Drakor terooos…

Selain kasus covid-19 di Indonesia, hal yang pasti meningkat dalam beberapa bulan terakhir adalah kuantitas drama Korea yang saya tonton. Sebenarnya sama halnya dengan serial lain, namun dalam tulisan ini, mari kita bahas drakor saja. Saking seringnya, kemarin ini saya sampai mimpi bertema action bersama mBae Suzy.

Heran, tahun ini banyak sekali drama Korea yang menarik. Yang lebih heran lagi, di saat serial dan film barat kebanyakan ditunda penayangannya akibat pandemi, Korea Selatan tetap berjaya dan terus gaspol bikin serial dan film. Kira-kira seperti apa ya “protokol kesehatan” untuk para kru dan aktor on set?

BTW, geli banget ga sih rasanya setiap harus bilang “protokol kesehatan”. So full of BS, hahaha.


Perdrakoran tahun ini diawali dengan Crash Landing On You yang sangat populer, kemudian dilanjutkan dengan Kingdom, zombie sageuk drama. Walaupun bukan majority’s cup of tea, di season keduanya, Kingdom masih tetap seru dan mendebarkan. Karena serial ini pula, saya jadi reminiscing masa-masa SMA ketika di sekolah hanya saya dan Riani yang setiap minggu ngomongin Ju Ji-hoon dan episode terbaru Princess Hours. Akhirnya, saya pun tertarik untuk menonton film Along with The Gods: The Two Worlds yang ternyata juga bagus!

Read More

This too shall pass

Hallo…

Tidak terasa sebentar lagi saya dan suami sudah menjadi orang tua selama dua setengah tahun! Waw, cepat ya. Eh, sebenarnya kerasa sih, hahaha. Kerasa banget! Dua tahunan ini, hari-hari terasa sangat panjang, tapi terasa cepat juga. Benar sekali bahwasanya kehidupan dengan bayi itu the days feel so long, but the years feel so short.

girl covering her face with her hands

Photo by Julian Vera Film on Pexels.com

Perkembangan anak kecil ternyata sangat luar biasa cepat. Dalam waktu dua tahun, banyak sekali kemampuan yang mereka kuasai. Dari yang hanya bisa geletakan doang, tiba-tiba sekarang sudah lari-lari dan tidak bisa diam, sudah punya keinginan ini itu, sudah bisa bicara ini itu. Kalau dipikir-pikir, tidak ada perubahan yang signifikan dalam kehidupan manusia dewasa; paling naik-turun berat badan, tambah uban, tambah wrinkles, tambah banyak pikiran, hahaha.

Nah, tanpa mengurangi romantisme motherhood dan parenthood, jujur aja di balik setiap perkembangan anak itu tersimpan struggle emak-bapaknya juga (atau yaaaaa mungkin cuma kami saja yang lemah).

Read More

Roti pandemi

Apa hubungannya roti dan pandemi?

Tidak ada. Tapi sebagaimana orang-orang lain, saya juga kena virus baking di masa pandemi ini.

Seumur-umur tidak pernah saya masak sesering selama tinggal di Swedia ini. Saking seringnya, kalau lihat whisk, panci, dan benda-benda perdapuran di buku atau di manapun, bocil langsung bilang kalau itu seperti punya ibu. Hahaha sial, akhirnya anak saya pun menyadari bahwa ibunya muter-muter di dapur terus.

Karena ga jago-jago amat di dunia perdapuran, saya jarang sekali baking, karena atuhlah kalau gagal kan sayang bahan (dan waktu!). Lagian kan kalau masak bisa di-adjust di tengah jalan, tapi kalau baking sukses gagalnya baru bisa diicip di akhir. Seorang teman bilang kalau cooking is art and baking is science. And in the School of Kitchen, I choose the Faculty of Art.

Read More

Ke Alaska bersama Bapak

Ke Alaska bersama bapak. Maunya sih beneran, tapi apa daya ini hanya mimpi.

Kalau bicara soal mimpi, genre mimpi saya kebanyakan fantasi, science fiction, dan action. Mulai dari jadi Sailor Moon, melawan monster, sampai ditarik berkali-kali oleh giant squid saat lagi snorkeling sampai mati di abyssopelagic. Huh mimpi yang terakhir itu bikin saya makin benci sama laut. Jadi inget kalau selama 5 tahun tinggal di KAUST yang literally berbatasan dengan Red Sea, ga pernah sekalipun saya pergi snorkeling, mancing, diving, atau boat trip. Hahaha.

Oh iya, mimpi saya jarang sekali melibatkan orang yang dikenal. Biasanya selain saya, karakter lain wajahnya blur. Makanya, sekalinya bertemu karakter yang dikenal, rasanya terbayang-bayang sampai bangun, keinget sampai lama. Misalnya waktu itu saat saya mimpi jadi customer seorang teman yang membuat start-up deterjen super canggih. Bangun-bangun langsung kepikiran, apa kabar ya si teman. Mana akhir-akhir ini tidak terlihat di sosial media. Aku mah gitu orangnya, rajin pakai sosmed tapi jarang berkomunikasi dengan orang lain di sana. Sekalinya ada yang ngilang, kecarian. Maunya apa sih. :’)

Asik ya kayaknya ke Alaska bersama bapak, tapi dalam kondisi seperti ini rasanya mustahil. Oh iya, kebayang ga sih gimana ribetnya berjalan-jalan saat dan pasca pandemi ini? Read More

Jalan-jalan ke Kolmården Djurpark

Hej hej!

Minggu ini liburan musim panas dimulai, maka daycare anak pun libur selama tiga minggu. Supaya bisa menikmati liburan dengan leluasa, akhirnya suami pun mengambil cuti di saat yang bersamaan. Lagipula, biasanya di masa liburan musim panas seperti ini, kantor isinya sepi. Karena berjalan-jalan jauh sangat tidak memungkinkan, kami berencana untuk mengeksplorasi area sekitar kota Linköping. Destinasi pertama pun jatuh kepada Kolmården Djurpark.

Kolmården Djurpark (Kolmården Wildlife Park) adalah kebun binatang yang terletak di kota Norrköping. Untuk menuju ke sana, kami menggunakan kereta ke Norrköping centralstation dan dilanjutkan dengan bus yang berhenti tepat di depan kebun binatang, dengan total waktu tempuh sekitar satu setengah jam.

Agar tidak terjadi penumpukan jumlah pengunjung, saat ini tiket ke Kolmården tersedia online dan calon pengunjung harus memilih waktu kunjungan terlebih dahulu. Karena cuaca di musim panas ini tidak bisa ditebak, sebelum membeli tiket, hampir setiap hari kami memantau ramalan cuaca untuk memilih hari yang cerah, hahaha.

Maps: Kolmården Zoo


Impresi pertama saat tiba di Kolmården adalah, waw luaaas! Dengan luas area sekitar 1.5km2, Kolmården merupakan salah satu kebun binatang terluas di Scandinavia. Di tempat ini, mereka menampung sekitar 80-an spesies, mulai dari gajah, red panda, sampai dolphin. Read More

Bengek in the time of covid: Pengalaman swab test di Swedia

Minggu lalu tiba-tiba anak saya batuk-batuk. Dan bila saat ini kamu hidup bersama toddler, maka kamu akan mengerti bahwa sulit sekali menekankan bahaya droplets ke anak usia dua tahun. Ketika manusia dewasa di masa sekarang ini sibuk pakai masker, cuci tangan, dan pakai hand sanitizer, anak saya malah batuk di depan muka, jilatin pergelangan tangan, main-main ludah, sampai makan langsung dari meja.

TEPOK JIDAT.

Tentu saja, tidak lama setelah dia mulai batuk, suami pun mulai pilek. Lalu, dimulailah lingkaran setan flu di keluarga kecil kami!

Seiring berjalannya waktu, badan saya mulai tidak enak, mulai dari sakit tenggorokan yang mengganggu, sampai sakit kepala yang luar biasa. Read More

Ramadan dan Eid 2020

close up photo of raisins and dates

Photo by Naim Benjelloun on Pexels.com

Sehampa-hampanya lebaran jauh dari keluarga, tidak ada yang lebih hampa dari lebaran tahun ini. Dari tahun 2015, kami sudah berlebaran jauh dari orang tua—waw ngalah-ngalahin Bang Toyib yang tiga kali puasa tiga kali lebaran ga pulang-pulang. Walaupun jauh, di hari lebaran biasanya kami selalu menyempatkan diri untuk ber-video call dengan keluarga.

Lebaran tahun ini juga begitu sih, tapi rasanya beda.


Ramadan di sini dan di sana

Ini Ramadan pertama saya di Swedia. Saat ini sedang musim semi dan waktu puasanya cukup panjang. Waktu Subuh yang semakin hari semakin cepat dan waktu Maghrib yang semakin malam, membuat kami harus berpuasa selama 17 jam (di awal Ramadan) sampai 19 jam (di akhir Ramadan). Ketika menghitung lamanya puasa, rasanya bikin minder sih. Kirain bakal pingsan di tengah jalan, ternyata lama-lama terbiasa juga. Paling ngantuk nungguin Maghrib jam setengah 10 malem.

Selain waktunya yang panjang, hal yang membuat Ramadan kali ini luar biasa adalah ini Ramadan pertama saya sebagai minoritas di negeri orang. (((minoritas))) wkwkwkwk

Tidak ada yang tau atau mengira saya sedang berpuasa, tidak ada yang peduli juga. Tidak ada kemeriahan bulan Ramadan. Mungkin orang-orang juga tidak tau bahwa something special is happening right now, hahaha. Rasanya yang berpuasa di dunia ini hanya saya dan suami saja. Hahaha sedih banget. Read More

Hal-hal yang tidak biasa saya lakukan, tapi saya lakukan ketika di Swedia

Panjang amat ya judulnya kayak headline BuzzFeed. :))

Tadinya mau nulis “Things I don’t normally do but I do when in Sweden” tapi kok rada aneh, terus isinya juga mau pakai bahasa Indonesia aja. Di-indonesia-in juga ternyata masih aneh. Ruwet. Kenapa ya dengan bertambahnya skill bahasa, saya malah jadi merasa tidak fasih di semuanya. Terkadang sulit menemukan padanan kalimat dalam bahasa Inggris, kadang awkward juga kalau tulisan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ingin deh seperti Ivan Lanin yang bisa membuat cuitan dalam berbagai konteks dengan bahasa Indonesia baku tanpa terasa janggal. Apakah skill bahasa bisa masing-masing 100%? Atau total kesemuanya 100%?

Lah ngelantur. Let’s back to topic…

Secara lingkungan, iklim, dan budaya, Swedia ini sungguh berbeda dengan Indonesia dan Arab Saudi yang pernah saya tinggali. Hal ini pun tanpa disadari mengubah kebiasaan saya.

Beli baju yang fungsional

Selama enam bulan tinggal di sini, saya sudah merasakan suhu di mana bisa pakai baju satu lapis doang sampai suhu di mana pakai baju tiga lapis masih kedinginan dan rasanya ogah ke luar rumah, padahal kemarin tuh the warmest winter ever loh, hahaha lemah! Read More

Hidup untuk makan

Ada dua kategori manusia dalam soal per-makan-an:

  1. makan untuk hidup, dan
  2. hidup untuk makan.

Manusia dalam kategori pertama menggunakan ritual makan seperlunya, sebagai pemenuhan nutrisi, obligatory. Golongan kedua adalah yang baru sampai kantor udah mikirin nanti makan siang apa, yang baru hari Selasa udah mikirin nanti weekend mau makan apa di mana, yang kalau jalan-jalan nyarinya makanan.

Saya jelas termasuk golongan kedua.

waffle-on-white-ceramic-plate-511763

Makan. Makan. Makan. Saya suka makanan. I love eating. Jag älskar mat.
Kalau setiap manusia memiliki satu dari seven deadly sins, dapat dipastikan saya adalah gluttony. Read More

Hi Bye, Mama! dan renungan tentang motherhood, kematian, dan ini itu

Tadinya mau pakai kata kontemplasi instead of renungan di judul, tapi kok kayaknya berat banget yak, takutnya pemirsa jadi berharap terlalu banyak terhadap tulisan ini, hahaha.

Sejak muncul trailer Hi Bye, Mama!, saya ingin sekali menonton drama yang satu ini. Drama ini akhirnya tayang di Netflix lokal minggu lalu dan sekarang saya sudah setengah jalan, hihihi. Sebagai anak yang mudah terbawa emosi saat menonton, Hi Bye, Mama! sukses membuat saya tertawa dan mengucurkan air mata sejak episode pertama. Sebelum nonton saya tau sih bahwa serial ini bakal bikin nangis banget banget banget, but I watched it anyway. Apakah suka menyiksa emosi sendiri dapat dikategorikan sebagai masochistic personality disorder?

HiByeMama

Source: IMDB

Hi Bye, Mama! bercerita tentang Cha Yu-Ri, heavily pregnant woman yang meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan. Dalam bentuk hantu, ia pun mengikuti perkembangan anaknya dari hari ke hari. Karena suatu kejadian, dia diberikan kesempatan untuk menjadi manusia lagi apabila dia berhasil mendapatkan tempatnya kembali sebagai ibu dan istri dalam waktu 49 hari. Sayangnya, suaminya sudah menikah lagi.

Di sini, saya langsung tanya ke suami dong:

“Kalau aku mati, kamu nikah lagi ga?”
“Ya, mungkin. Nanti siapa yang ngurus anak ini?”
“Kalau ngurus anak doang mah pake nanny aja kaliii.” (((NGEGAS)))

Hahaha iya dong mesti ngegas. The idea of my husband having another wife is upsetting. Tapi sebenernya kalau saya udah mati mah gapapa kali ya, kan people have to move on with their life. Read More