak ini, rak itu, toples-toples kecil, juicer, sandwich maker, kulkas kecil, slow cooker, mixer; ternyata tanpa keberadaan mereka, saya ga kecarian juga. Alih-alih menambah sesuatu di kehidupan saya, ternyata memang ada beberapa benda yang hanya memenuhi rumah tanpa menambah nilai apapun. Mengurangi benda-benda tersebut malah membuat hati lebih “lega”, serta membuat rumah lebih rapi dan fungsional. Hal ini juga bakal membantu banget saat kami harus pindah for good dari sini.

Sejak pindah ke sini, saya tau bahwa hidup di sini hanya sementara (hidup di dunia juga hanya sementara sih, nis). Hal ini membuat saya jadi berpikir berulang kali saat berbelanja.
Apakah saya benar-benar membutuhkan benda ini?
Apakah ada benda lain di rumah dengan fungsi serupa?
Apakah benda ini menambah nilai di keseharian saya (menambah produktivitas, mempermudah pekerjaan, dsb)?
Apakah benda ini akan dipakai dalam waktu lama?
Apakah benda ini nantinya bisa dan layak dipindahtangankan (dijual/dikasih)?
Tapi, setahan apapun untuk tidak berbelanja, ternyata seiring berjalannya waktu, barang-barang ya terus bertambah aja. Apalagi kami sudah di sini hampir lima tahun.

Di titik ini lah kami sadar bahwa penting banget yang namanya REGULAR CLEANING!

Selama ini sering banget memperhatikan para bule dikit dikit spring cleaning, summer sale; pokoknya bersih-bersih setiap ganti musim. Ternyata emang perlu banget sih sesekali me-review isi rumah, decluttering; menilik tumpukan kertas-kertas yang semakin tebal, menyortir benda-benda yang sudah tidak terpakai setelah sekian lama, menyingkirkan mainan anak yang sudah tak pernah disentuh, dan memindahtangankan baju-baju yang sudah ada di sudut lemari sampai kita lupa keberadaannya.

Saya bukan penggiat Konmari, tapi kata-kata Mbak Marie ada benarnya juga:

You can also define things that spark joy as things that make you happy.

Does it give you a thrill of excitement when you hold it? Does it give you that little spark of happiness? If not, then it’s time to let it go from your life.

A lot of people hit a roadblock because they feel they have to throw something away, but that’s not the point. It’s about understanding what needs to go versus what’s important to you.

Environmentally conscious living

Salah satu tontonan berfaedah di Netflix yang suka saya dan suami tonton adalah BBC Earth. Kalau menonton itu rasanya sangat kagum dan takjub, sekaligus sedih juga dengan kondisi bumi kita ini, apalagi setiap episode yang membahas tentang kehidupan di Arctic region. Karena kutub-kutub bumi merupakan area yang paling sensitif terhadap perubahan iklim, maka dalam menghadapi pemanasan global yang kini sedang berlangsung, area tersebut memanas lebih cepat daripada bagian bumi yang lain. Mencairnya es di kutub pun akhirnya berdampak pada hewan-hewan yang tinggal di sana.

white polar bear on white snowy field near canal during daytime

Photo by Pixabay on Pexels.com

Salah satu episode tentang kehidupan beruang kutub menceritakan bahwa berkurangnya es di kutub menyulitkan mereka untuk mencari makanan. Tidak heran bila kini banyak kejadian di mana beruang kutub yang kelaparan berjalan ke area pemukiman untuk mencari makanan. :(

Saat ini informasi tentang kerusakan alam, entah berita mengenai pemanasan global, air pollution, plastic waste, dan lain-lain mudah sekali diperoleh ya, thanks to the internet. Kalau habis baca yang kayak gitu tuh suka wow banget dengan kelakuan manusia, termasuk saya sendiri. Terus jadi kepikiran, nanti bumi seperti apa ya yang akan dihuni oleh keturunan saya. Read More

FOMO

Halo halo. Kemarin siang ini saya baru aja nonton Avengers: Endgame. Senang banget! Mau pamer aja walaupun basi. Dan ternyata yah, terlambat nonton film ter-hits tahun ini selama dua bulan tuh ga bikin sakit kepala. Hahhaa. Cuma ya itu aja paling suami bosen bentar-bentar denger istrinya bilang, “mau nonton Avengers, mau nonton Avengers, mau nonton Avengers”. Diulang tiga kali biar kayak iklan di tivi.

Hore akhirnya bisa ikutan pakai quote “I love you 3000” :))

Dulu ya sebelum pindah ke negara antah-berantah ini, rasanya tuh saya ga bisa banget kalau ga ngikutin jaman. Istilah kerennya FOMO, yang kalau kata Wikipedia:

Fear of missing out, or FOMO, is a social anxiety characterized by “a desire to stay continually connected with what others are doing”.


Read More

(never) settle

Bukan, bukan mau promosi handphone.

Jadi, tidak lama setelah menikah dan memahami the nature of profesi suami saat ini, saya menyadari bahwa hidup yang tidak menetap adalah part of early researcher life.

Awalnya tentu saya sangat excited (and I still do) dengan pengalaman hidup di belahan dunia yang lain. Saya dapat membayangkan hidup beberapa waktu di A, kemudian beberapa waktu di B. “Aku akan terus mendukung dan mengikuti ke manapun kamu pergi (and I still really really do). Let’s strive for the best and never settle!”

never_settle

Ini mah wallpaper hape itu. Source: zedge.net

Read More

Bersih pangkal bahagia

Salah satu aktivitas “aneh” yang akhir-akhir ini sangat saya nikmati adalah bersih-bersih rumah. Sebagian orang mungkin tidak menyukainya karena ini seperti momok, tapi nampaknya bagi saya it’s in the blood.

tray on coffee table

Bukan rumah saya. Photo by Milly Eaton on Pexels.com

Dulu, ibu saya membersihkan rumah dua kali sehari. Iya, dua kali! Pagi dan sore. Capek banget dengernya kan, apalagi ngerjainnya. Saya dan adik seringkali jadi “korban” karena tugas di rumah dibagi-bagi. Hahaha. Dari semua chores yang ada, saya paling senang mengepel. Tapi, saya paling sebel kalau hasil sapuan orang sebelumnya ga bersih. Sapuan saya bersih banget sampai ke sudut-sudut, tapi saya ga mau nyapu soalnya bikin bersin-bersin dan asma saya kumat. (Banyak mau lo!)

Nah, tidak cukup dengan itu, occasionally ibu saya berinisiatif tinggi untuk mencuci lantai. Iya, dicuci pakai sabun. Jadi seluruh lantai rumah disikat pakai sabun, lalu dibilas, lalu dipel. Dulu iya iya aja, tapi setelah dewasa saya bertanya-tanya: WHY? Kurang bersih apa lantai yang sehari dibersihkan pagi sore?


Selagi kuliah, membersihkan kamar adalah pelarian saya dari belajar dan tugas kuliah. Banyak peer? Bersihin kamar aja. Besok ujian? Bersihin kamar aja. Stress? Bersihin kamar aja! Nampaknya, beberes memang memiliki therapeutic effect buat saya. (Atau emang alasan aja buat kabur dari kenyataan haha)

Ketika sudah menikah, herannya saya malah slacking off. Mungkin karena memiliki pasangan yang cuek dan standar kebersihannya berbeda dengan saya. Toleransi dia terhadap kekotoran tuh luar biasa, sesuatu banget, bikin geleng-geleng. Hari pertama saya datang ke Saudi, apartemen suami belum pernah dibersihkan sama sekali semenjak dia tempati aka. dua bulan lamanya. Akhirnya dua hari pertama pindah, saya sibuk beberes dan membuat rumah tersebut layak huni. :))

Setelah itu, kami berdua sibuk bekerja sehingga otomatis rumah jarang berantakan. Saya pun akhirnya hanya membersihkan rumah seminggu atau dua minggu sekali.

Namun, dunia pun berubah ketika negara api menyerang kami memiliki anak.

Read More

Road trip di Arab Saudi: Places of interest

Ternyata, jalan-jalan di Arab Saudi itu menarik banget! Empat tahun hidup di sini seringnya main ke Jeddah doang buat nge-mall hahaha. Paling jauh mainnya ke Mekkah, Taif dan Madinah. YHA.

Jalan-jalan versi saya itu biasanya city tour; muter-muter kota, lalu ke museum dan bangunan bersejarah. Sayangnya, there’s no such thing di sini. Walaupun dari segi lokasi jazirah Arab ini kaya akan sejarah religi, bangunan bersejarah biasanya tidak dilestarikan karena berbagai alasan. Namun kalau kita mau mencari-cari, ternyata ada aja tempat yang bisa dilihat di Saudi! Selain itu sepanjang perjalanan, mata kita juga disuguhi dengan pemandangan-pemandangan yang menarik. Formasi bukit dan bebatuan yang tidak biasa, kawanan unta-unta, sampai padang rumput yang sangat jarang dijumpai.

Baca juga: Road trip di Arab Saudi: Serba-serbi


MADINAH

Perjalanan kami ke daerah utara Arab Saudi dimulai dari Madinah. Untuk pertama kalinya, kami mendatangi The Holy Quran Exhibition di Madinah yang berlokasi di dekat Gate 5 Masjid Nabawi. Masuk ke pameran ini tidak dipungut biaya, selain itu ada free tour guide juga. Di dalamnya, kita dapat melihat berbagai manuskrip Quran yang dapat ditemukan dan dipelihara oleh pemerintah Saudi.

Maps: The Holy Quran Exhibition


AL ULA

PSX_20181225_205556

From the top of Al Ula!

Setelah menginap dua malam di Madinah, ketika matahari terbit kami berangkat ke Al Ula yang berjarak sekitar 320km di utara Madinah. Kota ini terkenal dengan situs arkeologinya, seperti Madain Saleh dan jejak peninggalan Nabatean Kingdom. Madain Saleh merujuk pada bekas tempat tinggal kaum Nabi Saleh AS, sedangkan Nabatean Kingdom merupakan sister city-nya Petra Jordan, jadi di sini juga terdapat makam yang bentuknya mirip-mirip dengan di Petra.

Read More

Road trip di Arab Saudi: Serba-serbi

Beberapa bulan yang lalu, saya sekeluarga mengarungi jalanan Arab Saudi dari Thuwal menuju utara sampai Haql. Kami menjelajah sejauh kurang lebih 3000km dengan rute KAUST – Madinah – Al Ula – Tabuk – Wadi Disah – Haql – Duba – KAUST. Blog post kali ini akan berisi tentang serba-serbi perjalanan kami, mulai dari jalanan di Saudi, sampai dengan mencari penginapan dan makanan.

Baca juga: Road trip perdana


THE ROAD

Hal pertama yang patut disoroti dan diacungi jempol di perjalanan kali ini adalah jalan tol-nya. Jalan tol di Saudi gratis. Selain itu kualitasnya jalannya juga bagus! Di mana ada kehidupan (walaupun cuma secuil), pasti ada akses jalan yang mumpuni. Jadi, jangan khawatir akan berhadapan dengan jalan pasir, bebatuan, atau tanah, kecuali emang niat off the road.

20181224_123242

Jalan menuju Wadi Disah, Route 8788

Seperti yang ditunjukkan pada foto di atas, walaupun kanan-kiri hanya gunung batu dan sepanjang mata memandang hanya mobil kami yang lewat, kualitas jalan tetap bagus. Apakah di sekitarnya terdapat peradaban? Setelah kami telusuri selama setengah jam sampai jalannya buntu, di ujung jalan hanya ada satu gubuk dan sekawanan unta. BHAIQUE.

Tidak seperti di Indonesia yang jalan tol-nya dinamai dengan singkatan-singkatan, jalan tol di sini Read More