Back to the Postcrossing universe!

One thing that I really wanted to do when I moved to Sweden was to restart my postcrossing journey. Postcrossing is a platform where you can exchange postcard with its members around the world. For every postcard that you send, you will receive one back from strangers.

My fondness of stamps and postcards started early in elementary school. I didn’t know how it began, but there was one time where almost everyone in my class became a philatelist! We collected stamps and exchanged with each other. We even got ourselves a couple of stamp album. I got most of the stamps from my grandmother. It was delightful to find an old, rare, or even foreign stamp between the pile of used postage. Although most of the time, I only got these stamps (the 1998 duck series) that everybody had, so they were basically worthless.

I_554_1730_1733_Perangko_Prangko_Indonesia_1998_Bebek_Seri_2

Source: BukaLapak

Sadly, my philatelic journey ended Read More

Jalan-jalan ke Malmö

Malmö merupakan kota terbesar di Skåne county dan ketiga terbesar di negara ini setelah Stockholm dan Göteborg. Saat Natal kemarin, kami secara impulsif berangkat ke Malmö karena ternyata suami mendapatkan cuti seminggu dari kantor. Baik banget ya, padahal baru kerja dua bulan. Kalau kerja 2 bulan aja dikasih cuti seminggu, apakah kerja setahun penuh cutinya jadi 1,5 bulan??? :))

Malmö adalah kota pesisir laut yang terletak di bagian selatan Swedia. Karena letak geografisnya, konon suhu di kota ini relatif lebih hangat daripada kota lainnya. Tapi boong deng, hahaha. Saat kami ke sana, sayangnya cuaca ternyata sedang mendung dingin tak bersahabat.

Perjalanan ke Malmö dari Linköping memakan waktu sekitar 3 jam. Kami menggunakan kereta Snälltåget yang ternyata juga menyediakan sleeper train ke Berlin. Wow jadi kangen backpacking berdua suami, tidur di kereta, nginap di hostel murah, makan di pinggir jalan, jalan kaki dari pagi sampai malam. Bye bye masa-masa young and wild and free. Sekarang jalan-jalan sebentar aja bawaannya koper, stroller, diaper bag lalala, makan dan menginap juga di tempat yang kids-friendly. :))

Oh iya, di Malmö kami tinggal selama 7D6N. Read More

48 jam di Stockholm

Setelah scroll-scroll album foto di HP, ternyata banyak banget foto jalan-jalan yang udah di-crop dan dirapi-rapiin dikit tapi ga jadi di post di Instagram karena lupa. Fix lah ga bakat jadi seleb. Bye bye cita-citaku bisa swipe up swipe up dan di-endorse brand-brand ternama.

Jadi, sebelum Natal bulan lalu, kami berjalan-jalan ke Stockholm selama 3D2N. Waktunya sebelum Natal karena saat hari raya kemungkinan ini itu pada tutup. Selain itu, kami memutuskan untuk menginap dua malam karena kalau satu malam kok sayang ya bentar banget padahal udah bayar kereta mahal-mahal. :))

OK, jadi kesan pertama atas Stockholm: WAW BAGUS YA IBUKOTA!

Read More

Panas dingin

Hej hej!

Saat ini sudah pertengahan bulan Januari, yang konon bakal dingin banget di dunia belahan sini, but guess what…hari ini cuacanya sangat enak, tidak berangin, dan bisa buka jendela di rumah. Kalau winter selamanya begini, aku akan baik-baik saja. :D

screenshot_20200117-121812_weather

Adeeem

Eh tapi apakah ini efek global warming? :(

Read More

Hal-hal yang dirindukan selepas pergi dari Saudi

Holaaa…

Ga kerasa udah hampir dua bulan meninggalkan jazirah Arab! Akhirnya kerempongan pindahan yang selalu terbayang terlewati juga, hahaha. Dan setelah beberapa minggu di sini, akhirnya kita mulai settling-in.

Empat setengah tahun yang lalu saya menyusul suami ke Saudi yang secara kultural sangat unik, dan setelah pindah saya tersadar bahwa sangat kecil kesempatan untuk tinggal di sana lagi. Walaupun di sini nyaman (dan dingin), tentunya ada hal-hal yang saya rindukan dari hidup di Saudi, karena setengah dekade bukanlah waktu yang singkat.

Mekkah dan Madinah

Dulu misalnya ga harus tinggal di Saudi, saya ga kebayang sih bakal pergi umroh sering sering. Ketika tinggal di Saudi, lokasi tempat tinggal yang hanya berjarak dua jam, serta fasilitas bus dari kampus setiap weekend untuk ke Haram tentunya sangat sangat sangat memudahkan kami untuk menjalankan ibadah umroh. Read More

My thoughts on Marriage Story (2019)

Marriage Story yang dibintangi oleh Scarlett Johansson dan Adam Driver bercerita tentang drama proses perceraian dan bagaimana sebuah pernikahan falling apart. Film ini baru saja rilis di Netflix 5 hari yang lalu, dan saya sudah nonton 2 kali: sendiri dan bersama suami. This is a good movie and I’m touched, so I have to drag my husband with me! :))

Marriage-Story-2019

Source: Netflix

Film ini dimulai dengan indah, bagaimana Nicole (ScarJo) dan Charlie (Kylo Ren Adam Driver) menarasikan hal-hal positif mengenai satu sama lain. Adem yah dengernya. Keluarga mereka nampak bahagia, pernikahan mereka pun nampak sempurna. But, is it? Read More

Her Private Life

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya di sini, hubungan saya dengan drama Korea sudah berlangsung selama belasan tahun. Walaupun saat ini agenda menonton saya sudah tidak se-intensif dulu, once in a while ada saja drama yang saya tonton. Selama bertahun-tahun, saya memperhatikan bahwa banyak sekali perubahan yang terjadi, misalnya dari imajinasi penulis (Goblin), tempat syuting (di luar negeri biar greget, contoh: Memories of Alhambra), sampai adegan kiss yang dulunya cringe banget, sekarang jadi lebih realistis.

Kemarin ini, saya baru saja menyelesaikan drama Her Private Life yang bercerita tentang seorang curator yang juga memiliki identitas rahasia sebagai fangirl dan fanpage manager. Ceritanya sangat sederhana dan ga perlu mikir, karakternya pun baik semua jadi nontonnya ga stress. Sebenarnya pas awal menonton drama ini, saya merasakan vibe-nya What’s Wrong with Secretary Kim (yang saya juga suka; Park Min-young memang queen of romance and chemistry!). Tapi, ternyata this is even better!

Her_Private_Life

Source: Wikipedia

Read More

Moving: balada pencarian tempat tinggal di kota baru

Hej!

Melanjutkan postingan sebelumnya mengenai pindahan, kali ini saya akan menceritakan balada pencarian tempat tinggal di Swedia. Kebetulan baruuu aja lima hari yang lalu kami pindah ke apartemen baru. ~\o/~

Oiya, alhamdulillah wa syukurillah segambreng dus yang dikirim di postingan ini, akhirnya sampai ke apartemen beberapa hari sebelum manusianya resmi pindah. Aku takjub loh bisa sampai dalam seminggu, soalnya selama ini ga pernah berekspektasi terlalu tinggi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan negeri gurun. :))

apartment architecture balcony building

Photo by George Becker on Pexels.com


Kami belum ada pengalaman sama sekali dalam mencari tempat tinggal; di Saudi alhamdulillah sudah disediakan akomodasi di dalam kampus, sedangkan di negara sendiri belum punya rumah sendiri. Ehehe.

Setelah tau bakal pindah ke Swedia, kami Read More

Moving: pack your household into boxes

Hallo hallo!

Beberapa waktu terakhir ini kami sangat disibukkan dengan proses pindahan ke negara tujuan berikutnya (hallo Swedia!). Dengan (alhamdulillah) lancar dan suksesnya sidang doktoral suami satu bulan yang lalu, rasa harus pergi dari negara gurun ini jadi semakin real. Selain urusan administrasi, momok terbesar dalam proses pindahan kali ini adalah urusan logistik.

Read More

Menghargai makanan

Kala gelombang malas memasak melanda, saya dan suami suka sarapan di kantin kampus dengan menu omelet dan waffle-nya yang super enak. (Sesungguhnya ini menu terenak di diner ini, main course-nya malah jarang ada yang baleg, hahaha).
Ketika mengembalikan nampan makanan, kami mendapati sebuah pemandangan miris: sepotong waffle, tergeletak di nampan lain, hanya termakan secuil. WHY?! Kan sayang. T-T

Begitu pun juga kemarin ini di sebuah restoran. Saat sedang menunggu pesanan makanan kami datang, kami menengok meja sebelah yang penampakan makanannya sangat menarik.

“Itu apa ya, menarik banget.”
“Coba aja samperin, tanya namanya apa.”
“Ga ah, malu hihihi.” *heu dasar anak sok malu malu padahal mupeng*

Dan ketika meja sebelah selesai makan dan pergi, doeeeennnggg makanan tersebut masih tersisa banyak di piring dan ditinggal begitu saja dong.

waffle beside cherry and ice cream

Potongan waffle yang malang. Bukan penampakan sebenarnya, tapi mirip, sungguh. Photo by Pixabay on Pexels.com

Pemandangan seperti ini biasanya tidak hanya kami temukan di restoran, tapi juga di undangan. Sering banget kan lihat orang ambil makanan ini itu lauk ini itu, dan akhirnya tidak dihabiskan, lalu ditinggalkan begitu saja. Kebayang ga sih, bahwa makanan yang sudah “terdampar” di piring kita itu ga bakal bisa dimakan oleh orang lain. Kalau tidak dimakan, ya ujung-ujungnya adalah di tempat sampah. M U B A Z I R.

Sebagai orang yang suka makan tapi kapasitas perut terbatas, saya juga terkadang tergoda untuk mengambil semua semua semua makanan yang ada di depan mata. Tapi kemudian saya teringat ajaran kakek bahwa ketika selesai makan itu piring harus licin, maka ambillah makanan secukupnya. Tapi, bagaimana ketika makanannya berbagai jenis dan semuanya menarik? Inilah gunanya makan ramean dan punya +1 ke acara undangan. Lo bisa sharing dan icip semua makanan. :))

Di sini juga saya bangga dengan budaya “makan tengah” dan bungkus makanan yang sangat lazim di Indonesia. Kenapa saya bilang budaya Indonesia? Karena hampir 5 tahun tinggal di negara orang, saya belum pernah liat orang lain minta bungkus makanan di restoran. Kalau saya sih prinsipnya ogah rugi, orang udah bayar ye kann.


Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel menarik ini yang menjelaskan tentang pedoman The Power of Five dalam budaya Jepang dan kaitannya dengan makanan. Secara singkat, pedoman tersebut antara lain:

  1. Five senses: makanan harus dapat dinikmati dengan lima indera (rasa, bau, lihat, sentuh, dan bau).
  2. Five colors: keberadaan lima warna (putih, hitam, merah, hijau dan kuning).
  3. The fifth taste: asin, manis, asam, pahit, dan umami.
  4. Five ways: mentah, dididihkan, digoreng, dikukus, dan dipanggang.
  5. Five attitudes: lima sikap dalam menerima makanan.

Mengikuti kaidah di atas dipercaya dapat meng-improve kesehatan dan kemampuan memasak kita, juga menambah kekayaan (rasa, tekstur) makanan. Meskipun banyak yang tidak mengetahui asal-usulnya, kaidah tersebut sudah tertanam sehingga terbawa ke dalam keseharian mereka secara natural.

Hal-hal di atas mungkin secara tidak sadar juga sudah diterapkan dalam keseharian kita ya, namun ada satu poin yang menarik di sana, five attitudes:

  • I reflect on the work that brings this food before me; let me see whence this food comes.
  • I reflect on my imperfections, on whether I am deserving of this offering of food.
  • Let me hold my mind free from preferences and greed.
  • I take this food as an effective medicine to keep my body in good health.
  • I accept this food so that I will fulfill my task of enlightenment.

Di dalam poin tersebut, mereka merefleksikan kerja yang dibutuhkan agar makanan tersebut sampai di piring mereka; kemudian merenungkan ketidaksempurnaan mereka, apakah mereka layak dengan hidangan tersebut; menjaga pikiran mereka dari keserakahan; dan memperlakukan makanan tersebut sebagai penjaga kesehatan agar dapat menjalankan aktivitas.

Intinya: menghargai makanan segitunya. *terharu*


Saya jadi teringat, di kantin kampus kemarin itu ada sebuah infografik menarik mengenai food waste yang menjelaskan perjalanan makanan sampai di piring kita. Menurut informasi yang saya baca saat itu, banyak sekali air, energi (listrik, bahan bakar fosil, dsb), serta daya manusia yang dikeluarkan agar makanan sampai tersaji di piring kita.

Tenaga petani yang berkebun dan beternak hewan; air yang digunakan untuk irigasi dan mengurus hewan; bensin yang digunakan untuk transportasi dan distribusi; energi listrik yang digunakan untuk mesin pendingin dan toko tempat kita berbelanja; tenaga para supir, pekerja pengemas makanan, penjual, sampai penyaji; dan masih banyak yang lainnya.

Dari sekian panjangnya proses mulai dari producing, processing, sampai retailing, tentunya ada saja bahan makanan yang terbuang, misalnya karena busuk. Yo mosok tega sih udah sekian banyak resource agar makanan sampai ke kita, eh di bagian consuming kita buang-buang juga makanannya.

global-food-waste-infographic-1-638

Menurut infografik di atas, konon setiap tahunnya di seluruh dunia 30% bahan pangan terbuang! Hal tersebut mengakibatkan 25% penggunaan air dunia dan 300 juta bahan bakar fosil menjadi sia-sia. Selain itu, makanan yang terbuang itu juga akan terdampar di landfill dan memproduksi greenhouse gas. Makin makin aja deh loss-nya.


Informasi-informasi yang saya dapatkan ini tentunya juga menjadi pengingat diri sendiri untuk selalu menghargai dan tidak membuang-buang makanan. Yuk yuk yuk mulai meal plan, belanja secukupnya, dan bungkus makanan sisa. Because the best food is the food that is eaten.